Haji Untuk Mencari Kepuasan Atau Ketenangan ?

Pada umumnya pertanyaan yang kita ajukan kepada jamaah haji yg sudah pulang adalah tingkat kepuasan, jarang sekali kita menanyakan tingkat ketenangan bathin. Kita berani bertanya tentang tingkat kepuasan karena kita yakin bahwa yang bersangkutan tidak akan tersinggung sekalipun jawabannya tidak puas, ketidakpuasan itu biasanya bila dikaitkan dengan sarana dan prasarana. Atau sebaliknya, benar-benar merasa puas karena pelayanan haji cukup baik, cuaca dan tempat pemondokan sangat mendukung, pelayanan kesehatan sangat profesional dan semua ritual haji dapat dilakukan dengan sempurna.
Adapun urungnya hati kita menanyakan tingkat ketenangan bathin lantaran takut menyinggung perasaan yang bersangkutan karena menyangkut kualitas ibadah haji yang dilakukannya. Pertanyaan ini sebenarnya sangat perlu karena dapat dijadikan sebagai introspeksi diri dan harus pula dijawab dengan sejujurnya agar jamaah haji berikutnya tidak mengalami hal yang sama pula.

Mempertanyakan keabsahan ritual haji yang dikerjakan adalah penting, namun yang lebih penting lagi adalah menanyakan tingkat penghayatan. Kebanyakan yang kita lihat adalah pengetahuan tentang cara-cara pelaksanaan, namun kurang sekali yang mengarah kepada pendalaman makna. Oleh karena itu jamaah calon haji sebaiknya mengetahui nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ritual haji seperti ihram, thawaf, sa’i, wuquf, melempar jumrah, mabit dan lain-lain di samping memahami tata cara pelaksanaannya. Pemahaman terhadap nilai-nilai filosofis inilah yang diharapkan akan mengantarkan pelakunya ke jenjang ketenangan bathin, sementara bagi yang tidak mampu memahaminya niscaya hanya akan sampai kepada batas kepuasan. Dengan demikian maka jamaah calon haji tidak hanya memiliki ilmu sebatas tata cara pelaksanaan ritual haji, akan tetapi pengetahuan tentang makna-maknanya sangat perlu untuk diketahui supaya mudah mengadakan muhasabah diri.

Perbedaan Antara Kepuasan Dan Ketenangan Dalam Haji
Kepuasan pada hakikatnya selalu dikaitkan dengan persoalan lahiriyah yang dapat menimbulkan rasa gembira, sedang ketenangan selalu pula dikaitkan dengan persoalan bathiniyah yang dapat menimbulkan rasa keinsafan. Luapan rasa gembira pada prinsipnya mengacu kepada kebesaran diri sementara keinsafan mengacu kepada kebesaran Allah SWT. Orang-orang yang ingin mencari kepuasan ketika melaksanakan ibadah haji pada umumnya selalu memperhatikan kualitas servis yang diterimanya, sehingga mereka tidak segan-segan menghardik dan bahkan menyumpah serapahi jika layanan yang mereka terima kurang memuaskan. Lain halnya dengan orang-orang yang mencari ketenangan bathin, insya Allah tidak akan pernah keluar dari mulutnya hardikan dan bentakan sehingga mereka menerima saja apa adanya karena mereka sangat memahami bahwa dengan kondisinya yang saat itu sedang beribadah.
Bagi yang mencari kepuasan, terkesan bahwa tidak ada kesabaran dan bahkan tidak siap menerima segala kemungkinan yang berlaku ketika melaksanakan ibadah haji. Adapun bagi yang mencari ketenangan maka mereka terkesan lebih sabar dan mandiri serta tidak kasak-kusuk kesana-kemari bicara tentang ketidak-puasan. Umumnya mereka ini lebih banyak meladeni daripada diladeni karena yang penting baginya adalah dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik.

Salah satu yang menyebabkan munculnya prinsip mencari kepuasan adalah karena para jamaah sering membandingkan antara servis yang diterimanya dengan servis yang diterima oleh orang lain. Selain itu para petugas (pengelola perjalanan haji) juga selalu ‘memproklamirkan’ bahwa mereka adalah kelompok yang terbaik, dengan tujuan agar pada tahun berikutnya dapat meraup jumlah jamaah yang jauh lebih besar lagi. Akibat yang muncul dari cara yang seperti ini adalah seringnya terjadi pertengkaran antara jamaah calon haji dengan pihak petugas.
Inilah agaknya salah satu maksud dan tujuan larangan Tuhan dalam Al-Qur’an agar jamaah calon haji jangan melakukan al-jidal, karena makna lain dari al-jidal ini adalah membangga-banggakan diri sehingga memancing keributan. Oleh karena itu statement al-Qur’an ini dapat pula dipahami bahwa jamaah calon haji seharusnya lebih banyak mengambil sikap diam, karena melalui sikap ini dapat memunculkan ketenangan bathin.

Munculnya kedua perasaan di atas -apakah untuk mencari kepuasan atau ketenangan- sangat tergantung pula dengan niat sebelum berangkat. Bagi yang melaksanakan ibadah haji karena kepentingan duniawi maka dapat dipastikan bahwa tujuannya hanyalah untuk mencari kepuasan. Berbeda sekali dengan orang-orang yang berniat untuk mencari keridhaan Tuhan, maka ketenangan bathin baginya adalah hal yang paling utama. Oleh karena itu untuk mendapatkan ketenangan bathin ini maka upaya yang harus dilakukan adalah mengerjakan ritual ibadah haji dengan membawa konsep sami’na wa atha’na. Konsep sami’na wa atha’na inilah yang dapat membawa ketenangan bathin bagi seseorang, karena perintah-perintah Tuhan yang berkaitan dengan haji dilakukannya dengan tulus sebagai bukti kepatuhannya terhadap Tuhan. Bacaan-bacaan pada ritual ibadah haji hampir semuanya berkaitan dengan keagungan dan kebesaran Tuhan. Bila makna bacaan ini dihayati dengan baik dan benar maka insya Allah tidak akan ada lagi persoalan yang berkaitan dengan sarana dan prasarana karena semua ini dianggap kecil dan lenyap di bawah bayang-bayang keagungan dan kebesaran nama Tuhan.

Sebaliknya bila ucapan-ucapan ini tidak terhayati dengan baik dan benar maka pekerjaan ritual haji akan terasa berat. (bahkan telah muncul pikiran yang ingin memudahkan ritual haji seperti menggunakan semacam eskalator di waktu thawaf). Kemudian jauhnya tempat penginapan selalu saja menjadi bahan pembicaraan yang seolah-olah tidak senang menerima keadaannya. Padahal semakin sulit mengerjakan suatu ibadah maka semakin mudah pula menghayati dan mendalami maknanya. Ketika ibadah yang sulit tadi selesai dikerjakan maka muncullah suatu ketenangan yang dapat mengantarkan pelakunya ke tingkat kelezatan ibadah, sehingga terciptalah suatu keasyikan. Ketenangan, kelezatan dan keasyikan akan membawa subjeknya kepada kedinamisan hidup, yang pada akhirnya ada keterpanggilan jiwa untuk mengerjakan sesuatu yang memiliki nilai-nilai ibadah baik yang bernuansa ketuhanan maupun yang bernuansa kemanusiaan.

Namun demikian bukan berarti harus ada rekayasa yaitu sengaja mencari-cari kesulitan, karena dengan cara seperti ini akan terjerumus ke dalam praktek takalluf (memberat-beratkan diri). Sebenarnya tanpa mencari-cari kesulitanpun pada prinsipnya ritual ibadah haji adalah berat dan sulit, tapi bila hati yang mengerjakannya ikhlas maka kesulitan-kesulitan ini tidak berarti sama sekali. Dan dampak positif dari keasyikan mengerjakan ibadah haji akan tertular kepada ibadah-ibadah yang lain seperti shalat dan puasa. Dan oleh karena itu sering pula kita jumpai kwalitas dan kwantitas ibadah seseorang semakin meningkat pasca pelaksanaan ibadah haji. Hal seperti inilah yang diharapkan melalui ibadah haji, dan ini pula agaknya yang disebut dengan haji mabrur, karena ibadahnya jauh lebih baik dan tekun dari masa-masa sebelumnya.
Ketenangan bathin akan didapat dari pelaksanaan ibadah haji apabila tata cara pelaksanaannya dilakukan dengan baik dan benar dan kemudian mengetahui nilai-nilai filosofis yang terkandung pada masing-masing ritual haji. Apabila nilai-nilai filosofis ini terabaikan, maka pelaksanaan ibadah haji tidak lebih kecuali hanya sebatas kepuasan, dan implikasinya tidak akan kita jumpai perubahan yang signifikan pada diri seseorang.
Wallahu a’lam.
[Oleh Drs. Achyar Zein, M.Ag – Dosen Fak. Tarbiyah IAIN-SU]

Harian Waspada – Waspada Online
http://www.waspada.co.id/serba_waspada/mimbar_jumat/artikel.php?article_id=71335

“Dan (inilah) suatu permakluman daripada Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar[a] bahwa sesungguhnya Allah dan RasulNya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertobat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (QS.At Taubah : 3)

Keterangan :
[a]. Berbeda pendapat antara mufassirin (ahli tafsir) tentang yang dimaksud dengan haji akbar, ada yang mengatakan hari Nahar, ada yang mengatakan hari Arafah. Yang dimaksud dengan haji akbar di sini adalah haji yang terjadi pada tahun ke-9 hijrah.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 035/th.04/DzulQoidah – DzulHijjah 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: