SUDAH SAATNYA MUSLIMIN BERSATU

(Oleh : KH. Abul Hidayat Saerodjie)

“Adapun orang-orang kafir sebagian mereka menjadi pelindung sebagian yang lain. Jika kamu (hai kaum muslimin) tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah itu (membentuk masyarakat Islam yang bersatu berdasarkan persaudaraan yang teguh), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar” (QS. Al-Anfal : 73)

“Kebenaran tanpa ‘nizham’ (teroganisir dan terus disosialisasikan) akan dikalahkan oleh kebathilan yang bernidzam” (Atsar : Ali bin Abi Thalib).

Semakin jelas dan nyata, apa yang sedang menimpa umat Islam belakangan ini membuktikan kebenaran firman Allah dan Atsar Ali di atas. Orang-orang kafir kompak dalam konspirasi global dalam menentang dan menindas kaum muslimin. Sementara umat Islam bagai gundukan pasir yang bergunung tanpa perekat ditiup angin buyar berantakan berkeping-keping dan berserakan menjadi serpihan-serpihan individu yang lemah tak berdaya.

Adapun dua pertunjukan besar yang sedang dipertontonkan manusia pada era peradaban milenium ketiga ini,

Pertama : Pertunjukan keangkuhan orang-orang kafir sebagai negara adidaya yang memamerkan kekuatannya melalui invasi ke negara-negara Islam di Timur Tengah (Afghanistan dan Irak) dengan demo persenjataan berteknologi tinggi, pembunuhan massal oleh Amerika dan sekutunya dengan alasan yang dibuat-buat tanpa kebenaran sedikitpun, bahkan ditentang oleh manusia sejagad. Ribuan rakyat sipil wanita dan anak-anak tak berdosa bergelimpangan mati dicabik-cabik oleh bom karpet yang meluluh lantakkan bangunan bahkan menghancurkan peradaban Islam yang sangat bernilai. Peristiwa ini pada hakikatnya menguak dan membuktikan tudingan mereka selama ini kepada kaum muslimin dengan sebutan teroris, ekstrim, kejam, pelanggar HAM dan sebagainya. Justru mereka sendiri sedang mempraktekkannya. Bagai pembunuh massal yang mengancam perdamaian dan keselamatan dunia. Hal ini mengingatkan kita kepada ketakaburan Raja Namrudz dan Fir’aun hingga pada puncak kesombongan mereka mengaku “ANA ROBBUKUMUL ‘ALA”, demikian juga ketakaburan Raja Abrahah dengan congkaknya bersama tentara “super power” gajahnya menginvasi Mekkah untuk menghancurkan Ka’bah (Baitullah), tetapi semuanya dihancurkan Allah dengan kekuasaan-Nya. Sebab bila kesombongan sudah pada puncaknya, maka di situlah awal dari kehancurannya. Demikian juga dengan kesombongan Zionis Israel, Amerika dan Sekutunya; pada saatnya jika tetap pada ketakaburannya pasti Allah akan menghukum bahkan menghancurkannya.

Kedua : Pertunjukan ketidakberdayaan umat Islam pada semua lini kehidupan. Di bidang ekonomi kita terpuruk, padahal Allah telah memberikan kekayaan yang berlimpah kepada muslimin dengan negeri-negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi mereka merampas dengan modus imperialisme dan kolonialisme bentuk baru. Kita menjadi umat jajahan yang diperebutkan bagai tumpeng yang dikepung oleh orang-orang yang rakus dan lapar. Demikian sinyalemen Rasulullah sehingga shahabat bertanya, “Apakah jumlah kami pada saat itu sedikit ?” Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan kamu (umat Islam) pada saat itu jumlahnya banyak, tetapi kualitasnya bagai buih air bah hilang wibawa dan jatuh martabatnya (di mata musuh, yang ada bukan iman dan semangat jihad yang menyala, tetapi) cinta dunia dan takut mati”. (HR. Abu Dawud dan Bukhari)

Padahal jumlah umat Islam lebih dari satu milyar, sumberdaya manusia yang tidak kalah dengan mereka, kita punya ahli-ahli nuklir, ekonom, ilmuwan pada bidangnya masing-masing. Tetapi orang-orang Zionis, Amerika dan sekutunya dengan leluasanya membunuh umat Islam di Palestina, Afghanistan, Irak dan di tempat lainnya. Bahkan dengan semena-mena mereka menuduh dan memfitnah Islam sebagai teroris. Muslimin benar-benar terhina, dilecehkan dan dirampas pula kekayaannya. Dan kita hanya bisa diam melompong, mengelus dada, sedih, pilu dan meratapi.

Mengapa hal ini terjadi ? Akankah keadaan seperti ini akan terus terjadi ? Mari sejenak kita tafakur dan merenung. Mungkin ada sesuatu yang hilang pada kita, atau ada yang salah dari langkah-langkah kita selama ini. “Mereka diliputi kehinaan dimana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah tali (perjanjian) dengan manusia (QS. Ali-Imran : 112).

Konflik Kepentingan Menjadi Sumber Malapetaka

Salah satu senjata ampuh yang digunakan orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam & Muslimin adalah menginvasi pemikiran yang dikemas dengan bungkus ‘ilmiah’ seperti: liberalisme, demokrasi, HAM dsb; untuk memecah belah umat Islam. Sehingga pada saatnya umat Islam saling bertentangan satu dengan lainnya. Bahkan yang memerangi umat Islam adalah umat Islam itu sendiri. Oleh sebab itu perlu diperhatikan pesan Al-Qur’an dan Sabda Rasulullah SAW :

– Berpegang teguh dengan tali Allah seraya berjama’ah dan jangan berfirqah-firqah (QS. Al-Anfal : 46)

– Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, jangan berbantah-bantahan dan berselisih yang dapat menghilangkan kekuatan kamu (Muslimin) (QS. Al-Anfal : 46)

– Jangan kamu berselisih karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu, mereka berselisih maka binasalah mereka (HR. Ahmad)

– Dalam menghadapi gangguan, baik yang bersifat eksternal maupun internal yang dapat menjerumuskan umat ke neraka Jahannam. Seperti halnya yang dinyatakan oleh Hudzaifah bin Yaman, Rasulullah bersabda : “TALJAMUU JAMAA’ATAL MUSLIMINNNA WA IMAAMAHUM (Tetaplah kamu dalam Jama’ah Muslimin dan Imam mereka)” (HR.Bukhari – Muslim)

– Beliau memerintahkan, jika Jama’ah dan Imamnya tidak dapat dilaksanakan, maka tinggalkan firqah-firqah semua sekalipun mati menggigit akar kayu dalam keadaan demikian itu lebih baik. (HR. Bukhari/Kitabul Fitan Juz II hal 225. Muslim / Kitabul Imaroh Juz II hal. 134-135).

Jika demikian maka timbul pertanyaan, khususnya kepada kita di Indonesia yang sedang demam partai politik ? Apakah munculnya berbagai partai politik Islam adalah isyarat munculnya kekuatan baru bagi dunia Islam ? atau sebaliknya justru menjadi indikasi lemah dan hinanya umat karena terjebak pada invasi pemikiran yang menjerat umat Islam ? sehingga menjadi terkotak-kotak, bahkan kemudian terjadi konflik kepentingan politik yang berkepanjangan. Sebab dalam teori sosial, munculnya partai-partai adalah karena adanya kepentingan kelompok, yang mana dalam perjalanannya, kepentingan inilah yang lebih dominan memberikan nuansa, bahkan terkadang Islam dikorbankan demi kepentingan.

Fafirru Ilallah (Kembali kepada Allah)

Peristiwa di atas mengingatkan kita semua untuk segera kembali kepada Allah, artinya kembali kepada aturan Islam secara total dalam semua aspek kehidupan sebagai seorang muslim. Hari ini invasi dan intervensi besar-besaran sedang digalakkan oleh konspirasi internasional dari kaum kafirin (Yahudi, Nasrani, Orientalis, Kapitalis, dan Komunis) terhadap Muslimin khususnya di Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Melalui era informasi dan globalisasi mereka melakukan serangan ideologi, budaya dan tekanan ekonomi. Pengikisan aqidah, pendangkalan iman dan jika perlu pemurtadan dari Islam. (QS. Al-Baqa rah : 120 ; Ali-Imran : 100)

Tidak heran jika kadang-kadang banyak muslim, imannya tinggal separo atau bahkan lebih sedikit lagi. Banyak tokoh cendekia pejuang Islam tetapi pola pikir dan cara hidupnya tidak jauh dengan kaum materialis dan hedonis yang mendewakan harta, karir dan uang; menelantarkan perjuangan di jalan Allah. Jika urusannya mendatangkan uang, semangatnya luar biasa, rintangan dan hambatan akan dihadapi dengan semangat seorang pahlawan. Tetapi jika urusan kalimah Allah murni urusan perjuangan Islam, mentalnya berubah menjadi mental gerobak dorong, semangatnya melempem lalu sifat masa bodoh dan tidak mau tahu.

Hal ini pernah disinyalir oleh Rasulullah SAW : “Bersegeralah kamu beramal shaleh, akan terjadi fitnah bagaikan gelapnya malam, pagi hari seorang dalam keadaan mukmin dan sore harinya menjadi kafir. Mereka suatu kaum yang menjual agamanya untuk mendapatkan harta benda” (HR. Muslim). “Akan datang suatu masa dimana semangat hidup mereka didorong oleh kepentingan perut-perut mereka, kemuliaan mereka diukur oleh kesenangan (syahwat) mereka. Orientasi hidup mereka kepada wanita-wanita, bahkan agama mereka ‘Dinar dan Dirham’ mereka. Mereka seburuk-buruk makhluk dan tidak akan mendapatkan kebaikan/kebahagiaan di sisi Allah”. (HR. Ad-Dailami).

http://www.khilafah.or.id/dakwah/Artikel24.htm

AWAS PENYEBAR ISU

Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Orang tersebut tertangkap saat menyebarkan kabar bohong tentang orang yang tak disukainya. Maka, berkatalah Umar kepada orang itu: ”Kami akan menyelidiki permasalahan itu. Tapi jika kamu berdusta, maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat ini — Jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka selidikilah, (QS Al Hujuraat: 6). Dan, jika kamu benar maka kamu tergolong orang yang disebutkan dalam ayat: Orang yg suka mencela, yang berjalan kesana kemari dengan mengadu domba (QS Al Qolam: 11). Tapi kalau kamu suka saya akan memberi pengampunan.” Mendengar ucapan tersebut laki-laki itu langsung berkata: ”Pengampunan saja ya Amirul Mukminin. Saya berjanji tidak mengulangi lagi.”

Memang, sangat berbahaya bagi kaum Muslimin menerima mentah-mentah setiap berita, isu, atau omongan orang lain tanpa memikirkan dan membuktikan kebenarannya terlebih dulu. Apalagi, jika si pembawa berita tersebut termasuk orang yang fasik. Bisa jadi apa yang disampaikannya hanyalah bualan belaka. Juga bisa saja ada maksud tertentu untuk memecah belah keutuhan umat Islam dengan menyebarkan fitnah. ”Sejelek-jelek hamba Allah ialah orang-orang yang berjalan kesana kemari dengan mengadu domba, yang memecah belah antara kekasih, yang suka mencari-cari cacat orang-orang yang baik,” (HR Ahmad).

Sifat hati-hati dan waspada adalah lebih baik bagi setiap Muslim dalam menerima suatu berita. Bukan sebaliknya tanpa berpikir langsung ikut menyebarluaskan pada orang lain. Langkah ini sangat berbahaya jika berita itu sendiri tidak benar dan bisa merusak ukhuwah ummat. Islam sendiri sangat membenci orang-orang yang suka mendengarkan omongan jelek. Rasulullah saw bersabda: ”Barang siapa membicarakan seseorang dengan sesuatu yang tidak ada padanya karena hendak mencela dia, maka Allah akan menahan dia di neraka jahanam, sehingga dia datang untuk membebaskan apa yang diomongkan itu,” (HR Thabrani). Begitu pula, Islam telah menegaskan bahwa kehormatan pribadi dan harga diri setiap Muslim harus dilindungi. Bagaima napun, antara Muslim yang satu dan Muslim yang lain adalah bersaudara. ”Perumpamaan orang-orang Muslim, dalam kasih sayang dan tolong-menolong terjalin di antara mereka laksana satu tubuh. Jika satu bagian merintih merasakan sakit, maka seluruh bagian tubuh akan bereaksi membantunya dan beraksi meningkatkan panas badan,” (HR Muslim). Oleh karena itu, tidaklah patut memfitnah dan menjelek-jelekkan sesama Muslim. Apalagi jika isu, fitnah, dan celaan itu mengantarkan kepada kematian terhadap orang yang dituduh dan menimbulkan suasana ketakutan di tengah-tengah umat. Tidak patut pula, setiap Muslim percaya akan suatu berita yang tidak pasti kebenarannya. Umat harus terbiasa berpikir, sebelum melakukan setiap aktivitas, agar nantinya tidak termasuk golongan orang-orang yg dimurkai Allah.

http://members.tripod.com/~tesur/islam/pisu.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: