Ukhuwah Islam itu Mempesona

AKU terlahir dengan nama Maria Magdalena. Kini aku lebih suka dipanggil Maryam saja. Ibu -yang biasa aku panggil emak- yang melahirkan aku di Nganjuk, 17 De sember 1977 adalah seorang aktivis non Muslim. Sewaktu tinggal di Lampung, rumah kami sering dijadikan pusat aktivitas mereka. Aku dibesarkan di keluarga yang jauh dari Islam. Selain ibuku non Muslim, Bapak adalah penganut kejawen, yang pada waktu tertentu sering memberi sesaji untuk keris. Bersyukur Allah menyayangiku.

Sejak usia 17 tahun, Allah memberiku hidayah untuk memeluk Islam. Ukhuwah itu yang awal mula dulu membuatku tertarik pada Islam, kini makin aku rasakan. Karena ukhuwah pulalah aku dimudahkan oleh saudara-saudaraku mengenal Islam. Mereka menolongku semata-mata karena mereka ingin aku mengenal Allah. Dan setelah sekian lama dalam tarik-menarik dua keyakinan yang berbeda, Allah menun jukkan jalan-Nya. Mbak Jani, kakak pertamaku yg telah berislam sejak SMP, getol mengajakku memeluk Islam. Sedang Emak, yang begitu taat dengan keyakinannya, terus mengajakku mengikuti jejaknya. Boleh dibilang beliau adalah aktivis di kalangannya. Bahkan saking militannya, kelumpuhan akibat stroke tak menghalangi Emak datang ke acara kerohanian. Aku seolah diperebutkan antara Mbak Jani & Emak.

Tarikan dari Mbak Jani agak berkurang, seiring kondisi kami yang tidak tinggal serumah lagi dengan Mbak Jani yang lebih memilih tinggal bersama ibu tiri – kami panggil Ibu – yang beragama Islam walaupun kejawen. Maka secara otomatis, aku ikut aktif sebagaimana Emak. Aku jadi murid kesayangannya dan sering dijadikan contoh sebagai anak yang berbakti. Aku terus aktif, walau sempat berjanji pada Mbak Jani untuk berislam sekalipun tinggal bersama Emak.

Sepeninggal Bapak, yang tak lama disusul emak, tarikan itu mulai kurasakan lagi. Setelah itu aku berkumpul kembali bersama Mbak Jani, adikku Ali, dan Ibu. Aku mulai tertarik dengan jilbab yang ketika itu dikenakan Mbak Jani. Jilbab panjang itu sering aku pakai. Orang sering keheranan melihatku dengan jubah tanpa kerudung yang menutupi kepala. Dasar sedang puber, aku senang saja berganti-ganti baju. Ketika kakakku menyuruhku memakai jilbab, dan aku mau saja. Padahal waktu itu aku belum terlalu mengenal Islam.

Seiring perjalanan waktu, Allah memberikan berbagai kemudahan-Nya untukku mengenal agama ini. Aku semakin yakin dengan kebenaran jalan yang kupilih. Alhamdulillah, suamiku Mirzan Adi Bratha terus membimbingku untuk mengarungi samudera hidayah-Nya. Kehadiran Hulwa Tazqia Syahida, anakku, semakin menguatkan ibadahku dan suamiku. Aku tak ingin apa yang terjadi padaku terulang padanya. Aku ingin menjadi orangtua yang mengajarkan Islam. Doa dan harapanku pada Allah, supaya Dia menetapkan hatiku pada kebenaran ini hingga akhir hayat. Aku tahu Dia Maha membolak-balikkan hati, jadi aku berdo’a kepada-Nya agar hati ini terus dijaga oleh-Nya. – [Sumber : MQMedia.com]

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=44

UKHUWAH DALAM AL-QURAN

Oleh : M. Quraish Shihab

Dalam Al-Qur’an, kata ‘akh’ (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti saudara kandung (QS. An-Nisa’ :23), saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga (QS. Thaha : 29-30), saudara dalam arti sebangsa, walaupun tidak seagama (QS. Al-A’raf : 65), saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham (QS. Shad : 23), persaudaraan seagama (QS. Al-Hujurat : 10). Di samping itu ada istilah persaudaraan lain yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an yaitu saudara sekemanusiaan (ukhuwah insaniyah) dan saudara semakhluk dan seketundukan kepada Allah.

Ukhuwah islamiyyah adalah ukhuwah yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam. Berdasarkan pada pengertian ini, paling tidak ada empat macam ukhuwah :

1. Ukhuwah ‘ubudiyyah atau saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah.
2. Ukhuwah insaniyyah (basyariyyah) dalam arti seluruh umat manusia adalah saudara karena mereka berasal dari seorang ayah dan ibu.
3. Ukhuwah wathaniyah wa an-nasab, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan.
4. Ukhuwan fi din Al-Islam, persaudaraan antar sesama muslim.

http://www.shodikin.20m.com/quraih_shihab.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Iklan

One Response to Ukhuwah Islam itu Mempesona

  1. izyan berkata:

    alhamdulillah allah telah memberi hidayah kepada enti..jglh hidayah itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: