Saatnya pena Islam bicara !

Saya terkejut ketika membaca sebuah tulisan yang menyudutkan Islam. Ada kemarahan di dada saya. Saya ingin sekali menanggapinya, tapi saya merasa tidak punya kemampuan untuk itu. Saya berdoa dan berharap semoga ada seorang ulama atau cendikiawan muslim yang mau menanggapi tulisan itu. Saya menunggu beberapa hari, beberapa minggu, tak ada satu pun muslim yang mau menanggapinya. Saya mengeluh, mengapa sampai terjadi begini? Mengapa umat Islam tidak peka terhadap permasalahan yang dihadapi agamanya sendiri ?

Saya pernah mendengar ceramah Ust. Adian Husaini, di Timur Tengah sana, katanya, jika ada satu tulisan atau satu buku yang telah jelas-jelas menyimpang atau mendiskreditkan Islam, maka kemudian lahirlah puluhan artikel atau buku sebagai tanggapan atas buku yang menyimpang itu. Tidak heran, begitu banyak buku-buku terjemahan bahasa Arab telah diterbitkan di negeri ini. Karena mereka sudah menganggap aktivitas menulis sebagai bagian dari jihad mereka.

Saya sendiri menyadari, bahwa saya tidak mungkin dan juga tidak ingin menyalahkan orang lain; mereka yang memiliki kemampuan untuk mengkritisi setiap berita atau tulisan yang menyerang Islam dan umatnya, tetapi malas menanggapinya. Sebagai seorang muslim, saya memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan diri saya, keluarga saya, dan saudara-saudara saya dari setiap upaya yang bertujuan untuk mendangkalkan akidah agama kami. Saya mesti berbuat ! Itulah tekad saya. Jangan hanya mengatakan di dalam hati, “Itu tidak benar !” sambil menggerutu tidak karuan. Hanya menolak dalam hati, sebagaimana yang disabdakan Nabi, adalah selemah-lemahnya Iman. Kaum muslimin harus berjuang dengan keimanan yang kokoh dan ilmu yang mendalam. Sehingga ketika terjadi “benturan” kita dapat memenangkannya. Kita seharusnya mulai peka terhadap hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan agama kita. Dan kemudian meluruskannya kembali dengan kekuatan dan kemampuan yang kita miliki. Meningkatkan kualitas dan kuantitas keilmuan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dengan ilmu itu, seorang muslim menjadi tahu, mana yang benar dan mana yang salah. Jika sesuatu ia ketahui salah, maka ia berusaha meluruskannya sekuat tenaga. Karena ia yakin sesuatu itu adalah salah.


Para ulama kita sangat rajin menulis. Imam Ibnu Al-Jauzy dikabarkan mampu menulis empat puluh halaman sehari. Imam Hasan Al-Banna menulis sebuah tanggapan atas buku Dr. Thaha Husein (tokoh sekuler Mesir) ketika beliau sedang dalam perjalanan pulang naik kereta. Imam Muhammad Abduh menulis buku “Ilmu menurut Islam dan Kristen” hanya dalam sehari ! Sebagai tanggapan terhadap tulisan seorang Kristen yang menyebutkan bahwa Islam tidak menghargai ilmu pengetahuan. Asy Syahid Sayyid Quthb menulis bukunya yang paling fenomenal, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an ketika sedang berada di dalam penjara. Harun Yahya telah menulis lebih dari dua ratus judul buku, sebagai tanggapan terhadap penyimpangan moral yang terjadi di negaranya dan di dunia pada umumnya. Prof. Musthafa Al-A’zami menulis sejumlah buku yang meruntuhkan pemikiran sesat para orientalis. Bahkan hanya dengan satu buku saja, beliau mampu meruntuhkan teori Schacht dan Goldziher yang sebelumnya mampu bertahan bertahun-tahun lamanya dan dianggap sebagai teori ilmiah. Para ulama-ulama itu begitu luar biasa dalam menulis. Sehingga mulut ini tidak berhenti berdecak kagum atasnya.


Kita harus meyakini bahwa pemikiran para penyerang Islam itu sangat lemah dari segi manapun. Seperti halnya jaring laba-laba yang sangat mudah kita koyak-koyak. Sehingga dengan kebenaran, keimanan dan ilmu yang kita miliki, kita dapat dengan mudah mematahkan argumentasi mereka. Intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.

Setidaknya kita dapat memulainya dari yang terkecil dan tersederhana sesuai dengan kemampuan kita. Setidaknya kita telah berbuat dengan berdakwah lewat pena (da’wah bil qalam).

Bagaimana jadinya jika ada seribu muslim dari dua ratus juta muslim menanggapi sebuah tulisan atau berita yang menyimpang dari kebenaran yang sesungguhnya ? Si penulis buta itu pasti akan bungkam seribu bahasa, tidak menyangka akan mendapat “serbuan” seperti itu. Mari, jangan tunda-tunda lagi. Sudah saatnya pena-pena Islam bicara !

http://penulis-muda.blogdrive.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.017/th.02/Rajab-Sha’ban 1426H/2005M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: