Yahudi Main di Belakang Layar

Seorang pemimpin agama asal Amerika pada awal tahun 1950-an menerbitkan buku yg laris manis, berjudul “The Power of Positive Thinking”. Inti isi buku tersebut menjelaskan, bahwa kebanyakan rintangan hidup dapat diatasi jika rintangan itu disikapi secara positif. Positive Thinking atau dalam istilah kita diartikan dengan ‘selalu berpikir, berperilaku, bertindak positif terhadap semua orang dalam interaksi hidup, sehingga tidak timbul dalam pandangan orang lain kepada kita, selain pandangan yang simpati’. Pemikiran ini sebenarnya dimunculkan oleh musuh-musuh Islam (Yahudi) untuk melemahkan umat Islam. Apa iya ?. Ya Jelas !.

Mereka telah belajar dari sejarah mereka sendiri, bahwa apabila seseorang (atau kaum) dikondisikan untuk selalu berpikir positif dalam segala hal, maka akan lemahlah dia. Karena hidupnya hanya akan dibebani dan dibatasi dengan segala macam aturan relatif yang menekan kehendak jiwa bebasnya. Selamanya dia akan sibuk dengan segala urusan memahami, mendefinisikan dan membangun aturan-aturan positif (menurut manusia) karena takut melanggar batas pagar ‘positif’ itu. Umat Islam akan sibuk memperdebatkan script (naskah) Al Qur’an dan Sunnah, lupa terhadap amalan-amalannya. Sibuk dengan urusan jenggot, gamis, bid’ah, khurofat, dll, sementara itu pula mereka lalai terhadap urusan beramal dengan amalan-amalan lain. Tak jarang friksi itu kemudian menjadi benturan dalam memahami, mendefinisikan dan membangun aturan-aturan positif tersebut. Sehingga meningkat menjadi konflik internal, menggelinding terus bak bola salju yang semakin lama makin membesar, seterusnya bagai lingkaran yang tidak ada ujung pangkal.

Yahudi (Bani Israel) belajar dari kasus sejarah mereka, saat Allah SWT menurunkan ‘The Ten Commandments’ (sepuluh perintah Tuhan) yang mana semua isinya merupakan nilai-nilai positif (diantara isinya dilarang mencuri, berzina, memakan riba’, membunuh antar sesama, dsb). Mereka sadar, bahwa ‘sepuluh perintah’ tersebut sebenarnya merupakan ‘hukuman’ Tuhan, karena kedurhakaan mereka yang selama itu tidak mentaati para nabi dan rasul mereka. Meskipun mereka terpecah-belah juga – sebagaimana umat nashrani dan umat Islam – menjadi berbagai golongan yang berbeda, namun ada titik temu pada tingkat operasional di kalangan mereka. Bahwa “Positivism” (cara berpikir positif) yang mereka anut hanya berlaku dalam hubungan antar sesama mereka, bukan dengan semua manusia !. Terhadap bangsa lain, mereka menggunakan tata-aturan yang sebaliknya. Mereka kemudian menerapkan juga ‘hukuman’ harus selalu ‘berpikir positif’ itu kepada semua manusia (bangsa lain), sementara mereka sendiri menerapkan aturan “Negatitivism” kepada bangsa lain.

Keharusan berpikir positif oleh ‘goyim’ (non Yahudi) tersebut, dalam praktiknya banyak menimbulkan ekses varian-varian baru secara otomatis di tingkat bawah, karena terjadi tarik-ulur terhadap pemikiran itu sendiri, meskipun secara mainstream tetap berjalan lancar.

Bukti paling nyata atas hal di atas adalah isi Talmud (kitab suci Yahudi) versi Babilonia, kitab yang ditulis oleh para Rabi (pendeta Yahudi) secara syarah (penjelasan) dari kitab Thorah (Taurot). Dalam Talmud, dijelaskan sampai pada tingkat operasional bagaimana harus memperlakukan bangsa lain non-Yahudi yang mereka sebut ‘goyim’ itu. Bisa dikatakan bahwa isi Talmud seratus persen Nagitive Thinking !. Mencuri, berzina, memakan riba’, membunuh , dll, semua boleh dilakukan asalkan terhadap goyim !. Kalau sempat membaca seluruh isinya, bulu roma kita akan berdiri dan akan timbul istilah yang lebih tepat untuk menyebut kitab tersebut sebagai ‘Kitab Suci Setan !”.

Bukti lain bagaimana bangsa Yahudi (dan Nashrani) secara maksimal dan optimal berusaha menghancurkan Islam sehabis-habisnya adalah sebuah dokumen rahasia yang ditemukan pada awal abad ke-18, sebuah dokumen rahasia Draft Protocols of Zion, yang ditulis oleh Adam Weishaupt (dibantu oleh penulis Jerman, Herr von Swack), pejabat pastor katholik ordo Jesuit yang direkrut oleh kelompok ‘Illuminati’ atau kelompok rahasia (secret Society) yang juga melegendakan dirinya sebagai kelompok Luciver atau Iblis Pembawa Cahaya. Pada tahun 1770 ia mulai membuat blue-print tentang penguasaan dunia melalui penghancuran agama-agama, kerajaan-kerajaan, dan pemerintahan-pemerintahan di muka bumi. Adapun bunyi naskah terse but adalah sbb :

“Rahasia pertama untuk mengarahkan opini umum ke dalam kekuatan kita adalah bahwa kita harus menciptakan kebingungan massal, dengan cara membuat pernyataan-pernyataan dari berbagai arah mengenai opini-opini yang kontradiktif sepanjang waktu, sehingga cukup untuk membuat goyim kehilangan akal sehatnya”.

“Rahasia kedua yang kita perlukan demi suksesnya pemerintahan kita adalah melipat-gandakan sehabis-habisnya kegagalan nasional, perilaku buruk, nafsu angkara murka, dan ke-amburadul-an kehidupan masyarakat, sehingga dalam kondisi kacau-balau (chaos) yang kita ciptakan itu tidak memungkinkan bagi setiap orang untuk menyadari dimana mereka sebenarnya, dengan demikian rakyat tidak akan dapat saling memahami antar sesamanya”. (lihat : “Tesis-Antitesis Penghancuran Bangsa-bangsa dan Agama, Jurnal Research, Vol.I/ nomor.1)

Alangkah dahsyat badai peperangan yang mereka lancarkan kepada kita umat islam, sehingga kita semua seolah-olah sudah kalah, bangkrut, dan tak mungkin untuk menang”. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS.Al Baqarah : 120). Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. (QS.Al Maaidah : 82).

Sebenarnya masih ada satu harapan yang masih dipunyai oleh orang-orang beriman, yaitu do’a. Karena do’a adalah senjata orang-orang beriman & merupakan inti ibadah kepada Allah SWT. Betapa naifnya apabila kita telah mengetahui hal di atas tetapi masih terjebak oleh perangkap-perangkap mereka ?. Penulis bukan berarti menyalahkan total masalah ‘Positive Thinking’ seperti yang telah diikuti mayoritas umat dan kebanyakan ulama, tetapi menyayangkan ketidak-tepatan waktu dan tempat dalam menerapkannya.

(sumber : Aplikasi Islam Dalam Wilayah Kuadran, Arif Fadhillah-M.Muntasir Alwi, Pilar Press, edisi pertama, Muharram 1426/Pebruari 2005, hal 20-22)

note :“Dan berilah peringatan kepada kerabatmu terdekat” (QS.Asy-Syu’araa : 214) “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS.Adz-Dzaariyaat : 55)

Larangan Perang Saudara :

Dari Jabir (bin Abdullah Albajali) ra., Nabi SAW bersabda kepadanya ketika Haji Wada’ (Haji Penghabisan), “Suruh tenanglah orang banyak itu !”. Kemudian beliau bersabda lagi :”Janganlah kamu kafir kembali sesudahku, dimana sebagian kamu memenggal leher yang lain.*) (Shahih Bukhari no.87)
penjelasan :
*) Sebagai pemimpin yang berpandangan jauh ke depan, Rasulullah telah dapat meraba akan terjadinya perang saudara sesama umat Islam setelah beliau wafat. Karena itu jauh-jauh sebelumnya Rasulullah mengingatkan dan mencegah agar hal yang tidak diinginkan tersebut tidak sampai terjadi.

Tidak Boleh Menganiaya Sesama
Dari Abdullah bin Umaar ra., Rasulullah SAW bersabda :”Orang Islam itu saudara orang Islam; ia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkannya teraniaya. Siapa yang menolong keperluan saudaranya, Allah akan menolong keperluannya pula. Siapa yang menghilangkan kesusahan orang Islam, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat. Siapa yang menutup rahasia orang Islam, Allah akan menutup rahasianya di hari kiamat nanti.” (Shahih Bukhari no.1168)

(sumber : Terjemah Hadits Shahih Bukhari, A.Rahman Zainuddin MA, penerbit Wijaya Jakarta , cet.13/1992)
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: