Mengenal dan Mengasihi Muallaf

Teman,
Ketika mendengar kata muallaf, yang terlintas dalam pikiran kita ialah orang yang baru masuk Islam. Bahkan ketika orang itu sudah bertahun-tahun masuk Islam, kita masih suka menyebutnya muallaf. Sangat menarik perhatian saya, ketika Ustadz Anwari Hambali dari Hidayatullah memberikan definisi baru dari kata muallaf. Beliau menerangkan ada 4 (empat) macam muallaf.

Keempat macam muallaf tersebut dapat digambarkan seperti gambar di samping. Orang-orang yang berada di dalam kotak berwarna merah ialah orang-orang kafir. Sedangkan orang-orang yang berada di dalam kotak berwaran hijau ialah orang-orang Islam. Dalam dinamikanya, banyak orang yang tetap konsisten berada di dalam salah satu kotak berwarna merah atau hijau. Tetapi tidak sedikit orang yang berada di kotak hijau bergerak mendekati kotak merah. Begitu pula sebaliknya, tidak sedikit orang di dalam kotak merah bergerak menuju kotak hijau. Orang-orang yang bergerak lintas kotak inilah yang potensial atau bahkan menjadi muallaf. Siapa sajakah mereka ?

Pertama, orang kafir yang bergerak mendekati Islam, tetapi belum memasuki Islam.
Kedua, orang kafir yang baru memasuki Islam. Inilah muallaf yang selama ini dikenal masyarakat luas.
Ketiga, orang Islam yang baru terjerumus memasuki kekafiran.
Dan keempat, orang Islam yang sudah bergerak ke arah kekafiran.

Di era global seperti sekarang, di mana serbuan informasi dari berbagai arah sudah sulit dibendung, terjadi interaksi yang cukup intens antar masyarakat, dari berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama. Proses interaksi ini menimbulkan pencampuran budaya yang dikenal dengan istilah akulturasi. Yang menjadi masalah, ketika yang terjadi adalah pencampuran agama. Tidak sedikit orang Islam yang juga melaksanakan ritual agama lain, entah dia sadar atau tidak. Tidak sedikit juga orang Islam yang tidak shalat dengan berbagai alasan. Bahkan tidak sedikit orang Islam yang secara tidak sadar meng-illah-kan sesuatu selain Allah. Jika kondisi seperti ini dibiarkan, maka sangat mungkin akan bertambah banyaknya muallaf pada nomor 3 dan 4 .

Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang ? Allah, Rabb kita ialah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia menurunkan sifat kasih sayang-Nya kepada Rasulullah Muhammad saaw yang dijuluki Rahmatan Lil-‘Aalamiin (rahmah untuk seluruh alam). Kita, sebagai hamba Allah, dan pengikut Rasulullah Muhammad, hendaklah juga berusaha untuk menjadi rahmah, mengasihi seluruh alam. Mengasihi anak, istri, orang tua, hewan, tumbuhan, bahkan orang-orang kafir.
Pertanyaan berikutnya, apa sikap kita sebagai wujud implementasi sifat mengasihi ? Allah mengasihi manusia dengan menciptakan alam ini untuk manusia. Hal ini dapat kita baca panjang lebar dalam Quran surat Ar-Rahman (55). Untuk mengolah alam ini, Allah juga memberikan petunjuk berupa Al-Quran, supaya manusia tidak terjerumus kepada kerusakan.

Nabi Muhammad saaw mengajak masyarakat jahiliyah ke jalan yang diridhai Allah. Beliau berhasil mewujudkan masyarakat madinah, sebuah masyarakat yang mendatangkan rahmah, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh masyarakat. Sebagai hamba Allah dan pengikut nabi Muhammad, kita diharuskan senantiasa mengasihi orang lain dengan mengajaknya kepada jalan yang benar, jalan yang diridhai Allah. Kita tidak bisa tinggal diam, asik sendiri melakukan ibadah, sementara teman, tetangga, dan saudara-saudara kita terlarut dalam kesenangan dunia yang menipu dan hanya sesaat ini. Kita ajak mereka semua untuk bersama-sama kita perdalam pemahaman Islam, kita mendekat kepada Allah, kita gapai bersama cinta Allah.

Kepada orang-orang kafir, kita juga dilarang berbuat kasar, apalagi bertindak curang. Kita doakan mereka supaya mendapatkan hidayah Allah, sambil menunjukkan sikap dan perilaku yang diajarkan dalam Islam. Dengan demikian, mereka akan menerima kehadiran kita dengan senang hati, bahkan menjadikan kita sebagai teladan.  Semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah dan kasih sayangnya, sehingga kita senantiasa konsisten berjuang di jalan-Nya. Amien.

http://catatan-ramadhan.blogspot.com/
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no. 018/th.02/sha’ban-ramadhan 1426 H/2005 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: