Al Qur’an Diturunkan Berbahasa Arab

Beberapa gelintir orang menyebut Al-Qur’an bukan berasal dari bahasa Arab. Kelompok sesat Isa Bugis bahkan mengatakan bahasa Al Qur’an itu bahasa Nur”. Marilah kita buktikan kebohongannya.

Di alam modern ini banyak para pakar muslim yang memahami ajaran islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan cara modern pula. Namun sayang, kebenaran yang dijadikan pegangan tersebut, justru meninggalkan kebenaran mutlak dan qoth’i dan menjadikan kebenaran semu (relatif) sebagai gantinya. Sejumlah “ilmu alat” seperti ilmu tafsir, ilmu hadits, ushul fiqh dan lain-lain yang menjadi sumber pendukung untuk memahami kedua sumber Islam ditinggalkan. Mereka memandang bahwa berbagai ilmu alat tersebut sudah tidak relevan lagi dijadikan pegangan, sebagai standard dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, karena kondisi dan situasi dunia di zaman modern ini sudah bergeser dan berubah. Jadi Al Qur’an dan As Sunnah juga harus dipahami dengan cara modern yang penuh dengan kebebasan, bukan dengan cara kuno yang banyak ikatan.

Berdasarkan alasan tersebut, maka munculah berbagai gagasan yang aneh-aneh dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Diantara gagasan tersebut adalah sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal), bahwa Al Qur’an yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril untuk seluruh umatnya itu bukan berbahasa Arab. Tulisan tokoh JIL ini bisa dibaca dalam buku “Dakwah Dan Perubahan Sosial” yang dikemukakan oleh Amrullah Achmad sebagai editor. Pada halaman 140 dinyatakan bahwa “Al Qur’an diturunkan bukan dengan bahasa Arab, tetapi bahasa yang dimengerti manusia”.
Sedangkan Isa Bugis dalam Diktat Idul Fitri Kembali Hidup Menurut Sistem Zakat hal:19, mengatakan bahwa “Bahasa Al Qur’an itu bahasa Nur”. Jadi kesimpulan keduanya adalah mengingkari keberadaan Al Qur’an menggunakan bahasa Arab.

Untuk memperkuat pendirian bahwa Al Qur’an itu bukan berbahasa Arab, tokoh JIL tersebut mengemukakan berbagai macam argumen, diantaranya adalah :
“Dalam surat As Syura Ayat 7 “Qur’anan Arabiyan” yang berarti Al Qur’an Berbahasa Arab. Kemudian dalam surat As Syu’aara ayat 195 “Bilisanin Arabiyyin Mubin” yang berarti dengan bahasa Arab yang terang. Oleh tokoh tersebut dita’wil atau dipalingkan pengertiannya sebagai berikut :”Istilah ini dimaksud sebagai bahasa yang dimengerti pada waktu itu yang “kebetulan” adalah bahasa Arab”
Menurut tokoh JIL tersebut, bahasa Al Qur’an pada waktu itu bukan bahasa Arab seperti sekarang, karena bahasa Arab yang ada sekarang sudah merupakan hasil perkembangan lebih lanjut. Bahasa Arab itu lain dengan bahasa Al Qur’an. Begitulah argumen yang dikemukakan dia dalam memperkuat pendiriannya yang dinyatakan bahwa Al Qur’an itu bukan berbahasa Arab.

Namun bila diteliti lebih jauh lagi ternyata argumen tokoh JIL tersebut mempunyai banyak kelemahan, antara lain : Dengan argumen seperti diatas orang dibuat menjadi bingung, sebab antara satu dengan yang lain menunjukkan pertentangan. Satu kalimat dinyatakan bahwa Al Qur’an bukan bahasa Arab, sedang pada kalimat lain dinyatakan bahwa Al Qur’an berbahasa Arab, meskipun dengan tambahan “Kebetulan”. Ini jelas suatu kelemahan. Dengan adanya ungkapan :”Bahasa Arab lain dengan bahasa Al Qur’an”‘ para ulama memang telah memahami tentang adanya Ketinggian Uslub yang digunakan Al Qur’an. Jadi bahasa yang digunakan Al Qur’an memang tidak sama dengan dengan Uslub yang digunakan dalam bahasa Arab harian, bahkan dengan bahasa Arab yang terdapat da lam As Sunnahpun berbeda.
Namun pengertian tersebut bukan berarti bahwa Al Qur’an bukan menggunakan bahasa Arab. Dalil yang dikemukakan diatas surat As Syura Ayat 7 dan As Syu’aara ayat 195 oleh para Ulama digunakan argumen bahwa Al Qur’an itu berbahasa Arab. Dalam hal ini para ulama mengambil arti dhahirnya sesuai dengan kaidah Usul Fiqh, tetapi kenapa oleh tokoh JIL tersebut ditakwil ?. Adakah dalil yang menunjukkan pertentangannya ? Apabila tidak ada, maka disinilah kelemahannya ?

Dua ayat yang masing-masing berarti: “Qur’an berbahasa Arab” dan “Dengan bahasa Arab yang terang” yang terdapat dalam surat As Syura dan As Syu’aara telah sesuai dengan firman Allah berikut : Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS Ibrahim : 4). Perlu dipahami bahwa setiap Rasul yang diutus itu menggunakan bahasa kaumnya. Kaum yang dihadapi Muhammad sebagai Rasul Allah itu adalah bangsa Arab saat wahyu itu turun. Dengan demikian sesuai dengan ayat tersebut dan dua ayat yang kita kemukakan terjemahnya tersebut, maka Al Qur’an itu berbahasa Arab. Jadi sudah sesuai. Dengan demikian adanya takwil seperti yang dikemukakan oleh tokoh JIL itu terkesan ngawur dan asal-asalan. Tegas hal itu bisa dikatakan sesat menyesatkan, karena hal ini tidak sesuai dengan petunjuk dan dalil dari Al Qur’an. Kajian yg dikemukakannya tidak memiliki disiplin ilmu yang mapan. Sehingga berakibat tidak memiliki nilai ilmiyah dan membingungkan umat. Bahkan menimbulkan pertentangan dengan dengan dalil tegas yang telah disepakati oleh para ulama.

Dalam buku “Haadir Alam Islami” karangan Dr Ali Gharisyah secara gamblang disebutkan bagaimana musuh-musuh islam senantiasa berusaha untuk memisahkan pengertian antara : Sejarah Islam dengan sejarah bangsa Arab dan bahasa Arab dengan bahasa Al Qur’an. Hal ini dimaksudkan untuk melumpuhkan kekuatan islam dari dasarnya. Sebab apabila umat islam menerima pemisahan antara sejarah islam dan bangsa Arab, berarti telah kehilangan akar sejarah dalam pertumbuhannya yang telah diukir dan dibina oleh Nabi berikut para sahabatnya, kemudian dilanjutkan para Tabi’in dan Tabi’ut tabi’in. Sisi lain untuk melumpuhkan kekuatan umat islam, diisukan adanya perbedaan bahasa Arab dan bahasa yang digunakan Al Qur’an, sebagaimana yang dikemukakan oleh tokoh JIL di atas. Kenapa hal itu dapat terjadi justru muncul dari “pemikir” muslim ? Padahal pernyataan itu dikonsepkan oleh musuh-musuh islam. Dengan disambutnya isu tersebut maka hancurlah kekuatan islam dari dalam. Karena akan hilang arah dan pegangan yang paling dasar untuk mengetahui dan memahami islam. Apabila hal itu terjadi, lalu dengan bahasa apa umat islam harus mempelajari Al-Qur’an !?

Apabila Isa Bugis menyatakan bahwa Al Qur’an itu menggunakan bahasa Nur, maka kepada siapa umat islam harus belajar bahasa Nur. Disaat yang sama ada “pemikir” muslim yang menyatakan bahwa Al Qur’an bukan bahasa Arab, tetapi dia tidak menyebutkan dengan jelas bahasa apa yang dipakai dalam Al Qur’an. Semua ini tidak lain hanya membuat taskik (keraguan) kepada umat Islam, sebagaimana yang dilakukan oleh kaum Orientalis dan musuh-musuh Islam yang lain. Disinilah letak adanya penyimpangan dan kesesatan yang disebut para ulama sesat menyesatkan. Mudah-mudahan kita tetap waspada dan para pakar yang membuat isu sesat dapat menyadari dan mendapat petunjuk Allah. Amin.

(Oleh: Hizbullah Mahmud, pengelola website al-ukhuwah.com dan sedang belajar di Universitas Al Azhar Kairo Fakultas Syari’ah Islamiyah. Tulisan ini disarikan dari buku “Meluruskan Pemikiran Pakar Muslim” karangan Ust Ahmad Husnan Lc.)

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2466&Itemid=1

‘Uthman bin ‘Affan melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, “Yang terbaik di antara kamu sekalian adalah yg mempelajari Al-Qur’an kemudian mengajarkan pada orang lain.”a] Kata-kata yg sama juga dilaporkan oleh `Ali bin Abi Talib .b]

footnote :
a] Al-Bukhari, ix: 74, no.5027-8; Abu Dawud, Sunan, hadith no.1452; Abu ‘Ubaid, Fada’il, h1m.120-124.
b] Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 126.

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 034/th.04/Sya’ban-Ramadhan 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: