Mengagungkan Sunnah Rasulullah SAW

[oleh : Redaksi taruna-alquran.org]

“Katakanlah: ‘Ta’atlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. (QS an-Nur: 54)

Ketika sampai kepada kita sunnah Rasulullah SAW, maka tidak selayaknya kita menganggap remeh dengan mengatakan ‘ini hanya sunnah’. Seorang yang mengagungkan sunnah tidak akan pernah berkata demikian. Bila sampai kepadanya sunnah, maka selayaknya akan memberi pengaruh pada jiwanya; yakni timbulnya perasaan takut dan berharap kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk dapat melakukan sunnah tersebut. Dan inilah yang terjadi pada para sahabat. Mereka tidak melihat apakah hukumnya wajib atau tidak, namun jika jelas dari Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali mengamalkannya. (QS al-Ahzab: 36)

Sahabat Abdullah bin Umar r.a, berusaha agar menjadi sangat mirip dengan Rasulullah SAW dengan mengikuti cara berpakaian, cara makan, bahkan bila Rasulullah SAW tidur di suatu tempat maka ia pun akan tidur di tempat tersebut. Anas bin Malik r.a, cinta untuk makan buah labu hanya karena melihat Rasulullah SAW senang dan selalu mencari buah tersebut. Ibnu Qudamah menegaskan, “Dalam mengikuti sunnah terdapat keberkahan, dan ridla Allah SWT, meninggikan derajat, hati menjadi nyaman, menguatkan badan dan menundukkan setan, dan berjalan diatas jalan yang lurus”. (Dzammul Muwas Wisin: 41)
Imam Ibnu Hibban menyatakan dalam muqaddimah shahihnya, “Sesungguhnya ber-iltizam (terus melakukan) dengan sunnah Nabi, adalah keselamatan yang sempurna, terkumpulnya kemuliaan, cahaya (sunnah) yang tidak akan pernah padam, tidak dapat dibantah hujjah-hujjahnya. Barangsiapa beriltizam dengan sunnah Nabi maka dia akan terjaga, dan yang menyelisihinya akan mendapatkan kerugian. Karena memang sunnah itu adalah benteng yang melindungi, tiang yang menguatkan, mengikuti sunnah mendapatkan keutamaan, tali yang kuat. Dan barangsiapa yg berpegang teguh akan beruntung, dan yang menyelisihi akan binasa”.

Banyak pesan dan pernyataan dari kalangan para sahabat dan tabi’in, tentang wajibnya dan anjuran untuk mengikuti sunnah Nabi SAW, Abu Bakar ash-Shiddiiq mengatakan, “Aku tidak pernah meninggalkan satu pun, apa yang dilakukan oleh Nabi SAW, kecuali pasti aku melakukannya. Aku justru khawatir/takut, ketika aku meninggalkan sunnah, aku tersesat”. (Ta’dzimus Sunnah: 24) Jelasnya, mengagungkan sunnah Nabi SAW adalah dengan senantiasa terus dan berusaha melakukan dalam setiap amalan, sesuai dengan perilaku Rasul SAW, baik dalam akidah, ibadah dan mu’amalah. Karena hanya dengan megikuti sunnah beliau, dan hanya dengan sunnah pula hidayah dan bimbingan Allah dapat diperoleh. Begitu juga kemenangan dapat diraih, dan kebahagiaan dapat direguk, baik dunia dan akhirat.

Menghidupkan sunnah Rasulullah SAW pahalanya sangat besar terutama ketika sunnah tersebut sudah tidak dikenal oleh masyarakat dan itulah hakikat ihya’u sunnah (menghidupkan sunnah yang sudah dimatikan/tinggalkan oleh ummat ini). Orang yang menghidupkan sunnah ibarat pelopor (orang yang pertama mengamalkan) dan apa bila kemudian diikuti oleh orang lain maka ia akan mendapat pahala dari orang-orang yang mengikutinya. Inilah makna hadits Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang membuat sunnah di dalam Islam, sunnah yang baik maka baginya pahala dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi pahala orang yang mengikutinya. Dan barangsiapa yang melakukan perbuatan percontohan dalam Islam, perbuatan percontohan yang buruk maka baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa orang tersebut”. (HR Muslim)
Hari yang membutuhkan kesabaran adalah, hari yang ketika banyak orang meninggalkan sunnah, bahkan banyak yang mencemooh orang yang mau menjalankan sunnah, mentertawai, mengejek bahkan mungkin mengintimidasi, memenjara dan sebagainya.

Faedah dari iltiizam dengan sunnah Nabi SAW, di antaranya :

a) Menyampaikan derajat mahabbatullah
Ketika orang mengakui dirinya telah cinta/mencintai sesuatu, maka dia tentu dituntut untuk membuktikan kecintaan tsb. Tanpa itu, maka pengakuan cintanya adalah palsu. Dalam hadits Qudsi, Allah memberikan penjelasan tentang hal ini. “Barang siapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka Aku nyatakan perang padanya. Dan tidaklah hamba-Ku lebih aku cintai, ketika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan apa yang aku wajibkan. Dan tidak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah, hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, dan Aku sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, dan Aku sebagai tangannya yang ia gunakan untuk bekerja, dan Aku merupakan kakinya yang gunakan untuk berjalan. Dan jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya, dan jika ia berlidung diri kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya”. (HR Bukhari)
Hadits yang agung ini, sebagai dalil bahwa melakukan sunnah-sunnah Nabi SAW menjadikan salah satu diantara penyebab kecintaan Allah SWT pada hamba-Nya, terhadap perkara-perkara yang terpuji. Dan Allah senantiasa memberikan pertolongan, memberikan bimbingan, menghindarkan dari perkara-perkara yg buruk dan tercela, dan terus menuntunnya menuju rengkuhan dan kecintaan-Nya. Sehingga ia dapat mencapai derajat kemuliaan. Kecintaan Allah padanya, juga berdampak pada kecintaan makhluk Allah padanya. “Apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril seraya berfirman, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai Fulan, maka cintailah dia”. Kemudian Jibril mencintai orang itu dan berkata pada penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintailah Fulan, maka cintailah dia”. Maka penghuni langit pun mencintai orang itu. Setelah itu kecintaannya diteruskan pada penghuni bumi”. (HR Bukhari).
Demikianlah, kecintaan terhadap seseorang yang melakukan sunnah-sunnah Nabi SAW, menjadikannya dicintai Allah dan seluruh makhluk-Nya.

b) Menyempurnakan yang wajib
Merupakan hal cukup sulit bagi umat manusia untuk melakukan hal-hal yang wajib secara baik dan sempurna sebagaimana perintah Allah SWT. Seringkali di dalamnya banyak kekurangan. Misalnya, kurang khusyu’ dan tiada ketenangan dalam shalat. Begitu juga dalam hal lainnya, kadangkala seseorang mudah terjebak dalam ghibah, adu domba, atau melakukan hal yang tiada manfaat ketika dalam keadaan puasa, juga dalam berbagai hal lain, yang mana hal tersebut dapat mengurangi nilai pahala wajib. Allah SWT, Dzat Yang Maha Agung, dan Maha Luas rahmat-Nya, memberikan sarana dan fasilitas pada hamba-Nya, hal-hal yang kurang sempurna dalam melakukan kewajiban, dapat disempurnakan dengan melakukan amalan sunnah. Baik itu shalat, zakat, puasa, haji, maupun kewajiban lainya, semuanya dapat disempurnakan dengan melakukan amalan sunnah.

c) Mendapatkan keutamaan
Banyaknya godaan dan rintangan, serta usaha iblis yang tiada henti untuk mengajak manusia, khususnya umat Islam, untuk menjauh dari tuntunan al-Qur’an dan sunnah Nabi SAW, menjadikan mereka semakin jauh dari nilai-nilai Qur’ani dan sunnah Nabawi. Karenanya, dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, memberikan kabar gembira pada umatnya yang senantiasa mengerjakan sunnahnya. Hadits tersebut artinya : “Sesungguhnya di belakang kalian wahai sahabatku, ada yang dinamakan hari-hari yang membutuhkan kesabaran, orang-orang yang tamassuk pada hari itu terhadap apa-apa yang kalian pegangi saat ini akan mendapat pahala lima puluh”. Sahabat bertanya: “Perbandingannya itu dengan kami (para sahabat) atau dengan mereka (masyarakat saat itu)?”. Rasulullah menjawab: “(pahala lima puluh kali) dibandingkan dari kalian (para sahabatku)”. (HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dengan sanad yang shahih).

d) Terjaga dari bid’ah dan perpecahan
Abu Muhammad Abdullah bin Manazil mengatakan, “Tidaklah seseorang meremehkan yg wajib, hingga ia diuji oleh Allah meremehkan yang sunnah. Tidaklah seseorang meremehkan yang sunnah, hingga ia diuji oleh Allah melakukan bid’ah (suatu amalan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW).
Di muka telah kami jelaskan, bahwa semakin dekat seseorang pada sunnah, maka ia akan terhindar dari bid’ah. Selain itu, seseorang akan terhindar dari perpecahan umat. Karena hanya ada satu jalan (QS al-An’am: 153); beramal sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah, sebagaimana yang difahami oleh para salaf. Orang yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi SAW, hanya mengikuti satu jalan, sementara orang-orang yang jauh dari sunnah akan mengikuti banyak jalan, akan memudahkan untuk tergelincir hingga berjalan di luar syariat Islam.

e) Mengagungkan syiar Allah
Melakukan sunnah-sunnah Nabi SAW, yang merupakan syariat Allah, sebagaimana kami jelaskan di muka, bahwa perilaku Rasul adalah perwujudan dari syariat Allah; syariat Islam. Karenanya, mempelajari, mengajar dan mendakwahkannya, serta berusaha terus istiqomah untuk melakukannya, baik di tingkat individu maupun masyarakat, adalah mengagungkan syi’ar Allah SWT. Selain itu, juga merupakan tanda ketakwaan. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (QS al-Hajj: 32)
Itulah diantara faedah beriltizam dengan sunnah Nabi SAW. Dan sebagai penutup materi ini, kami ingin sampaikan, bahwa melakukan sunnah Nabi SAW bukannya tiada rintangan dan cobaan. Disini Allah mewajibkan para hamba-Nya yang beriman untuk terus berjuang dalam membela syariat Allah, membela sunnah Nabi-Nya SAW yang mulia. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah ? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”. (QS at-Taubah: 111).

http://www.taruna-alquran.org/sq/art.php?artid=66

Keutamaan Mempelajari Ilmu Hadits

Ilmu hadits sangat menentukan sebagai pedoman beramal, tidak sedikit para ulama yg memberikan tanggapan atas hukum mempelajari ilmu hadits. Imam Sufyan Tsauri berkata (artinya), “Saya tidak mengenal ilmu yg lebih utama bagi orang yg berhasrat menundukkan wajahnya di hadapan Allah selain daripada ilmu hadits. Orang sangat memerlukan ilmu ini, sampai kepada soal-soal kecil sekalipun, seperti makan dan minum, memerlukan petunjuk dari al-hadits. Mempelajari ilmu hadits lebih utama daripada menjalankan shalat sunnah dan puasa sunnah, karena mempelajari ilmu ini adalah fardhu kifayah, sedangkan shalat sunnah dan puasa sunnah hukumnya sunnah.” Imam Asy-Syafiy berkata, “Demi umurku, soal ilmu hadits ini termasuk tiang agama yang paling kokoh dan keyakinan yang paling teguh. Tidak digemari untuk menyiar kannya selain oleh orang-orang yang jujur lagi takwa, dan tidak di benci untuk menyiarkannya selain oleh orang-orang munafik lagi celaka.”

Al-Hakim menandaskan, “Andaikata tidak banyak orang yang menghafal sanad hadits, niscaya menara Islam roboh dan niscaya para ahli bid’ah berkiprah membuat hadits–hadits palsu dan memutar-balikkan sanad.”

[Sumber : Ikhtisar Mushthalahul Hadits, Drs. Fatchur Rahman]
PUSAT INFORMASI DAN KOMUNIKASI ISLAM INDONESIA – http://www.alislam.or.id
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: