MENJENGUK ORANG SAKIT DAN HUKUMNYA – bagian 2

WANITA MENJENGUK LAKI-LAKI YANG SAKIT

Disyariatkannya menjenguk orang sakit meliputi penjengukan wanita kepada laki-laki, meskipun bukan muhrimnya, dan laki-laki kepada wanita. Diantara bab-bab dalam Shahih al-Bukhari pada “Kitab al-Mardha” terdapat judul “Bab ‘Iyadatin-Nisa’ ar-Rijal” (Bab Wanita Menjenguk Laki-laki). Dalam hal ini beliau meriwayatkan suatu hadits secara mu’allaq (tanpa menyebutkan rentetan perawinya): Bahwa Ummu Darda’ pernah menjenguk seorang laki-laki Anshar dari ahli masjid. Tetapi Imam Bukhari memaushulkan (meriwayatkan secara bersambung sanadnya) didalam al-Adabul -Mufrad dari jalan al-Harits bin Ubaid, ia berkata : “Saya melihat Ummu Darda’ di atas kendaraannya yang ada tiangnya tetapi tidak bertutup, mengunjungi seorang laki-laki Anshar di masjid.”18]

Bukhari juga meriwayatkan hadits Aisyah r.a., ia berkata :”Ketika Rasulullah saw. tiba di Madinah, Abu Bakar dan Bilal r.a. jatuh sakit, lalu aku datang menjenguk mereka, seraya berkata, Wahai Ayahanda, bagaimana keadaanmu ? Wahai Bilal , bagaimana keadaanmu ?”. Aisyah berkata, “Abu Bakar apabila terserang penyakit panas, beliau berkata :’Semua orang berada di tengah keluarganya, sedang kematian itu lebih dekat daripada tali sandalnya.’ Dan Bilal apabila telah hilang demamnya, ia berkata : ’Wahai, merinding bulu romaku Apakah aku akan bermalam di suatu lembah yang dikelilingi rumput-rumput idzkhir dan jalil, apakah pada suatu hari aku menginginkan air Majnah, apakah mereka akan menampakkan kebagusan dan kekeruhanku ?”. Aisyah berkata, “Lalu aku datang kepada Rasulullah saw. memberitahukan hal itu, lantas beliau berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah seperti kami mencintai Mekah atau melebihinya.”19]

Yang menjadi dalil kebolehan wanita menjenguk laki-laki dalam hadits tersebut ialah masuknya Aisyah menjenguk ayahnya dan menjenguk Bilal, serta perkataannya kepada masing-masing mereka, “Bagaimana engkau dapati dirimu ?”. Yang dalam bahasa kita sekarang sering kita ucapkan :”Bagaimana kesehatanmu ? Bagaimana keadaanmu ?”. Padahal Bilal ini bukan mahram bagi Aisyah Ummul Mukminin. Tetapi suatu hal yang tidak diragukan ialah bahwa menjenguknya itu terikat dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan syara’, bersopan santun sebagai muslimah dalam berjalan, gerak-gerik, memandang, berbicara, tidak berduaan antara seorang lelaki dengan seorang perempuan tanpa ada yang lain, aman dari fitnah, diizinkan oleh suami bagi yang bersuami, dan diizinkan oleh wali bagi yang tidak bersuami. Dalam hal ini, janganlah suami atau wali melarang istri atau putrinya menjenguk orang yang punya hak untuk dijenguk olehnya, seperti kerabatnya yang bukan muhrim, atau besan (semenda), atau gurunya, atau suami kerabatnya, atau ayah kerabatnya, dan sebagainya dengan syarat-syarat seperti yang telah disebutkan di atas.

LAKI-LAKI MENJENGUK PEREMPUAN YANG SAKIT

Sebagaimana terdapat beberapa hadits yang memperbolehkan perempuan menjenguk laki-laki dengan syarat-syaratnya, jika diantara mereka terjalin hubungan, dan laki-laki itu punya hak terhadap wanita tersebut, maka laki-laki juga disyariatkan untuk menjenguk wanita dengan syarat-syarat yang sama. Hal ini jika diantara mereka terjalin hubungan yang kokoh, seperti hubungan kekerabatan atau persemendaan, tetangga, atau hubungan-hubungan lain yang menjadikan mereka memiliki hak kemasyarakatan yang lebih banyak daripada orang lain. Diantara dalilnya ialah keumuman hadits-hadits yg menganjurkan menjenguk orang sakit, yang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Sedangkan diantara dalil khususnya ialah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Jabir bin Abdullah r.a.: “Bahwa Rasulullah saw. pernah menjenguk Ummu Saib –atau Ummul Musayyib- lalu beliau bertanya, ‘Wahai Ummus Saib, mengapa engkau menggigil ?’. Dia menjawab, ‘Demam, mudah-mudahan Allah tidak memberkatinya.’ Beliau bersabda, ‘Janganlah engkau memaki-maki demam, karena dia dapat menghilangkan dosa-dosa anak Adam seperti ububan (alat pengembus api pada tungku pandai besi) menghilangkan karat besi.'”20] . Padahal, Ummus Saib tidak termasuk salah seorang mahram Nabi saw. Meskipun begitu, dalam hal ini harus dijaga syarat-syarat yang ditetapkan syara’, seperti aman dari fitnah dan memelihara adab-adab yang sudah biasa berlaku (dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam; Penj.), karena adap kebiasaan itu diperhitungkan oleh syara’.

MENJENGUK ORANG NON-MUSLIM

Dijadikannya menjenguk orang sebagai hak seorang muslim terhadap muslim lainnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits itu, tidak berarti bahwa orang sakit yang nonmuslim tidak boleh dijenguk. Sebab menjenguk orang sakit itu, apa pun jenisnya, warna kulitnya, agamanya, atau negaranya, adalah amal kemanusiaan yg oleh Islam dinilai sebagai ibadah dan qurbah (pendekatan diri kepada Allah). Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika Nabi saw. menjenguk anak Yahudi yang biasa melayani beliau ketika beliau sakit. Maka Nabi saw. menjenguknya dan menawarkan Islam kepadanya, lalu anak itu memandang ayahnya, lantas si ayah berisyarat agar dia mengikuti Abul Qasim (Nabi Muhammad saw.; Penj.), lalu dia masuk Islam sebelum meninggal dunia, kemudian Nabi saw. bersabda: “Segala puji kepunyaan Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka melalui aku.” (HR Bukhari).
Hal ini menjadi semakin kuat apabila orang nonmuslim itu mempunyai hak terhadap orang muslim seperti hak tetangga, kawan, kerabat, semenda, atau lainnya.

Hadits-hadits yang telah disebutkan hanya untuk memperkokoh hak orang muslim (bukan membatasi) karena adanya hak-hak yang diwajibkan oleh ikatan keagamaan. Apabila si muslim itu tetangganya, maka ia mempunyai dua hak: hak Islam dan hak tetangga. Sedangkan jika yang bersangkutan masih kerabat, maka dia mempunyai tiga hak, yaitu hak Islam, hak tetangga, dan hak kerabat. Begitulah seterusnya. Imam Bukhari membuat satu bab tersendiri mengenai “Menjenguk Orang Musyrik” dan dalam bab itu disebutkannya hadits Anas mengenai anak Yahudi yang dijenguk oleh Nabi saw. dan kemudian diajaknya masuk Islam, lalu dia masuk Islam, sebagaimana saya nukilkan tadi. Beliau juga menyebutkan hadits Sa’id bin al-Musayyab dari ayahnya, bahwa ketika Abu Thalib akan meninggal dunia, Nabi saw. datang kepadanya.21] . Diriwayatkan juga dalam Fathul-Bari dari Ibnu Baththal bahwa menjenguk orang nonmuslim itu disyariatkan apabila dapat diharapkan dia akan masuk Islam, tetapi jika tidak ada harapan untuk itu maka tidak disyariatkan. Al-Hafizh berkata, “Tampaknya hal itu berbeda-beda hukumnya sesuai dengan tujuannya. Kadang-kadang menjenguknya juga untuk kemaslahatan lain.” Al-Mawardi berkata, “Menjenguk orang dzimmi (nonmuslim yg tunduk pada pemerintahan Islam) itu boleh, dan nilai qurbah (pendekatan diri kepada Allah) itu tergantung pada jenis penghormatan yang diberikan, karena tetangga atau karena kerabat.”22]

MENJENGUK AHLI MAKSIAT

Apabila menjenguk orang nonmuslim itu dibenarkan syariat, bahkan kadang-kadang bernilai qurbah dan ibadah, maka lebih utama pula disyariatkan menjenguk sesama muslim meski dia ahli maksiat. Sebab, hadits-hadits yg menyuruh menjenguk orang sakit dan menjadikannya hak orang muslim terhadap muslim lainnya, tidak mengkhususkan untuk ahli taat dan kebajikan saja tanpa yang lain, meskipun hak mereka lebih kuat. Imam al-Baghawi mengatakan didalam Syarhus-Sunnah, setelah menerangkan hadits Abu Hurairah mengenai enam macam hak seorang muslim terhadap muslim lainnya dan hadits al-Barra’ bin Azib mengenai tujuh macam perkara yang diperintahkan, “Semua yang diperintahkan ini termasuk hak Islam, yang seluruh kaum muslim sama kedudukannya terhadapnya, yang taat ataupun yang durjana. Hanya saja untuk orang yang taat perlu disikapi dengan wajah yang ceria, ditanya keadaannya, dan diajak berjabat tangan, sedangkan orang yang durjana yang secara terang-terangan menampakkan kedurjanaannya tidak perlu diperlakukan seperti itu.”23]

Dalam hal ini, sebagian ulama mengecualikan ahli-ahli bid’ah, bahwa mereka tidak perlu dijenguk untuk menampakkan rasa kebencian mereka karena Allah. Tetapi, menurut pentarjihan saya, bahwa bid’ah atau kemaksiatan mereka tidaklah mengeluarkan mereka dari daerah Islam dan tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan hak sebagai seorang muslim atas muslim lainnya. Dan menjenguk mereka yg tanpa diduga-duga sebelumnya itu -lebih-lebih oleh seorang muslim yang saleh, orang alim, atau juru dakwah- dapat menjadi duta kebaikan dan utusan kebenaran kepada hati mereka, sehingga hati mereka terbuka untuk menerima kebenaran dan mendengarkan tutur kata yang bagus, karena manusia adalah tawanan kebaikan. Sebagaimana Islam mensyariatkan agar menjinakkan hati orang lain dengan harta, maka tidaklah mengherankan jika Islam juga menyuruh menjinakkan hati orang lain dengan kebajikan, kelemahlembutan, dan pergaulan yang baik. Hal ini pernah di coba oleh juru-juru dakwah yang benar, lalu Allah membuka hati banyak orang yang selama ini tertutup. Para ulama mengatakan, “Disunnahkan menjenguk orang sakit secara umum, teman atau lawan, orang yang dikenalnya atau yang tidak dikenalnya, mengingat keumuman hadits.”24]

footnote :
18] Al-Adabul-Mufrad, karya al-Bukhari “Bab ‘Iyadatin-Nisa’ ar-Rijal al-Maridh,” hadits nomor 530.
19] Al-Bukhari dalam Fathul-Bari, hadits nomor 5654.
20] Muslim dalam “Kitab al-Birr,” hadits nomor 4575.
21] Al-Bukhari dalam Fathul-Barin, hadits, nomor 5657.
22] Fathul-Bari, juz 10, hlm. 119
23] Syarhus-Sunnah, terbitan al-Maktab al-Islami, dengan tahqiq Syu’aib al-Ar nauth, juz 5, hlm. 211-212.
24] Al-Majmu’, kalya an-Nawawi, juz 5. hlm. 111-112.

{sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740. Telp. (021) 7984391-7984392-7988593
Fax. (021) 7984388, ISBN 979-561-276-X}

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit25.html

BEROBAT

Islam melarang mencari pengobatan dengan cara semacam itu, yang dalam Islam lazim disebut tama’im (kata jamak dari tamimah), yakni jimat-jimat. Tama’im adalah benda-benda tertentu yang biasanya dikalungkan pada leher anak-anak, atau pada bagian tubuhnya yang lain sebagai penangkal jin, penangkal pandangan mata jahat dan sebagainya. Mengenai hal ini Rasulullah saw. bersabda: “Mantra-mantra, jimat-jimat dan susuk adalah syirik.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqiy) .

Berusaha menyembuhkan penyakit dengan mantra-mantra tertentu terlarang dalam agama Islam. Yang dibolehkan adalah do’a, terutama do’a yang diajarkan Rasulullah saw. sbb: “Ya Allah Tuhan manusia, lenyapkanlah derita dan sembuhkanlah karena Engkaulah Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan selain kesembuhan dari-MU, yaitu kesembuhan yang tidak menyisakan penyakit.” (Diriwayatkan oleh Anas, diketengahkan oleh Imam Ahmad dan Bukhari) .
“Hai para hamba Allah, hendaklah kalian berobat (tiap diserang penyakit) sebab tiap Allah menentukan penyakit Dia menentukan juga obatnya.” (HR.Ahmad, Ashabus-Sunan, Ibnu Hiban dan Al-Hakim)

Membaca Al-Qur’an Beramai-Ramai Untuk Seorang Yang Sakit

Tanya :”Bolehkah dibacakan Al-Qur’an beramai-ramai (lebih dari satu orang pembaca) untuk seorang yang sedang sakit ?”.
Jawab :”Tidak ada halangan mengulang-ulang bacaan Al-Qur’an bagi seorang yang sakit serta dibacakan beramai-ramai secara serempak untuk seorang yang sakit. Sebab Al-Qur’an adalah Kalam ilahi yang telah dijadikan oleh-Nya sebagai obat penawar bagi seluruh penyakit yang ada dalam hati. Silakan lihat buku Al-Lu’lu’ Al-Makkiyyiin kumpulan fatwa Syaikh Bin Jabriin”.

http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=1009&subsite=154&ln=ind
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: