Menggunakan Dalil Dari Al-Kitab

Labbaik edisi no.36 ini secara khusus berusaha mengungkap perihal keberadaan nubuat-nubuat (tanda kenabian) rasulullah SAW yang terdapat dalam injil, baik dalam perjanjian lama maupun yang baru. Dan nyata-nyata dalam edisi kali ini bertebaran dalil-dalil yang berasal dari alkitab (injil). Lantas timbul pertanyaan, “Bolehkah kita memakai dalil-dalil berasal dari injil? Bukankah Al Qur’an itu merupakan penasakh dari kitab-kitab sebelumnya ?”.

Benar, Al Qur’an adalah penasakh dari kitab-kitab sebelumnya. Namun bukankah di dalam Al Qur’an telah tercantum ayat yang artinya :”“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil (menutupi firman-firman Allah yang termaktub dalam Taurat dan Injil dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat mereka (ahli Kitab) sendiri), dan menyembunyikan kebenaran (maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad SAW yang tersebut dalam Taurat dan Injil), pada hal kamu mengetahuinya ?“. (QS.Ali ‘Imran : 71). Juga dalam ayat, yg artinya : “Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS.Ash Shaff : 6).

Untuk membuktikan ayat-ayat sebagaimana tersebut di atas, mau tidak mau, suka tidak suka, ya terpaksa harus membuka kitab-kitab mereka itu. Dan setelah ditemukan bukti-bukti dalam alkitab, maka sudah selayaknya kita sampaikan bukti-bukti yang berasal dari ayat-ayat injil tersebut.

Bayangkan, apa yang bakal terjadi, seandainya kita ingin menyampaikan tentang kebenaran yang haq kepada golongan ahli kitab namun hanya menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan sunnah rasulullah SAW saja ?. Berbagai reaksi dengan sangat mudah bisa kita gambarkan, terutama reaksi-reaksi yang sifatnya negatif.
Memang benar, apapun permasalahannya, sebagai seorang muslim tidak bisa tidak, harus selalu berpedoman kepada Al Qur’an dan hadits, karena kedua pusaka inilah yg dipesankan nabi SAW supaya dipegang teguh agar tidak sampai tersesat. Termasuk juga dalam menyampaikan kebenaran jalan hidup terhadap kaum ahli kitab. Namun harus diingat bahwa, lain masalah lain pula caranya. Betapa mudahnya kita membayangkan bakal menghadapi muka-muka berwarna merah karena marah, apabila kita ngotot menggunakan Al Qur’an (dan Hadits) sebagai dalil-dalil untuk mengawalinya, apalagi bila melihat bahwa dalam Al Qur’an bertebaran ayat yang jelas-jelas mengkafirkan para ahli kitab itu.

Kesimpulannya, secara teori, apabila kita tetap ngotot mengutamakan dan mendahulukan Al Qur’an dan hadits sebagai dalil-dalilnya, niscaya akan sulit untuk meraih keberhasilan. Memang ada sebagian kecil dari para ahli kitab itu yang cukup dihadapi dengan menggunakan kedua dalil ( Al Qur’an dan hadits), dan hal itu sudah mampu untuk menyadarkan mereka tentang kebenaran Islam. Tapi faktanya kejadian seperti ini sangat-sangat langka.
Cara yang paling jitu adalah memulainya dengan memakai dalil-dalil yang ada dalam kitab-kitab para ahli kitab itu sendiri, untuk menunjukkan berbagai kelemahan dan kesalahannya, baru kemudian menjelaskan tentang kebenaran dengan menggunakan dalil-dalil dari Al Qur’an dan hadits. Meski pun cara seperti ini tidak menjamin pasti berhasil, namun fakta membuktikan bahwa strategi seperti ini memiliki tingkat keberhasilan yang jauh lebih baik.

Atas dasar argumentasi di atas, sehingga kebanyakan ulama-ulama Islam ahli kristologi apabila bermaksud menyampaikan dalil-dalil perihal kebenaran yg haq, termasuk perihal nubuat-nubuat kerasulan Muhammad SAW dalam ayat-ayat al-kitab, maka yg biasa disampaikan justru dalil-dalil yg diambil dari alkitab itu sendiri. Banyak ulama-ulama Islam ahli kristologi yang menggunakan metode seperti ini, dari kalangan ulama klasik tercatat antara lain : Ibnu Hazm, Ibnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, dll. Adapun di abad modern ini lebih banyak lagi kita dapat menemukannya, misalnya : Syaikh Ahmed Deedat, Abu Deedat, LS.Mokoginta, Irene Handono, Prof.HS.Tharick Chehab, Dr.Jerald F.Dirk, dll. Hal ini dipertegas oleh pernyataan Syeikh Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrin, “Cara seperti ini tidak melanggar syariat Islam. Penggunaan dalil-dalil kitab para ahli kitab (Injil) adalah lebih mudah, karena di samping tidak bertentangan dengan kondisi Al-Qur’an yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab mereka, juga untuk membuktikan terlebih dulu berbagai kesalahan yang ada dalam kitab para ahli kitab tersebut (Injil)”.

Dalil-dalil kedekatan hubungan antara Isa AS dengan Muhammad SAW :

Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Tajriidu Asmaaish-Shahabah 1 : 432, berkata : “Isa putra Maryam adalah seorang sahabat dan seorang Nabi, karena pernah melihat Nabi SAW pada malam isra’ dan mengucapkan salam kepadanya. Maka dia adalah sahabat yang paling akhir meninggalnya.” Khususiyyah (keistimewaan) Isa didasarkan pada sabda Nabi SAW yang artinya :”Aku adalah orang yang paling dekat dengan Isa putra Maryam. Antara aku dan dia tidak diselingi oleh Nabi lain.” [Shahih Bukha ri 6 : 477-478, Kitab Ahadiitsil Anbia’, Bab Qaulilah “Wadzkur fil Kitaabi Maryam”; juga dlm Shahih Muslim 15 : 119, Kitab Al-Fadhaail, Bab.Fadhaail Isa AS].

Rasulullah SAW adalah orang yang paling istimewa dan paling dekat dengan Isa AS, karena Isa lah yang menyampaikan berita akan datangnya Rasulullah SAW, dan menyeru manusia untuk membenarkan dan mengimaninya, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaff : 6 di atas. Hal ini telah dijelaskan dalam Al-Minhaj Fi Syu’abil Imam 1 : 424-425 oleh Al-Hummi; dalam At-Tadzkiroh oleh Al-Qurthubi : 679; juga dalam Fathul-Bari 6 : 493; dan catatan kaki kitab At-Tashrih bimaa Tawaata ro Fii Nusuulil Masiih: 94 oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghodah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan :”Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, maukah engkau memberitahukan kepada kami tentang dirimu ?’. Beliau menjawab, ‘Mau, aku adalah realisasi do’a Ibrahim dan kabar gembira yang pernah disampaikan saudaraku Isa. ” [Ibnu Ishaq dalam As-Siroh, riwayat di atas dinukil pula dalam Tahdzib Siroh Ibnu Hisyam : 45 oleh Abdus-Salam Harun, penerbit Al-Majma’ul Ilmi Al-‘Arabi Al-Islami, Beirut]. Ibnu Katsir mengomentari tentang isnad riwayat ini, beliau berkata, “Ini isnad yang bagus. ” Dan beliau mengemukakan beberapa riwayat sebagai syahidnya yang berasal dari riwayat oleh Imam Ahmad. Penjelasan ini dapat dilihat dalam Tafsir Ibnu Katsir 8 : 136; dan dalam Musnad Imam Ahmad 4 : 127, 5: 262.

Dalil-dalil perihal kedekatan hubungan antara rasulullah SAW dengan Isa AS, sebagaimana dikutip di atas tentu sangat kecil kemungkinannya dibaca oleh saudara kita dari kalangan ahli kitab, apalagi kalau sampai memunculkan hubungan-hubungan antara Isa AS (yang menurut mereka adalah Tuhan) dengan Muhammad SAW. Karena kebanyakan dari mereka mempunyai anggapan, bahwa Yesus itulah utusan paling akhir, tidak ada lagi sesudahnya. Maka betapa sulitnya apabila tidak menggunakan dalil-dalil dari kitab para ahli kitab itu ?. Wallahu a’lam.

Maraji’ :
– Syeikh Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrrin, “Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama”.
– Asyratus Sa’ah (Tanda-Tanda Hari Kiamat), Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As’ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq.

[dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 036/th.04/Dzulhijjah-Muharram 1428H/2008M]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: