Apakah Benar ‘Ilmu-Ilmu Aneh’ Bebas Jin ?

 

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb. Pak Ustadz yang semoga dimuliakan Allah, saya ingin bertanya tentang penjelasan ayat-ayat Al Qur’an di bawah ini :”Lalu Kami tundukkan angin kencang untuk dia, angin mana saja dapat berhembus ke mana saja menurut kemauannya. Dan Kami tundukkan pula untuk dia syetan-syetan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Dan syetan-syetan yang lain yg membangkang bersama-sama diikat dengan belenggu. Inilah tiga ni’mat utama yang Kami karuniakan kepadamu, boleh engkau berikan kepada orang lain atau engkau tahan untuk dinikmati sendiri tanpa pertanggung-jawabannya.” (QS Shaad: 36-39)

 

Dari sebuah forum diskusi salah satu perguruan beladiri tenaga dalam dan tenaga metafisik, saya mendapatkan ayat-ayat di atas dijadikan argumen dengan pembenaran adanya kemampuan manusia memiliki ilmu-ilmu tertentu dengan cara dipelajari, tetapi bebas dari unsur jin. Dari pemahaman saya selama ini, bahwa kekuatan-kekuatan ‘hebat’ yang didapat manusia, ada karomah, maunah dan sihir (terlepas dari mukjizat), yang hanya bisa dipelajari dan diajarkan kepada orang lain adalah sihir, sedangkan yang lain adalah bonus dari Allah dan tidak bisa dipakai seenaknya dan tidak pula dipelajari/diajarkan. Tetapi, dengan argumen ayat terakhir di atas, ada yang berpendapat bahwa, sampai mukjizat pun bisa diajarkan, walaupun para nabi memilih tidak untuk diajarkan. Jadi pilihannya simpan sendiri atau diajarkan dengan tanggungjawab nanti kepada Allah..

Bagaimana ini, pak Ustadz ? Apa benar ilmu-ilmu ‘aneh’ seperti terawangan, melepas sukma, asihan dan ilmu-ilmu lainnya memang bisa dipelajari tanpa ada unsur jin di dalamnya. Dan sebenarnya bagaimana penafsiran ayat-ayat di atas, apakah dikhususkan untuk nabi Sulaiman saja, atau manusia secara umum ?

 

Catatan:

Teknik latihan perguruan yang saya maksud tadi, memang sejauh yang saya perhatikan, tidak ada unsur syirik/bid’ah di dalamnya. Tidak ada amalan tertentu, atau bacaan wirid-wirid tertentu, murni pelatihan fisik, walaupun ada namanya transfer energi metafisik. Syukron atas penjelasannya.

 

Wassalamualaikum wr. wb. (Zaid)

 

Jawaban:

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Al-hamdulillah, wash-shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Kalau pendapat tentang adanya ilmu-ilmu ghaib yang non jin itu memang benar-benar bersih tanpa dosa dari Allah, maka yang menjadi pertanyaan adalah : mengapa dahulu Rasulullah SAW dan para shahabatnya tidak menggunakannya ? Mengapa para shahabat sampai berguguran di medan jihad? Sedemikian banyak di antara mereka yang putus tangannya, ada yang mati kena panah, tombak, pedang dan lainnya. Mengapa tidak ada satu pun yang mempelajarinya ? Dan mengapa Rasulullah SAW tidak memerintahkan para shahabat untuk mempelajari ilmu pernafasan dan sejenisnya ? Apakah ilmu metafisik itu belum dikenal di negeri Arab saat itu ? Kalau belum dikenal, bagaimana Rasulullah SAW bisa berperang dengan teknik menggali parit (Khandaq), padahal dimasa itu bangsa Arab sama sekali belum pernah mengenalnya ?

Padahal segala macam teknik bela diri dan faktor-faktor kekuatan telah digunakan di masa itu. Bukankah Rasulullah SAW sampai memerintahkan umatnya untuk mengajari anak-anak belajar memanah, berenang dan naik kuda? Kalau memanah dan naik kuda, mungkin masih masuk akal. Tapi buat apa Rasulullah SAW sampai memerintahkan belajar berenang ? Bukankah di pasang pasir tidak ada kolam renang, rawa, sungai atau pun danau ?.

 

Jawabnya sederhana, yaitu Rasulullah SAW telah memprediksi bahwa setiap mujahidin harus siap menghadapi beragam tantangan, bahwa meski yang tidak terbayangkan ada di padang pasir. Sebagaimana firman Allah SWT :”Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya. (QS Al-Anfal: 60). Di ayat ini ditegaskan bahwa segala jenis kekuatan apa saja harus dipersiapkan, lalu baru kemudian dicontohkan dengan kuda yang tertambat.

 

Tapi mengapa tidak pernah ada satu riwayatpun yang menyebutkan bahwa salah seorang shahabat mendalami ilmu pernafasan yang bisa melahirkan kekuatan metafisik (ghaib) ?. Hal-hal ghaib memang seringkali terjadi pada diri Rasulullah SAW dan para shahabat. Semua itu merupakan ta’yidullah (sokongan dari Allah) kepada hamba-Nya karena mereka memperjuangkan agama-Nya. Dan sama sekali bukan dengan cara dipelajari, melainkan semata-mata pertolongan yang datang begitu saja. Dalam hal ini dikatakan sebagai mukjizat nabi SAW & karamah para shahabat. Sedangkan ayat yang anda kutip yaitu Surat Shaad ayat 36-39 itu memang khusus hanya kepada Nabi Sulaiman saja. Perhatikan kaitan ayat itu dengan ayat sebelumnya, yaitu ayat 34, dimana Allah SWT menyebutkan bahwa semua ini merupakan fitnah (ujian) buat Nabi Sulaiman as. Di dalam ayat 35 bahkan disebutkan bahwa kerajaan seperti itu tidak akan lagi bisa dimiliki oleh siapapun sepeninggalnya. Sedangkan nabi-nabi yang lain tidak pernah diberikan kemampuan yang bisa menggerakkan syetan, angin dan lainnya. Kecuali dengan doa dan atas kehendak Allah SWT. Termasuk nabi Muhammad SAW pun tidak punya. Lagi pula apa yang tertera di dalam ayat itu sama sekali tidak mengandung pembenaran bila dilakukan oleh manusia biasa. Ayat itu jelas-jelas berkisah tentang Nabi Sulaiman dan hanya terjadi padanya saja. Maka meski tanpa wirid, zikir atau syarat-syarat lainnya, sihir memang bisa dilakukan oleh siapa saja yang diberikan ilmu tersebut.

 

Tidak selalu syetan itu mensyaratkan untuk berwirid, berzikir atau melakukan ritual-ritual khusus bila ingin memberikan kemampuan sihir kepada manusia. Bukankah para penyihir di barat pun bisa melakukannya tanpa harus baca-baca wirid tertentu, juga tanpa membaca ayat-ayat tertentu ?. Sebab buat syetan, yang penting seseorang itu mau menjalankan maksiat, pelanggaran atau syirik kepada Allah SWT, demi menemaninya di dalam neraka. Tentang teknis dan caranya, itu bisa-bisanya syetan. Wallahu a’lam bish-shawab. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh – (oleh : Ustadz Ahmad Sarwat, Lc).

 

http://eramuslim.com/ks/us/57/19954,1,v.html

 

Wali Songo Akulturasikan Budaya dan Agama yang Saling Menguntungkan

 

Jakarta, NU Online – Kesuksesan pengembangan agama Islam di Indonesia dikarenakan karena dakwah yang dilakukan oleh para walisongo dengan melakukan akulturasi yang erat dalam karakter budaya masing-masing daerah dengan agama. Walisongo melakukan penyebaran Islam secara step by step, tidak radikal. Dicontohkannya Indonesia sebelum masuk Islam kuat sekali ajaran Hindu dan Budhanya. Mereka menganggap suci hewan sapi. Ketika umat Islam, saat Idul Adha kita diwajibkan berkurban , para walisongo mengganti sapi dengan kerbau sebagai bentuk toleransi kepada ummat lainnya. “Maka dari itu, ajaran walisongo merupakan ajaran yang jauh dari radikalisme dan kekerasan,” demikianlah pernyataan KH.Hasyim Mudzadi.

Pengasuh Ponpes Mahasiswa Al Hikam Malang tersebut juga menjelaskan bahwa para walisongo tersebut juga sudah punya setting hubungan antara agama dan negara. Saat Jakfar Shodik atau Sunan Kudus mendirikan kerajaan Demak, bukan dinamakan sebagai kerajaan Islam Demak, tetapi kerajaan Demak Bintaro. “Inilah tata hubungan agama dan negara yang harmonis yg dibangun oleh walisongo,” paparnya. Tuduhan adanya sinkretisme yang dilakukan oleh para walisongo dalam berdakwah juga ditolak oleh mantan ketua PWNU Jatim tersebut. Kondisi masing-masing wilayah berbeda sehingga harus digunakan pendekatan yang berbeda. “Mindset budaya yang berbeda dengan timur tengah harus disetel berbeda dalam melihat hubungan negara dan agama,” imbuhnya. Namun diakuinya bahwa saat pengislaman yang dilakukan para wali, sedang berlangsung ajaran-ajaran kebatinan, banyak diantara proses tersebut belum selesai dan mereka keburu meninggal sehingga masih ada beberapa ajaran berbau kebatinan seperti kepercayaan pada Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, Mak Lampir dan lainnya sampai saat ini masih melekat dalam masyarakat. Beliau juga meminta kepada masyarakat agar ketika berziarah juga memahami latar belakang, sejarah, dan perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam di Indonesia, bukan hanya ziarah saja.

 

http://www.nu.or.id/data_detail.asp?id_data=5797&kategori=WARTA

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

Iklan

4 Responses to Apakah Benar ‘Ilmu-Ilmu Aneh’ Bebas Jin ?

  1. anonymous berkata:

    Rasulullah Saw juga tdk memakai HP, komputer, listrik dsb, apakah lantas umat beliau skg tdk boleh memakai itu semua krn tdk dicontohkan oleh Beliau di masa lalu ??? Pantas aja umat Islam sampe skg msh terbelakang sama umat lain… Sbnrnya bukan cuma kebykan umat Islam zaman skg ini yg pemikirannya terbelakang, ketika zaman gereja (katolik) menguasai negara-negara Eropa, bangsa Eropa pun terbelakang krn mereka patuh dan taat sama para pemuka gerejanya yg berpikiran sempit… Apakah umat Islam msh mau mencontoh pengalaman bangsa Eropa zaman kekuasaan gereja dahulu…Naudzubillah mindzalik…

  2. labbaik berkata:

    Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
    Saudara Arief, Nabi saw. memang bersabda, “…Seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang baru. Dan segala yang baru itu bid’ah. Lalu, segala yang bid’ah sesat.” (HR Buhori Muslim).
    Hadis ini seringkali disalahpahami sehingga memasukkan seluruh hal yang tidak pernah terjadi dan tidak pernah ada pada masa Nabi saw. sebagai bid’ah yang sesat.

    Padahal, bid’ah yang dilarang dan dinyatakan sesat oleh Nabi saw. adalah yang menyesatkan dan membahayakan dalam urusan agama, sebagaimana dijelaskan oleh hadis nabi yang lain yang berbunyi, “Siapa yang melakukan perbuatan bid’ah yang sesat yang tidak mendatangkan rida Allah dan Rasul-Nya, maka ia mendapatkan dosa dan dosa orang yang melakukannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali.” (HR al-Tirmidzi dengan sanad hasan).
    Sebab, ada bid’ah yang baik dan berguna bagi manusia. Misalnya, upaya Umar ra. Yang mengumpulkan manusia untuk melakukan salat tarawih berjamaah dia masjid dengan dipimpin oleh Ubay ibn Ka’ab, padahal Rasul tidak mengerjakan hal tersebut. Saat itu Umar berkata, “Inilah sebaik-baik bid’ah.” (Fath al-BârÎ). Juga, upaya mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf. Para sahabat menyetujui dan mengakui pentingnya pengumpulan Alquran dalam satu mushaf karena mereka mengetahui bahwa tidak semua bid’ah itu sesat.

    Jadi, bid’ah yang buruk dan sesat adalah dalam urusan ibadah mahdah dan ritual Islam yang tidak memiliki landasan sama sekali. Adapun yang memiliki landasan atau urusan muamalah yang bermanfaat bagi masyarakat, seperti komputer, hp, radio, tv, dan semacamnya bukanlah termasuk bid’ah. Bahkan, ia termasuk yang disuruh untuk dikembangkan oleh Rasul saw., “Hikmah adalah barang hilang milik mukmin. Maka, di manapun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya.” (HR al-Tirmidzî)

    Wallahu a’lam bish-shawab.
    Wassalamu alaikum wr.wb.

  3. ahmad berkata:

    jd bagaimana jin itu bs berubah wujud apa yg dia inginkan

  4. labbaik berkata:

    Syaikhuna Muqbil bin Hadi rahimahullahu mengatakan: “Jin memiliki roh dan jasad. Hanya saja mereka dapat berubah-ubah bentuk dan menyerupai sosok tertentu, serta mereka bisa masuk dari tempat manapun. Berubahnya wujud ini tentu dalam rangka menyesatkan manusia.

    “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuhmu, karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 6)

    “Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” (Al-Kahfi: 50)

    “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga. Ia menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Al-A’raf: 27)

    http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=349

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: