Terorisme Militer A.S.

(kisah Samir Gustavo Jerez)

Sesungguhnya di neraka jahanam itu ada tempat mengintai, dan menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. (QS 78:21-22)

Menurut Muslim in the Military, sebuah organisasi yang bermarkas di Pentagon, pada 90 persen pangkalan militer AS di seluruh dunia ada anggota militer yang beragama Islam. Pada 1993, populasi umat Islam di angkatan bersenjata AS seluruhnya berjumlah sekitar 5.000 orang. Anggota militer yang beragama Islam kini tengah berupaya untuk memperoleh perlakuan dan pengakuan yang sama sebagaimana pemeluk agama lainnya. Sementara ini, anggota militer yang beragama Islam di Pentagon memanfaatkan kantor bagian Bintal untuk menyelenggarakan shalat Jumat dan kegiatan dakwah lainnya. Kursi-kursi dan mebel lain mereka sisihkan untuk memungkinkan shalat berjamaah, dan mereka gunakan kertas tisu sebagai sajadah. Mereka juga menerbitkan majalah kecil dengnn judul, “Muslim Military Members, Unity in Uniform “.

Samir Jerez, lahir di New York dari keturunan Cuba dan Puerto Rico, masuk Islam ketika berpangkat E4 di pangkalan militer Camp Pedleton, California. Sebuah film yang disaksikannya dalam program latihan kemiliteran di Troop Info Day, telah mengusik keyakinan religiusnya.

Setiap orang dengan pangkat sersan atau yang lebih rendah wajib mengikuti rangkaian program pelatihan tertentu. Salah satu di antaranya adalah mengenai terorisme. Pelatihan itu diselenggarakan oleh angkatan laut, berupa pemutaran sebuah film dengan judul American Expose, diproduksi oleh Jack Anderson. Film ini menggambarkan kaum Muslim, dan hanya kaum Muslim, sebagai teroris. Semestinya program ini memberi gambaran global tentang masalah terorisme di seluruh dunia. Nyatanya film itu lebih memfokuskan ke wilayah Timur Tengah.

Film dimulai dengan musik pembukaan dan tayangan potongan adegan orang-orang buntung yang anggota badannya berserakan di jalan, orang-orang ditembak dan ditikam. Orang-orang lainnya dipertontonkan bersimbah darah atau luka-luka. Sementara itu sekelompok lainnya tengah menangis, dan ironisnya, orang-orang yang menangis itu digambarkan sebagai Muslim, karena mengenakan hijab.

Adegan berikutnya adalah kaum Muslimin yang sedang menunaikan shalat berjamaah, diiringi dengan komentar bahwa era baru fundamentalisme kini sedang bangkit. Adegan orang-orang yang sedang shalat itu dimunculkan silih berganti dengan adegan ledakan bom dan tubuh hancur berkeping-keping, disusul dengan seorang perempuan yang menangisi tubuh korban.
Lantas ada komentar, “Kalau mereka bersedia mati untuk Tuhannya, mungkin kita perlu datang ke sana untuk menyelematkan mereka.”

Film itu benar-benar membuat darah saya mendidih. Selama empat puluh menit pertunjukan film itu, saya berusaha menahan diri untuk tidak meledak marah. Ketika di layar muncul seorang wanita tua bertubuh kecil sedang berjalan, naratornya berucap: “Dia bisa saja merupakan teroris berikutnya.” Begitu pula pada saat layar memperlihatkan gambar sekelompok anak-anak Muslim, si narator berkata, “Mereka boleh jadi merupakan teroris masa depan.”

Begitu pemutaran film selesai, pertanyaan pertama yang diajukan adalah, “Bagaimana kalau kita angkat senjata dan hancurkan mereka ?” Kalimat itu sunguh-sungguh membuat saya tersinggung. Jawabannya adalah sebuah respon sarkastik tentang perintah Presiden yang melarang pembunuhan.

Yang sedang saya ceritakan itu berkaitan dengan sekelompok anggota Marinir yang baru saja menonton adegan rekan-rekan mereka yang tewas akibat serangan bom bunuh diri di Beirut. Saya dapat merasakan apa-apa yang mereka rasakan. Saya mendengar ada yang berkomentar, “Rasanya kita benar-benar perlu turun tangan untuk menghancurkan mereka. Dengan begitu, dunia ini akan menjadi aman dan damai.”
Sebenarnya sulit juga untuk menyalahkan mereka. Program-program pemutaran film semacam itu adalah satu-satunya sarana mereka untuk mengenal Islam dan Muslim. Dan terus terang, sebelum saya mengetahui apa-apa tentang Islam, ingin rasanya saya bertemu dengan salah satu teroris di sebuah pesawat dan membunuhnya sebelum mereka sempat membajak pesawat itu.

Lantas saya bertanya kepada instruktur, “Anda bilang bahwa Yaser Arafat adalah seorang teroris. Bagaimana dengan Mafia ?”

“Mafia bukanlah teroris. Menurut pemerintah AS, terorisme diciptakan oleh Yaser Arafat pada 1968,” jawab instruktur itu.
Merasa tak puas, saya menantangnya, “Anda yakin dengan pernyataan itu ?”
“Ya, saya yakin,” jawabnya.
Saya bertanya lagi, “Apakah ini gambaran terorisme global. Kenapa yang dipertontonkan hanya tentang Timur Tengah, padahal terorisme muncul di seluruh dunia ?”
“Saya kira film itu sudah bagus, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya,” katanya.
Sekitar tujuh sampai delapan pertanyaan muncul dalam diskusi sesudah pemutaran film itu. Ketika waktu istirahat, saya dekati dia. “Saya bersedia melakukan riset kecil-kecilan untuk memperdalam pengetahuan tentang terorisme. Bolehkah saya mendapatkan satu rekaman film itu ? Saya yakin itu akan sangat bermanfaat.”
“Oh, tentu saja; ” jawabnya sambil memberikan kaset film itu.
Langsung saja saya kirimkan kaset itu ke hagian audiovisual untuk direkam.

Tiga pekan lamanya saya harus menunggu untuk bertemu dengan salah satu pejabat di pangkalan itu. Ketika tiba saatnya untuk bertemu, dia hanya memberi saya waktu tiga menit, seraya menekankan bahwa dia tak mau berurusan dengan soal-coal keagamaan maupun politik. Dia juga mengatakan bahwa walau apa pun yang terjadi dia tak akan menghilangkan film itu dari program pelatihan.

Saya tak menemukan organisasi yang memperjuangkan hak-hak umat Islam untuk tidak diperlakukan sewenang-wenang. Akhirnya saya hubungi American-Arab Anti-Discrimination Commitee (ADC). Saya bawa rekaman film itu ke ADC, dan mereka kemudian mengirimkannya ke kantor cabangnya di Washington. Kantor Washington menggelar sebuah konferensi pets. Mereka juga menulis surat kepada Komandan Korps Marinir, dan mengirim rekaman film itu kepada Menteri Pertahanan dan Komandan Pangkalan Militer tempat saya bertugas. Komandan pangkalan memberi jawaban yang cukup melegakan, “Kami tidak akan memutar film itu sambil menunggu penelaahan lanjutan.” Media massa lantas memunculkan isu ini, dan memberitakan bahwa Korps Marinir akhirnya bersedia melakukan perbaikan. Mereka telah memutuskan untuk tidak memutar film itu lagi.

Sayangnya, kami bukanlah grup pertama yang menyaksikan film tersebut. Telah banyak kelompok-kelompok sebelum kami yang menonton pemutaran film itu; di pangkalan ini maupun pangkalan-pangkalan militer lainnya. Banyak anggota militer yang tak suka dengan tindakan tersebut, karena mereka senang menonton film itu.

Saya kemudian memasukkan pengaduan setebal 200 halaman, dan menggelar konperensi pers di Islamic Education Center, Walnut, California. Konferensi pers itu diliput dan disiarkan oleh stasiun TV setempat. Hingga kini kami masih menunggu jawaban atas pengaduan saya.
Saya berharap kaset itu akan dihancurkan. Dan saya juga berharap kejadian ini akan membuat semua lebih waspada, baik kaum Muslimin maupun orang-orang yang bukan Muslim. Bayangkan, betapa banyak anggota Marinir seperti saya yang telah berkeliling dunia, termasuk Somalia yang merupakan negeri Muslim, tapi telah diajarkan untuk membenci kaum Muslimin. Karena itu saya masih mengharapkan adanya sebuah program pelatihan ulang untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang Islam. Saya sadar bahwa ini merupakan harapan yang berlebihan, tetapi saya pikir hal itu memang benar-benar dibutuhkan. Itulah harapan saya.

Sepucuk surat dari Komite Anti-Diskriminnsi Arab-Amerika (ADC) yang ditujukan kepadn jenderal Carl E. Munday Jr., Komandan Korps Marinir AS, tertanggal 8 Pebruari 1993, menyoroti pernyataan-pernyataan Korps Marinir AS yang mengemukakan bahwa menurut laporan dari Biro Keamanan Diplomatik Deplu AS, hanya 8 dari 233 insiden anti-AS pada 1990 yang ada kaitannya dengan negara-negara Timur Tengah. Surat itu juga mengemukakan bahwa menurut laporan Deplu AS 1990 tentang “Pole Terorisme Global”, terorisme lebih banyak terjadi di negara-negara Amerikan Latin (762) dan Asia (96), ketimbang di Timur Tengah (hanya 63 kali), dan menyatakan bahwa ketidakakuratan dalam film itu memang tak dapat dipungkiri. Timur tengah didefinisikan sebagai “sarang teroris” dan anak-anak Palestina disebutnya sebagai “Teroris masa depan”, dan bahwa Muslim disamakan dengan “jutaan orang yang bersedia mati untuk mencapai tujuan (dengan cara kekerasan).”

(dari : Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X oleh Steven Barbosa, Judul Asli: American Jihad, Islam After Malcolm X, Terbitan Bantam Doubleday, Dell Publishing Group, Inc., New York 1993, Penterjemah: Sudirman Teba dan Fettiyah Basri, Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124, Cetakan 1, Jumada Al-Tsaniyah 1416/Oktober 1995
Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038)

http://media.isnet.org/v01/index.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.017/th.02/Rajab-Sha’ban 1426H/2005M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: