Yesaya Menukil Kejadian Saat Rasulullah di Gua Hira

Sebelum kita membahasnya, mari sejenak kita renungkan terlebih dahulu dua firman Allah yang terdapat didalam al-Qur’an akan pribadi Nabi Muhammad Saw al-Amin. “Orang-orang yg telah Kami beri Kitab itu (khususnya Yahudi dan Nasrani), mengenalnya (yaitu mengenal Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Tetapi ada sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2:146)
“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya (khususnya Yahudi dan Nasrani), yang merugikan diri sendiri itu, mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri.” (QS. Al-An’am 6:20)

Sebagai umat Islam, memiliki kewajiban untuk menyingkapkan kebenaran yang telah disembunyikan oleh orang-orang fasik dalam kalangan Yahudi dan Nasrani untuk kita beritakan kepada seluruh dunia, agar mereka tersadar dan kembali kedalam kasih Tuhan yang sebenarnya, yaitu melalui petunjuk sang Kalky Authar, Ruh Kebenaran yang dijanjikan, Rasulullah Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw al-Amin, dilahirkan pada hari Senin 12 Rabi’ul awal tahun gajah atau bertepatan dengan tahun 570 Masehi. Terlahir dari Ibu bernama Siti Aminah Binti Wahab dan ayahnya Abdullah Bin Abdul Muthalib, keturunan Bani Ismail, putra Nabi besar Ibrahim as yang dijanjikan oleh Allah, dan sekaligus merupakan kakak dari Nabi Ishak, putra Nabi Ibrahim dari Siti Sarah yang menurunkan Nabi-nabi besar untuk umat Israel.
Pada suatu malam tanggal 17 Ramadhan, bersamaan dengan 06 Agustus 610 Masehi 203 tahun 41 dari kelahirannya atau ketika usia manusia yang mulia yg digelari sebagai al-Amin itu mencapai 40 tahun 6 bulan 8 hari (tahun Qamariyah/Bulan) atau berusia 39 tahun 3 bulan 8 hari (tahun Syamsiah/Matahari), turunlah Malaikat Jibril kepadanya yang sedang bertahanuts didalam Gua Hira untuk menyampaikan wahyu yang telah ditetapkan oleh Tuhan, dan menyatakan Kalimah Allah bahwa pada malam itu juga beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul Allah, menjadi penerus risalah para Nabi sebelumnya. Dalam salah satu hadist yang menceritakan mengenai turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad Saw disebutkan, “Telah datang malaikat Jibril as kepada Muhammad sambil berkata, “Bacalah!”, dengan terkejut dan penuh ketakutan Muhammad menjawab, “Aku tiada bisa membaca.”, Ia berkata lagi, “Bacalah!”, Muhammad kembali menjawab, “Aku tiada bisa membaca”, lalu malaikat memegang tubuh Muhammad dan berseru kembali: “Bacalah !”, Muhammad menjawab : “Apa yang akan saya baca ?”, kemudian malaikat Jibril berkata: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menjadikan manusia dari segumpal darah (‘alaq). Bacalah ! Karena Tuhanmu Yang Maha Mulia ! Yang mengajar dengan Qalam (ilmu pengetahuan) Mengajar manusia apa yang tiada ia ketahui.”
(QS.Al-Alaq 96 ayat 1-5)

Kejadian Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu ini telah ternubuat dalam Kitab Yesaya pasal 29:12 . Dan kitab itu diberikan kepada seorang yang tiada tahu membaca dengan mengatakan: “Bacalah ini,” maka ia akan menjawab: “Aku tiada dapat membaca.”
(Yesaya 29:12)

Dalam satu riwayat yang lain, ketika Nabi Muhammad pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah melalui perantaraan malaikat Jibril dalam pengasingannya di Gua Hira, dimana pada waktu itu beliau mengadukan hal ini pada istrinya, Khadijjah yg lantas oleh istri beliau ini mengkonfirmasikan pula kepada saudara sepupunya yg sebagai seorang penganut ajaran ‘Isa al-masih, Waroqah bin Naufal. Disana diriwa yatkan Waroqah bin Naufal menyatakan bahwa sesungguhnya Muhammad telah menerima Namus besar sebagaimana yang pernah diterima oleh Musa, dan dia merupakan seorang Nabi Allah. Kata “Namus besar” (an-namus’l-akbar) oleh beberapa penulis di jaman-jaman berikutnya diberi anotasi, bahwa kata namus berartikan Jibril. Sementara salah seorang orientalis bernama Montagomey Watt memberikan catatan bahwa kata namus ini diambil dari bahasa Yunani yaitu “noms” yg berarti undang-undang atau kitab suci yang diwahyukan. Waroqah bin Naufal sendiri mengimani akan kenabian Muhammad meski tidak dalam waktu yang lama karena beliau wafat sebelum Muhammad memulai seruannya kepada manusia sehingga mendapatkan tantangan, pengusiran, penyiksaan hingga upaya pembunuhan.

(Dikutip dari buku “Sejarah Hidup Muhammad” oleh Muhammad Husain Haekal)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 036/th.04/Dzulhijjah 1428H-Muharram 1429H/2008M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: