Bernazar Kepada Selain Alloh

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi (Pengajar Mahad Ilmi)

Pembaca yang budiman, salah satu bentuk kesyirikan yang harus kita hindari adalah bernazar kepada selain Alloh. Sebagaimana kita ketahui bahwa dosa syirik tidak diampuni oleh Alloh. Dan orang yang berbuat syirik diharamkan masuk Surga dan kekal mendekam di dalam Neraka, karena itulah setiap muslim hendaknya berusaha menjaga lidahnya dengan sungguh-sungguh, agar tidak mengucapkan perkataan-perkataan yang dibenci Alloh, di antaranya adalah nazar untuk selain Alloh yang akan dibahas berikut ini, insya Alloh.
Alloh Ta’ala berfirman, “Mereka (orang-orang yang baik) menunaikan nazar dan merasa takut akan suatu hari di mana ketika itu azab merata di mana-mana.” (Al Insaan : 7). Nazar adalah perbuatan seorang mukallaf (orang yang sudah dikenai beban syariat, dan ini berbeda dengan muallaf -red) yang mewajibkan dirinya sendiri untuk mengerjakan suatu ibadah karena Alloh, baik nazarnya itu secara mutlak maupun dengan persyaratan tertentu. Di dalam ayat di atas Alloh memuji orang-orang yang menunaikan nazar. Ini menunjukkan bahwa menunaikan nazar adalah perkara yang disukai Alloh, dan tidaklah sesuatu itu disukai (Alloh) kecuali sesuatu itu pasti disyariatkan. Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang bernazar untuk melakukan ketaatan maka hendaklah dia laksanakan ketaatan itu kepada-Nya.” (HR. Bukhori) [lihat At Tamhiid hal. 158]

Nazar Muthlaq dan Muqoyyad
Nazar ada dua macam: Muthlaq dan Muqoyyad. Nazar Muthlaq ialah apabila ada seorang yang mewajibkan dirinya sendiri untuk melaksanakan suatu ibadah kepada Alloh tanpa ada persyaratannya. Seperti contohnya dengan mengatakan: “Aku bernazar kepada Alloh akan sholat 2 rakaat”. Dan nazar jenis ini bukan termasuk nazar yang dibenci Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Nazar Muqoyyad ialah apabila ada seorang yang mewajibkan dirinya sendiri untuk melaksanakan suatu ketaatan dengan syarat tertentu. Misalnya dengan mengatakan: “Apabila Alloh menyembuhkan penyakitku aku bernazar kepada Alloh akan menyedekahkan ini atau itu”. Nazar jenis inilah yang tidak disukai oleh Nabi sebagaimana dalam hadits beliau bersabda, “Sesungguhnya nazar (seperti) itu tidak muncul kecuali dari orang yang bakhil/kikir.” (HR. Al Bukhori dan Muslim) [lihat At Tamhiid hal. 159]

Bernazar Kepada Selain Alloh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh mengatakan, “Adapun segala sesuatu yg dinazarkan bukan untuk Alloh, seperti bernazar untuk berhala, matahari, bulan dan kuburan serta yang semacamnya maka hukumnya sebagaimana orang yang bersumpah dengan menyebut selain Alloh berupa makhluk, maka tidak boleh ditunaikan, dan juga tidak ada kaffarahnya. Begitulah hukum bagi orang yg bernazar untuk makhluk, sesungguhnya keduanya adalah syirik. Dan syirik tidak memiliki nilai kehormatan sedikit pun. Pelakunya wajib beristigfar meminta ampun kepada Alloh SWT dari dosanya dan mengucapkan bacaan sebagaimana yg diajarkan Nabi: Laa ilaaha illalloh (HR. Al Bukhori dan Muslim) (lihat Fathul Majid hal. 152). Bernazar untuk selain Alloh hukumnya syirik akbar. Nazar adalah ibadah maka tidak boleh diarahkan kepada selain Alloh. Apabila diarahkan kepada selain Alloh maka itu syirik akbar. Sebab ibadah itu pengertiannya luas, yaitu segala sesuatu yg dicintai dan diridhoi Alloh baik perkataan maupun perbuatan yg lahir maupun yang batin, dan nazar termasuk di dalamnya (lihat Al Qoul As-Sadiid, hal. 50).

Bertentangan Dengan Kalimat Tauhid
Sesungguhnya kalimat tauhid “Laa ilaaha illalloh” menetapkan ibadah itu harus di tujukan hanya kepada Alloh dan menolak beribadah kepada selain-Nya. Sebagaimana diisyaratkan oleh firman Alloh ta’ala, “Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (An Nisaa’: 36). Inilah poros ajaran Islam yang keislaman seseorang tidak akan sah kalau keduanya tidak tergabung dalam dirinya. Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengakui Alloh sebagai satu-satunya tempat bergantung, satu-satunya Zat yang menguasai segala urusan kemudian melakukan ibadah (bentuknya nazar) yang dinujukan kepada selain-Nya ?. Bukankah hal ini jelas-jelas bertentangan dengan syahadat yang diucapkannya ?
Orang yang bernazar kepada selain Alloh pada hakikatnya telah menggantungkan harapan dan kekhawatirannya kepada selain-Nya, padahal sebenarnya dia menyadari kalau Alloh menghendaki maka hal itu pasti terjadi, dan kalau Alloh tidak menghendaki maka pasti tidak terjadi, dan tidak ada yang mampu menghalangi anugerah-Nya atau memaksa Alloh untuk memberikan apa yang sudah dihalangi-Nya, maka meng-esa-kan Alloh dalam niat itulah hakikat tauhid (ibadah). Apabila ibadah itu diperuntukkan selain Alloh maka akan berubah menjadi kesyirikan terhadap Alloh, karena dia telah berpaling kepada selain Alloh dalam perkara yang diharapkannya atau yg dikhawatirkan akan menimpanya, sehingga dia telah menjadikan sekutu bagi Alloh dalam masalah ibadah…(lihat Fathul Majid hal. 153).
Renungkan baik-baik, betapa banyak orang yang mengucapkan “Laa ilaaha illalloh” sementara dia tidak sadar kalau ternyata gerak-gerik hati dan jasadnya selama ini bertentangan dengan kalimat tauhid yang diucapkannya, na’udzu billaahi min dzaalik.

Nazar Maksiat
Di antara orang-orang yang gemar berbuat dosa ada yang bernazar untuk melakukan kemaksiatan. Misalnya, “Kalau lulus saya bernazar kepada Alloh akan menenggak 3 botol minuman keras”. Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang bernazar untuk bermaksiat kepada Alloh maka janganlah dia melaksanakan maksiat kepada-Nya.” (HR.Al Bukhori). Al Hafizh Ibnu Hajar rohimahulloh berkata : “Para ulama sepakat mengharamkan nazar dalam rangka bermaksiat”. Syaikh Abdur rohman bin Hasan rohimahulloh berkata, “Dan para ulama telah ijma’ (sepakat) tentang haramnya melaksanakan nazar yg bersifat maksiat” (Fathul Majid hal. 155).

Macam-Macam Nazar
Ditinjau dari sah dan tidaknya nazar ada 5 macam :
(1). Nazar taat dan ibadah, ini wajib ditunaikan dan bila dilanggar harus membayar kaffarah (tebusan).
(2). Nazar mubah, yaitu bernazar untuk melakukan suatu perkara yang mubah/diperbolehkan dan bukan ibadah maka boleh memilih, melaksanakannya atau membayar kaffarah.
(3). Nazar maksiat, nazarnya sah tapi tidak boleh dilaksanakan dan harus membayar kaffarah.
(4). Nazar makruh, yaitu bernazar untuk melakukan perkara yang makruh maka memilih antara melaksanakannya atau membayar kaffarah.
(5). Nazar syirik, yaitu yg ditujukan untuk mendekatkan diri kepada selain Alloh maka nazarnya tidak sah dan tidak ada kaffarah, akan tetapi harus bertaubat karena dia telah berbuat syirik akbar (lihat Mutiara Faidah Kitab Tauhid buah pena Ustadz Abu ‘Isa hafizhahulloh hal. 82). Kaffarah pelanggaran nazar sama dengan kaffarah pelanggaran sumpah yaitu memilih salah satu di antara beberapa pilihan, yakni : memberi makan 10 orang miskin dengan makanan yang biasa diberikan kepada keluarganya, atau memberikan pakaian pada 10 orang miskin, atau memerdekakan seorang budak. Dan barang siapa yang tidak mampu melakukan itu semua maka kaffarah nya puasa 3 hari (lihat Al Wajiz hal. 386). Wallohu a’lam bish showaab

http://muslim.or.id/?p=540

“…dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka…”. (QS.Al Hajj : 29). Maksud ayat ini adalah nazar-nazar yang baik.

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya…”. (QS.Al Baqarah : 270)

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS.Ali ‘Imran : 35)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: