Roh dan Tubuh Manusia

Semua manusia sudah mengetahui, bahwa pada diri manusia terdapat 2 unsur, yaitu roh dan jasad. Tetapi pengetahuan kebanyakan manusia tentang roh amat sederhana dan terbatas, sehingga kebanyakan manusia tidak memikirkan dan tidak merasa perlu dengan roh (jiwa)–nya sendiri. Yang banyak diketahui dan dipelajari manusia hanya mengenai jasad atau tubuh, karena itu kebanyakan manusia dalam menjalani hidup seringkali tidak seimbang, hanya mementingkan masalah jasmani, seperti makan, minum, pakaian, kesenangan-kesenangan duniawi saja.

Ilmu pengetahuan manusia tentang masalah jasmani dan duniawi selalu meningkat dan canggih. Namun pengetahuan tentang masalah rohani & akherat tetap sederhana, tidak bertambah, tidak maju, malah mungkin semakin berkurang dan mundur. Ini yg menyebabkan, bahwa sekalipun semakin maju manusia dalam pengetahuan duniawi dan jasmani, tetapi manusia semakin rusak dalam peradaban atau akhlaq mereka, manusia hanya mementingkan benda-benda (materi) melupakan soal akhlaq (rohani).
Keadaan seperti ini kalau terus berlanjut, maka manusia akan sampai pada titik atau taraf, dimana ilmu duniawi amat tinggi tapi lenyap akhlaqnya, budi pekertinya, moralnya, rasa malunya, jelek tabiatnya, kejam sifatnya. Disaat itulah manusia bak binatang modern.

Tubuh merupakan kumpulan daging, tulang, darah, kulit, bulu, yang mana semuanya merupakan kumpulan berjuta-juta sel yang tumbuh dan berkembang karena pengaruh roh, dan menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh Al Khaliq Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Kalau bukan karena roh, maka semua bagian tubuh itu hanya merupakan benda mati, seperti batu atau tanah, karena asalnya memang dari tanah jua.
Adapun roh adalah unsur Ilahi, yaitu hanya Allah saja yang mengetahui akan rahasianya. “Dan mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah : ”Roh itu urusan Tuhanku, dan kamu tidaklah diberi pengetahuan kecuali sedikit”. (QS. Al Isra’ : 85). Unsur roh ini pula yang menyebabkan manusia dapat melihat, mendengar, merasa, berfikir, berkasih sayang, membenci, marah. Unsur roh ini yang menjadikan manusia punya rasa malu, bermoral, bersusila, atau sebaliknya bisa menjadikan manusia tidak bermoral dan tidak tahu malu.

Roh disebut juga nyawa karena berfungsi menghidupkan, menumbuhkan dan memperkembang-biakkan. Roh berlaku sebagai akal, karena fungsinya untuk berfikir, menyelidiki, mencari sebab-akibat, mengingat, mengkhayal. Roh dinamai kalbu karena fungsinya sebagai perasa, sehingga manusia dapat merasakan riang, susah, malu, hormat, marah, lapar, dahaga. Dan roh disebut juga nafsu karena fungsinya berkeinginan, berkehendak, berkemauan. Maka roh itu merupakan kesatuan berbagai fungsi.

Bila roh keluar dari tubuh, maka tubuh akan mati, tak bergerak, tidak tumbuh, akhirnya hancur menjadi tanah kembali sesuai asalnya. Adapun roh karena dia menghi dupkan, maka dia hidup terus, tidak mengenal mati. Meski tubuh telah lebur bersama tanah, atau terbakar hangus jadi abu, atau tenggelam dalam air, roh akan tetap hidup, tetap merasa, tetap sadar dan mengerti, tetap melihat, mendengar, bahkan dengan penglihatan, pendengaran, kesadaran yg lebih sempurna. Roh akan tetap hidup meski tanpa tubuh kasar seperti hidupnya malaikat, jin dan makhluq halus lainnya. Berkata Ali bin Abi Thalib ra, :”Manusia hidup seperti orang yg tidur, bila sudah mati menjadi seperti orang yang sudah bangun dari tidur”. “Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang dzalim pada hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata” (QS.Maryam : 38).

Seseorang yang yakin bahwa roh manusia akan hidup terus, kekal dengan segala kesadaran, maka ketakutan akan mati akan berkurang. Berkurang sedikit atau banyak tergantung dengan sedikit atau banyaknya keyakinan itu sendiri. Bagi seseorang yang tidak ada keyakinan bahwa roh itu akan hidup terus, maka bagi orang seper ti ini mati adalah sesuatu yang tak dapat dibayangkan kesengsaraannya dan amat menakutkan. Wallaahu ‘alam.

(sumber : Hidup Sesudah Mati, KH.Bey Arifin, penerbit Kinanda, cet.15 th.1998)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 030/th.03/Rabi’ul Awal-Rabi’ul Tsani 1428H/2007M

Iklan

2 Responses to Roh dan Tubuh Manusia

  1. sharudin berkata:

    Salam
    Tak boleh petik?

  2. labbaik berkata:

    Wa’alaikum salam wr.wb.

    Silahkan kalau mau dipetik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: