Beda Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an

Pertanyaan :
Assalamualaikum wr. wb.
Ustadz, apa yang dimaksud dengan hadits qudsi? Apa bedanya hadits qudsi dengan al-Qur’an dan hadits ? Apakah hadits qudsi juga ada yang shahih, hasan, dan dho ‘if ?.
Jazakillah atas jawabannya. Wassalamu’alaikum wr. wb.
[Siti Nurkhasanah – citi_light@eramuslim.com]

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hadits Qudsi berasal dari kata quds yang berarti menyucikan Allah. Hadits Qudsi ialah hadits yang oleh Nabi SAW disandarkan kepada Allah. Maksudnya Nabi meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka rasul yang menjadi perawi, kalam Allah ini dari lafal Nabi sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadits qudsi maka dia meriwayatkannya dari Rasulullah SAW dengan disandarkan kepada Allah, dengan menyebutnya :`Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Allah SWT, atau menyebut :`Rasulullah SAW mengatakan: Allah Ta`ala telah berfirman atau berfirman Allah Ta`ala.`

Contoh yang pertama :`Dari Abu Hurairah Ra. Dari Rasulullah SAW mengenai apa yg diriwayatkannya dari Allah Azza Wa Jalla, “tangan Allah itu penuh, tidak dikurangi oleh nafakah, baik di waktu siang atau malam hari”.`
Contoh yang kedua :`Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW berkata :`Allah ta`ala berfirman: “Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila ia menyebut-Ku, bila menyebut-KU di dalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan bila ia menyebut-KU dikalangan orang banyak, maka Aku pun menyebutnya di dalam kalangan orang banyak lebih dari itu”.`

Perbedaan Qur’an dengan Hadits Qudsi

Ada beberapa perbedaan antara Qur’an dengan hadits qudsi, yang terpenting di antaranya ialah :

a. Al-Qur’anul Karim adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafal dari Allah. Dan dengan itu pula orang arab ditantang, tetapi mereka tidak mampu membuat seperti Qur’an itu, atau sepuluh surah yang serupa itu, bahkan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena Qur’an adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat. Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk menonjolkan mukjizat rasulullah SAW.

b. Al-Qur’anul karim hanya dinisbahkan kepada Allah, sehingga dikatakan “Allah ta`ala telah berfirman”, sedang hadits qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah, sehingga nisbah hadits qudsi kepada Allah itu merupakan nisbah yang dibuatkan. Maka dikatakan: “Allah telah berfirman” atau “Allah berfirman”. Dan terkadang pula diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah SAW tetapi nisbahnya adalah nisbah khabar, karena Nabi yang menyampaikan hadits itu dari Allah, maka dikatakan “Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari Allah SWT”.

c. Seluruh isi Qur’an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakannya adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya masih memerlukan analisa. Ada kalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang pula dha`if (lemah).

d. Al-Qur’anul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka dia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedang hadits qudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah SAW. Hadits qudsi ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebab itu, menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja.

e. Membaca Al-Qur’anul Karim merupakan ibadah, karena itu ia dibaca di dalam shalat. `Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur`an itu` (QS. Al-Muzzammil:20).
Nilai ibadah membaca Qur’an juga terdapat dalam hadits :`Barang siapa membaca satu huruf dari Qur’an, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf`. Sedang hadits qudsi tidak diperintahkan untuk membacanya di dalam shalat.
Satu hal lagi, membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala sebagaimana membaca Qur’an bahwa pada setiap huruf akan mendapatkan kebaikan. Hadits qudsi ini baru bernilai pahala apabila sudah diamalkan.
Wallahu a’lam bishshawab. Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

http://www.eramuslim.com/ustadz/hds/6328135647-beda-hadits-qudsi-dengan-al-quran.htm?other

Sanad dan Matan Hadits

Sanad Hadits :
Sanad atau thariq ialah jalan/jalur yang dilalui perawi dalam meriwayatkan sebuah hadits, sehingga merupakan rangkain bersambung. Misalnya, dalam sebuah hadits Imam Al-Bukhari mengatakan, “Telah diberitakan kepadaku dari Muhammad bin Al-Mutsanna, dari ‘Abdul Wahhab ats-Tsaqafi dari Ayyub dari Abi Qilabah dari Anas dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, yang artinya :”Tiga perkara, yang barang siapa mengamalkannya, niscaya memperoleh kelezatan iman. Yakni :
(1) Allah dan rasul-Nya hendaklah lebih dicintai daripada selainnya.
(2) Kecintaannya kepada seseorang tidak lain karena Allah semata-mata, dan
(3) keengganannya kembali kepa da kekufuran, seperti keengganannya dicampakkan ke neraka’.”

Maka, matnul (matan/isi) hadits “stalasun” sampai dengan “an yuqdzafa finnar” diterima oleh Al-Bukhari melalui sanad pertama (Muhammad ibnul Mutsanna), sanad kedua (Abdul Wahhab ats-Tsaqafi), sanad ketiga (Ayyub), sanad keempat (Abi Qila bah) , dan seterusnya sampai sanad yang terakhir: Anas r.a., seorang sahabat yang langsung menerima sendiri dari Nabi Muhammad saw.
Dalam hal ini dapat juga diurutkan secara terbalik, dikatakan bahwa sabda Nabi tersebut disampaikan oleh sahabat Anas r.a. sebagai rawi pertama, kepada Abu Qi labah. Kemudian, Abu Qilabah sebagai rawi kedua menyampaikan kepada Ats-Tsaqafi, dan Ats-Tsaqafi sebagai rawi ketiga menyampaikan kepada Muhammad Ibnul Mutsanna, hingga sampai kepada Al-Bukhari sebagai rawi terakhir. Dengan demikian, Al-Bukhari itu menjadi sanad pertama dan rawi terakhir bagi kita.
Dalam bidang ilmu hadits, sanad itu merupakan neraca untuk menimbang shahih atau tidaknya suatu hadits. Andaikata salah seorang dalam sanad-sanad itu ada yang fasik atau yang tertuduh dusta, maka dhaiflah hadits itu, hingga tidak dapat di jadikan hujjah untuk menetapkan suatu hukum.

Matan (Matnul) Hadits
Yang disebut dengan matnul hadits ialah pembicaraan (kalam) atau materi berita yang diungkapkan oleh sanad yang terakhir atau perawi, baik pembicaraan itu sabda Rasulullah saw., sahabat, ataupun tabi’in; baik isi pembicaraan itu tentang perbuatan Nabi maupun perbuatan sahabat yang tidak disanggah oleh Nabi. Misalnya, perkataan sahabat Anas bin Malik r.a., “Kami bershalat bersama-sama Rasulullah saw. pada waktu udara sangat panas. Apabila salah seorang dari kami tidak sanggup menekankan dahinya di atas tanah, maka ia bentangkan pakaiannya, lantas sujud di atasnya.”
Perkataan sahabat yang menjelaskan perbuatan salah seorang sahabat yang tidak disanggah oleh Rasulullah saw. (Teks “Kunna” sampai dengan “fasajada ‘alaihi”) disebut matnul hadits.

[Sumber: Diadaptasi dari Ikhtisar Mushthalahul Hadits, Drs. Fatchur Rahman]
PUSAT INFORMASI DAN KOMUNIKASI ISLAM INDONESIA
http://www.alislam.or.id
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 037/th.04/Muharram-Safar 1429H/2008M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: