Menyikapi Hadits yang Berbeda-Beda

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.
Ustadz Ahmad Sarwat yang mudah-mudahan terus dirahmati ALLAH. Begini ustadz, saya ingin menanyakan mengenai adanya hadits yang subtansinya sama tapi hukum yang dihasilkannya berbeda semisal hadist mengenai pemakain semir rambut, satu sisi ada ulama yang mengatakan makruh, sisi lainya haram. Dengan keadaan seperti ini bagaimana kita menyikapinya (mana yang harus dijadikan panutan)?. Demikian ustadz, atas terjawab pertanyaan saya ini, saya sampaikan terima kasih.
[Mochamad Junus – mojun@eramuslim.com]

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya perbedaan esensi dalil-dalil itu bukan sesekali yang kebetulan kita temukan, tetapi seringkali, bahkan boleh jadi tiap kali. Lakukanlah eksperimen sederhana. Anda buka kitab hadits ahkam tertentu, misalnya Bulughul Maram karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah kita akan menemukan banyak kebingungan. Mengapa ?. Karena hadits-hadits itu meski diletakkan secara berurutan, tetapi acap kali satu hadits dengan hadits lainnya justru saling bertentangan. Dan demikian selalu yang terjadi di tiap bab hingga akhir kitab. Lalu bagaimana kita harus bersikap ? Hadits yang mana yang harus kita pilih ? Mengapa Ibnu Hajar tidak menuliskan hadits yang satu versi saja biar kita tidak bingung ?. Untuk menjawab masalah ini, kita harus tahu bahwa memang demikianlah permasalahan besar di dalam ilmu syariah. Ternyata slogan kembali kepada Qur’an dan sunnah tidak sesederhana mengucapkannya.

Ternyata untuk bisa merujuk kepada kedua sumber agama itu, tidak cukup hanya dengan membaca sekilas terjemahan masing-masing. Karena ada begitu banyak ayat dan hadits terkait dengan masalah hukum. Kadang satu dengan yang lain saling berbeda, bahkan terjadi ta’arudh (saling pertentangan). Padahal semua diakui bersumber dari nabi SAW juga. Maka di situlah peran ijtihad para ulama selalu diperlukan, bahkan bukan satu atau dua ijithad, dibutuhkan sistematika dalam berijtihad , agar kita betul-betul menerima hasil akhir yang siap pakai. Maka peran mazhab fiqih dan metode istimbath hukum menjadi mutlak diperlukan. Tidak cukup hanya berbekal mushaf dan kitab hadits saja, tetapi lebih dari itu, kita butuh hasil kajian ilmiyah para ulama serta arahan dan argumentasi mereka atas semua dalil yang beragam itu.

Maka kita patut mengucapkan terima kasih atas jasa para ulama di masa lalu yang telah mencurahkan segala daya dan upaya untuk meretas jalan. Kita hanya tinggal berjalan di belakang mereka dengan mudah, bahkan tinggal memilih saja. Ibarat software, sudah ada wizardnya, kita tinggal install dan sedikit melakukan konfigurasi di sana sini sesuai selera dan semua siap jalan. Kita tidak perlu membuat coding yang bikin pusing kepala. Para ulama di masa lalu sudah membuat codingnya , kita tinggal ‘customize’ saja.

Memanfaatkan Kitab Syarah Hadits

Lebih fokus kepada pertanyaan anda, bila anda merasa bingung membaca hadits-hadits yang saling bertentangan, ada cara yang mudah, yaitu memanfaatkan kitab-kitab syarah hadits. Kitab syarah adalah kitab penjelasan atas kitab matan hadits.
Misalnya, kalau anda bingung baca hadits-hadits yang ada di dalam shahih Bukhari, anda bisa baca kitab Fathul Bari karya Ibnu Rajab Al-Hanbali atau kitab Umdatul Qari karya Badruddin Al-Aini.
Kalau hadits itu ada di shahih Muslim, anda bisa baca Syarah Shahih Muslim karya Al-Imam An-Nawawi. Juga anda bisa baca kitab Tuhfatul Ahzawi karya Al-Mubarakfury. Begitu pula untuk penjelasan hadits-hadits dari Sunan At-Tirmizi, dll. Dan kalau kitab matan hadits Bulughul Maram bikin kepala anda pusing, silahkan buka kitab Subulussalam karya Ash-Shan’ani. Atau kita bisa juga anda membaca kitab Nailul Authar karya ASy-Syaukani rahimahullah yang isinya sudah termasuk matan dan syarahnya sekaligus.

Biasanya di dalam kitab-kitab syarah itu, kita akan mendapatkan berbagai informasi seputar hadits yang kita butuhkan, termasuk derajat kekuatannya dan juga penjelasan secara fiqihnya.
Sekedar informasi, kitab-kitab yang kami sebutkan di atas dan sekitar 3.000-an kitab lainnya tersedia secara gratis di internet, anda boleh langsung meng-klik di http://saaid.net/book . Jadi anda tidak perlu keluarkan dana untuk memiliki bukunya, tinggal baca saja. Yang penting anda bisa bahasa Arab dan melek internet serta punya akses tak terbatas untuk mendownloadnya. Selamat mendownload.
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

[oleh : Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6b10103438-cara-menyikapi-hadits-berbeda-beda.htm?other

Pentingnya Penggunaan Hadits

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr. wb.
Pak ustadz, saya seorang muslim sejak saya dilahirkan karena saya terlahir dari keluarga muslim. Sejak saya menerima pendidikan agama Islam, baik dari majlis ta’lim maupun sekolah, saya mengetahui bahwa kitab suci kita adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an jelas merupakan pegangan kita sebagai muslim dalam mengarungi hidup kita hingga akhir hayat. Selain Al-Qur’an, kita juga menggunakan hadits sebagai pegangan kita. Saya mengetahui bahwa Rasulullah SAW telah meninggalkan dua perkara agar terus dipegang umatnya hingga akhir hayat yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Yang saya ingin tanyakan yaitu: Mengapa kita harus menggunakan Al-Hadits ? Bagaimana kedudukan Al-Hadits terhadap Al-Qur’an ? Apakah ada ayat suci Al-Qur’an yg menjelaskan tentang kedudukan Al-Hadits ? Apakah dalil naqli dan aqli tentang penggunaan Al-Hadits ? Apakah akibatnya jika kita beragama Islam dengan hanya menggunakan Al-Qur’an saja ?. Saya mohon maaf jika pertanyaan terlalu banyak. Semoga jawaban pak ustadz dapat memberikan saya keyakinan yang lebih dalam beragama Islam.
Alhamdulillah, Jaza Kallohu Khoiron.
[Anang Sobari – doneey@eramuslim.com]

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Seorang muslim yang tidak beriman kepada hadits Rasulullah SAW, hukumnya kafir. Sebabnya sederhana saja, karena hadits itu hakikatnya adalah wahyu dari Allah SWT juga. Hadits bukan karangan ulama, shahabat atau semata-mata perkataan nabi SAW. Meskipun secara lahiriyah seolah keluar dari mulut nabi, namun pada hakikatnya hadits itu adalah wahyu yang bersumber dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya :
”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. n-Najm: 3-4)

Itulah sebabnya para ulama sepanjang zaman telah berijma’ bahwa orang yang mengingkari hadits nabawi hukumnya kafir dan bukan lagi dikatakan sebagai muslim.
Hadits nabi itu adalah wahyu dari Allah SWT sebagaimana Al-Qur’an, kecuali dalam beberapa hal saja. Misalnya, Al-Qur’an memiliki bahasa yang teramat indah sehingga orang Arab ditantang untuk membuat yang sepertinya. Sedangkan hadits meski juga berbahasa Arab, namun Allah SWT tidak sampai menantang orang Arab untuk membuat yang sepertinya.

Selain itu Al-Qur’an bila dibaca akan mendatangkan pahala, bahkan meski tidak diketahui artinya, seperti membaca Alif Laam Miim. Sedangkan membaca hadits baru berpahala bila diiringi dengan pemahaman dan pengamalannnya. Al-Qur’an itu diriwayatkan secara mutawatir, sedangkan hadits ada yang diriwayatkan dengan mutawatir dan ada yang ahad. Namun intinya, meski antara Al-Qur’an dan hadits ada perbedaan, tetap saja keduanya merupakan wahyu dari Allah SWT. Sehingga mengingkari hadits itu sama saja ingkar kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

[oleh : ustadz Ahmad Sarwat, Lc.]
http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6520190644-dasar-penggunaan-hadits.htm?other
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: