Membangun Benteng Ukhuwwah

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.Bukhari).

Betapa kuatnya korelasi antara ukhuwwah Isla miyah dengan iman. Sampai-sampai Rasulullah saw mensyaratkan kecintaan kepada saudara sesama muslim sebagai salah satu unsur pembentuk iman. Iman sejati menghajatkan suatu rajutan persaudaraan di jalan Allah yang kokoh. Karena itu eksistenti ukhuwwah berbanding lurus dengan kondisi iman seseorang. Ia adalah barometer untuk mengukur pasang surutnya keimanan. Semakin solid suatu ikatan persaudaraan fillah, makin besar peluang untuk dikategorikan sebagai mukmin sejati (mu’minul al haq). Sebaliknya, ikatan bersaudara di jalan Allah ini bila rapuh, akan mengindikasikan suatu hakekat keimanan yang juga masih rendah tingkatannya. Begitulah yang diajarkan oleh Rasulullah saw untuk mengejar nilai keimanan di hadapan Allah dengan cara mencintai saudara sesama mukmin sebagaimana mencintai diri sendiri.

Tentang ukhuwwah Islamiyah, kita sudah terlalu sering mendengar, dua kata ini nyaris telah menjadi klasik dalam rentang perjalanan sejarah kaum muslimin. Berpuluh buku telah ditulis tentangnya. Berhelai makalah telah diseminarkan. Perbincangan dan diskusi-diskusi ummat tak pernah sepi mengurai soal ukhuwwah Islamiyyah. Apalagi di tengah situasi di mana ummat mengidap penyakit kronis bernama iftiraq (perpecahan) yang akut, dimana masing-masing kelompok merasa lebih Islami ketimbang kelompok yang lain, maka term ukhuwwah menjadi sering disebut. Dan dalam kenyataannya, kosa kata ini hampir tak bisa dipisahkan dari tubuh perjuangan dakwah ummat Islam. Ia adalah bagian fundamental dari keberadaan kaum muslimin sebagai sebuah ummat. Ia merupakan karakter khas dari kehidupan sosial kaum muslimin sepanjang sejarah.

Ukhuwwah Islamiyah adalah cara hidup komunitas muslim yang disemangati oleh persaudaraan akidah, dengan senantiasa menjadikan mahabbah (saling cinta), ikhtiram (saling menghormati), ta’awun (saling menolong) serta itsar (mengutamakan kepentingan saudaranya) sebagai pilar-pilar pokok. Yang menjadi pertanyaan adalah di mana sebenarnya letak inti pokok dari lingkaran amal ukhuwwah Islamiyah itu ? Di mana ruh dari semua aktivitas mencintai saudara sesama muslim sebagaimana mencintai diri sendiri itu ? Indikator apa yang mesti ada untuk menakar shahih tidaknya sebuah persaudaraan di jalan Allah ?

Melihat kisah ukhuwwah para shahabat, kita menjadi tahu latar belakang peristiwa-peristiwa persaudaraan Islam. Padahal semua mafhum betapa jalan dakwah yang dilalui para shahabat tadi penuh dengan situasi rumit. Onak duri selalu menghadang , teror fisik dan mental, tanggungan perasaan karena kurangnya harta, menumpuknya hutang dan situasi-situasi tragis lain; adalah kejadian sehari-hari yang mereka alami. Dalam kondisi seperti itulah ukhuwwah Islamiyah shahabat tetap terjalin. Beban tanggung jawab yg sama terhadap kebenaran menjadikan mereka saling bahu membahu satu dengan yang lain. Solidaritas yang dibangun adalah yang mengarah pada visi ummat. Bukan solidaritas kelompok yang justru bisa menghambat lahirnya ukhuwwah. Pada akhirnya, egoisme golongan dapat ditekan sekecil mungkin atau dimusnahkan. Ketika tidak lagi berpikir tentang kelompok, kemudian mengarahkan keterlibatannya pada hal-hal besar yang dihadapi ummat, menanggung keperihatinan-keperihatinan bersama atas kondisi dakwah; kita lebih mungkin berbicara soal ukhuwwah Islamiyah sejati. Tanpa adanya pra kondisi ini, tanpa mewujudkan lebih dahulu kesadaran terhadap perjuangan dakwah, rasanya ukhuwwah sejati akan sulit diwujudkan. Atau paling tidak akan sulit meraih ruhnya.

Firman Allah berikut ini bisa kita renungi:”Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman(Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka(orang-orang muhajirin) dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS.Al-Hasyr: 9).

Begitulah ukhuwwah yang romantik, yang menggetarkan hari dan perasaan. Ia terjadi dari pancaran iman yang ikhlas dan pengembaraan jihad yang panjang.

[dari : Lembar Jum’at Al Qalam Diterbitkan : Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah-Surabaya, Edisi : 23/VIII, 30 Rabiul Awwal 1419, 24 Juli 1998]

http://alqalam.8m.com/viii/qal23.htm
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Satu Balasan ke Membangun Benteng Ukhuwwah

  1. dua pusaka mengatakan:

    salam…
    Ya, ukhuwwah adalah segalanya
    Terima kasih
    Dua Pusaka http://www.duapusaka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: