Bapak Saya Sudah Sakit-sakitan Dan Ingin Masuk Islam

Tanya : Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz, bapak saya adalah orang katholik dan pada saat nikah dengan ibu saya (alm), bapak masuk ke agama islam (menurut bpk saya). Tetapi setelah itu bapak saya menjalankan agama lamanya lagi yaitu Katholik. Waktu telah berlalu, sekarang umur bapak saya 75 tahun dalam kondisi terkena penyakit stroke dan lumpuh sebelah. Hari demi hari saya meyakinkan kalau agama Islam adalah agama yang benar. Setiap setelah sholat saya selalu minta diberi petunjuk dan hidayah untuk bapak saya. Waktu terus berlalu, sekarang bapak saya menyadari kalau agama katholik itu bukan identik dengan Injil, karena Injil yang asli tidak pernah
mengajarkan bentuk agama katholik.
Pertanyaan saya, apa yang saya harus perhatikan dan persiapan, apa yang saya harus lakukan supaya bapak saya ihklas menjadi orang muslim. Karena terus terang, paman saya (adik dari bapak) adalah seorang aktifis missionaris katholik.
1. Apakah dalam hal ini saya harus bicarakan dengan paman saya di depan keluarga besar supaya paman saya tidak sakit hati dan tidak mempengaruhi lagi keadaannya.
2. Kapan bapak saya harus menyebut 2 kalimat syahadat.
3. Bagaimana sholat wajib bapak saya karena bapak sudah lumpuh sehingga setiap hari badan dan pakaiannya penuh dengan najis (air kencing dan mungkin kotoran lainnya).
4. Niat saya syukuran untuk bapak saya adalah tanggal 21 Desember 2005 tepat hari kelahirannya.
5. Pembacaan 2 kalimat syahadat tersebut harus di depan siapa ? orang yang ahli dalam agama ?
Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb. – (dari : Hamba Allah)

Jawaban:
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du.
Menjadi seorang muslim adalah hak asasi setiap orang, sekaligus juga kewajiban. Tidak ada seorang pun yang berhak menghalangi seorang anak Adam untuk beriman kepada Allah SWT, termasuk ayah dan ibu pun tidak berhak menghalangi. Bahkan menjadi seorang muslim pun tidak membutuhkan restu dari siapa pun. Sebab menjadi muslim itu adalah hak sekaligus kewajiban setiap manusia.
Dan Allah SWT menjamin bahwa orang yang mati dalam keadaan muslim akan masuk surga, meski tetap harus mempertanggung-jawabkan amal perbuatannya terlebih dahulu.

Sebaliknya, mereka yang mati dalam keadaan kufur tidak akan masuk surga. Sebab di mata Allah, semua amal dan perbuatannya sirna tanpa arti. Di sisi lain, tidak ada seorang pun yang tahu berapa lama usianya di dunia ini. Maka bersegera menjadi seorang muslim adalah tindakan yang perlu dilakukan. Agar jangan sampai mati dalam keadaan belum menjadi muslim.

Tentang bagaimana tindakan yang seharusnya anda lakukan terhadap ayahanda yang berminat masuk Islam atas kesadarannya, Anda bisa melihat contoh dari diri Rasulullah SAW sendiri. Dalam hemat kami, apa yang anda alami sekarang ini nyaris mirip dengan yang pernah dialami juga oleh beliau SAW. Perhatikanlah bagaimana Rasulullah SAW memohon kepada pamannya, Abu Thalib, untuk segera mengucapkan 2 kalimat syahadat, ketika menjelang ajalnya. Hal itu semata-mata karena Rasulullah SAW teramat sayang kepada pamannya yang telah banyak berjasa itu. Beliau tidak rela kalau pamannya harus mati dan masuk neraka. Sementara itu, para pemuka kafir Quraisy pun tidak tinggal diam. Mereka ikut datang menunggui Abu Thalib yang sedang sakit menjelang ajalnya. Mereka berupaya menghalangi Abu Thalib agar jangan sampai menyatakan ke-Islamannya.

Ada sebuah perlombaan antara Rasulullah SAW di satu sisi dengan para pemuka kafir Quraisy dalam mengambil kesempatan terakhir atas kemungkinan masuk Islamnya Abu Thalib. Tetapi yang menarik, Rasulullah SAW tidak merasa risih atau takut sedikit pun berhadapan sendirian di depan para pembesar Quraisy. Baginya, keselamatan Abu Thalib di akhirat jauh lebih berharga dari pada alam dan seisinya. Maka dengan sekuat tenaga beliau bermohon kepada pamannya itu untuk mengucapkan 2 kalimat syahadat. Hanya itu dan tidak lebih.
Dan tidak mungkin lagi mengharapkan Abu Thalib untuk shalat, puasa atau melakukan ibadah lainnya, sebab dia telah tergeletak lemah menjelang ajal. Jadi cukuplah baginya pada saat menjelang ajal itu menyatakan diri masuk Islam, meniadakan tuhan kecuali Allah saja dan mengakui kenabian Muhammad.

Menjadi seorang muslim memang sama sekali tidak disyaratkan harus di depan lembaga tertentu, atau di depan tokoh tertentu. Cukup seseorang berikrar saja menyatakan diri menjadi muslim, dengan mengucapkan syahadat. Anda berhak untuk bertindak sebagaimana Rasulullah SAW bertindak kepada Abu Thalib. Bukankah anda menyayangi orang tua anda sendiri ? Bukankah anda kasihan kalau beliau sampai masuk neraka ? Bukankah anda tidak tega kalau sampai beliau dibakar dan disiksa di alam neraka ? Maka lakukanlah sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya. Meski seluruh orang sedunia menghalangi langkah anda. Tapi apalah artinya dunia dan seisinya, bila anda harus menerima kenyataan beliau wafat bukan dalam keadaan muslim. Pastilah anda akan menyesal seumur hidup dan menyesal pernah dilahirkan ke dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab, Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. (dijawab oleh : ustadz Ahmad Sarwat, Lc.)

http://www.eramuslim.com/ks/us/5c/22121,1,v.html

APA YANG HARUS DILAKUKAN SETELAH SI SAKIT MATI ?

Beberapa adab syar’iyah yang harus dilakukan secara langsung setelah si sakit mati dan sebelum dimandikan perlu saya kemukakan disini, karena berkaitan dengan saat ihtidhar (menghadapi kematian). Selain itu, banyak hal yang memerlukan penanganan dokter yang merawatnya, sebab kadang-kadang si sakit meninggal dunia di hadapannya. Apakah yang harus dilakukan saat itu ?

Pertama: dipejamkan kedua matanya, mengingat hadits yang diriwayatkan Imam Muslim bahwa Rasulullah saw. pernah masuk ke tempat Abu Salamah setelah dia meninggal dunia dan matanya dalam keadaan terbuka, lalu beliau memejamkannya seraya bersabda: “Sesungguhnya ruh apabila dicabut, ia diikuti oleh pandangan.”105]. Disamping itu, apabila kedua matanya tidak dipejamkan maka akan terbuka dan melotot, sehingga timbul anggapan yang buruk.

Kedua: diikat janggutnya (dagunya) dengan bebat yang lebar yang dapat mengenai seluruh dagunya, dan diikatkan dengan bagian atas kepalanya, supaya mulutnya tidak terbuka.

Ketiga: dilemaskan persendian atau pergelangan-pergelangannya, yaitu dilipat lengannya ke pangkal lengannya, kemudian dijulurkan lagi; dilipat (ditekuk) betisnya ke pahanya, dan pahanya ke perutnya, kemudian dikembalikan lagi; demikian juga jari-jemarinya dilemaskan supaya lebih mudah memandikannya. Sebab beberapa saat setelah menghembuskan napas terakhir badan seseorang masih hangat, sehingga jika sendi-sendinya dilemaskan pada saat itu ia akan menjadi lemas. Tetapi jika tdk segera dilemaskan, tidak mungkin dapat melemaskannya sesudah itu.

Keempat: dilepas pakaiannya, agar badannya tidak cepat rusak dan berubah karena panas, selain kadang-kadang keluar kotoran (najis) yang akan mengotorinya.

Kelima: diselimuti dengan kain yang dapat menutupinya, berdasarkan riwayat dari Aisyah bahwa Nabi saw. ketika wafat diselimuti dengan selimut yang bergaris-garis.106]

Keenam: di atas perutnya ditaruh suatu beban yang sesuai agar tidak mengembung.
Para ulama mengatakan, “Yang melakukan hal-hal ini hendaklah orang yang lebih lemah lembut di antara keluarga dan mahramnya dengan cara yang paling mudah.”107]

Adapun hal-hal lain setelah itu yang berkenaan dengan pengurusan mayit, seperti memandikan, mengafani, menshalati, dan lainnya tidaklah termasuk dalam kerangka hukum orang sakit, hal itu termasuk dalam kandungan hukum orang mati atau Ahkamul-jana’iz. Ada dalam pembahasan tersendiri. Wallahu a’lam.

Catatan kaki :
105] HR Muslim dalam “al-Jana’iz,” hadits nomor 920.
106] Ibid., nomor 942.
107] Fathul-Aziz fi Syarhil-Wajiz, karya ar-Rafi’i yang diterbitkan bersama dengan al-Majmu’ (Imam Nawawi), juz 5, hlm. 112-114.

[sumber : Fatwa-fatwa Kontemporer, Dr. Yusuf Qardhawi, Gema Insani Press, Jln. Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740, Telp. (021) 7984391-7984392, Fax. (021) 7984388]

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Sakit25.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M

Iklan

10 Responses to Bapak Saya Sudah Sakit-sakitan Dan Ingin Masuk Islam

  1. ghufron abu dhany berkata:

    alhamdulillah,sangat bermanfaat dan membantu sekali

  2. Kepada Yth. Hamba Allah,
    Kami sarankan diamlah anda dalam keadaan anda sekarang “Khatolik”
    Apapun agama-agama yang ada sekarang adalah karunia dari Allah/Bapa/Sanghiyang widi wasa/dan sebagainya dan mempunyai hak untuk masuk kedalam sorga sesuai Al Baqarah (2) ayat 62, Al Maidah (5) ayat 69, Al Hajj (22) ayat 17.
    Semuannya sedang menunggu-nunggu dan jangan melupakan:
    1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab.
    2. Yohanes 16:12-15, Kisah para rasul 1:9-11: Datangnya Bapa menurunkan seluruh kebenaran.
    3. Baghawadgita, Percakapan: IV:5,6,7,8: Datangnya Sanghiang Widi Wasa menurunkan Dharma mengalahkan Adharma, wujudnya Kalki Avatara Kreshna dari Wishnu.
    4. Cakka Vati Sihanada Butta Digha Hikaya Tipitaka: Datangnya Buddha Maitreya, membawa nibana.
    5. Kesemuannya itu adalah wujud ilmu pengetahuan agama yang membawa kepada sorga kebenaran yang akan rasakan oleh bathin manusia.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  3. Dengan datangnya Hari takwil Kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53, maka umat Muhammad saw. yang telah terpecah belah 73 firqah sejak 1.400 lebih akan bersatu berbondong-bondong masuk kedalam Agama Allah pada awal millennium ke-3 masehi untuk melaksanakan An Nashr (110) ayat 1,2,3.
    1. Al Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208 dan Al Maidah (5) ayat 44,46,48,50 dan Al Baqarah (2) ayat 111,112,113,120,145: Datangnya Allah menyempurnakan bersatu agama disisi Allah adalah Islam kedalam Agama Allah untuk memenuhi An Nashr (110) ayat 1,2,3.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  4. Yang kami sadari selama 1.400 tahun lebih umat nabi Muhammad saw. pada tingkat gelar apapun mereka berilmu agama islam, belum pernah seorangpun membahas secara mendalam tentang datangnya Hari Takwil Kebenaran Kitab yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi melupakannya awal millennium ke-3 masehi sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53.
    Untuk mengetahui secara mendalam apakah Hari Takwil Kebenaran Kitab iyang wajib ditunggu-tunggu dan jangan dilupakan, maka telah terbit;
    Buku panduan untuk kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    berikut 4 buah lampiran acuan:
    “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
    hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    “SOEGANA GANDAKOESOEMA”
    dengan sambutan hangat dari;
    “DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” JitJen Bimas Buddha, umat Kristiani, dan tokoh Islam Pakistan.
    Dan diterbitkan oleh:
    “GOD-A CENTRE”

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  5. labbaik berkata:

    PERAYAAN NATAL BERSAMA
    KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA

    KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG
    PERAYAAN NATAL BERSAMA

    Memperhatikan:

    1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.

    2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam kepanitiaan Natal.

    3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan Ibadah.

    Menimbang:

    1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang Perayaan Natal Bersama.

    2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.

    3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan Taqwanya kepada Allah Swt.

    4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar ummat Beragama di Indonesia.

    Meneliti kembali:

    Ajaran-ajaran agama Islam, antara lain:

    A. Bahwa ummat Islam diperbolehkan untuk bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama-agama lain dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan, berdasarkan atas: Al Hujarat: 13; Lukman:15; Mumtahanah: 8 *).

    B. Bahwa ummat Islam tidak boleh mencampur-adukkan aqidah dan peribadatan agamanya dengan aqidah dan peribadatan agama lain, berdasarkan Al Kafirun: 1-6; Al Baqarah: 42.*)

    C. Bahwa ummat Islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al Masih bin Maryam sebagaimana pengakuan mereka kepada para Nabi yang lain, berdasarkan: Maryam: 30-32; Al
    Maidah:75; Al Baqarah: 285.*)

    D. Bahwa barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih daripada satu, Tuhan itu mempunyai anak dan Isa Al Masih itu anaknya, maka orang itu kafir dan musyrik, berdasarkan: Al
    Maidah:72-73; At Taubah:30.*)

    E. Bahwa Allah pada hari kiamat nanti akan menanyakan kepada Isa, apakah dia pada waktu di dunia menyuruh kaumnya, agar mereka mengakui Isa dan ibunya (Maryam) sebagai Tuhan. Isa
    menjawab Tidak. Hal itu berdasarkan atas Al Maidah: 116-118.*)

    F. Islam mengajarkan bahwa Allah Swt itu hanya satu, berdasarkan atas: Al Ikhlas 1-4.*)

    G. Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang syubhat dan dari larangan Allah Swt serta untuk mendahulukan menolak kerusakan daripada menarik
    kemaslahatan, berdasarkan atas: hadits Nabi dari Numan bin Basyir (yang artinya): Sesungguhnya apa-apa yang halal itu telah jelas dan apa-apa yang haran itu pun telah jelas, akan tetapi di antara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram ), kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah Agamanya dan kehormatannya, tetapi barangsiapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia
    telah jatuh kepada yang haram, misalnya semacam orang yang menggembalakan binatang di sekitar daerah larangan maka mungkin sekali binatang itu makan di daerah larangan itu.
    Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkanNya (oleh karena itu yang haram jangan didekati).

    Majelis Ulama Indonesia MEMFATWAKAN:

    1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa As, akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soal-soal yang diterangkan di atas.

    2. Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram.

    3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Swt dianjurkan untuk (dalam garis miring): tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.

    Jakarta, 1 Jumadil Awal 1401 H./ 7 Maret 1981
    M. KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
    Ketua (K.H.M. Syukri Ghozali),
    Sekretaris (Drs. H. Masudi)

    ——–
    *) Catatan: Dalam fatwa itu, ayat-ayar Al Qur’an yang disebutkan tadi ditulis lengkap dalam Bhs Arab dan terjemahannya, Bhs Indonesia.

    Al Hujuraat : 13 , “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

    Luqman : 15, “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

    Al Mumtahanah : 8, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

    Al Kafiruun : 1-6, “Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

    Al Baqarah : 42, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

    Al Maa’idah : 75, “Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).”

    Al Baqarah : 285, “Rasul telah beriman kepada Al Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat”. (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali”.

    Al Maa’idah 72-73, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.”

    At Taubah : 30, ” Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? “.

    Al Maa’idah : 116-118, ” Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu”, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

    Al Ikhlas : 1-4, ” Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.

    Situs asli: http://www.mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=71

  6. Sesuai Ali Imran (3) ayat 80: Pemuka agama apapun telah mengarbabankan /memberhalakan / menuhankan nabi / rasul; dan sesuai dengan At Taubah (9) ayat 31: umat agama apapun telah mengarbabankan / memberhalakan / menuhankan pemuka agama selain Allah, maka jangan diikuti!
    Yang wajib ditunggu-tunggu dan tidak boleh dilupakan adalah datangnya HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53 dan hari inilah yang berwenang untuk menentukan syariat kiamat sesuai Al Jaatsiyah (45) ayat 16,17,18, maka ikutilah HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB DAN SYARIAT KIAMAT atau menunggu-nunggu hari-hari Allah sesuai Ibrahim (14) ayat 5, Al Jaatsiyah (45) ayat 14 sebanyak 444 ayat. Inilah jalan yang benar !!!

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  7. labbaik berkata:

    A’udzubillahi minasysyaitonnir rojiim, bismillaahirrohmaanirrohiim.
    Kalau kita membuka Al Qur’an terjemah resmi Depag RI, maka akan terlihat bahwa ayat 80 surat Ali Imran merupakan sambungan dari ayat sebelumnya, mari kita lihat :

    Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS.Ali Imran : 78)

    Ayat ini jelas mengingatkan ummat dari bahaya orang-orang fasik yang suka mengaku-ngaku bahwa apa-apa yang ditulisnya adalah wahyu berasal dari Tuhan.

    Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS.Ali Imran : 79)

    Ayat ini mengingatkan ummat agar menjauh dari orang-orang musyrik yang mengajak manusia agar menyembah kepada selain Allah SWT.

    Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?” (QS.Ali Imran : 80)

    Ayat ini menegaskan lagi agar manusia tidak menyembah selain Allah SWT.

    Adapun dalam At Taubah ayat 31 adalah sbb :”Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

    Sama saja, ayat ini lebih mempertegas, dengan lebih rinci, mengingatkan ummat agar tetap menyembah dan beribadah kepada Allah SWT saja.

    Dalam Ali Imran : 80 di atas Allah SWT menyatakan :”Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”.
    Sangat jelas dalam ayat ini, Allah SWT mengajak manusia memikirkan, “Kalau sudah ber-Islam dan bertauhid, adalah tidak patut kalau masih menuhankan makhluk-makhluk”. Artinya, Allah SWT memerintahkan kepada makhluknya agar tetap berpegang teguh dalam aqidah dan syariat Islam, itu saja yang mesti diikuti.

    Takwil ? HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB ? menurut Anda ayat 52-53 surat Al A’raaf berbicara tentang itu ? . Dalam Al Qur’an terjemah Depag RI kedua ayat itu sangat jelas maksudnya dan mudah dicerna, dan sama sekali tidak menyebut kata-kata takwil. Harap diingat, ayat ini masih berhubungan dengan ayat sebelumnya, yakni ayat 50. Mari kita lihat ayatnya :

    Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (QS.At Taubah : 50) . (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS.At Taubah : 51). Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.At Taubah : 52). Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Qur’an itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa`at yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan. (QS.At Taubah : 53)

    Sangat jelas dalam ayat-ayat tersebut, berkisah tentang para penghuni neraka yang menyesal. Padahal semasa hidup di dunia mereka telah diberi petunjuk dalam menjalani kehidupannya agar sesuai dengan Al Qur’an. Dan telah didatangkan utusan-Nya (nabi/rasul) untuk menjelaskan Al Qur’an tersebut. Itu saja, sama sekali tak menyinggung masalah takwil, dari kitab mana Anda mempelajarinya sehingga sampai membuat tafsir sendiri seperti itu ?. Dalil apa yang saudara pakai ?

    Anda singgung lagi surat Al Jaatsiyah ayat 16-17-18. Harap Anda baca lebih detail lengkap, jangan dipotong-potong, bunyi ayat 16-20 sesuai Al Qur’an terjemah Depag RI secara lengkap adalah sbb :”Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israel Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). (Qs.Jaatsiyah : 16). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama); maka mereka tidak berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang mereka selalu berselisih padanya. (QS.Al Jaatsiyah : 17). Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS.Al Jaatsiyah : 18). Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu Sedikit pun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. (QS.Al Jaatsiyah : 19). Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS.Al Jaatsiyah : 20).

    Jelas dalam rangkaian ayat di atas, Allah mengisahkan tentang kedengkian bani Israel yang tidak menuruti syariat Allah. Dan Allah memerintahkan agar manusia tetap teguh berpedoman dengan Al Qur’an. Sekali lagi sama sekali tidak menyebut-nyebut kata takwil. Dalam Islam, beribadah harus selalu berpedoman kuat dengan Al Qur’an dan hadits. Dalil yang Anda sebut semuanya salah, tidak logis dan tidak masuk akal. Dari kitab mana Anda mempelajarinya sehingga sampai membuat tafsir sendiri seperti itu ?. Dalil apa yang saudara pakai ?.

    Anda sebut-sebut lagi ayat Al Qur’an surat Ibrahim ayat : 5, dan Anda mengingatkan dengan ayat tersebut agar mengikuti tentang “kebenaran hari takwil”. Sekali lagi, Labbaik telah mengeceknya dalam Al Qur’an terjemah Depag, dan sama sekali tidak menyebut kata-kata seperti itu. Saran Labbaik, sebelum memahami surat Ibrahim ayat : 5, sebaiknya pahami dulu ayat-ayatnya mulai dari awal, yakni ayat pertama, maka dengan amat jelas akan terlihat, bahwa seluruh ummat manusia diperintahkan
    istiqomah berpegang kepada Al Qur’an. Silahkan disimak ayatnya :

    “Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Ibrahim : 1). Allah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. Dan celakalah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih. (Ibrahim : 2). (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (Ibrahim : 3) . Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Ibrahim : 4)”.

    Dalam Islam, beribadah harus selalu berpedoman kuat dengan Al Qur’an dan hadits. Dalil yang Anda sebut semuanya salah, tidak logis dan tidak masuk akal. Dari kitab mana Anda mempelajarinya sehingga sampai membuat tafsir sendiri seperti itu ?. Dalil apa yang saudara pakai ?. Ingat Anda sedang mengutak-utik kitab suci ummat Islam.

    Terakhir, Anda catut lagi surat Jaatsiyah ayat 14. Labbaik telah mengeceknya, dan hasilnya sama saja sebagaimana telah berbagai tulisan Anda di atas. Saran Labbaik, sebelum melangkah ke ayat 14, sebaiknya Anda pahami dulu ayat sebelumnya, yakni ayat 11-13, niscaya Anda dan seluruh ummat manusia akan tetap melihat sebuah instruksi dari Allah SWT dengan sangat jelas. Silahkan membaca :

    “Ini (Al Qur’an) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka adzab yaitu siksaan yang sangat pedih. (Al Jaatsiyah : 11). Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. (Al Jaatsiyah : 12). Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir. (Al Jaatsiyah : 13)”.

    Demikian jelas kata-kata Allah yang tertulis dalam rangkaian ayat di atas. Sama sekali tidak menyebut-nyebut kata takwil.

    Dalam Islam, beribadah harus selalu berpedoman kuat dengan Al Qur’an dan hadits. Dalil yang Anda sebut semuanya salah, tidak logis dan tidak masuk akal. Dari kitab mana Anda mempelajarinya sehingga sampai membuat tafsir sendiri seperti itu ?. Dalil apa yang saudara pakai ?. Ingat Anda sedang mengutak-utik kitab suci ummat Islam.
    Kalau Anda ingin mendirikan sebuah agama, silahkan saja. Tapi jangan memakai nama Islam, dan jangan mengutak-utik kitab suci ummat Islam.

  8. Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
    Penulis: Soegana Gandakoesoema

    Tersedia ditoko buku K A L A M
    Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
    Telp. 8573388

  9. wiwik berkata:

    Bulat tekadku untuk tetap hanya berpegang pada Al Qur’an dan hadist. Tidak akan ada yang bisa menandingi, walaupun sudah jungkir-balik mengotak-atik.

  10. Jangan masuk Islam tetapi masuklah Agama Allah sesuai Ali Imran (3) AYAT 83 DAN AN NASHR (110) AYAT 1,2,3

    Baca Buku Bhinneka Catur Sila Tunggal Ika
    Bonus Skema Tunggal Ilmu Laduni Tempat Acuan Ayat Kitab Suci Tentang Kesatauan Agama
    Tersedia di
    Perumahan Puri BSI Permai Blojk A3
    Jl. Samudera Jaya
    Kelurahan Rangakapan Jaya
    Kecamatan Pancoran Mas
    Depok 16435
    Telp./Fax. 02177884755
    HP. 085881409050

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: