Penyembah Berhala Menurut Al-Qur’an

Allah SWT berfirman :”Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (Az-Zumar: 3).
Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya ayat di atas, bahwa Allah tidak menerima amal selain yang pelakunya ikhlas dalam beramal, hanya untuk Allah sendiri, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan
Qatadah berkomentar ayat tersebut maksudnya adalah syahadat (kesaksian) bahwa tidak ada tuhan selain Allah.

Kemudian Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang musyrikin penyembah berhala bahwa mereka berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”, artinya; Sesungguhnya yang mendorong mereka kepada penyembahan berhala-berhala itu hanyalah karena mereka pergi ke patung-patung dan menjadikannya (sebagai) gambaran bentuk malaikat-malaikat muqarrabin (yang dekat dengan Allah) menurut persangkaan mereka. Lalu mereka menyembah patung-patung itu dengan memfungsikannya sebagai penyembahan terhadap malaikat, agar malaikat itu memberikan syafa’at/pertolongan kepada mereka di sisi Allah dalam kemenangan, rizki, dan urusan-urusan dunia dan bahaya yg menimpa mereka. Adapun terhadap hari kiamat maka mereka membantahnya dan kafir terhadapnya.
Berkata Qatadah, As-Suddi, dan Malik dari Zaid bin Aslam tentang firman Allah: “…melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya”, artinya agar mereka memberi syafa’at kepada kami, dan mendekatkan kami pada suatu tempat di sisi-Nya. Oleh karena itu mereka berkata saat bertalbiyah (labbaik) ketika berhajji dalam kejahiliyyahan mereka: “Labbaika laa syarika laka, illaa syarikan huwa laka, tamlikuhu wamaa malaka” (Aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagimu, kecuali satu sekutu, dia itu milikmu, Engkau memilikinya dan (memiliki) apa yang ia miliki.”

Syubhat (pemahaman kacau) inilah yang dipercayai oleh orang-orang musyrikin dahulu dan sekarang. Dan kepada mereka itu rasul-rasul alaihimus shalatu was salam diutus untuk menolaknya dan mencegahnya, serta mengajak kepada penyembahan kepada Allah saja, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya penyembahan model musyrikin tersebut adalah bikinan mereka sendiri, tidak diizinkan oleh Allah dan tidak diridhai, bahkan dilarang dan dimurkai-Nya. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (An-Nahl: 36). “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al-Anbiya’: 25).

Dan Allah mengabarkan bahwa para malaikat yang ada di langit yaitu malaikat muqarrabin & lainnya, semuanya adalah penyembah-penyembah yg tunduk kepada Allah. Mereka tidak memberi syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya terhadap orang yang diridhai-Nya. Dan mereka (para malaikat) itu di sisi-Nya tidak seperti pejabat-pejabat (umara’) di sisi raja-raja mereka, yang memberi pertolongan di sisi para raja tanpa seizin mereka dalam hal yang dicintai dan ditolak raja-raja.
“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah.” (An-Nahl: 74). Maha Tinggi Allah dari hal yang demikian itu. Dan FirmanNya: “Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka”, artinya pada hari Qiyamat, “tentang apa yang mereka berselisih padanya”, artinya Dia akan memisah-misahkan antara para makhluk pada hari Qiamat, dan Dia memberi balasan kepada setiap pelaku sesuai dengan amalnya. “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu ?” Malaikat-malaikat itu menjawab: “Maha Suci Engkau, Engkau-lah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba’: 40-41).
Dan firmanNya :”Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar”. Artinya, Allah tidak menunjuki kepada hidayah terhadap orang yg sengaja berdusta dan berbohong terhadap Allah, sedang hatinya kafir, menyangkal ayat-ayat, dalil-dalil, dan bukti-bukti dari-Nya. (Tafsir Al-Quranul ‘Adhim oleh Ibnu Katsir, ditahqiq (diedit) oleh Sami bin Muhammad As-Salamah, Daru Thibah, Riyadh, cetakan pertama, 1418H/ 1997, juz VII, halaman 84-85).

Penyembah jin :
Mengenai kaum musyrikin yang menyembah berhala dan disebut menyembah jin itu di jelaskan pula oleh Ibnu Katsir, yaitu menyembah syetan. Karena, syetanlah yang membujuk rayu untuk menyembah berhala itu, jadi sebenarnya syetan-lah yang mereka sembah. Berikut ini penjelasan Ibnu Katsir.
Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menegur dengan keras orang-orang musyrikin pada hari Qiyamat di hadapan segenap makhluk. Lalu Dia bertanya kepada para malaikat yang dulu oleh orang-orang musyrikin dianggap sebagai sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang disembah dalam bentuk-bentuk malaikat. (Mereka menyembah berhala dianggap sebagai bentuk gambaran malaikat) itu agar berhala-berhala tersebut mendekatkan diri mereka (musyrikin penyembahnya) kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Maka Allah bertanya kepada para malaikat: “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu ?”. Artinya: Apakah kamu memerintah mereka untuk menyembahmu ? Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Furqan :”Apakah kamu yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?” (Al-Furqan: 17).
Dan sebagaimana Allah berfirman kepada Isa: “… Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain Allah ?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).” (Al-Maidah: 116).

Demikian pula para malaikat berkata: “Maha Suci Engkau”, artinya; Maha Tinggi Engkau dan Maha Suci Engkau dari adanya tuhan beserta-Mu. “Engkaulah pelindung kami, bukan mereka”, artinya, kami adalah penyembah-Mu dan kami berlepas diri dari mereka (dan berlindung) kepada-Mu. Bahkan mereka telah menyembah jin; yakni syetan-syetan, karena syetan-syetan itulah yang menghiasi mereka untuk menyembah patung-patung dan menyesatkan mereka, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu. Sebagaimana firman Allah: “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.” (An-Nisa’: 117).
Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Maka pada hari ini sebagian kamu tidak berkuasa (untuk memberikan) kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebagian yang lain. Artinya, tidak terjadi manfaat bagimu dari sekutu-sekutu dan berhala-berhala yang kamu harapkan manfa’atnya pada hari ini. Kamu telah merendahkan diri menyembah berhala-berhala agar mereka menghilangkan penderitaan-penderitaan dan kesulitan-kesulitanmu, pada hari ini mereka tidak memiliki manfaat dan mudharat apapun terhadapmu. Dan kami katakan kepada orang-orang yang dhalim; yaitu orang-orang musyrikin, “Rasakanlah olehmu adzab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu.” (Saba’: 42). Artinya, dikatakan kepada mereka perkataan yang demikian itu untuk menegurnya dengan keras dan menghinakannya. (ibid, juz 6, hal 524).

Rawan Kemusyrikan :
Bentuk-bentuk penyembahan yang serupa itu pun akan berakibat sama di akherat nanti. Maka wajib bagi siapa saja yg ingin selamat di akherat agar ia menjauhi apa saja yang menjurus kepada kemusyrikan. Entah itu dalam hal menyembelih binatang, mengadakan upacara-upacara, dll. Kalau tidak sesuai dengan petunjuk agama yang khalis (murni), maka tentu rawan kemusyrikan. Misalnya, berziarah kubur lalu minta kepada isi kubur (mayat) agar memohonkan kepada Allah, karena si mayat dianggap dekat dengan Allah, maka perbuatan itu sejenis dengan penyembahan berhala. Hanya saja yang satu minta kepada isi kubur, sedang yang lain minta kepada berhala/patung/benda. –

[dari : Artikel Buletin An-Nur : Rabu, 03 Maret 04]
http://www.alsofwah.or.id – situs dakwah dan informasi islam
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M

Iklan

5 Responses to Penyembah Berhala Menurut Al-Qur’an

  1. Master Luyut berkata:

    Umat Islam kalau sembahyang menghadap Ka’bah yang notebene sesungguhnya adalah sebuah bangunan persegi yang terbuat dari unsur padat (batu). Kalau ada kewajiban sembahyang menghadap Ka’bah bagi umat Islam, berarti ia sembahyang menghadap benda itu bukan? Apakah ini bukan berhala? Kalau Allah ada dimana-mana, maka sesungguhnya setiap umat Islam memiliki kebebasan untuk menghadap mana ia harus bersembahyang.

    Semoga saudaraku umat Islam semakin memahami kesejatian Allah yang disebut sebagai Tuhan.

    Salam bahagia selalu,
    Master Luyut

  2. labbaik berkata:

    Menghadap Kiblat ; Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, maka palingkanlah mukamu ke arahnya.” (Al-Baqarah: 144)

  3. Master Luyut berkata:

    Kesejatian Allah sesungguhnya bukan demikian. Bukankan Anda semua juga tahu bahwa Allah itu disebut-sebut memiliki ciri-ciri “Berada Dimana Saja”. Masjid pun dibangun dengan sebuah ciri khusus dengan ruang agak menonjol di bagian depan untuk tempat Sang Imam. Tidak masalah kalau pun tidak menghadap Ka’bah bukan? Yang penting kan ada media pandang yang terpusat pada satu arah, yaitu keberadaan Imam. Ka’bah biarlah menjadi sebuah monumen yang masyhur yang menjadi kebanggaan umat Islam di seluruh dunia. Dan saudaraku umat Islam dapat saja tidak membangun masjid tidak menghadap Ka’bah. Bukankah esensi penghormatan kepada Sang Khalik demikian? Coba Anda pahami hal ini dengan seksama.

    Semoga Semua Berbahagia,
    Master Luyut

  4. putra madina berkata:

    pada dasarnya allh itu tidak mempunya tempat untuk disembah.allh ada pada zatnya yg azali.sesuai pirmannya ainama tuwallu pazamma wajhullah.kearah mana pun kita berpaling maka disitulah allh.namun solat dengan menghadap kabbah bukan berarti ia sembahyang ato menyembah ke kabbah.tetapi ia suatu suruhan dari tuhan sang pemilik syariat tersebut.solat menghadap kabbah ato gak tidak akan mengurangi ke esaan allh tetapi solat menghadap kabbh adalah satu perintah yang di syariaatkan oleh allh.dan itu sudah mutlak dari ketetapan allh.msjid dibangunkan bukan berarti hanya untuk tempat solat yang diarahkan menghadap kiblat tetapi mesjid dibangunkan disamping tempat ibadah ia juga tempat mentatbir semua urusan2 yang ada bukan kah bermulanya tamadun islam yang dibangunkan rosul dimadinh bermula dari mesjid.mulai dari hukum hakam sampai ke peringkat daulah dan pentatbiran pemerintahan.maknanya mesjid adalh salah satu tumpuan hidup masyarakat islam untuk tempat bersatu memperbaiki seluruhnya.dengan dipandu seorang imm kearah yang satu dan tujuan yang satu kompak tanpa ada perselisihan dan perpecahan diantara makmum yang lain.adanya mesjid2 di arahkan ke kabbh adalh lambang ke bersatuannya ummat isalam diseluruh dunia dimana saja ia berada.dengan menghadap tujuan yng satu dan matlamat yang satu dengan berpandukan syariat yg alalh tetapkan.jika anda ingin menghadap barat silakan tidak mmpengaruhi ke esaaan allh dan allh akan sentiasa ada dari arah manapun engkau hadapkan.tetapi alllh perintahkn ke arah kabbh dn itu sudah k tetapan dlm hkum allh.wallhu a`lam..

    • muslim berkata:

      MENELADANI PARA BIKSU
      DALAM MENGAGUNGKAN BATU

      Tanya:
      Di dusun Wailapia-Seram-Maluku ada sebuah batu, batu tersebut di letakan di masjid, lalu masyarakat mengkeramatkannya, bila mereka memiliki hajat atau cita-cita maka mereka meminta dan memohon kepada batu tersebut, apa pendapat pak ustadz tentang batu tadi?.

      Jawab:

      بسم الله الرحمن الرحيم

      Tidak diragukan lagi bahwa masyarakat di kampung tersebut telah terjatuh ke dalam kesyirikan yang terbesar, batu tersebut adalah sarang jin, kami katakan seperti ini karena kami mengetahui dari salah seorang dari keturunan warga kampung tersebut, bahwasanya batu tersebut, awalnya ditemukan oleh salah seorang nelayan, dia melihat batu itu terapung di laut, karena batu itu ringan seperti gabus, dan batu tersebut di dalam bahasa mereka disebut dengan “wacu lanto” (batu terapung).

      Seorang nelayan tadi, pada awalnya mendengar suara, setelah ditelusuri ternyata dari batu tersebut, kemudian dia membawa batu tersebut ke kampungnya hingga kemudian tokoh-tokoh masyarakat kampung tersebut meletakannya di masjid.

      Jika kita melihat asal mula kesyirikan muncul di jaziroh Arob adalah seperti itu pula kejadiaannya, ada yang membawa berhala kemudian di letakan di Ka’bah, mereka keramatkan berhala tersebut, lama kelamaan mereka sujud dan menyembahnya.

      Seorang nelayan tersebut keadaanya sama dengan biksu dari negri Cina, ketika salah seorang muridnya terhantam badai hingga terjatuh ke dalam laut, tiba-tiba dilihat muncul di atas batu terapung, dan murid tersebut dalam keadaan pingsan, maka biksu dan murid-muridnya berterima kasih kepada batu terapung tadi, mereka mengagungkan batu tersebut, sehingga di bawa ke candi mereka, lalu mereka sembah.

      Bila kita melihat ke dusun Wailapia maka sungguh kita telah melihat kesyirikan yang nyata seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin di negri Cina tersebut, mereka sama dalam berdoa dan memohon kepada batu terapung, ini jelas kekufuran yang nyata, Alloh Ta’ala berkata di dalam Al-Qur’an Al-Karim:

      يدعو من دون الله ما لا يضره وما لا ينفعه، ذلك هو الضلال البعيد، يدعو لمن ضره أقرب من نفعه، لبئس المولى ولبئس العشير

      “Dia menyeru kepada selain Alloh, yang tidak memudhorotkannya dan tidak pula memberikan manfaat kepadanya, demikian itu adalah kesesatan yang jauh, dia berdoa kepada sesuatu yang memudhoratkannya, yang lebih dekat dari manfaatnya, sesungguhnya yang diserunya itu adalah sejahat-jahatnya kawan”.

      Sungguh benar perkataan Alloh Ta’ala ini, dengan sebab perbuatan mereka berdoa dan memohon kepada batu tersebut maka akan memudhorotkan kehidupan mereka di dunia ini, berupa dipermainkan oleh syaithon, dan di akhirat kelak mereka termasuk orang yang paling merugi, oleh karena itu Ibrohim ‘Alaihishsholatu Wassalam berkata kepada kaumnya yang melakukan kesyirikan:

      أف لكم ولما تعبدون من دون الله أفلا تعقلون

      “Heh kecelakaanlah bagi kalian dan apa yang kalian sembah selain Alloh, maka tidakkah kalian pikirkan”.

      Orang-orang yang memohon dan berdoa kepada “wacu lanto” (batu terapung) itu, benar-benar telah ditipu oleh syaithon, mereka tahu kalau “wacu lanto” itu sangat lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa:

      إن الذين يدعون من دون الله لن يخلقوا ذبابا ولو اجتمعوا له، وإن يسلبهم الذباب شيئا لا يستنقذوه منه، ضعف الطالب والمطلوب

      “Sesungguhnya orang-orang yang menyeru selain Alloh, sekali-kali tidak bisa menciptakan seekor lalat-pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka maka mereka tidak dapat merampasnya kembali, sangat lemah orang yang menyeru dan (sangat lemah pula) yang diseru”.

      Dijawab oleh:
      Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (14 Dzulqo’dah 1435).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: