H A M A S

Hamas adalah singkatan dari: “Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah” (Gerakan Perlawanan Islam). Hamas merupakan gerakan perlawanan rakyat nasional yang bergerak demi menciptakan situasi yang kondusif untuk merealisasikan kemerdekaan rakyat Palestina, membebaskan mereka dari penganiayaan, membebaskan bumi mereka dari penjajah Israel serta untuk menghadang proyek Zionisme yang didukung oleh kekuatan Imperialisme Modern.

Gerakan Hamas adalah gerakan jihad dalam arti yang luas menurut konsepsi jihad. Ia merupakan bagian dari gerakan Kebangkitan Islam (an nahdhah al islamiyah) yg meyakini bahwa kemerdekaaan merupakan gerbang utama bagi kemerdekaan rakyat Palestina, mulai dari Sungai Yordan sampai Laut Tengah. Hamas adalah gerakan kerakyatan, karena merupakan ekspresi konkret dari arus rakyat yang luas dan mengakar dalam barisan putra-putri bangsa Palestina dan Umat Islam, yang memandang bahwa aqidah dan motivasi ke-Islaman adalah dasar yang tepat untuk melawan musuh yang membawa motivasi aqidah dan program yang bertentangan dengan seluruh upaya kebangkitan yang terjadi di dalam Umat (an nahdhatu fil ummah). Dalam barisan Hamas, terhimpun semua unsur umat Islam yang meyakini pemikiran dan prinsip-prinsipnya, sanggup memikul seluruh konsekuensi pertarungan dan perlawanan meng hadapi proyek Zionisme.

Simbol Gerakan
Lambang Hamas terdiri dari: gambar Mesjid Qubbatus Shakhrah (Rock Dome) yang di atasnya terdapat peta kecil Palestina dengan batas wilayahnya. Dua bendera Palestina berbentuk setengah busur melingkupi kubah yang seolah-olah memeluknya. Tertulis pada bendera kanan kalimat “laa ilaha illallah” dan pada bendera kiri kalimat “Muhammad Rasulullah”. Dua buah pedang di bawah kubah bertemu pada dasar kubah dan saling menjauh membentuk lingkupan bawah untuk kubah. Di bawah gambar tertulis kata “Palestina”, dan juga tertulis “Harakah al-Muqawa mah al-Islamiyah – Hamas” pada sehelai pita di bawah gambar.
Gambar mesjid dan kalimat laa ilaha illa `llah Muhammad Rasulullah menggambarkan keislaman masalah Palestina dan dimensi aqidahnya. Sedangkan gambar peta menunjukkan sikap Hamas yang tetap yaitu perjuangan berporos pada pembebasan seluruh wilayah tanah suci Palestina dengan batas-batas wilayahnya dari kungkungan penjajah Israel, dan juga menggambarkan penolakan Hamas terhadap pembatasan masalah hanya pada wilayah yang dirampas pada tahun 1967. Sedangkan dua pedang melambangkan kekuatan dan kemuliaan, sebagaimana ia tertancap dalam jiwa bangsa Arab.

Hamas yang terjun dalan pertarungan melawan penjajah yang tak mengenal norma kemanusiaan apapun, tetap berpegang teguh dalam perjuangannya dengan nilai-nilai kemuliaaan dan kehormatan, serta mengarahkan kekuatannya ke arah musuh yang hakiki tanpa sedikitpun kelemahan ataupun penyelewengan.

Kelahirannya dan Latar Belakang
Hamas menyebarkan manifesto pendiriannya pada tanggal 15 Desember 1987, meskipun kemunculannnya berakar mulai sejak dekade 40-an pada abad ini. Hamas merupakan perpanjangan dari gerakan Ikhwanul Muslimin, yang sebelum pendeklarasian Hamas, Ikhwan menggunakan nama-nama lain untuk mengungkapkan sikap politik mereka berkenaan dengan masalah Palestina, di antaranya: al-Murabithun fi Ardhil Isra’ (Para Pejuang yang Bertahan di Bumi Isra’), Harakah al Kifah al-Islamy (Gerakan Perjuangan Islam) dan lain-lain.

Hamas lahir sebagai hasil dari akumulasi berbagai faktor yang dialami oleh rakyat Palestina, sejak tragedi (nakbah) pertama tahun 1948 secara umum dan kekalahan perang tahun 1967 secara khusus. Dari bebagai faktor tersebut muncul dua faktor utama yaitu: (1) perkembangan politik masalah Palestina dan akibat-aki batnya hingga akhir tahun 1987 (2) dan kebangkitan Islam di Palestina serta hasil-hasil yang dicapai hingga pertengahan dekade 80-an.

Perkembangan Politik Palestina
Semakin jelas bagi rakyat Palestina bahwa masalah mereka adalah masalah hidup dan mati, masalah pertarungan peradaban antara Arab dan Umat Islam di satu pihak dan Zionisme di pihak lain. Kemudian issu tersebut bekembang menjadi masalah pengungsi setelah tragedi tahun 1948 atau masalah penuntasan hasil-hasil agresi dan lepasnya dua pertiga Palestina setelah kekalahan 1967. Inilah yang mendorong rakyat Palestina untuk memperjuangkan nasibnya dengan tangan mereka sendiri. Maka munculah PLO dan berbagai kelompok perlawanan rakyat.

Akan tetapi program pemberontakan rakyat Palestina yang terakomodasi dan terkristalisasi dalam tubuh PLO pada dekade 80-an mengalami deretan kemunduran internal dan eksternal yang melemahkan program tersebut, mengaburkan visi dan orientasinya. Dan terlihat pada dekade 70-an banyak indikasi yang menunjukkan kemungkinan PLO untuk menerima solusi-solusi tengah yang bertentangan dengan isi Dokumen Nasional Palestina. Lalu indikasi-indikasi tersebut berubah menjadi tuntutan Palestina yang secara jelas semakin menguat setelah perjanjian Camp David, disusul dengan agresi Israel terhadap Lebanon Selatan, kemudian blokade Beirut tahun 1982 yang merupakan penghinaan terbesar bagi Umat Islam sejak perang 1967 – meskipun dengan adanya keteguhan legendaris yang ditunjukkan oleh perlawanan Palestina – di mana sebuah ibu kota Arab terkepung selama tiga bulan tanpa ada reaksi riil apapun dari negara-negara Arab dan dunia Islam. Sehingga berbuntut dari hal tersebut lemahnya PLO dan keluarnya dari Lebanon. Hal yang memperkuat kecenderungan untuk menyerukan normalisasi hubungan dengan Israel dalam tubuh PLO.

Proposal normalisasi tersebut mencakup sikap mengalah dalam prinsip-prinsip dasar dalam perjuangan malawan proyek Zionisme, yaitu:
1. Pengakuan terhadap eksistensi Israel & legitimasinya di atas bumi Palestina.
2. Melepaskan sebagian dan bahkan sebagian besar dari Palestina untuk Israel.
Dalam situasi seperti ini di mana tuntutan normalisasi mendapat dukungan dari para pimpinan PLO, strategi perlawanan bersenjata mengalami kemunduran. Sebagaimana perhatian dunia Arab dan Internasional juga menurun. Bahkan sebagian besar negara Arab ketika itu gencar menanamkan paham regionalisasi dengan semangat fanatisme golongan – sengaja ataupun tidak. Khususnya setelah Liga Arab menetapkan dalam KTT Rabath tahun 1973 bahwa PLO adalah perwakilan resmi dan satu-satunya bagi rakyat Palestina. Setelah meletusnya perang Irak-Iran masalah Palestina menjadi masalah marginal, baik di tingkat regional maupun internasional.

Berbarengan dengan hal itu posisi Israel semakin solid dengan dorongan dan bantuan dari Amerika Serikat, yang menandatangani Perjanjian Kerja Sama Strategis dengan Israel, tahun 1981. Tahun di mana diproklamirkannya penggabungan Dataran Tinggi Golan dengan Israel, dan dihancurkannya reaktor nuklir Irak. Sementara negara-negara Arab menggantungkan harapannya pada birokrasi Amerika yang silih berganti, ekstrimisme Zionis mencapai tujuannya melalui hegemoni partai-partai kanan terhadap kebijakan politik Israel dan politik kekerasan yang dipakai Israel sejak beberapa dekade yang tidak mereka perselisihkan. Oleh karena itu, dilaksanakanlah – dengan penuh arogansi – operasi Hamam as-Syath di mana kantor PLO di Tunis dibombardir pada bulan Oktober 1985. Semua yang dilakukan oleh Israel tersebut mendapat dorongan dan dukungan penuh dari pemerintah Amerika, yang mana negara-negara Arab menggantungkan harapannya kepada mereka untuk merealisasikan ambisi-ambisi masing-masing.

Di tingkat internasional, Amerika Serikat telah melangkah jauh meninggalkan Uni Soviet dalam menancapkan keinginan dan pengaruhnya, tidak hanya terhadap Timur Tengah bahkan terhadap seluruh dunia. Di mana problem-problem dlm negeri Soviet yang semakin parah hari demi hari, memaksa untuk lebih memperhatikan kondisi internal. Konsentrasi yang tinggi terhadap masalah-masalah tersebut menimbulkan kemunduran prioritas Uni Soviet dan mundurnya Soviet secara gradual dari konflik-konflik regional. Sehingga akhirnya mereka tanggalkan medan untuk Amerika.
Peranan Uni Soviet terhenti secara tidak diduga oleh pemerintah negara-negara Arab dan mayoritas gerakan-gerakan perlawanan Palestina, dan banyak menimbulkan kerugian terhadap posisi politis mereka dalam perjuangan.

Kebangkitan Poros Islam
Bumi Palestina menyaksikan perkembangan yang jelas dan nyata dalam tumbuh dan tersebarnya Kebangkitan Islam, seperti di wilayah Arab lainnya. Hal yang membuat Gerakan Islam tumbuh dan berkembang baik dalam pemikiran maupun organisasi, di Palestina dan di berbagai perkumpulan masyarakat Palestina di tempat lain. Arus keislaman di Palestina menyadari bahwa mereka menghadapi sebuah tantangan besar yang akarnya kembali pada dua hal :
Pertama , merosotnya masalah Palestina dalam daftar prioritas negara-negara Arab.
Kedua , mundurnya proyek revolusi Palestina dalam menghadapi proyek Zionisme dan seluruh “komoditinya”, yang kemudian menjadi terkotak pada masalah koeksistensi dan membatasi pembicaraan hanya pada syarat-syarat koeksistensi tersebut.

Di tengah kedua kemunduran tersebut, dan bertumpuknya akibat-akibat buruk dari kebijakan-kebijakan tangan besi Penjajah Zionis yang zholim terhadap rakyat Palestina, ditambah dengan matangnya ide perlawanan dalam rakyat Palestina, baik di dalam maupun di luar Palestina, timbul keharusan bagi munculnya proyek Jihad Palestina yang Islami. Cikal bakalnya muncul dalam bentuk Usroh al-Jihad (keluarga Jihad) tahun 1981, dan Kelompok Syaikh Ahmad Yasin tahun 1983, serta gerakan lainnya.

Di akhir tahun 1987, kondisi sudah cukup matang untuk munculnya sebuah proyek baru menghadapi proyek Zionisme dan perpanjangannya. Program yang berdiri di atas dasar-dasar yang baru sesuai dengan perkembangan di dalam dan luar Palestina. Maka muncullah Gerakan Perlawanan Islam (Harakah al-Muqowamah al-Islamiyyah – Hamas) sebagai ekspresi nyata dari interaksi dengan faktor-faktor tsb.

Hamas datang sebagai reaksi natural terhadap berbagai kondisi yang dialami oleh rakyat Palestina serta masalah keadilannya sejak imperialis Israel menjajah Palestina secara total pada tahun 1967. Kesadaran umum yang ada pada rakyat Palestina serta kesadaran yang lebih khusus dari arus keislaman turut berperan dalam mengkristalisasikan proyek Gerakan Perlawanan Islam yang cikal bakalnya terbentuk di dekade 80-an. Yang mana telah terbentuk sayap-sayap perlawanan, juga tersiapnya basis sosial untuk arus keislaman dengan kesiapan nyata dlm pawai massal konfrontatif terhadap rezim imperialis Israel di Universitas an-Najah dan Universitas Bir Zait di Tepi Barat, serta di Universitas Islam di Jalur Gaza dlm rangka mematangkan suasana kondusif untuk menarik masa dlm melawan Penjajah Israel. Terlebih lagi bahwa kebijakan-kebijakan rezim Israel yang zholim, aksi-aksi mereka yang keras dan cara-cara mereka yang kasar, telah memupuk dalam jiwa rakyat luas dorongan untuk melawan dan bertindak berani melawan penjajahan Israel.

Peristiwa penabrakan yang dilakukan oleh sopir truk Yahudi, yang terjadi pada tanggal 6 Desember 1987 terhadap mobil kecil yang ditumpangi pekerja Palestina serta menyebabkan meninggalnya empat rakyat Palestina dari Kamp Pengungsi Jabalia, adalah awal pengumuman tahapan baru bagi jihad rakyat Palestina. Reaksi yang muncul adalah adanya mobilisasi umum. Maka keluarlah pernyataan yang pertama dari Hamas pada tanggal 15 Desember 1987, sebagai pemberitahuan akan dimulainya tahapan baru jihad rakyat Palestina melawan penjajahan Zionisme Israel. Inilah fase di mana arus keislaman menjadi ujung tombak dalam perlawanan.

Kemunculan Hamas menimbulkan kegelisahan Israel. Aparat Intelijen Zionis Israel mengerahkan segala kekuatannya untuk mengawasi Hamas dan pimpinannya. Begitu rezim Imperialis Israel melihat sambutan masa dalam aksi-kasi mogok, dan aktivitas-aktivitas lain yang dilakukan Hamas sejak awal bertolak dan keluarnya Dokumen Gerakan, maka mulailah penangkapan bertubi-tubi dilancarkan terhadap kader-kader Gerakan dan para pendukungnya sejak saat itu. Aksi penangkapan terbesar yang dialami para aktivis dan pendukung Hamas terjadi pada bulan Mei 1989. Aksi penangkapan tersebut sampai menimpa pemimpin dan pendiri Hamas sendiri, Syaikh Mujahid Ahmad Yassin.

Bersamaan dengan meningkatnya metode perlawanan Hamas yang juga menjadikan keluarga tentara Zionis sebagai target, pada musim dingin tahun 1989 dan pada saat dimulainya perang pisau melawan tentara Israel tahun 1990, terjadi gelombang penangkapan besar-besaran terhadap Hamas, terjadi pada bulan Desember 1990. Buntutnya, rezim Imperialis Israel mendeportasikan empat tokoh dan pemimpin Hamas. Di samping itu, sekedar berafiliasi dengan Hamas saja sudah dianggap sebagai sebuah tindak kriminal yang pelakunya berhak mendapat hukuman berat dari pihak rezim Imperialis Israel.
Hamas memasuki era baru dalam melancarkan serangan sejak diumumkan berdirinya sayap militer Brigade Izzuddin al Qassam pada akhir tahun 1990. Kegiatan divisi baru ini terus memperlihatkan grafik yang menanjak melawan serdadu-serdadu penjajah Israel dan warga Yahudi. Pada bulan Desember 1992, pasukan Hamas melakukan operasi penculikan Nasim Tolidano. Karenanya, rezim Imperialis Israel kembali melakukan aksi penangkapan secara brutal terhadap pendukung dan kader Hamas. Perdana Menteri Israel Yitzac Rabin hingga mengeluarkan keputusan deportasi terhadap 415 tokoh masyarakat sebagai pendahuluan untuk dideportasi secara massal, sebagai hukuman bagi Hamas. Para deportan Hamas dan Jihad Islamy me nunjukkan gambaran yang indah sebagai pejuang yang teguh terhadap tanah airnya, betapapun harga yang harus dibayar. Sampai akhirnya Rabin terpaksa menyetujui kepulangan mereka setelah melewati masa satu tahun masa deportasi yang mereka lalui di sebuah padang terbuka di perkemahan sementara di Murjuz Zuhur, selatan Lebanon.

Aksi pengusiran terhadap tokoh dan pendukung Hamas tidak menghentikan aksi serangan Gerakan ini, tidak juga sayap militernya. Pada tahun 1993 tercatat semakin meningkatnya indeks perlawanan massal rakyat Palestina melawan serdadu-serdadu militer Imperialis Israel, hal itu berbarengan dengan meningkatnya serangan secara militer terhadap serdadu-serdadu Israel dan warga Yahudi. Berikut peningkatan gelombang perlawanan rakyat Palestina, Israel membuat isolasi ketat terhadap Jalur Gaza & Tepi Barat. Sebagai upaya membatasi meningkatnya aksi perlawanan. Pada Febuari 1994, seorang penduduk Yahudi bernama Baroch Goldstein melakukan aksi kejahatan yang amat biadab terhadap orang-orang Palestina yang sedang melakukan sholat di Mesjid al-Ibrohimi di kota Hebron. Aksi tersebut mengakibatkan 30 orang Palestina gugur dan 100 orang lainnya terluka oleh terjangan peluru teroris Yahudi tersebut.

Volume kejahatan dan kebiadaban yang terus meningkat berserta implikasi-implikasinya, mendorong Hamas untuk mengumumkan perang total melawan penjajah Zionis Israel, serta memperluas lingkup operasinya mencakup semua orang Israel yg tinggal di tanah Palestina demi memaksa Imperialis Israel menghentikan kebrutalannya terhadap rakyat sipil Palestina yang tidak bersenjata.

Sekarang ini, Hamas berdiri sebagai kekuatan pertama dalam menghadapi proyek Zionisme Israel. Hamas – meski menghadapi aksi permusuhan yang luas – masih menja di kekuatan yang mampu menjaga kelanjutan issu Palestina, serta memberikan kepada rakyat Palestina, seluruh bangsa Arab, dunia Islam dan seluruh pencinta kemerdekaan di dunia rasa percaya akan kemungkinan menghadapi proyek Zionisme Israel.
Pada dekade 90-an adalah masa keemasan Hamas, yang mampu memberikan harapan kekalahan dan kehancuran Israel.

Pertarungan Melawan Zionisme Dalam Pandangan Hamas

Hamas berkeyakinan bahwa pertarungan dengan Zionisme adalah pertarungan menyangkut perang eksistensi (shira’ wajud), yakni pertarungan peradaban yang menentukan. Yang yang tidak mungkin diselesaikan kecuali dengan menghilangkan sebab-sebabnya. Yaitu pendudukan Imperialis Israel di tanah suci Palestina, perampasan tanah, pengusiran dan pendeportasian penghuninya. Hamas melihat dalam negara Israel ada proyek holistik yang bermusuhan, tidak sekedar sebuah entitas yang memiliki ambisi untuk menguasai wilayah. Suatu proyek yang merupakan pelengkap bagi ambisi imperialisme modern, bertujuan menguasai potensi Umat Islam dan kekayaannya, menghalangi seluruh organisasi perjuangan dan kebangkitan dalam barisan Umat Islam.

Israel terus berusaha memecah belahan wilayah Palestina, serta mencabut Umat dari akar peradabannya dan menancapkan hegemoni politik, ekonomi, militer dan bahkan pemikiran dalam entitas umat Islam. Keberadaan Negara Israel telah menjadi sarana yang efektif (bagi Zionis Yahudi) untuk memecah kesatuan geografis antara negara-negara Arab yang memiliki pengaruh. Dan juga merupakan alat untuk menguras potensi dan tenaga Umat. Sebagaimana dia juga menjadi ujung tombak untuk memukul seluruh proyek kebangkitan Umat Islam.
Jikalau Palestina adalah medan pertarungan utama menghadapi proyek tersebut, yg dianggap sebagai titik tolak dan tempat kediamannya, maka sesungguhnya bahaya dan tantangannya meluas sampai meliputi seluruh negara-negara Islam. Hamas berkeyakinan, bahwa bahaya Zionisme sejak awal berdirinya adalah ancaman bagi seluruh negara-negara Arab dan target strategisnya adalah negara-negara Islam. Meski pada dekade 90-an tercatat ada perubahan-perubahan besar yang menyingkap bahaya ini, yang tidak berhenti pada batas tertentu.

Hamas memandang bahwa cara terbaik mengolah pertarungan dengan Zionis Israel adalah dengan mengerahkan seluruh potensi rakyat Palestina, untuk memikul panji jihad dan perjuangan melawan ekistensi Zionisme di tanah suci Palestina. hal ini dapat dilakukan dengan mendayagunakan seluruh cara yang memungkinkan, yang membuat api pertarungan terus menyala, sampai waktu lengkapnya peperangan ini dengan bangkitnya bangsa Arab dan Umat Islam, sempurnanya unsur-unsur kekuatan, tergalangnya potensi dan kemampuan serta bersatunya keinginan dan keputusan politik Umat Islam. Sampai hal tersebut terealisir dan dengan keyakinan akan kesucian dan kedudukan bumi Palestina dalam Islam.

Dengan kesadaran yang utuh pada dimensi serta bahaya proyek Zionisme Israel, maka Hamas berkeyakinan bahwa tidak boleh sama sekali bertindak gegabah dalam merespon tindakan yang ada di bumi Palestina atau mengakui eksistensi penjajahan Zionis Israel. Dan yang wajib dilakukan oleh rakyat Palestina dan seluruh negara Arab dan Umat Islam dunia, adalah mempersiapkan diri untuk memerangi Zionisme sampai mereka keluar dari bumi Palestina, sebagaimana dahulu mereka datang.

Sikap Hamas Terhadap Penyelesaian Politik
Gerakan Hamas telah menegaskan berkali-kali bahwa Hamas tidak anti perdamaian. Bahkan Hamas menyetujui perdamaian, mengajak kepada perdamaian, dan berusaha merealisasikan perdamaian. Hamas sepakat dengan seluruh negara-negara di dunia tentang perlunya perdamaian mendominasi seluruh penjuru dunia. Tetapi Hamas hanya menyetujui perdamaian yang adil yang mengembalikan seluruh hak-hak bangsa Palestina, sehingga mereka bisa menggunakan hak mereka dalam kemerdekaan, kembali ke tanah air mereka, dan menentukan nasib mereka. Hamas memandang bahwa kesepakatan-kesepakatan yang telah dicapai hingga saat ini, tidak memenuhi tuntutan-tuntutan rakyat Palestina, juga tidak memenuhi batas minimal keinginan mereka. Itu semua merupakan kesepakatan yang tidak adil, dan menimpakan kedzaliman dan kerugian pada rakyat kami, menguntungkan pihak yang penganiaya, dan mengakui legitimasi mereka atas sesuatu yang mereka rampas dari orang lain. Dan itu adalah usaha pendiktean dan pemaksaan syarat-syarat dari pihak penjajah dan penuntutan kepada yang dianiaya untuk melepaskan haknya. Perdamaian yang dzalim dengan kriteria yg juga dzalim, yang tidak ditakdirkan untuk berhasil atau hidup panjang.

Begitu juga, bahwa prinsip normalisasi politik, dari manapun sumbernya dan apa pun isinya, sesungguhnya menyimpan makna menerima hak eksistensi penjajah Israel pada sebagian besar tanah Palestina. Dan sebagai konsekuensinya, terhalangnya jutaan putra-putra bangsa Palestina dari hak kembali, menentukan nasib, dan membangun negara merdeka di seluruh bumi Palestina. Hal yang tidak saja bertentangan dengan norma-norma, deklarasi, dan konsensus kemanusiaan internasional, bahkan juga masuk dalam wilayah terlarang dalam Fiqh Islam dan tidak boleh menerimanya. Tanah Palestina adalah tanah waqaf Islami, yang penuh berkah, yang dirampas oleh Zionis Israel dengan kekerasan. Maka sudah menjadi kewajiban bagi Umat Islam untuk merebutnya kembali dan mengusir panjajah dari wilayah Palestina.

Berdasarkan itu semua, Hamas menolak proposal-proposal penyelesaian politik (proses perdamaian) yang tidak adil sebagai sebuah solusi bagi masalah Palestina. Hamas juga menolak usaha Jalur “Madrid – Washington”.
Hamas berpandangan bahwa proyek normalisasi yang paling berbahaya adalah proyek kesepakatan “Gaza – Jericho First”, yang ditandatangani di Washington pada tanggal 13 September 1993 antara Israel dengan pimpinan PLO, beserta Dokumen Kesepahaman (MoU) serta perjanjian-perjanjian berikutnya yang menyertakan nama Kairo, Taba, dan lain-lain. Bahaya dari perjanjian-perjanjian tersebut tidak hanya terletak pada pengakuan eksistensi penjajah Israel di atas seluruh penjuru Palestina, normalisasi hubungan Arab – Israel, dan terbebasnya hegemoni Israel atas wilayah Timur Tengah, tetapi juga pada kerelaaan dan persetujuan pihak Palestina, meskipun tidak mewakili rakyat Palestina secara sebenarnya. Karena hal itu adalah sebuah usaha mempeti-eskan masalah Palestina dan menghalangi rakyat Palestina untuk menuntut hak-hak mereka yang sah, atau menggunakan cara-cara yang sah untuk meraih hak-hak tersebut. Lebih dari itu, perjanjian-perjanjian tersebut adalah penetapan terhalangnya rakyat Palestina untuk hidup di atas bumi dan ta nah airnya sendiri. Kemudian implikasi dan akibat yang ditimbulkan barang kali tidak terbatas hanya pada bangsa Palestina saja, tapi bisa berkembang kepada seluruh Bangsa Arab dan Umat Islam.

Melihat bahaya proyek penyelesaian politik yang diajukan saat ini, Hamas mengambil sikap yang tersimpul dalam point-point berikut:
1. Penyadaran rakyat Palestina akan hakikat penyelesaian dan perjanjian-perjanjian yang dihasilkan dari proses politik tersebut serta bahayanya terhadap masalah Palestina.
2. Bekerja menkonsolidasi kekuatan-kekuatan Palestina yang menentang perjalanan proses politik dan seluruh perjanjian yang dihasilkan darinya, serta mengumumkan sikap tersebut di Palestina, dunia Arab dan Internasional.
3. Menuntut pimpinan pelaksana di PLO agar mundur dari perundingan dengan Israel, mengundurkan diri dari Perjanjian Gaza – Jericho yang mengancam eksistensi bangsa kami di Palestina dan di luar Palestina.
4. Menghubungi negara-negara Arab dan Islam yang terkait, dan menuntut mereka agar menarik diri dari perundingan dan tidak menuruti konspirasi normalisasi hubungan dengan Israel, dan berdiri bersama kami, rakyat Palestina, dalam mengha dapi musuh dan proyek Zionisme Israel.

http://www.infopalestina.com/Hamas/index.htm

Perang Al Aqsha adalah Perang Agama
AL-QUDS, 21 May 2005 — Para ulama dan pemikir Palestina yang tergabung dalam Komisi Tinggi Islam mengingatkan bahwa kota al Quds dan Masjid al Aqsha menghadapi bahaya hakiki lewat percepatan Yahudisasi secara massif dari pihak penjajah Zionis Israel. Mereka menegaskan ini adalah perang agama. Selain perang agama, serangan terhadap al Aqsha dan kota al Quds adalah perang peradaban, perang peninggalan, sejarah, geografi, pendidikan, sosial dan moral. Dalam arti lain, ini ada lah perang menyeluruh yang ganas.

Komisi Tinggi Islam ini mengeluarkan sejumlah rekomendasi yang utamanya adalah pembentukan komite untuk melindungi peninggalan sejarah kota Al Quds dan merenovasinya, demi menjaga sejarah Al Quds dan Al Aqsha yang merupakan kewajiban agama. Selain itu, Komisi memandang perlu untuk membantu lembaga wakaf di al Quds agar terus dapat melakukan peran dan misinya. Komisi juga merekomendasikan dukungan terhadap lembaga-lembaga yang concern dengan Al Quds serta mengkhususkan kepada lembaga yang mendukung Masjid Al Aqsha dan pengelolaannya, berupa penjagaan, renovasi, ceramah dan pengajaran.

Komisi juga menyerukan agar dimanfaatkan seluruh momen sejarah yang memiliki hubungan dengan Al Quds dan Masjid Al Aqsha serta dimunculkan ke tingkat ummat; mendukung wisata ke Al Quds; mengadakan perlombaan internasional seputar Al Quds dan Masjid al Aqsha; memberikan keistimewaan iklim belajar bagi kajian yang ber kaitan dengan Al Aqsha; mendirikan stasiun televisi informasi khusus mengenai masalah Al Quds dan Al Aqsha – (dari : Republika)

http://www.mui.or.id/mui_in/news.php?id=30
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 032/th.03/Jummadil Akhir-Rajab 1428H/2007M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: