Melestarikan Kemusyrikan

Masih banyak ummat Islam di negeri ini yang merasa sudah ber-Islam secara kaffah meski dalam tindak tanduk sehari-hari, termasuk dalam hal beribadah seringkali tercampur dengan unsur adat dan budaya yang jauh dari syairat Islam. Bahkan ada yang sampai tersinggung dan marah apabila ada ulama yang memberitahu, bahwa tindakannya itu tidak sesuai dengan tuntunan Islam, sama sekali tak ada dalil dalam Al Qur’an maupun hadits yang dapat digunakan untuk mendukung perbuatan tersebut. Hujjah mereka yang paling kerap terlontar sebagai argumentasi adalah, “Ini yang diajarkan oleh orang-orang kita dulu”, “Tidak enaklah melanggar adat”, “Takut kuwalat !”, dll.

Supaya saudara-saudara kita itu menjadi mantap dan percaya, bahwa Islam di negeri kita ini seringkali tercampur dengan unsur-unsur yg tidak Islami, ada baiknya kita simak hasil penelitian Dylan Walsh. Apa kata orang barat yg kafir ini ?
“Indonesia, khususnya Jawa, adalah daerah penuh dengan legenda kekuatan ghaib & mistis, serta kepercayaan tentang hantu-hantu, roh leluhur, makhluk halus, dll. Terutama kepercayaan terhadap gunung-gunung. Walaupun kebanyakan orang Jawa beragama Islam, tapi Islam di Jawa berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Agama Islam yang dilakukan di Jawa punya unsur-unsur lain, yaaitu kepercayaan animisme dari zaman prasejarah serta agama Hindu-Budha. Agama Hindu-Budha menguasai pulau Jawa selama delapan abad, abad 8-16. Orang Hindu percaya bahwa gunung Semeru adalah rumah para dewa, gunungnya melambangkan hubungan antara dunia manusia (bumi) dengan khayangan (dunia para dewa). Kepercayaan tersebut mempengaruhi kepercayaan masyarakat Jawa. Orang Jawa percaya, bahwa gunung adalah tempat sakral dan biasanya didiami oleh makhluk halus, roh leluhur atau dewa. Selain unsur agama Hindu-Budha, manusia Jawa juga percaya bahwa tempat-tempat tertentu mempunyai semangat (spirit) sendiri-sendiri. Kepercayaan tersebut adalah kepercayaan animisme dan termasuk kepercayaan tentang makhluk halus, roh-roh leluhur atau hantu-hantu yang mendiami berbagai tempat. Unsur-unsur itulah yang dicampurkan ke dalam agama Islam dan masih ada sampai saat ini”.
Dylan melanjutkan, “Kepercayaan serta kosmologi manusia gunung juga didasarkan pada legenda Kyai Sapujagad. Legenda ini terjadi pada waktu kerajaan Mataram kedua muncul dan menggambarkan hubungan pendiri kerajaannya, yaitu ‘Panembahan Senopati’ dengan dunia ghaib. Kosmologi manusia gunung terdiri dari lima bagian, yaitu keraton Mataram Yogyakarta (posisinya) di tengah dan berada di dunia manusia, dan keraton makhluk halus Gunung Merapi di sebelah utara, keraton Laut Selatan di sebelah selatan, Gunung Lawu ke timur dan Khayangan, Dlephi di sebelah barat, ke empat sisi ini berada dalam dunia ghaib. Akibatnya, dari legenda Kyai Sapujagad adalah adanya perjanjian, bahwa keraton Maratam Yogyakarta bertanggung-jawab memberi sesajian kepada para makhluk halus pada empat tempat yang lain dalam kosmologi manusia. Dalam kembalinya (sebagai imbalannya) rakyat akan dilindungi oleh para makhluk halus tersebut. Perjanjian ini berbentuk upacara Labuhan yang dilakukan setahun sekali, dan dimulai pada tanggal 25 bulan Bakda mulud di Laut Selatan”.
(lihat : Kepercayaan Masyarakat Jawa Terhadap Gunung – Dylan Walsh, http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/dylan.html)

Masih panjang hasil penelitian Walsh kalau mau ditulis semua dalam mukaddimah ini, semoga kutipan di atas sudah cukup untuk dijadikan dasar, bahwa masih banyak saudara kita yang belum paham, tidak sadar bahwa mereka telah mencampur-adukkan antara yang sesuai syariat Islam dengan yang syirik. Kalau memang menemukan dalil-dalil syar’i untuk menjalankan berbagai ritual tersebut, maka silahkan berbagai ritual itu dilanjutkan, namun kalau ternyata tidak ditemukan dalil-dalil untuk mendukung syariatnya, maka apa perlunya kemusyrikan itu harus dilestarikan ?. “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang -orang yang mendapat petunjuk”. (QS.Al An’aam : 82)

(dari : Mukaddimah Labbaik edisi : 031/th.03/Rabiul Akhir-Jumadil Awwal 1428H/2007M)

Iklan

2 Responses to Melestarikan Kemusyrikan

  1. Ramli Rais berkata:

    Assalaamu’alaikum.
    Saya menemukan posting yang sangat menarik tentang: Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam. Ini link-nya: http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1312
    Selamat membaca dan terima kasih,
    Wassalam

  2. labbaik berkata:

    Wa’alaikum salam wr.wb.
    Terima kasih infonya sdr.Ramli Rais.
    Bagi Labbaik, info antum makin menguatkan akan kebenaran fatwa MUI, bahwa sekularisme-pluralisme-liberalisme adalah haram. Dan artikel yang antum referensikan adalah tulisan tokoh jaringan yang mengusung liberalisme. Jadi artikel tersebut bagi Labbaik merupakan salah satu bukti lagi akan kerusakan faham mereka.
    Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: