Kisah-kisah di Tanah Haram Yang Berada di Luar Nalar

Luqman Berkata, “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman : 16). Begitulah salah satu pesan Luqman, yang telah dianugerahi hikmah Allah SWT, kepada anaknya yang bernama Tharan. Pesannya singkat namun isinya begitu mendalam. Intinya, bahwa Allah SWT sudah menetapkan sistem balasan (reward and punishment) pada setiap perbuatan manusia secara Maha akurat, Maha adil, dan pasti akan terjadi. Persoalan ini mungkin tampak biasa saja, namun bila kita menyimak cerita pengalaman seseorang pada saat melaksanakan haji di Tanah Suci maka kita akan mengetahui betapa dahsyat dan amat cepat balasan-Nya. Ibaratnya, detik ini seseorang berbuat atau berkata sesuatu, detik berikutnya ia langsung mendapat balasan yang sesuai dengan kebaikan atau keburukannya.

Saya mendapatkan kisah-kisah berikut ini dari rekan-rekan yang sudah menjalaninya. Insya Allah bermanfaat.

Kisah pertama tentang seorang manajer sebuah perusahaan penerbangan. Saat berada di dekat Masjidil Haram ia bertanya pada temannya, “Mana Ka’bahnya ?”. Temannya merasa heran sambil menunjuk sosok Baitullah yang megah. “Lho, itu kelihatan sangat jelas dari sini, kenapa Anda tidak bisa melihatnya ?”. Anehnya hingga selesai menunaikan ibadah hajinya, manajer tadi tetap tidak bisa melihat Ka’bah. Sulit diterima akal sehat. Belakangan barulah ia mengaku, bahwa selama itu ia terus memikirkan pekerjaan yang ditinggalkannya. Ia kuatir anak buahnya tidak bisa menjalankan pekerjaannya sewaktu dia tinggal berhaji. Jadi, walau fisiknya berada di Mekkah, namun hati dan pikirannya berada di tempat kerjanya.

Kisah kedua tentang seorang tenaga profesional sebuah perusahaan multinasional. Pada waktu itu ia bersama temannya bertadarus di Masjidil Haram sembari menunggu waktu sholat fardhu tiba. Di depan mereka ada seorang yang berperawakan tinggi dan hitam, namun telapak kakinya terlihat merah sekali. Tanpa sadar ia berkomentar, “Orang negro itu mungkin jarang pakai sandal ya ?.” Temannya tak menanggapi dan terus mengaji. Sewaktu akan pulang ke hotel, ia celingukan karena kehilangan sandalnya. Padahal sandal temannya yang diletakkan bersebelahan masih ada. Tanpa pikir panjang, ia bertelanjang kaki ke toko untuk membeli sandal baru. Tapi keesokan harinya, sandalnya hilang lagi. Kejadian itu berulang terus hingga beberapa kali. Akhirnya ia sadar akan kekhilafannya pada orang negro itu. Astaghfirullah, ia langsung mohon ampun pada Allah SWT. “Ya Allah saya ingin minta maaf pada orang negro tersebut, tapi bagaimana saya bisa menemukannya ?”. Alhamdulillah, doanya dikabulkan, karena setelah itu sandalnya tak pernah hilang lagi.

Saya kemudian ingat bahwa kisah-kisah tadi sesuai dengan peringatan Allah SWT dalam QS. Al Baqarah 2 : 197 yang artinya:” (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan menger jakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa (bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji) dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.”

Bekal taqwa itulah yang dimiliki oleh seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi terkemuka dalam kisah ketiga berikut ini. Sewaktu shalat di Mesjidil Haram ia kehilangan dompetnya. Paspor, uang sekitar 300 US dollar dan kunci hotelnya raib semua. Bisa dibayangkan jika ia merasa panik, namun Alhamdulillah ia bisa tetap tenang dan terus melakukan ibadah tanpa mempedulikan peristiwa tersebut. Dari sejak berangkat ia telah membulatkan niatnya berhaji hanya untuk mencari ridha Allah SWT semata. Tak berapa lama kemudian, ia berkenalan dengan seseorang yang rupanya menjadi anggota rombongan dari seorang pemimpin negara. Ia ditawari menjadi pemandu karena kemahirannya berbahasa Arab dan Inggris.
Alhasil ia bisa melaksanakan seluruh rukun haji dengan baik dan nyaman bersama rombongan itu. Bahkan kemudian ia bisa tidur di hotel berbintang dan sewaktu pemimpin negara tersebut pulang, ia diberi tiket pesawat dan pesangon 6000 US dollar atau sepuluh kali lipat dari uangnya yang hilang. Subhanallah.
Benarlah firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah 2 : 158 yang artinya: “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui”. Balasan seketika pada seseorang sewaktu berhaji merupakan bukti bahwa janji dan ancaman Allah SWT adalah pasti akan terlaksana. Hal itu juga menunjukkan bahwa manusia akan memperoleh apa yang diusahakannya. Allah SWT berfirman dalam QS. An Najm 39: “dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. Balasan Allah SWT itu bisa terlaksana saat masih hidup di dunia atau kelak ketika di akhirat, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al Mu’min 17: “Pada hari ini (hari berbangkit) tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” Oleh karenanya, jika ada orang yang rajin beribadah dan jujur tapi hidupnya pas-pasan, maka itu bukan berarti Allah SWT tidak menghargainya.

Sebaliknya, orang yang kebetulan memiliki harta banyak, itu bukan berarti Allah lebih sayang terhadap orang tersebut ketimbang terhadap si miskin tadi. Seyogyanya kita ingat selalu pesan Sahabat Umar bin Khattab ra. ”Hisablah diri kamu sekalian sebelum dihisab oleh Allah. Dan berhias dirilah (dengan amal) untuk menghadapi ujian terbesar. Sesungguhnya, penghisaban di hari kiamat itu ha nya akan terasa ringan bagi orang yang terbiasa menghisab dirinya di dunia.”
Wallahu a’lam bish-showab. –

Frankfurt am Main, 14 Juni 2005
http://www.eramuslim.com/ar/oa/56/19628,1,v.html

Bak Mimpi
Ada yang menarik kemarin selama menginap di Puncak. Penjaga Villa yang saya tempati adalah sepasang suami-istri. Villa tersebut bagus banyak yang menyewanya. Rumah suami-istri tersebut tepat dibawah Villa kita menginap, rumahnya sederhana sekali. Ketika kita menyewa tempat tersebut Ibu itu bilang kalau nanti hari Minggu rumahnya akan dipakai untuk ratiban (kalau tidak salah dia bilang begitu). Ternyata Bapak dan Ibu Pur (nama mereka) mau berangkat dari haji.

Ibu Pur bercerita, bahwa ada pelanggan Villa tersebut yaitu karyawan kedutaan Arab Saudi, pada suatu hari dia ditelepon olehnya, Ibu Pur mengira orang tersebut mau menyewa Villa, ternyata orang tersebut menanyakan ‘Apakah ia dan suami mau naik haji dengan gratis ?’. Ibu Pur kaget dan diam saja, karena tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ternyata memang benar, ia dan suaminya akan diberangkatkan naik haji. “Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan Jalan keluar baginya. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath Thalaq: 2 – 3)
Melihat kehidupan Bapak dan Ibu Pur yang sederhana sekali, rasanya hanya mimpi saja untuk dapat pergi haji. Tapi Alhamdulillah, Allah telah memberi mereka jalan untuk bertamu ke rumahNya. Allahu Akbar. Mudah-mudah setelah Bapak dan Ibu Pur, Allah juga memberikan jalan untuk kita sekeluarga menjadi tamu-Nya. Amin.

http://dearlucky.blogspot.com/2005_01_01_dearlucky_archive.htmlr

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS.Al Baqarah : 128)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah – DzulHijjah 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: