MENDONORKAN DARAH UNTUK SI SAKIT

Diantara hal paling utama yang diberikan oleh keluarga atau sahabat kepada si sakit ialah mendonorkan darah untuknya bila diperlukan ketika ia menjalani operasi, atau untuk membantu dan mengganti darah yang dikeluarkannya. Ini merupakan pengorbanan yang paling besar dan sedekah yang paling utama, sebab memberikan darah pada saat seperti itu kedudukannya sama dengan menyelamatkan hidupnya, dan Al-Qur’an telah menetapkan dalam menjelaskan nilai jiwa manusia :”… bahwa barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …” (al-Ma’idah: 32).

Apabila bersedekah dengan harta memiliki kedudukan yang demikian tinggi dalam agama dan mendapatkan pahala yang demikian besar di sisi Allah -sehingga Allah Ta’ala menerimanya dengan tangan kanan-Nya dan melipatgandakannya hingga tujuh ratus kali lipat, bahkan entah sampai berapa kali lipat menurut yang dikehendaki Allah- maka mendermakan darah lebih tinggi kedudukannya dan lebih besar lagi pahalanya. Karena orang yang mendermakan darah menjadi sebab kehidupan, dan darah juga merupakan bagian dari manusia, sedangkan manusia jauh lebih mahal daripada harta. Selain itu, orang yang mendonorkan darahnya seakan-akan menyumbangkan sebagian wujud materiil dirinya kepada saudaranya karena cinta & karena mengalah.

Disisi lain, bentuk amal saleh yang memiliki nilai lebih tinggi lagi dari nilai tersebut ialah memberi pertolongan kepada orang yg membutuhkan pertolongan dan menghilangkan kesusahan orang yang dilanda kesusahan. Ini merupakan kelebihan lain yang menambah pahala di sisi Allah Ta’ala. Dalam suatu hadits Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai perbuatan memberi pertolongan kepada orang yang membutuhkan pertolongan.” (HR. Abu Ya la, ad-Dailami, dan Ibnu Asakir dari Anas) 1]. Di dalam kitab sahih juga diriwayatkan hadits Rasulullah saw. yang berbunyi :”Barangsiapa yang menghilangkan dari seorang muslim suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan menghilangkan dari orang itu suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar) 2]. Bahkan terdapat hadits sahih dari Rasulullah saw. bahwa menolong binatang yang membutuhkan makanan atau minuman itu juga mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang menceritakan tentang seseorang yang memberi minum anjing yang tengah kehausan. Anjing itu ia dapatkan menjulur- julurkan lidahnya menjilati tanah karena sangat kehausan, maka orang itu mengambil air ke sumur dengan sepatunya dan digigitnya sepatu itu dengan giginya kemudian diminumkannya kepada anjing tersebut hingga puas. Nabi saw. bersabda, “Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya.” Lalu para sahabat bertanya keheranan, “Wahai Rasulullah, apakah kami mendapatkan pahala dalam menolong binatang ?”. Beliau menjawab: “Benar, (berbuat baik) kepada tiap-tiap (sesuatu yang memiliki) jantung yang basah (makhluk hidup) itu berpahala.” (HR. Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah) 3].

Tampaknya para sahabat beranggapan bahwa berbuat baik kepada makhluk lain (binatang) ini tidak mendapatkan pahala di sisi Allah dan bahwa ad-Din tidak memperhatikannya. Maka Rasulullah saw. menjelaskan kepada mereka bahwa berbuat baik kepada makhluk hidup yang mana pun akan mendapatkan pahala, meskipun berupa binatang semisal anjing. Maka bagaimana lagi berbuat baik kepada manusia ? Betapa lagi terhadap manusia yg beriman ?. Mendermakan darah itu mendapatkan pahala yang besar secara umum, dan bersedekah kepada kerabat akan dilipat-gandakan pahalanya secara khusus, karena yang demikian itu akan memperkuat hubungan kekerabatan dan memperkokoh jalinan kekeluargaan. Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda: “Bersedekah kepada orang miskin itu mendapatkan pahala satu sedekah; sedang kepada keluarga itu mendapatkan dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala menyambung kekeluargaan.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim dari Salman bin Amir) 4].

Pahala menyumbangkan darah ini lebih berlipat ganda apabila pada asalnya hubungan antara penyumbang dan si sakit tidak harmonis, mengikuti bujukan setan yg menyalakan api permusuhan dan pertentangan di antara mereka. Apabila salah seorang dari mereka berhasil mengalahkan nafsunya dan setannya, lalu menyingkirkan dan membuang sikap yang tercela menurut pandangan Allah dan pandangan manusia ini, lantas ia menyumbangkan harta atau darahnya kepada kerabat yang membutuhkannya (yg sebelumnya bermusuhan dengannya), maka tindakan demikian oleh Rasulullah saw. dinilai sebagai sedekah yang amat utama bila dinisbatkan kepada siapa yang diberi sedekah. Beliau bersabda: “Sedekah yang paling utama ialah kepada keluarga yang memusuhi (al-kaasyih).” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Abi Ayyub dan Hakim bin Hizam) 5]. Yang dimaksud dengan ‘dzir-rahmi al-kaasyih’ (keluarga yang memusuhi) ialah yang menyembunyikan rasa permusuhan dalam hati, tidak terang-terangan, dan tidak cinta kepada kerabatnya.

Catatan kaki :
1] Faidhul-Qadar, juz 2, hlm. 287.
2] Al-Lu’lu’ wa-Marjan, hadits nomor 1667.
3] Al-Lu’lu’ wa-Marjan, hadits nomor 1447.
4] Dihasankan oleh Tirmidzi, disahkan oleh Hakim, dan disetujui oleh Dzahabi, sebagaimana diterangkan dalam Faidhul-Qadir, karya Imam Munawi, juz 4, hlm. 237.
5] Diriwayatkan juga oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Bukhari dalam al-Adabul-Mufrad dari Abi Sa’id, dan diriwayatkan oleh Thabrani dan Hakim dari Ummu Kultsum bin ‘Uqbah, serta disahkan Hakim menurut syarat Muslim & disetujui Dzahabi (Faidhul-Qadir, juz 2, hlm.38).

{sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr.Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392, Fax. (021)7984388)

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit25.html

Hukum Penggunaan Khamr Untuk Memecah Batu Ginjal

Tanya :”Sudah beberapa kali ini saya mengeluhkan batu ginjal sehingga saya sulit buang air kecil. Saya telah berkonsultasi dengan dokter, katanya: “Obatnya adalah meminum khamar, karena khamar dapat memecah batu ginjal. Kemudian saya melaksanakan instruksi dokter tersebut dan ternyata hasilnyapun sangat memuaskan. Apakah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengazab saya karena telah meminum khamar !?” .

Jawab :”Alhamdulillah, hal itu sebenarnya tidak boleh Anda lakukan sebab Anda dilarang meminum khamar. Pertanyaan Anda di atas telah dijawab oleh Rasulullah dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim dari Thariq bin Suweid ia berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam tentang khamar yang digunakan sebagai obat. Beliau menjawab: “Tidak boleh, karena khamar itu adalah penyakit.” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa khamar itu penyakit, bukan obat. Hadits menunjukkan bahwa khamar adalah penyakit. Para ahli medis juga sepakat bahwa khamar hanya menimbulkan mudharat. Bahkan para orientalis telah menulis beberapa buku tentang masalah ini. Mereka berkata: “Struktur tubuh peminum khamar pada usia empat puluhan sama seperti struktur tubuh manusia usia enam puluhan. Meskipun Anda merasakan manfaatnya bagi ginjal Anda dan memberikan pengaruh yang baik, namun pasti merusak organ tubuh Anda yang lain. Pasti terkena efek samping yang negatif. Anda sama sekali tidak boleh meminumnya. Masih banyak lagi obat-obatan yang halal digunakan untuk pengobatan batu ginjal selain khamar. Bukankah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda: “Wahai hamba Allah berobatlah, dan janganlah berobat dengan barang haram. Sebab Allah tidak menjadikan kesembuhan dengan barang yang diharamkan.” Dan juga meskipun keliha tanya Anda merasakan kegunaannya, tapi dari sisi lain pasti banyak menimbulkan mudharat. Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dari Thariq bin Suweid yang kami sebutkan tadi. Wallahu a’lam.

[Dinukil dari kumpulan fatwa Syaikh Abdullah bin Humeid hal 153].
http://www.islam-qa.com/special/index.php?ref=8795&subsite=154&ln=ind
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: