Percaya Bahwa Dukun Mengetahui Perkara Ghaib

Biarpun dunia telah memasuki zaman millennium, yang kata orang sebagai zaman serba canggih dengan segala perangkatnya. Ternyata tidak sedikit orang yang terjebak dan mempercayai permainan omong kosong apa yang disebut dengan nama ‘dukun’. Ada yang menyebutnya dengan istilah ‘orang pintar’, paranormal maupun tukang ramal nasib. Yang dipercayai dapat mengetahui nasib seseorang atau perihal ghaib lainnya. Bukankah hal itu tidak lebih sebagai tipu daya belaka terhadap pasien atau orang-orang yang bertanya dan mempercayai kepadanya. Lantas, bagaimanakah sang dukun mengetahui hal yang ghaib ? Apakah hal-hal ghaib bisa dipelajari ?. Insya Allah ringkasan berikut, dapat menjadi pengetahuan dan pedoman kita meluruskan aqidah secara benar. Kami nukilkan dari majalah Al Ashalah Edisi Dzulhijah 1416 H, artikel yang berjudul ‘Ilmul Ghaib Wa Ahwal Kuhanah Wal ‘Arafin, Ditulis Oleh : Muhammad Abdurrahman Al Khumayyis. Juga kami sertakan ulasan singkat Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, yang dinukil dari Majmu’ Fatawa, Jilid 1 hal. 67. Semoga bermafaat.

Alhamdulillah, ash shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa ba’du; Sesungguhnya pengetahuan terhadap perkara ghaib termasuk hal yang menjadi rahasia Allah. Termasuk sifat Allah paling khusus, yang tidak ada seorang makhlukpun dapat menyamai Nya. Sebagaimana firmanNya, “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh) (QS Al An’aam : 59). Dan firmanNya, “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yg ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yg ghaib itu, kecuali kepada rasul yg diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS Al Jin : 26-27).

Barangsiapa berkeyakinan, bahwa dirinya atau orang lain dapat menguasai perkara ghaib, berarti ia telah kafir. Karena perkara ini termasuk perkara yang tidak pernah diberitakan kepada siapapun oleh Allah; tidak kepada para malaikat yang dekat dan tidak juga kepada para rasul yang diutus. Namun sangat disayangkan, banyak diantara orang awam di sebagian negara-negara Islam yang masih percaya kepada cerita-cerita khurafat dan cerita-cerita syirik orang-orang jahiliyah. Misalnya keyakinan, bahwa ada sebagian orang yang dapat mengetahui perkara ghaib. Seperti : dukun, tukang tenung atau yang sejenisnya. Kenyataan ini bisa didapati pada banyak negara Islam. Ini adalah kekeliruan yang sangat berbahaya dalam aqidah, karena merupakan perbuatan menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam hal yang menjadi kekhususan Allah, yaitu mengetahui perkara ghaib. Dalam sebuah hadits, “Barangsiapa yg mendatangi tukang tenung atau dukun, lalu ia percaya dengan apa yang dikatakan dukun atau tukang tenung itu, berarti ia telah kafir dengan apa yg telah diturunkan kepada Muhammad. (HR.Imam Ahmad) .
Dukun-dukun itu telah banyak merusak sendi-sendi kehidupan masyarakat. Masyarakat telah mengeluarkan banyak harta demi mendapatkan ilmu ghaib menurut sangkaan mereka- dan terkadang sang dukun memberitahukan kepada mereka beberapa perkara, sebagiannya (kebetulan-pent) benar dan sebagiannya lagi bohong. Bahkan sebagian besar adalah bohong. Sehingga terbaliklah tolok ukur kehidupannya, yaitu banyak orang mengatur hidup mereka berdasarkan saran-saran yang disampaikan oleh sang pendusta yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Allah berfirman kepada Nabi-Nya, “Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS Al A’raf : 188).

Jika Nabi saja tidak mengetahui perkara ghaib, bahkan dengan terus terang beliau menafikan hal itu atas dirinya, maka orang selain beliau pasti tidak lebih tahu. Karena Beliau lebih berhak daripada mereka. Beliau adalah anak keturunan Adam yg paling afdhal secara mutlak. Ketika ada nash yang menyatakan, bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib, maka selain beliau pasti lebih tidak tahu lagi. Tergelincirnya banyak orang ke dalam kesalahan berbahaya ini, disebabkan oleh beberapa berita yang mereka lihat ‘benar’, yang berasal dari para pendusta itu. Sehingga keyakinan mereka semakin kuat, dan selanjutnya mempercayai cerita-cerita sang dukun. Begitulah pintu kedustaan dan dajjal menjadi semakin terbuka. Para pendusta ini pun menjelma menjadi wali-wali Allah (menurut dugaan mereka).

Orang-orang awam (bodoh) itu melupakan banyak hal, diantaranya :

a. Bahwa pengetahuan tentang perkara ghaib, termasuk perkara yg hanya diketahui oleh Allah. Bahkan sebagian pemberitaan para nabi terhadap perkara ghaib, semua itu hanyalah berdasarkan apa yang Allah beritakan kepada mereka dan bukan karena usaha mereka sendiri. Sebagaimana firman Allah, “(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhaiNya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS Al Jin : 26,27).

b. Bahwa kebanyakan orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib bukanlah orang baik-baik dan bertakwa. Bahkan ada diantara mereka yang fajir (penjahat) lagi zindiq. Mereka berkubang dalam banyak perbuatan yang diharamkan seperti berkhalwat (berdua-duaan) dengan wanita yang bukan muhrim, mengkonsumsi makanan haram dan lain-lain. Kenyataan ini menunjukkan, bahwa kabar-kabar tentang sebagian perkara ghaib kadang bersumber dari orang yg tidak shalih, bahkan non muslim. Bagaimana mungkin mereka ini bisa menjadi wali-wali Allah ?

c. Seandainya mengetahui hal yang ghaib itu merupakan buah dari keimanan yang benar, tentunya orang yang paling berhak ialah Rasulullah . Padahal Beliau telah menafikan hal itu terhadap diri beliau.

d. Seandainya orang-orang ini benar dalam pengakuannya, yaitu mengetahui perkara ghaib, tentu mereka akan menghindarkan diri dari bencana-bencana atau kejahatan yang terkadang menimpa mereka.

Adapun mengenai jalan yang ditempuh oleh para pendusta ini -sehingga bisa memberitakan sebagian perkara ghaib- yaitu sebagai berikut :

1. Sebagian mereka mempunyai hubungan dengan jin. Jin-jin ini menyampaikan kepada si dukun sebagian berita benar yang dicuri oleh sang jin. Kemudian sang dukun ini membuat seratus kedustaan. Sebagaimana dalam sebuah hadits, “Aisyah istri Nabi berkata, Ada sekelompok orang yang bertanya kepada Rasulullah masalah tukang dukun, Beliau menjawab, Mereka tidak ada apa-apanya. Orang-orang itu berkata, Wahai Rasulullah, terkadang mereka membicarakan sesuatu yang benar. Maka Rasulullah menjawab, Itulah sebuah kalimat kebenaran yang dicuri oleh jin, lalu di sampaikan kepada telinga walinya, lalu wali-wali jin ini mencampurinya dengan seratus kedustaan.

2. Sebagian orang terkadang memiliki firasat atau kemampuan untuk membaca apa yang sedang bergejolak dalam hati seseorang yang sedang berada di depannya. Lalu, ia memberitahukan sebagian saja sehingga ia menjadi kagum dan mengira, bahwa si penebak tadi seorang wali. Padahal kemampuan seperti ini bisa didapatkan dan dimiliki oleh orang-orang kafir di negeri-negeri mereka. Bisa juga dimiliki oleh sebagian psikolog atau selain mereka.

3. Sebagian dukun itu juga meminta bantuan kepada pembantu-pembantunya yang menyelinap di tengah masyarakat. Sehingga bisa mengetahui nama seseorang atau sedikit tentang riwayat hidupnya, atau sesuatu yang ingin diketahuinya.

Setelah mendapat informasi, ia lalu menyampaikan berita tersebut kepada ‘sang dajjal’ (dalam hal ini dukun). Dengan modal berita itu, sang dukun menghadapi orang-orang yang tidak tahu, sehingga dianggapnya mengetahui semua perkara yang telah lewat. Karena itu, semua ucapannya tentang apa-apa yang akan datang dan masalah ghaibiyah menjadi bisa diterima.

Sebagai penutup. Saya ingatkan kepada kaum muslimin, agar jangan merusak agamanya, akidahnya, dunianya dan akhiratnya dengan mendatangi dukun atau tukang tenung, meminta pendapat mereka maupun mempercayai mereka. Semua itu merupakan kekufuran. Mereka wajib bertaubat kepada Allah dari perbuatan tersebut, jika mereka sudah terlanjur tergelincir dalam perbuatan seperti itu. Mereka wajib mengoreksi kembali akidahnya. Mengetahui hal-hal yang bisa memperbaiki dan hal yang bisa merusak. Ini merupakan kewajiban yang paling mendasar.

HUKUM ORANG YANG MENGAKU MENGETAHUI PERKARA GHAIB
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya tentang hukum orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Maka, beliau menjawab sebagai berikut. Orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib, berarti ia telah kafir. Sebab, ia telah mendustakan Allah. Allah berfirman, “Katakanlah, “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS An Naml : 65).

Apabila Allah telah menyuruh Nabi-Nya; Muhammad untuk mengumumkan kepada khalayak, bahwa tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, kecuali Allah; maka orang yang mengaku mengetahuinya, berarti ia telah mendustakan Allah. Kita katakan kepada orang-orang ini, “Bagaimana mungkin kalian mengetahui yang ghaib, padahal Nabi SAW saja tidak mengetahuinya ? Apakah kalian lebih mulia, ataukah Rasulullah ?”. Jika mereka menjawab, “Kami lebih mulia”, berarti mereka telah kafir akibat dari perkataannya ini. Jika mereka menjawab, “Rasul lebih mulia”, maka kita katakan, “Kenapa Rasul tidak mengetahui yang ghaib, sedangkan kalian bisa mengetahuinya ? Padahal Allah berfirman, “(Allah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yg ghaib itu. Kecuali kepada rasul yg diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS Al Jin : 26-27).

Inilah dua ayat yang menunjukkan kekufuran orang-orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib. Padahal Allah SWT telah memerintahkan Nabi-Nya; Muhammad untuk mengumumkan kepada khalayak dengan firman-Nya, “Katakanlah, Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu, bahwa aku ini Malaikat. Aku tidak mengikuti, kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. (QS Al An’am : 50).

[Sumber : Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun VI/1423H/2003M]
http://www.salafyoon.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=92

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berlaku riya’ Allah akan memperlihatkan keburukannya. Dan barang siapa berlaku sum’ah (ingin didengar) Allah akan memperdengarkan aibnya. (HR Bukhari-Muslim. Lafaz di atas adalah riwayat al-Mundziri dalam kitab Targhib.)

Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah syirik kecil !”, mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah syirik kecil itu ?, Beliau menjawab, Yaitu riya’ ”. Pada hari pembalasan untuk segala yang dikerjakan oleh manusia, Allah berkata, “Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin mereka melihat amal-amal kalian. Lalu lihatlah ! Adakah pahala yang disediakannya ?” (HR. Imam Ahmad, al-Baihaqi, at-Thabarani, at-Tirmizi, dan Muslim dengan lafaz yang berbeda-beda).

Allah SWT berfirman, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amalan mereka itu bagaikan debu yg beterbangan.” (QS.Al Furqaan : 23)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: