Tiap-Tiap Kelompok Merasa Bangga

Allah SWT berfirman yang artinya, “Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (Al-Mu’minun: 53)
Uraiannya lengkapnya, marilah kita perhatikan beberapa ayat berikut, “Sesungguhnya, (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). Maka, biarkanlah mereka pada kesesatannya sampai suatu waktu. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka ? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (Al-Mu’minun: 52–56).

Ayat yang sebelumnya berbicara tentang perintah kepada para rasul untuk memakan dari makanan yang baik-baik, dan supaya mengerjakan amal yang saleh. Adapun ayat di atas menerangkan bahwa agama para nabi adalah agama yg satu, dan juga millah yang satu, yaitu seruan untuk beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Oleh sebab itu, di dalam ayat itu Allah SWT berfirman, “Dan Aku adalah Rabmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”
Kata “ummatan wahidatan” adalah manshub yang menunjukkan hal (keadaan). Akan tetapi, pada ayat selanjutnya disebutkan bahwa kemudian pengikut para rasul itu menjadikan agama mereka berpecah-belah. Setelah berpecah-belah, jadilah mereka beberapa pecahan (golongan). Setiap golongan merasa bangga dengan kelompoknya. Mereka mengira bahwa dirinya itu berada di atas petunjuk. Kenyataannya, banyak kita dapati fenomena seperti yang diterangkan pada ayat di atas. Golongan-golongan yang ada saling membanggakan diri, bahkan sampai ke tingkat saling menjatuhkan. Jika terdapat banyak golongan, sedangkan pemikiran dari berbagai golongan itu berbeda-beda bahkan bertentangan, berarti bisa dipastikan bahwa dari golongan-golongan itu ada yang benar dan ada pula yang salah.
Meskipun demikian, semua golongan merasa dirinya baik dan merasa benar, bahkan tidak jarang yang mengaku bahwa kelompok merekalah yang paling benar. Sehingga, terkadang dengan mudah memberikan vonis kafir kepada golongan lain. Hal itu tidak lepas dari perangkap yang dipasang setan untuk para manusia. Allah SWT berfirman, “Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak mendapat petunjuk.” (An-Naml: 24). “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.” (Az-Zukhruf: 36–37).
Padahal, sudah jelas bahwa kita diperintah untuk mengikuti jalan yang satu, jalan yang lurus, yaitu jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Ini merupakan sebuah konsep yang akan menghantarkan manusia kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat, dengan berpijak pada Alquran dan sunah Rasulullah saw, dan memahaminya sesuai dengan pemahaman para sahabat.

Adapun kelompok-kelompok yang saling membanggakan dirinya dan yang merasa benar, belum tentu mereka itu benar walaupun mengaku menggunakan Alquran dan sunah sebagai konsep hidup mereka, sebab meskipun mengambil Alquran dan sunah, akan tetapi mereka memahaminya dengan pemahaman menurut versinya sendiri atau kemauan sendiri, tidak sesuai dengan pemahaman para ulama yang lurus, sehingga mereka menyelisihi pemahaman para sahabat (salafus saleh), yang notabene bahwa pemahaman mereka itu adalah pemahaman yang lurus. Padahal, kita harus memahami Islam berdasarkan Alquran dan sunah sesuai dengan pemahaman salafus saleh. Jika ada sebuah kelompok atau golongan tidak memahami sesuai dengan pemahaman salafus saleh, bisa dipastikan bahwa kelompok tersebut adalah kelompok yang tidak benar.
Sebab, dari keterangan Rasulullah saw. mengenai perpecahan umat menjadi tujuh puluh tiga golongan itu, yang selamat adalah al-jama’ah, yaitu siapa saja yang menempuh jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw. dan para sahabat.
Dan, itulah kebenaran. Selain kebenaran tidak ada lagi, kecuali kesesatan. Kebenaran dan kesesatan adalah dua hal yang berlawanan, bagai siang dan malam. Allah SWT berfirman, “… maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32). Maka, jelaslah bahwa apa saja, siapa saja, kelompok mana pun, dengan bentuk apa pun, jika menyelisihi kebenaran, atau tidak sesuai dengan konsep kehidupan berdasarkan Alquran dan sunah dengan pemahaman salafus saleh, maka hal itu adalah batil atau kesesatan. Jika peringatan dan hujjah sudah disampaikan sedangkan mereka masih membanggakan diri dalam kesesatan, biarkanlah mereka dalam kesesatan itu sampai suatu saat Allah memberikan keputusan untuk perkara mereka.

Membanggakan diri dan merasa paling benar adalah sifat dari kelompok yang suka memecah-belah persatuan umat. Sifat tersebut sangatlah tidak terpuji. Seseorang tidak perlu menganggap dirinya paling benar dan paling suci, sebab Allah lebih tahu siapa yang paling bertakwa dari hamba-hamba-Nya. Allah SWT berfirman, “… maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An-Najm: 32).
Kelompok yang merasa benar, merasa berbuat baik, dan merasa sesuai dengan petunjuk sehingga membanggakan apa yang ada pada dirinya, padahal pada hakikatnya mereka berada dalam kesesatan, adalah kelompok yang paling merugi. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ? Yaitu, orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (Al-Kahfi: 103–105).

Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut. Dan, semoga Allah senantiasa menunjukkan kita ke jalan yang diridai-Nya, dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mampu menempuhnya.

http://www.alislam.or.id/comments.php?id=1954_0_4_0_C

Kiat-Kiat Mempererat Hubungan Silaturrahmi

1. Mendahulukan Sanak-Famili yang terdekat dalam segala kebaikan, terutama orang tua. Orang tua adalah kerabat terdekat yang mempunyai jasa tidak terhingga dan kasih sayang yang besar sehingga seorang anak wajib mencintai, menghormati dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya walaupun keduanya musyrik. Kedua orangtuanya berhak mendapat perlakuan baik di dunia namun bukan mengikuti kesyirikannya. Apabila mereka faqir maka kewajiban kitalah yang membantunya pertama kali. Kemudian saudara-saudara kita seperti paman dan bibi baru setelah itu orang lain yg seiman. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Nabi Saw :“Apakah kamu tidak sadar bahwa paman seseorang adalah saudara bapaknya ?”.

2. Mengingat Kebaikan Sanak-Famili kita, tanpanya mungkin kita tdk akan berarti.

3. Menghafal Nasab dan seluruh nama-nama saudara kita, dari mulai kakek dan nenek ke atas sampai kepada keturunan-keturunan mereka. Untuk hal ini sebaiknya kita membuat diagram silsilah keluarga agar dapat diingat oleh generasi berikutnya agar mereka tetap melanjutkan tali silaturrahmi setelah kita tiada (meninggal).

4. Jangan menyakiti, menzhalimi dan berbuat buruk kepada sanak-famili kita. Sebaiknya kita-lah yang menjadi solusi untuk memecahkan segala permasalahan mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu menjaga tali silaturrahmi akan diberkahi oleh Allah dalam usahanya, rizki dan umurnya. Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda : ”Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya (diberkahi), maka hendaklah ia bersilaturrahmi (Muttafaq ‘Alaih)

http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=110

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik , edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: