Anak-anak Kecil Penghuni Sorga

Tanya :“Saya beserta istri baru saja kehilangan atas meninggalnya putri kami yang pertama yang berumur 12 hari. Banyak kerabat dan saudara yang menyabarkan kami dengan perkataan : “Sabar, anak kalian akan menjadi tabungan buat kalian berdua di akherat. Tabah, anak kalian akan menolong dan memberi syafaat di akherat untuk kalian berdua. Anak kalian akan menunggu di akherat kelak” … dan sebagainya yang sejenis. Pertanyaan saya, hadist berbunyi seperti apakah mengenai hal di atas. Bisakah tolong saya diberikan hadist-hadist mengenai wafatnya seorang bayi yang masih fitrah. Terima kasih .

Jawab :”Memang benar, ungkapan para kerabat Anda itu tak salah. Ada hadist hadist yang menyiratkan hal itu. Di antaranya yang “muttafaq ‘alaih” (riwayat Bukhari-Muslim) berikut ini.
Diceritakan, ada seorang perempuan mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata : “Wahai Rasulullah, kaum laki-laki telah memperoleh hadist-hadist Tuan (hadist tentang nasehat atau petuah), maka berilah kami (kaum perempuan) hari di mana Tuan memberikan pengajaran kepada kami tentang apa yang telah Allah ajarkan kepada Tuan.” Rasulullah menjawab, “Berkumpullah pada hari ini dan ini”. Maka kaum perempuan itu berkumpul dan Rasulullah hadir memberikan pengajaran apa yg di ajarkan Allah kepadanya. Kata Rasul : “Tiada di antara kalian perempuan yang ditinggal mati tiga anak-anaknya kecuali ketiga anak tersebut menjadi penghalang (hijab) bagi perempuan itu dari api neraka. Seorang perempuan bertanya, “Dan dua orang anak ?”. Jawab Rasul, “(Ya) dan dua orang anak.”
Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang meninggal ? Kami kira, seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang meninggal satu anak saja ?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan, insya Allah. Artinya bilangan 2 itu tidak menjadi batas.
Dalam kontek yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasul Allah berkata (jika diterjemahkan secara bebas demikian) “Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu sorga dan berjalan menjemputmu ?”.
Dalam hadist lain lagi (riwayat Muslim), diceritakan ada seorang -Abu Hissan namanya- yang dua anak laki-lakinya meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia (Abu Hissan) menganggap Abu Hurairah itu sebagai juru bicaranya Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Harairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal. Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini), “(Oh) iya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecilnya sorga.” Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.”
Masih ada beberapa hadist lainnya yang isinya tak jauh beda. Singkatnya, seperti anggapan banyak orang, anak kecil yang meninggal itu ibaratnya celengan bagi kedua orang tuanya. Disini perlu ada yang ditegaskan : namanya celengan, tentu ia bukanlah segala-galanya. Apa untungnya kita punya celengan, jika ternyata kita mempunyai hutang yang lebih besar dari celengan tersebut ?. Jelasnya, amal perbuatan orang tua -setelah anaknya meninggal- tetap akan ditimbang dan dihisab kelak. Jika kejelekannya lebih berat, walau sudah ditutupi dengan adanya celengan tsb, maka tetap akan masuk neraka lebih dulu. Jika sebaliknya, kebaikannya -dg dukungan celengan yg telah dimilikinya- akan semakin cepat proses masuk sorga.
Kami juga ikut mendoakan agar Anda tabah dengan musibah ini. Ketabahan dan kesabaran itu sudah seharusnya sikap yang diambil seseorang yang terkena musibah. Termasuk musibah spt ini. Maka, tentunya hadis ini tak berlaku bagi orang tua yang sengaja menghabisi anak bayinya, karena hal itu bukan musibah. Dengan tabah dan sabar, kita akan menjaga stabilitas mental-spiritual hingga mampu kembali aktif dengan segala kegiatan seperti biasanya. Demikian, wallaahu a’lam.

http://www.pesantrenvirtual.com/tanya/ 128.shtml
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik , edisi : 019/th.02/DzulQoidah-Dzulhijjah/1426H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: