Siapa Cendekiawan Sejati ?

Menurut ilmu kalam, manusia dikatagorikan sebagai hayawanun-nathiq yang berarti hewan yang bisa berfikir, atau dikatakan juga makhluk yang memiliki akal. Sehingga “wajarlah” bila dalam kehidupan sehari-hari ada manusia yg melakukan perbuatan sadis atau biadab, ia dikatakan sebagai manusia yg tidak berperi-kemanusiaan alias tak berbeda dengan kelompok binatang.

Al-Islam memiliki visi tersendiri berkaitan dengan sebutan manusia yang berakal ini. Di antaranya ada beberapa pen dapat dari orang-orang yang memiliki pandangan mendalam dalam memahami seluk-beluk al-Islam sebagaimana dikutip berikut ini. Hasan bin Ali ra menyatakan bahwa “ucapan orang yang berakal berada di belakang hatinya, maka bila ia ingin berbicara niscaya merujuk terlebih dahulu kepadanya. Sedangkan ucapan orang yang bodoh berada di depan hatinya, sehingga ia selalu mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya.” Kita mafhum, yang namanya hati nurani sering bisa difungsikan sebagai patokan untuk menilai apakah perbuatan tersebut benar atau salah. Karena makin bersih kondisi hati seseorang akan semakin peka atau semakin besar kecenderungannya dalam memihak kebenaran. Hanya sayangnya, tidak setiap insan menginsyafi dan menyadari akan keberadaan hatinya sendiri, apakah hati kita dalam keadaan sehat atau dalam keadaan sakit ?.

Karunia akal

Manusia telah dianugerahi Tuhan akal yang mempunyai kemampuan sedemikian luar biasa hebatnya. Sebagai buktinya sekarang dapat dilihat kemajuan iptek yang serba canggih. Akan tetapi, apakah hanya untuk itu saja kegunaan akal tersebut atau ada hal lain yang lebih spesifik secara ruhani ?. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw pernah bersabda, “Tiada yang lebih utama dari apa yang diperoleh seseorang, kecuali akal yang mampu memberi petunjuk kepada kebenaran dan menghindarkan dari segala kekejian.” (maaf dalam artikel aslinya memang tidak disebutkan perawinya : red). Dengan demikian, dari akal yang sehat sebenarnya seseorang bisa membedakan mana kebenaran dan mana kebathilan. Jadi fungsi akal itu sebenarnya adalah untuk menilai, dilandasi kejujuran terhadap diri sendiri mau mengikuti yg mana. Termaktub dalam al-Qur’an ungkapan tentang karakteristik manusia yang berakal (ulul albab), “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, sungguh terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yg berakal.” (QS Ali ‘Imran: 190) .

Secara umum, manusia yang bisa mempergunakan akalnya akan dapat menangkap pesan dan tanda-tanda kekuasan Allah. Tanda-tanda kekuasaan Allah itulah yang mendorong dilahirkannya berbagai macam ilmu dan teori yang terus berkembang hingga kini. Semuanya adalah hasil olah nalar akal dalam mentafakkuri keserasian dan keteraturan alam semesta. Di sisi lain ada juga hal buruknya karena banyak manusia yang memiliki kemampuan akal brillian, justru lantas takabur dan saling mengintimidasi satu dengan lainnya. Yang paling mengkhawatirkan jika Iptek ini menjadi ‘agama’ yg secara tidak langsung menjadi norma untuk dasar menilai sesuatu. Puncaknya lahirlah anggapan Iptek sebagai Tuhan. Bila sudah demikian, maka segala tolok ukur dikembalikan kepada Iptek, sehingga benar dan salah bisa ditentukan oleh logika semata. Kenyataan ini akan menyulitkan manusia. Salah satu buktinya, adalah dilema setelah teknologi duplikasi (clonning) makhluk hidup dapat dicapai.

Teladan dari Ibrahim

Mentafakkuri rahasia alam semesta dalam rangka mencari kebenaran yg hakiki yakni untuk menelusuri af’alullah (tindakan-tindakan Allah), pernah dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim as dalam sebuah debut yang sangat monumental. Kisah ini diabadikan dalam al-Qur’an. Beliaulah satu-satunya manusia di bumi ini yang digelari-Nya sebagai Khalilullah (kekasih Allah). Kejeniusan Ibrahim as mampu mengambil kesimpulan yang tepat. Terlukis bagaimana kiprahnya dalam membandingkan gejala alam yang relatif serba berubah dengan sifat Tuhan yang diyakininya serba mutlak dan Maha Sempurna. Sehingga pada akhirnya sampailah pada kenyataan akhir beliau, Innii aslamtu lirabbil-‘aalamin, saya berserah diri kepada Rabbul aalamiin.

Kisah Ibrahim itu merupakan sebuah contoh bagaimana memfungsikan kemampuan akal pada tempatnya yang mengantarkan beliau pada petunjuk-Nya, kebenaran yg hakiki. Dialah manusia yang hanif sebagai protipe seorang ulil albab, seorang cendekiawan sejati. Allah berfirman, (Ulul Albab) “Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri, dalam keadaan duduk atau dalam keadaan berbaring dan mentafakuri tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami tiadalah Engkau ciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka jagalah kami dari siksa api neraka.'” (QS Ali Imran: 191) Firman di atas merupakan rincian tahap-tahap proses tafakkur dari sejak awal yang hanya ditujukan untuk ber-dzikrullah. Maka sewaktu terbuka alam pemahaman diri dan nalar fikirnya, akan muncul kesadaran terhadap kekerdilan manusia dan ketakberdayaan diri dan tiada tempat lain yang pantas untuk menyerahkan kepasrahan diri secara totalitas selain kepada-Nya. Akhirnya keluarlah pernyataan, “Rabbana maa khalakta haadza baathila, subhaanaka faqinaa ‘adzaaban-nar.” Jadi yang sepatutnya terjadi sesudah bertafakkur itu justru akan terbentuk manusia yang tahu diri tentang eksistensi manusia yang sesungguhnya di hadapan Sang Pencipa jagad raya. Tersurat dalam sebuah hadits Nabi yang mengulas lebih nyata dalam sabdanya, “Allah swt mewasiatkan tujuh hal kepadaku yang aku wasiatkan pula kepadamu; hendaklah engkau ikhlas baik terang-terangan maupun sendirian, bersikap adil baik ketika sedang damai maupun sedang marah, sederhana di kala kaya dan miskin, memaafkan orang yang berlaku zhalim, memberi kepada orang yang tidak mau memberi, menghubungkan tali persaudaraan kepada yang memutuskannya serta menjadikan diam sebagai kegiatan berfikir dan berbicara sebagai dzikir.” (maaf dalam artikel aslinya memang tidak disebutkan perawinya : red)

Khusus poin ketujuh (diam sebagai kegiatan berfikir & berbicara sebagai dzikir) dari wasiat Rasul tadi menunjukkan dengan sangat lugas bahwa anjuran itu berlaku secara umum bukan hanya dikhususkan kepada kelompok tertentu. Anjuran mulia itu diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengikuti wasiat para rasul, yakni sosok manusia pencari dan pelaku kebenaran. Sosok ini tergambar jelas: apabila berbicara tidak asal ngomong melainkan terlebih dahulu menimbang melalui kacamata wahyu Ilahi. Lisan dan perbuatan mereka semata untuk membicarakan dan mempertunjukkan keagungan yang dikandung mutiara ayat Allah swt. Merekalah kiranya yang pantas disebut cendekiawan atau ulil albab sejati.

(dari : Lembar Jum’at, Al Qalam Diterbitkan Oleh : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya Edisi : 40/VII, 27 Rajab 1418, 28 Nopember 1997)

http://alqalam.8m.com/vii/qal40.htm

Bertanya adalah Kunci Ilmu

Kebanyakan yg menjadikan penuntut ilmu berpaling (sehingga terhalang dari ilmu) adalah permasalahan-permasalahan yg membuat dia musykilah (samar) atau bingung, maka ketika itu wajib baginya untuk menanyakannya kepada ulama dengan meminta bimbingan, beradab terhadap mereka, dan tawadhu’ di depan mereka. Allah ta’ala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. Surat An Nahl: 43).
Dari ‘A`isyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk menanyakan perkara agama mereka.”[1] Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., beliau berkata, “Tambahannya ilmu adalah dengan mencarinya, sedangkan untuk mendapatkan ilmu adalah dengan bertanya.”[2] Dikatakan kepada Ibnu ‘Abbas ra., “Dengan apa engkau mendapatkan ilmu ?” Beliau menjawab, “Dengan lisan yang sering bertanya dan hati yang cerdas.”[3] Dari Ibnu Syihab, beliau berkata, “Ilmu itu perbendaharaan-perbendaharaan, dan kunci-kuncinya adalah bertanya.”[4]

catatan kaki :
[1] Diriwayatkan Al Bukhori – Kitaab Al ‘Ilm – bab Al Hayaa` fil ‘Ilmi – 1/41.
[2] Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi 1/87.
[3] Ta’liimul Muta’allim karya Az Zarnuji halaman 106.
[4] Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi 1/89.

http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=37
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: