Ibadah Haji Perjalanan Mencari Teladan Umat

(Oleh Salahuddin Harahap, MA)

Mengawali tulisan ini, penulis mengajak para pembaca untuk merenungkan sebuah dialog yang sempat direkam ketika penulis sedang berada di kampung halaman. Seorang hamba Allah (calon jamaah haji) yang telah berusia sekitar 62 tahun rahimallauh ‘aliai berkata kepada anak-anaknya sebagai berikut : “Alangkah bahagianya ayah kalau saja kesempatan menunaikan ibada haji ini dapat ayah laksanakan 15 atau 10 tahun yang lalu”. Salah seorang anaknya berkata: ” Wahai ayahanda, sesungguhnya ibadah haji ini lebih sempurna jika dilaksanakan ketika tanggungan kita sudah tiada, agar lebih tenang dan lebih khusyu'”. Lalu sang ayah melanjutkan: “Ketahuilah sesungguhnya bukan umur tua yang mengharapkan ibadah haji, tetapi kerusakan dan kebobrokan akhlak umat inilah yang sedang menunggu-nunggu pembaharuan dari mereka yang berhaji, bukankah yang berangkat haji berarti telah menyempurnakan iman dan akhlaknya, dan bukankah mereka telah mengunjungi rumah Maha Guru Alam Semesta Allah SWT”.

Dialog yang berlangsung begitu sederhana, akan menyusup ke dalam relung perenungan kita, sebab di dalamnya termuat nilai kritik yang cukup mendalam menyangkut motivasi dan orientasi yang mengawal para jama’ah haji kita akhir-akhir ini. Untuk itu, melalui tulisan singkat ini penulis mengajak para pembaca untuk melakukan pemaknaan ulang terhadap tujuan pelaksanaan ibadah haji tersebut.

Ibadah Haji Sebagai Panggilan Nurani dan Intelektual
Ibadah haji adalah salah satu pilar penting yang harus dilaksanakan seorang muslim untuk dapat memperoleh kesempurnaan iman dan keislamannya. Setidaknya hal inilah yang kita pahami dari hadits Rasulullah yang menempatkan ibadah ini pada urutan kelima dari rukun Islam. Sebagai penyempurna keislaman tentu ibadah ini memiliki nilai dan hikmah penting dan strategis bagi pembinaan kepribadian seorang muslim baik sebagai individu maupun sebagai suatu umat. Hal tersebut karena sesungguhnya makna pemberdayaan dan pembaharuan yang terdapat dalam ibadah ini jauh lebih tinggi ketimbang makna “‘ubudiyahnya” sebagai salah satu ibadah mahdhah.

Setiap ibadah memiliki makna lahir dan makna batin, sebagaimana ia juga memiliki orientasi individual dan sosial. Makna lahir suatu ibadah biasanya dapat ditemukan dengan penyempurnaan syarat dan rukunnya yang semuanya telah diatur dalam fiqh. Sementara makna batin ibadah akan ditemukan melalui perenungan dan penghayatan secara intelektual dan spiritual hingga menyentuh aspek terdalam dan aspek sosial suatu ibadah yang hal ini terkandung dalam dimensi hikmah (‘irfan) atau ihsan. Seorang hamba yang hanya mendasarkan ibadahnya kepada makna lahir, tidak akan memperoleh apa-apa kecuali sebatas gugurnya kewajiban syar’i. Ibadah haji yang dilaksanakan tanpa dasar spiritual dan intelektual yang memadai tidak akan memberikan pengaruh apa-apa kecuali perolehan titel “Pak Haji atau Bu Hajjah” yang menghiasi namanya dan lepasnya ia dari kewajiban.

Padahal yang mewajibkan seseorang untuk melaksanakan ibadah haji selain pemenuhan pelbagai syarat yang tersimpul dalam istitha’ah, juga karena ia mendapat panggilan nurani dan panggilan intelektual. Yang dimaksud dengan panggilan nurani dan panggilan intelektual adalah kesiapan seorang hamba untuk melakukan pertemuan dengan Allah melalui jalan spiritual.
Berhaji dalam pandangan filosofi adalah diundangnya seorang hamba ke rumah Allah untuk kemudian mengadakan dialog spiritual dengan Allah agar memperoleh jawaban atas setiap persoalan yg dihadapinya baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, baik masalah iman maupun persoalan-persoalan keumatan. Inilah yg menyebabkan hampir seluruh Nabi Allah dan para ulama kita telah melakukan kunjungan ke baitullah ini ketika mereka memulai dakwahnya atau menemukan kesulitan dalam menjalankan dakwahnya. Rasulullah SAW sendiri senantiasa menjadikan pelaksanaan ibadah haji sebagai wadah melakukan dialog dengan Allah dalam mencari jalan keluar dari setiap persoalan yang dihadapinya di lapangan dakwah. Karenanya setiap kali seorang hamba melaksanakan ibadah haji, hendaknya ia mampu mendorong lahirnya sebuah pembaharuan di tengah-tengah umat atau minimal dalam dirinya.

Tentu saja untuk mendapatkan panggilan spiritual dan intelektual ini, seorang hamba harus melakukan persiapan-persiapan lahir dan batin. Seorang hamba akan merasa dipanggil oleh Tuhannya ketika ia senantiasa menjalin komunikasi spiritual dan intelektual dengan Tuhannya, hingga ia benar-benar mengenal Tuhannya, mencintainya, dan merasa rindu untuk segera bertemu dengan-Nya. Bagaimana mungkin yang tidak kenal kemudian memiliki kerinduan, dan bagaimana mungkin yang tidak memiliki rasa rindu bergegas ingin bertemu. Selanjutnya bagaimana mungkin pertemuan dengan yang tidak dikenal dan tidak pernah diingat akan berlangsung secara hangat dan bernilai.

Ibadah Haji dan Keteladanan
Akhir-akhir ini kita sedang dihadapkan pada satu trend keberagamaan baik di kalangan artis, pengusaha, pejabat, dan orang-orang kaya lainnya termasuk beberapa orang tokoh agama atau yang mengaku ulama. Trend tersebut adalah berlomba-lomba untuk memperbanyak melaksanakan ibadah haji dan umrah. Harapan setiap ibadah yg dilakukan berulang kali adalah melahirkan kesempurnaan, tapi tentu hal tersebut mengandung sejumlah syarat. Kesempurnaan haji seseorang sangat ditentukan oleh perubahan yang diperolehnya pasca pelaksanaan ibadah tersebut. Sebab haji yang baik adalah yang mampu melahirkan pembaharuan baik di dalam diri pelaksananya maupun di tengah-tengah masyarakatnya. Seorang artis yang berangkat haji atau umrah hendaknya tidak menganggap ibadah tersebut sebagai sungai atau air yang akan membersihkan dosa-dosanya, sehingga meyakini bahwa semakin sering melaksanakannya ia akan merasa semakin suci, tetapi harus disadari bahwa profesi dan ketenarannya sama sekali tidak membuatnya lebih istimewa di hadapan Allah.

Sehingga dalam hajinya, ia harus mampu bertekad untuk merubah orientasi hidup dan profesinya dari sekedar mencari ketenaran, hiburan, dan menambah materi menuju pencerahan, mendidik akhlak dan tradisi umat, serta membantu umat untuk dapat keluar dari kesulitan hidupnya, bukan justru menambah masalah. Pasca pelaksanaan ibadah haji para artis diharapkan dapat tampil sebagai teladan khususnya di kalangan rekannya satu profesi, baik dari gaya hidup, keberagamaan, dan pemeliharaan akhlak. Para artis yang telah berhaji hendaknya mampu melahirkan paradigma baru di dunia artistik, bahwa profesi sebagai artis sama sekali tidak harus merendahkan mereka di hadapan agama dan di hadapan Allah. Seorang pengusaha yang melaksanakan ibadah haji, hendaknya tidak hanya bertujuan untuk menghindar dari tuduhan pelit atau karena kelebihan uang. Ia harus manyadari bahwa uang dan kekayaannya tidak membuat hajinya lebih baik, sebab Allah tidak membedakan orang yang berangkat haji dengan jalan kaki, naik bus, pesawat, ONH biasa, ONH Plus dan sebagainya. Yang menjadi ukuran adalah kesiapan spiritual, ketulusan hati, dan pembaharuan orientasi. Ia harus menyadari bahwa di hadapan Allah apa yang dilakukanlah yang akan dihitung bukan apa yang dimiliki atau berapa yang ditabung dan didepositokan.

Dengan kesadaran tersebut, hendaknya ia bergegas mendermakan uang dan kekayaannya untuk memberdayakan masyarakat miskin di sekitarnya. Ia harus menafkahkan uang dan kekayaannya untuk membebaskan masyarakatnya dari kebodohan, sebab hal semacam itulah yang akan dihitung di hadapan Allah.
Sepulangnya dari haji ia harus mampu menjadi teladan di kalangan rekan satu profesi baik dalam mengumpulkan kekayaan, mengelola perusahaan, memperlakukan karyawan, serta menafkahkan harta yang dimilikinya. Ia harus mampu mewarisi jiwa Abu Bakar R.A. sebagai bisnisman yang tidak pernah menghitung dan membanggakan berapa tabungan dan villa yang telah sah menjadi miliknya, ia adalah pengusaha yang tidak pernah terikat oleh harta yang dimilikinya, baginya penggunaanlah yang memiliki nilai, bukan kepemilikan.

Selain menjadi teladan bagi rekannya ia juga harus mampu menjadi teladan bagi karyawannya dan membimbing mereka untuk mewarisi kesadaran sebagaimana yang telah dimilikinya. Demikian juga halnya dengan para pejabat dan para ulama, mereka harus merasakan bahwa jabatan dan kedudukkan yang disandang sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan di hadapan Allah.
Allah tidak akan menghargai seorang pejabat yang melaksanakan haji berulang kali, sementara tugas dan kewajiban yang diamanahkan kepadanya tidak dapat dilakukannya dengan baik. Kunjungannya sebagai tamu Allah hendaknya menyadarkannya, bahwa Allah menutup pandangan dari jabatan yang diperolehnya, dan hanya akan melihat apa yang telah dilaksanakannya untuk pembaharuan dan perbaikan bagi umat yang dipimpinnya.
Seorang ulama yang hanya mengandalkan keulamaan dan penghormatan yang diperoleh dari jamaahnya tidak akan mendapatkan penghargaan dari Allah, karenanya ia harus menyadari bahwa bukan banyaknya ijazah, titel, buku yang dibaca, seringnya ia naik haji yg akan diperhitungkan Allah, melainkan pembaharuan intelektual dan pembaharuan akhlak yang dilakukanlah yang menjadi ukuran berharga tidaknya ia di hadapan Allah. Karenanya ia harus bertekad untuk membebaskan umat dari kebodohan dan kemerosotan akhlak pasca pelaksanaan ibadah haji. Ia harus tampil sebagai teladan bagi masyarakatnya dalam segala hal mulai dari cara hidup, pandangan terhadap dunia terutama dalam akhlak dan budi pekerti.

Penutup
Semakin sering seseorang melaksanakan ibadah hahji hendaknya semakin banyak pula pembaharuan dan perbaikan yang dapat dilakuannya di dalam diri, keluarga, lingkungan, maupun di tengah-tengah rekannya satu profesi. Selanjutnya harus semakin tinggi pula komitmennya untuk menjadi teladan bagi orang-orang disekitarnya. Sebab tanpa itu semua, haji yang dilaksanakan tidak akan memberi arti apa-apa.
Wa Allahu A’lam bi ash-Shawab.

Harian Waspada – Waspada Online
http://www.waspada.co.id/serba_waspada/mimbar_jumat/artikel.php?article_id=71334

Arti Ihram Dan Hal-Hal Yang Disunnahkan Di Dalamnya
Pertanyaan : Apakah arti ihram dan apa yang disunnahkan bagi orang yang sedang ihram ?

Jawaban : Ihram adalah niat haji atau umrah. Yaitu ikatan hati untuk masuk dalam ibadah haji atau umrah. Dan bila seseorang telah masuk dalam ibadah haji atau umrah maka dia terlarang melakukan hal-hal yg dilarang bagi orang yg sedang ihram. Jadi ihram bukan hanya sekedar pakaian. Sebab boleh jadi seseorang memakai kain dan selendang ketika berada di daerahnya dan dengan tanpa niat namun dia tidak disebut orang yang sedang ihram. Terkadang seorang yang telah ihram dengan hatinya dan membiarkan pakaian biasanya, seperti qamis, surban dan lain-lain dan dia membayar fidyah karena dia melanggar ketentuan dalam ihram.
Adapun yang disunahkan dalam ihram adalah mandi jika badannya tidak bersih dan ihramnya dalam waktu panjang, tapi jika telah mandi dalam hari itu maka tidak perlu memperbarui mandinya. Disunnahkan juga bagi orang yang sedang ihram yaitu membersihkan dari kotoran dan sepertinya, memotong kumis jika telah panjang karena takut semakin memanjang setelah ihram dan terganggu karenanya, memakai minyak wangi sebelum niat -karena ketika telah ihram dilarang memakai farfum- agar tidak terganggu oleh keringat dan kotorannya. Tetapi bila tidak mengkhawatirkan hal demikian itu, maka tidak mengapa jika tidak memakai parfum, dan inilah yang umum dalam masa-masa tersebut karena pendeknya masa ihram, baik dalam haji atau umrah. Wallahu a’lam. –
(dijawab oleh : Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin)

[Disalin dari Buku Fatwa-Fatwa Haji dan Umrah oleh Ulama-Ulama Besar Saudi Arabia, Penyusun Muhammad bin Abdul Aziz Al-Musnad, terbitan Pustaka Imam Asy-Sya fi’i hal 80 – 83. Penerjemah H.Asmuni Solihan Zamakhsyari Lc]
http://almanhaj.or.id/

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah – DzulHijjah 1428H/2007M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: