P a l e s t i n a

Yang pertama terlintas dalam pikiran seorang muslim bila mendengar kata “Palestina” adalah Masjid Al Aqsa, Kota Al Quds (Yerusalem) dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Hal itu dikarenakan, terutama dari ketiga hal tersebut terpancar makna yang amat dalam dan erat hubungannya dengan aqidah, ibadah, jihad, Qur’an dan rasulullah SAW. Dari ketiga hal tersebut merupakan simbol peralihan kepemimpinan dari seluruh ummat manusia kepada ummat Muhammad SAW, sebagaimana firman Allah SWT, yg artinya, :” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (QS.Al Baqarah : 124).

Namun dengan pandangan picik, mulut-mulut para pembesar Yahudi, Amerika dan konco-konconya meneriakkan bahwa Palestina adalah milik masyarakat Yahudi. Dan mereka mengaku-aku, bahwa Al Quds adalah ibu kota negerinya. Sungguh ini bukan sekedar tudingan yang tidak ada dasarnya, seorang Perdana Menteri Yahudi, Ehud Barak, telah berani secara terang-terangan mengatakan, “Kelak Yerusalem akan menjadi sebuah kerajaan yang besar, lebih besar dari masa-masa sebelumnya, bahkan lebih besar dibanding saat pemerintahannya dipegang oleh Daud. Yerusalem akan menjadi kota pemersatu (Yahudi) dan kota yang diakui kalangan internasional sebagai ibu kota Israel”.(Al Ahram Al Qahiriyah, 1 Rajab 1421, 29/9/2000, hal : 1).

Disaat yang sama, Ariel Sharon, pemimpin partai oposan Israel (saat ini jabatan perdana menteri telah beralih ke tangannya) berusaha keras untuk memmbabat habis eksistensi Arab dan Islam dari bumi Palestina, khususnya Al Quds. Maka dikirim 3.000 pasukan untuk melindungi dirinya saat membuat provokasi di Al Quds pada bulan Rajab 1421H (atau 29 September 2000), tanggal tersebut bertepatan dengan hari pembebasan Palestina oleh Shalahuddin Al Ayyubi pd bulan September 1187 M atau Rajab 583 H.
Yang menyedihkan, sejak provokasi tersebut, dunia menyaksikan dengan sikap diam seribu bahasa, Yahudi mulai melakukan Collective Extermination (pembantaian massal) terhadap kaum muslimin Palestina dengan sangat biadab. Demi melihat berbagai kezalimaan yang terus dilakukan Yahudi, maka Amerika juga konco-konconya yg kemana-mana terus membual tentang demokrasi dan hak asasi manusia, mereka hanya melirik sebelah mata, bahkan menganggap tidak ada apa-apa segala perilaku destruktif, diskriminatif, manipulatif, yg dilakukan Yahudi. Pembunuhan anak-anak, kaum wanita, orang-orang jompo, hingga darahnya terus membasahi bumi suci itu.

Sadarlah wahai kaum muslimin, motto Yahudi, menjadikan kota Al Quds sebagai ibu kota Israel, dan langkah-langkah membebaskan Palestina tersebut dari bangsa Arab dan umat Islam. Motto ini pertama kali disuarakan oleh para tokoh agama yahudi dengan alasan, bahwa Palestina adalah negeri yang dijanjikan Allah untuk umat Yahudi melalui lisan ‘rasul-rasulnya’. Berbagai rekayasa telah mereka laksanakan untuk pencapaian tujuan tersebut, dipelopori oleh Hertzl dengan mendirikan negara Yahudi secara politis. Dan seluruh umat Yahudi yang masih tersebar di berbagai belahan dunia kelak akan diminta pulang kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’ tersebut. Namun usaha ini tidak mudah, karena banyak juga orang Yahudi yang sudah terlanjur suka berdomisili di tanah ‘rantau’, enggan disuruh tinggal di ‘tanah yang dijanjikan’. Menyadari kenyataan ini, maka para rahib dan petinggi Yahudi merubah strategi, bukan lagi pendekatan politik yang dilakukan, tetapi pendekatan agamis. Dan ternyata pendekatan inilah yang akhirnya menggugah hati kebanyakan bangsa Yahudi ‘diperantauan’, apalagi menurut ‘aqidah’ bathil Yahudi, bahwa Palestina adalah satu-satunya negeri yang dijanjikan oleh tuhan. Maka dengan berbagai usaha para ‘perantau’ itu pun mendukung, menyokong, menyumbang, membantu berbagai usaha untuk membebaskan tanah Palestina dari bangsa Arab dan penduduk Islam.

Pada perang dunia I dan II, Inggris punya banyak negara jajahan, baik di daerah Timur Tengah dan Afrika. Uganda salah satu daerah jajahannya pernah ditawarkan kepada bangsa Yahudi untuk tempat domisili baru bagi para Yahudi perantau. Namun daerah Uganda itu ditolak para Yahudi ‘perantau’ dan Konferensi Zionis, dikarenakan kemiskinan dan kekayaan alamnya yang terbatas. Begitu pula sebelumnya, yakni pada th.1902 pernah ditawarkan daerah Sinai yang teduh untuk pemukiman Yahudi, tapi daerah ini ditolak pula, alasannya daerah tersebut masih jadi wilayah kekuasaan Daulah Utsmaniyah. Begitu juga halnya ketika ditawarkan daerah di tepian sungai Yordania, tetap ditolak oleh mereka. Kemudian muncul ide untuk memilih daerah Palestina, yg mana ide ini dimulai oleh seorang Yahudi Perancis (Musaheis), kemudian ditindak lanjuti oleh Hertzl. Ide ini langsung disetujui oleh Inggris, karena jumlah imigran Yahudi dari Rusia dan Eropa Timur terus saja bertambah, dan lagi ada alasan menempati Palestina karena merupakan warisan keagamaan menurut para rahib Yahudi. Dan sangat klop dengan semangat Eropa yang tidak begitu suka dengan bangsa Yahudi.

Sejak saat itulah Inggris, dan Eropa pada umumnya mendukung proyek Zionis, sekaligus untuk mengacaukan negara-negara Islam, termasuk untuk melakukan tekanan-tekanan thd Daulah Utsmaniyah, maka ditancapkanlah sosok-sosok manusia asing di negara tersebut, yang siap menyedot sumber daya, kekuatan dan kekayaannya. Dari sinilah terungkap bualan dan ketidak-benaran seruan nasionalisme, demokrasi, hak asasi manusia yang selalu mereka dengungkan. Padahal klaim terhadap negeri ‘yang dijanjikan’ (Palestina) itu adalah dusta belaka. (Baca : Al Imbarialiyah wa Shayyuniyah, Dr.Busyair Nafi’, hal : 82 atau baca juga : Al Quds Arabiyah islamiyah, Dr.Faraj Rasyid, hal 207).
Maka sejak saat itulah, yakni sejak munculnya ide dari Hertzl yang berhasil mengetuk emosional seluruh bangsa Yahudi, maka Hertzl dan para pengikutnya mulai merancang untuk menjatuhkan pemerintahan Sultan Abdul Hamid II, khalifah umat islam yg saat itu merupakan ganjalan yang sangat diperhitungkan, dan akan meng halangi mimpi Yahudi untuk menguasai Palestina. Sejak saat itulah bangsa Yahudi dikomandoi oleh International Jewish Conference, dan dibantu oleh bangsa-bangsa kafir yang tidak menyukai Islam, mulia melakukan perongrongan terhadap khalifah Islamiyah.

Puncaknya adalah ketika menteri luar negeri Inggris pd tanggal 2 nopember 1917, di Balfour, memberi wewenang kepada Yahudi International untuk mendirikan sebuah negara yang resmi di tanah Palestina. Sejak peristiwa Balfour inilah, kemudian banyak peristiwa begitu terjadi, dalam waktu relatif cepat. Dan pada tgl. 15 Mei 1948 Israel memproklamirkan berdirinya negara tersebut di atas tanah Palestina. Hanya dalam tempo 8 menit kemudian Rusia menyatakan setuju atas berdirinya negara Israel, disusul setengah jam kemudian oleh Amerika. Kedua negara kafir ini menyatakan, “Israel memang tercipta untuk menempati daerah itu (Palestina)…”.

Pemutar-balikan ayat-ayat Al Qur’an

Tidak lama kemudian dunia Islam dikejutkan oleh pernyataan seorang perdana menteri Israel, Menaham Beigin, dalam upayanya merekayasa keabsahannya menduduki tanah Palestina, dia membuat pernyataan-pernyataan berikut :

“Sesungguhnya hak Israel atas Palestina secara historis adalah merupakan hak abadi, yang diperkuat oleh kitab-kitab yang diantaranya adalah Al Qur’an sendiri”.

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”. (QS.Al Maidah : 21)

Itulah salah satu ayat Al Qur’an yang dimanipulasi, padahal maksud sebenarnya dari ayat di atas adalah: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah. Membaca ayat di atas seharusnya tidak diputus sampai disitu saja, karena ayat 21 itu masih dilanjutkan kisahnya pada ayat-ayat berikutnya. Kalau ditelaah ayat-ayat lanjutannya, maka akan terlihat jelas rekayasa ucapan di atas. Tidak semestinya hanya diambil ayat 21 saja untuk dijadikan dalil, karena ayat-ayat berikutnya adalah penjelasan ayat 21 tersebut. Bahkan dalam tafsir Ibnu Katsir, tercatat bahwa mulai ayat 20-26 adalah merupakan satu bahasan pokok.

Bunyi ayat-ayat tersebut selengkapnya adalah sbb :

TENTANG : KEENGGANAN BANGSA YAHUDI MENTAATI PERINTAH NABI MUSA A.S MEMASUKI PA LESTINA DAN AKIBATNYA.

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”. (QS.Al Maaidah : 20).

“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu [a], dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS.Al Maaidah : 21)

“Mereka berkata: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”. (QS.Al Maaidah : 22)

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.” (QS.Al Maaidah : 23)

“Mereka berkata: “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti disini saja”. (QS.Al Maaidah : 24)

“Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. (QS.Al Maaidah : 25)

“Allah berfirman: “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (QS.Al Maaidah : 26)

keterangan : [a] Maksudnya: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah.

Itulah susunan ayat selengkapnya, Allah SWT berfirman, memberitahukan tentang hamba, dan rasul-Nya, sekaligus kalim-Nya (orang yang diajak bicara oleh Allah SWT), yakni Musa bin ‘Imran berkaitan dengan peringatan yang disampaikan oleh Musa kepada kaumnya (bangsa Yahudi), mengenai nikmat-nikmat Allah yang telah di anugerahkan kepada mereka, serta karunia yang Allah limpahkan kepada mereka, serta penyatuan nikmat dunia akhirat oleh-Nya, jika mereka tetap berada di jalan yang lurus.

Selanjutnya Allah SWT memberitahukan ajakan Musa kepada bangsa Yahudi untuk berjihad dan memasuki Baitul Maqdis yg pd jaman nenek moyang mereka, yaitu Ya’qub, Baitul Maqdis tersebut berada di tangan mereka. Setelah Ya’qub beserta keluarganya pergi ke Mesir pd masa pemerintahan nabi Yusuf, dan mereka menetap di Mesir hingga akhirnya mereka meninggalkan Mesir bersama nabi Musa.
Ternyata disana mereka mendapatkan bangsa Amaliq yang gagah perkasa telah menakutkan dan menguasainya. Maka nabi Musa menyuruh mereka itu untuk memasuki negeri itu dan memerangi musuh-musuh mereka itu. Setelah itu Musa menyampaikan kabar gembira berupa kemenangan & keberuntungan atas mereka. Namun mereka membangkang, mendurhakai dan menentang perintahnya, sehingga mereka dihukum agar pergi ke padang Tiih (padang Sahara yang sering membingungkan dan menyesatkan orang) dan berkutat (berputar-putar) pada perjalanan mereka dalam keadaan bingung, tidak tahu bagaimana mereka harus mencapai tujuan, selama 40 tahun, sebagaimana hukuman bagi mereka akibat sikap meremehkan terhadap perintah Allah SWT. (kisah kelanjutannya silahkan dibaca dalam tafsir Ibnu Katsir, juz 6 hal : 61 dst).

Setelah merekayasa ayat al Qur’an, perdana menteri tersebut masih menambah lagi dengan pernyataan yang meng-klaim bahwa Al Quds adalah milik Israel saja, bukan untuk bangsa lain. “Sesungguhnya Allah telah menjadikan kota Al Quds khusus buat kami bangsa Yahudi saja, bukan untuk bangsa lain. Oleh sebab itu tidak boleh ada seorang pun yang berseteru dengan kami mengenai kota tersebut”. (Al Quds Qodhiyyatu Kulli Muslim, DR.Yusuf Qorodhowi, hal.97)

Menyadari kenekadannya hingga berani merekayasa ayat Al Qur’an, menyadari bahwa mereka telah nekad meng-klaim kota Al Quds hanya untuk Yahudi saja. Maka buat apa bermanis muka dengan Yahudi ini. Harun Yahya mengingatkan, “Dalam rentang waktu hampir satu abad, jutaan orang tak berdosa telah terbunuh oleh teror, pembantaian, dan penyiksaan bangsa Israel. Jutaan orang Palestina yang tak bersalah dipaksa keluar dari rumah dan tanah air mereka dan terpaksa hidup dalam kemiskinan, terancam kelaparan, dalam kamp-kamp pengungsian. Semua upaya untuk menyelesaikan penindasan dan kekejaman, yang disaksikan oleh dunia, dan untuk membangun sebuah perdamaian wilayah yg berkesinambungan telah gagal. Pembicaraan-pembicaraan perdamaian palsu yang dilakukan di bawah sokongan pemerintahan Barat terbukti tak ada gunanya, selain memberi kesempatan Israel melaksanakan taktik baru untuk membersihkan wilayah yang ditempatinya dari penduduk Palestina. Palestina lebih dari sekedar perang antara Arab dengan Israel. Sebuah perjuangan untuk hidup tengah dilakukan oleh bangsa Palestina, yang tanah dan hak-haknya dirampas paksa oleh kekuatan pendudukan Israel. Lebih-lebih lagi, tanah yang kita bicarakan ini berisi tempat-tempat yang suci bagi umat Islam. Palestina itu sangat penting bagi umat Islam karena Yerusalem adalah kiblat pertama umat Islam, dan tempat mikraj (perjalanan malam) Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, Palestina itu tidak hanya suci bagi umat Yahudi dan Islam, melainkan juga bagi umat Nasrani.”

“Satu kenyataan penting tidak bisa diabaikan: Orang-orang Palestina menderita kekejaman dan penghinaan dan seluruh dunia menyaksikannya. Sementara warga Palestina setiap hari menjadi sasaran peluru tentara Israel, sementara jutaan manusia menjalani bertahun-tahun dalam kelaparan dan kemiskinan di kamp-kamp pengungsian, sementara banyak orang Islam (termasuk wanita) disiksa di penjara-penjara Israel. Maka sebuah tanggung jawab serius pun dibebankan kepada semua orang Islam yang beriman kepada Allah dan takut kepada Hari Pembalasan. Ketika Anda membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa perjuangan ribuan orang-orang Palestina yang tertekan untuk bertahan di tanah ini terus berlanjut dalam semua kekerasannya. Tentara pendudukan Israel mungkin tengah mengebom kota-kota Palestina atau kamp-kamp pengungsian. Di setiap bagian Jalur Gaza, Tepi Barat, atau Yerusalem, orang -orang Palestina hari ini menanggung penindasan dan kekejaman yang sebagian besar karena mereka adalah orang Islam.”

Tanggung jawab kita karena mengikuti berita-berita di media massa tentang kekejaman dan perbuatan tak berprikemanusiaan ini, tapi kemudian terus menjalani keseharian seolah-olah tak ada yang terjadi, tak disangkal lagi akan menjadi beban teramat berat untuk ditanggung. Sebenarnya, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa setiap orang yang beriman dan yang memiliki kesadaran akan yang hak dan yang batil bertanggung jawab untuk berjuang atas nama orang-orang yang tengah tertindas.
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !” (Qur’an, 4:75).

Tanggung jawab yang ditanggung oleh orang-orang yang mendengar ayat tersebut dan mau mengucurkan bantuan kepada orang yang mengalami kekejaman, diterangkan oleh: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran :104).

Tanggung jawab kita adalah melawan ideologi rasis, sosial Darwinisme yang mementingkan ras dan tidak toleran, yang menjadi dasar semua ketidakadilan dan ketidak bijaksanaan di dunia.

Tanggung jawab kita adalah mengajak semua manusia untuk beriman kepada Allah dan memperlihatkan keindahan akhlak agama, dan menjalankan perjuangan intelektual melawan semua ideologi yang membenci agama Allah dan tata prilaku Al-Qur’an.

[Disarikan dari :
1. 10 Fakta Di Balik Klaim Yahudi Atas Baitul Maqdis, Dr.Abu Hudzaifah Muhammad Ad Dasuqi, Pustaka At Tauhid, Jakarta.
2. Tragedi Palestina, Harun Yahya-www.harunyahya.com]

SEORANG TENTARA ISRAEL MELUKISKAN KEKEJAMANNYA

Serangan Libanon pertama saya adalah pada tahun 1986. Saya wajib militer Israel berusia 19 tahun, dan peleton penerjun payung saya dikirim ke suatu desa yang saya lupa namanya. Kami mendobrak pintu sebuah rumah, memeriksa keluarga di dalamnya, dan mengeluarkan seorang pria berusia separuh baya. Setelah menutup matanya dan mengikat tangannya di belakang punggungnya, kami membawanya ke sebuah jalanan sepi, memaksanya berlutut, dan menaruh senjata di kepalanya, mengancam menembak jika ia tidak bicara. Seorang petugas perdamaian PBB muncul dan meng akhiri insiden itu, tapi masih akan ada lagi yang terjadi.

Hari berikutnya kami melakukan hukuman mati yang tidak masuk akal atas seorang anak Libanon berusia 10 tahun. Kami memaksa keluarganya masuk dapur dan menyeretnya ke samping kebun. Letnan saya memasukkan kepalanya ke dalam kotoran dan saya memukulkan senapan saya ke kepalanya. Meskipun tentara itu mengancam menembak kepalanya, bocah itu tidak menjawab, tetap membisu …

Saya adalah prajurit pindahan dari satuan lain, dan rekan saya lebih terbiasa dengan aksi seperti ini … Orang desa yang sudah tua, wanita, dan anak kecil di jebak di rumah mereka, diperintah menjalani jam malam 24 jam. Para lelaki mereka dikumpulkan di suatu ruangan terpusat, mata ditutup, dan diseret untuk disidik.

Kebrutalan tak bertanggung jawab ini tak terbatas pada prajurit berpendapatan rendah. Omri, anak seorang pejabat terpandang, suka menembak dengan memberondong orang-orang desa yang mengintip melalui pintu-pintu … Selama serangan bulan-bulan pertama, Israel membunuh 12.000 hingga 15.000 orang dan kehilangan 360. Meskipun korban di pihak Israel itu adalah para prajurit, sebagian besar korban mereka (Palestina) justru orang-orang sipil.

James Ron, penulis artikel ini, asisten profesor sosiologi pada John Hopkins University, adalah seorang penyidik lapangan sebuah kelompok hak asasi manusia. (Boston Globe, 25 Mei 2000)

{Note : This website is based on the works of HARUN YAHYA}

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,” (QS.Al Hajj : 39-40)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: