Singkirkan Segala yang Berbau Tahayyul

Dari Khadijah, Rasulullah mendapatkan banyak anak, tiga putra dan empat empat putri. Mereka adalah Qasim, Thahir, Thayyib, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kaltsum, dan Fathimah. Namun hanya Fathimah saja yang berumur agak panjang, hingga menurunkan anak-cucu. Setelah Khadijah wafat, beliau menikah lagi. Akan tetapi dari semua istrinya beliau tidak mendapatkan keturunan. Sampai akhirnya Rasulullah menikahi Maria al-Qibthiyah. Dari wanita ini lahir seorang anak laki-laki yang sangat di cintai oleh Nabi. Anak itu kemudian diberi nama Ibrahim.

Ternyata nasib Ibrahim sama dengan putra-putra beliau terdahulu. Ia wafat pada usia 18 bulan. Rasulullah sangat sedih ditinggal mati oleh anak kesayangannya. Beliau menangis, dan dari bibirnya keluarlah kata-kata yang mengiris perasaan. “Ibrahim, sayang ! Kami tak dapat berbuat apa-apa untukmu. Kehendak Ilahi tak dapat diubah. Ayahmu berlinang air mata. Hatinya sedih dan pilu atas kematianmu. Namun, kami tak akan mengatakan sesuatu yang akan menimbulkan kemarahan Allah. Apabila tidak ada janji Allah bahwa kami akan menyusulmu, kami akan menangis lebih banyak dan akan lebih sedih karena berpisah denganmu.” Seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf menegur Nabi karena tangisnya ini. Ia berkata, “Tuan melarang kami menangisi orang mati, kenapa tuan sendiri menangis ketika anak tuan meninggal ?”. Sikap kritis sahabat Nabi ini ditanggapi dengan sopan , Rasulullah menyampaikan bahwa beliau tidak pernah melarang seseorang menangisi orang yang mati. Yang dilarangnya adalah apabila tangisan tersebut keterlaluan sehingga berkata-kata yg tidak sepatutnya, merobek-robek bajunya, dan menyayat-nyayat badannya. Berkabung dengan cara seperti inilah yang dilarang Rasulullah.
Menangisi orang mati itu wajar, apalagi yang mati adalah anaknya sendiri. Justru orang yang tidak terharu pada saat orang dekatnya meninggal, tidak bersedih hati, dan tidak juga mengeluarkan air mata, maka orang tersebut tak lebih dari sebongkah kayu yang tidak layak disebut manusia.

Hampir bersamaan dengan kematian putra Rasulullah ini terjadi peristiwa alam, yaitu gerhana matahari. Maka tersebarlah kabar di masyarakat bahwa gerhana ini terjadi karena kematian Ibrahim, putra Nabi. Rupanya tradisi jahiliyah masih juga terbawa-bawa ketika mereka sudah menjadi muslim. Ada kecenderungan atau lebih tepatnya kegandrungan masyarakat menghubung-hubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Padahal secara ilmiah antar peristiwa itu tidak ada hubungannya sama sekali. Mengetahui adanya berita ini, Rasulullah pergi ke masjid kemudian beliau naik mimbar dan berpidato, “Matahari dan bulan adalah dua tanda kekuasaan (ayat) Allah. Keduanya tunduk pada perintah-Nya. Gerhana keduanya tidak terjadi karena kematian atau kehidupan seseorang. Bilamana terjadi gerhana matahari atau bulan, lakukanlah shalat.” Setelah mengatakan hal tersebut belaiu turun dari mimbar lalu melakukan shalat gerhana bersama-sama.

Sebelum Islam datang, di tanah Arab berkembang subur praktek tahayyul. Kepercayaan ini telah melekat, mendarah daging pada masyarakat. Mereka sangat bergantung sekali dengan kepercayaan yang irrasional ini. Suatu kali Umar bin Khaththab tertawa geli. Para sahabat bertanya-tanya kenapa Umar tertawa sendiri. Dalam keadaan masih setengah geli ia menceritakan bahwa dulu ia pernah makan tuhan. Tentu saja tuhan yang dimaksudkan Umar adalah tuhan buatannya sendiri.
Suatu ketika ia bepergian untuk berniaga. Seperti biasa ia menyiapkan segala perlengkapan, termasuk barang-barang yang dipercayai mengandung ‘magis’. Akan tetapi kali itu ia lupa membawa barang itu. Tentu saja ia sangat gelisah . Mengetahui kegelisahan ini, sahabatnya mengusulkan agar Umar membuat tuhan buatan (patung) dari bahan tepung, yang mirip dengan aslinya. Singkat cerita, di tengah perjalanan semua bekal makanan telah ludes, sementara perjalanan masih jauh.. Dengan terpaksa Umar makan tuhan (patung) buatannya sendiri. “Aku telah makan tuhan,” katanya.

Tidak saja Umar, Rasulullah sendiri semasa kecil juga mengalami hal yang sama. Bedanya, Umar betul-betul melakukan, sementara Rasulullah dihindarkan oleh Allah sehingga tak sampai melakukannya. Pada usia empat tahun, sebagaimana kanak-kanak lainnya, Muhammad kecil ingin menyertai saudara-saudara angkatnya ke hutan.
Keinginan ini disetujui oleh Halimatus-Sa’diyah, ibu asuhnya. Akan tetapi pada hari berikutnya, Muhammad dimandikan, rambutnya diminyaki, dan matanya dicelaki. Demi keselamatannya, tak lupa ia mengalungkan tasbeh Yaman yang bertusuk benang. Maksudnya, agar Muhammad terhindar dari roh-roh jahat. Muhammad kecil diselamatkan Allah dari perbuatan syirik ini. Ia melepaskan tasbeh yang menjadi jimat itu dari lehernya, sambil menenangkan ibu asuhnya bahwa Allah telah melindungi dan memeliharanya.

Tahayyul atau mitos telah berkembang di masyarakat yang masih terbelakang maupun yang sudah maju. Semakin terbelakang tingkat pendidikan suatu kaum, semakin banyak mitos yang berkembang di sana. Ada korelasi antara kualitas pendidikan dengan perkembangan tahayyul. Meskipun demikian bukan berarti tahayyul atau mitos itu mati jika suatu bangsa atau kaum telah maju tingkat pendidikannya. Di negara paling maju sekalipun ternyata mitos itu masih bisa hidup dan berkembang. Bahkan orang-orang modern telah mampu mengemas mitos dengan bungkus ilmiah. Tidak heran jika kemudian di jaman modern ini masih ditemukan orang-orang yg percaya pada ramalan-ramalan yg didasarkan pd mitos-mitos tertentu. Setiap ada pergantian tahun ada ramalan nasib dihubungkan dengan tahun babi, tahun tikus atau yang lain. Para dukun peramal ini makin canggih, seiring dgn kecanggihan jaman itu sendiri.

Bila dulu para dukun membuka praktek di tempat yang jauh, di lereng bukit atau di desa terpencil, maka dukun sekarang buka praktek di hotel-hotel berbintang dengan tarif tinggi. Yang datang tentu saja bukan sembarang orang, sebab paling tidak harus berkantong tebal. Di antara mereka ternyata banyak yang katanya terpelajar. Juga masih banyak didapati pedagang yang sebelum membuka dagangannya, mereka berkonsultasi terlebih dulu kepada dukun. Ia minta saran tentang waktu yang tepat dan berbagai persyaratan untuk membuka usahanya. Praktek yang paling lazim adalah dalam memilih waktu pernikahan. Orang tua yang hendak menikahkan anaknya selalu memilihkan ‘waktu yang tepat’. Pemilihan waktu ini didasarkan semata-mata pada kepercayaan tentang ‘hari baik’. Padahal Allah SWT telah menciptakan semua hari itu baik. Memang ada hari-hari tertentu yang sangat baik, seperti kedua hari raya, hari Jum’at, atau bulan Ramadhan. Akan tetapi hari baik atau bulan baik itu kaitannya dengan ibadah, bukan yang lainnya.
Mitos-mitos seperti ini berkembang hingga sekarang, padahal sama sekali tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Pikiran sehat manapun tidak bisa menerima perhitungan hari, baik dikaitkan dengan bintang, dengan hari kelahiran, atau apa saja. Hanya mereka yang sudah terlanjur kesusupan virus tahayyul saja yang bisa menerima dan mempercayainya.

Jika kita mau pindah rumah, maka pindahlah. Yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan semua urusan administrasi, pamit pada tetangga lama yg mau ditinggalkan, kemudian berta’aruf dengan tetangga baru, mengemasi perabot dengan hati-hati, jika perlu mengadakan syukuran dengan mengundang kerabat dan tetangga kanan-kiri, tak perlu lagi berpikir, apakah hari ini baik atau buruk. Tak usah ditanyakan, apakah rumah itu membawa sial atau untung. Singkirkan segala kepercayaan tahayyul. Memerangi kepercayaan ini ternyata tidak pernah ada habisnya. Sepanjang hidupnya Rasulullah menghadapi mitos-mitos yg telah berkembang subur di masyarakatnya. Tidak gampang mencabut kepercayaan yg sudah terlanjur mengakar. Al-Qur’an menyebutkan dengan jelas bahwa salah satu misi yang diemban Rasulullah adalah melepaskan belenggu yang mengikat tangan dan kaki manusia. Belenggu itu bukan rantai besi, tapi segala jenis kemusyrikan. Termasuk di dalamnya adalah tahayyul atau mitos yang berkembang di masyarakat. Itulah belenggu yg memberati langkah maju manusia. Allah berfirman: “…. dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yg ada pada mereka…” (QS. al-A’raaf : 157)
Sebagai ummat Muhammad SAW kita berkewajiban selalu menyeru agar tetap waspada akan semua kepercayaan, mitos dan tahayyul yang berkembang dan sengaja dihidup-hidupkan oleh oknum-oknum tertentu.

[Lembar Jum’at Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Edisi : 06/VII, 26 Dzulqa’idah 1417, 04 April 1997]
http://alqalam.8m.com/vii/qal06.htm

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 031/th.03/Rabi’ul Akhir-Jummadil Awwal 1428H/2007M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: