Menjawab Panggilan Dakwah

Ketika dienul Islam masih dijalankan dengan konsekwen, kemuliaan dan keagungan sangat lekat dengan umat islam. Dimana pun umat berada maka di situlah kemuliaan itu ada. Para sahabat adalah pemilik kemuliaan itu. Segala ajaran islam yang sempurna mereka kenal, pahami dan praktikan dalam seluruh dataran kehidupan. Hasilnya adalah umat idaman, kalau bukan dikatakan impian, yang tak tertandingi oleh umat manapun dan kapan pun. Islam pun tersebar luas, berkembang dengan pesatnya, membuka negeri-negeri dan hati-hati manusia. Mengikuti jejak mereka adalah para tabi’in , begitu serius menapak jalan para sahabat sehingga tabi’in pun meraih kemuliaan yang diperoleh para sahabat. Generasi setelahnya pun masih teguh mengikuti jejak sahabat memegang al islam. Meski tak sebaik generasi pertama dan kedua namun mereka tetap terikat dalam keagungan.

Ini pula yang dikatakan oleh Nabi kita :”Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya”.
Waktu pun berlalu, umat islam sedikit demi sedikit mulai meninggalkan agamanya, memperturutkan hawa nafsu, bertasyabuh dengan orang kafir, secara pelan namun pasti terangkat pula izzah umat. Terbukti dengan dikuasainya negeri-negeri muslim oleh tangan kekafiran, atau lebih parah lagi, dikuasainya pemikiran umat oleh pemikiran kekufuran. Beragam ajaran-ajaran di luar islam pun menyeruak masuk ke tubuh umat dan mengotorinya.

Di sisi lain kemaksiatan pun semakin menjamur, kesyirikan merajalela. Hingga perzinaan, perjudian, pembunuhan, penghilangan hak dan kehormatan menjadi hal yang terdengar hampir di setiap waktu.
Melihat kondisi yang demikian , sudah sepantasnya umat islam kembali kepada islam yang telah memuliakan umat sebelumnya yaitu para sahabat . Artinya islam mesti didakwahkan kembali di tengah umat dengah dakwah yang benar. Dan sungguh di jaman ini, dakwah menjadi sebuah tanggung jawab setiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tentu saja dakwah yang dilandasi ilmu tentang islam yang merupakan materi dakwah itu sendiri. Apakah kita hendak mengambil bagian dari dakwah ini…?
Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

http://www.al-madina.s5.com/Serbaserbi/Menjawab_Panggilan_Dakwah.htm
Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.006/th.01/Rajab 1425H/2004M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: