Gotong Royong Membendung Pemurtadan

 

Tak sulit menemukan Rumah Singgah Sakinah 1 di Johar Baru, Jakarta Pusat. Tanyalah pada anak-anak jalanan di sekitar Pasar Gembrong, pasti dengan senang hati mereka akan menunjukkannya. Di bangunan semi permanen ini, semua aktivitas keagamaan berpusat. Mulai dari pembinaan anak-anak jalanan, pendidikan anak usia dini, taman pendidikan Alquran, hingga pengajian kaum bapak dan kaum ibu. Empat kali seminggu, balita dari keluarga dhuafa berkumpul untuk mendapatkan makanan tambahan gratis. Pengobatan cuma-cuma juga kerap digelar. ”Dulu, hampir tiap bulan ada bayi meninggal di sini, karena gizi buruk,” ujar Ade Zulkifli, pengelola RSS 1.

RSS 1 adalah kepanjangan tangan Forum Silaturahmi Antar pengajian (Forsap) di wilayah itu. Rumah singgah ini memang anggota Forsap sejak kali pertama berdiri, tahun 2001. Sama seperti Forsap, fokus utama kegiatan RSS 1 adalah membentengi pemurtadan di kantong-kantong kemiskinan. Daerah sekitar Pasar Gembrong ini adalah bidikan utama kaum misionaris. Menurut Ade, mereka saweran untuk menghidupi kegiatan di RSS 1. Para mahasiswa menjadi relawan untuk program bimbingan belajar para siswa dhuafa. Pengurus gotong royong mengumpulkan uang untuk program pemberian makanan tambahan. Sumbangan donatur digunakan untuk operasional kegiatan lain dan membayar guru TPA dan PADU. ”Itu pun ala kadarnya saja. Tiap guru hanya diberi uang transpor antara Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu saja,” ujarnya. Semangatnya lillahi ta’ala, demikian Ade menyebut.

Namun belakangan ia gundah. Sebuah organisasi non-Muslim mendirikan pusat kegiatannya di samping RSS 1. ”Mereka mencoba menarik anak-anak binaan kami,” ujarnya. Upaya pemurtadan, memang gencar dilakukan di kalangan non-Islam. Sebelum Ade datang di wilayah itu, organisasi lain sudah mulai melakukan pendekatan. Beberapa warga mulai menanggalkan keislamannya. Dari mereka, Ade dan teman-teman dari Forsap belajar tentang cara mereka melakukan pendekatan. ”Banyak yang kemudian balik ke Islam lagi. Mereka bilang, ‘Saya ikut agama Kang Ade aja’,” ia menuturkan.

Umumnya, Forsap memang menggarap kantong-kantong kemiskinan di berbagai wilayah. ”Daerah miskin paling rawan pemurtadan,” ujar Ketua Umum Forsap, Nurdiati Akma.

Persinggungan Forsap dengan pemurtadan dimulai sejak tahun 2001. Saat itu, sebuah kelompok pengajian anggota Forsap di daerah Pondok Labu mengeluhkan jumlah jamaahnya yang menyusut drastis tiap Sabtu. Biasanya, pengajian sepekan sekali itu selalu dibanjiri jamaah Muslimah.

Selidik punya selidik, kaum ibu di wilayah miskin itu lebih tertarik mendatangi “pengajian” tandingan yang diadakan sebuah organisasi agama lain. Tiap Sabtu, mereka menggelar bazar murah, pengobatan gratis, dan pembagian sembako. Bahkan, kelompok itu juga menggaji beberapa ibu untuk mengumpulkan anak-anak yatim/dhuafa untuk dikirim ke panti asuhan yang mereka kelola. Untuk setiap anak yang berhasil dibujuk, si ibu akan memperoleh uang Rp 10 ribu.

”Saat kami datang, sudah 35 anak yang dikirim ke panti itu,” kata Nurdiati. Maka ia mendatangi panti itu untuk “menebus” kembali anak-anak Muslim itu. Ia terhenyak ketika menemui para pengelola panti adalah Muslim yang telah dimurtadkan sejak kecil. ”Nama-nama mereka adalah nama-nama Islam, seperti Chaerudin, Hafsah, dan Aminah, tetapi mereka telah menjadi penganut taat agama lain.”

Di daerah itu, Forsap lantas membeli sebidang tanah seluas 150 meter. Di atas tanah itu didirikan bangunan semi permanen untuk panti asuhan, klinik gratis, dan majelis taklim. Pengajian Sabtu kembali didatangi jamaah.

Forsap resmi berdiri pada bulan Desember tahun 2001. Musyawarah kerja nasional (Mukernas) pertama digelar tahun 2003 dihadiri 2.500 majelis taklim dari 12 provinsi yang menjadi anggotanya. Kini organisasi ini sudah berkembang ke 19 provinsi. Bila semula penyelamatan akidah anak yang dikedepankan, kini mereka menggarap tiga sasaran. ”Selain anak-anak, juga kaum wanita dan petani miskin,” tambah Nurdiati.

Petani menjadi target setelah mengamati kehidupan mereka yang termiskinkan di Cianjur. ”Di salah satu produsen beras di Indonesia itu, kebanyakan petani hanya sebagai buruh penggarap saja,” ujarnya.

Di beberapa tempat, Forsap mulai mengembangkan pertanian organik. Mereka bekerja sama dengan mahasiswa dan LSM lokal untuk mengembangkannya. Pertanian organik ini antara lain dikembangkan di Cianjur, beberapa tempat di Sumatera Barat, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Banyak kegiatan yang ingin digarap, tapi masalah klasik selalu menghadang, yaitu pendanaan. ”Selama ini kami bergotong royong di antara sesama pengurus, dan mengandalkan sumbangan donatur,” ujar Nurdiati.

Mereka juga menjalin sinergi dengan lembaga lain, semisal Aisyiyah, organisasi wanita di bawah Muhammadiyah. ”Di beberapa daerah, anak-anak yang berhasil kita selamatkan dari upaya pemurtadan kita titipkan di panti-panti asuhan yang dikelola Aisyiyah,” ujarnya.

Upaya penyelamatan akidah ini makin dipertajam sesuai putusan Mukernas ketiga yg digelar awal Bulan ini. ”Kita mengusahakan agar di tiap provinsi mempunyai posko, terutama di daerah-daerah kantong pemurtadan,” ujarnya. Selain itu, mereka juga akan terus memperluas jaringan. ”Mimpi kami, semua anak Muslim yang kini berada di panti-panti non-Muslim bisa kembali kita asuh,” ujar Nurdiati.

*) [FORSAP : Forum Silaturahmi Antar Pengajian] – (tri/republika )

http://mualaf.com/modules.php?name=News&file=article&sid=295

 

Hukum Berdebat Dengan Menggunakan Dalil Alkitab (Injil)

Pertanyaan :

Apakah hukumnya menurut syariat, jika dilakukan perdebatan oleh sebagian da’i-da’i dengan ahli kitab dengan memakai kitab Injil untuk membuktikan status kenabian nabi Isa as. dan bahwa ia adalah manusia. Apakah cara ini bertentangan dengan kondisi al-Quran yang berlaku sebagai penasakh (pembatalan hukum) kitab-kitab suci yang terdahulu ?

Jawab:

Boleh hukumnya menjawab umat Nasrani memakai dalil yang bersumber dari kitab-kitab Injil yang mereka percayai dan yang akui keabsahannya. Lalu dengan mamakai data-data yang ada dalam Injil untuk membuktikan risalah nabi Isa dan bahwa ia adalah manusia yang diciptakan yang dengan sendirinya mematahkan dakwaan mereka, bahwa nabi Isa adalah anak Allah. Dan dengan data-data yang ada dalam kitab Injil juga yang menerangkan kenabian nabi Muhammad saw. serta berita gembira atas kebenaran risalahnya, dan bahwa setiap orang yang bertemu dengannya wajib mengikut agama yang ia bawa. Sistem ini telah dijadikan sebagai ketetapan dan mitsaq bagi para nabi untuk mengikuti nabi ajaran nabi yang setelahnya. Sekiranya nabi Muhammad saw. diutus sewaktu nabi Isa masih hidup, nabi Isa wajib mengikuti kepada nabi Muhammad serta memerintahkan umatnya untuk tunduk kepada syariat yang terbaru. Sebab agama yang dibawa Muhammad adalah agama terakhir, dan dengan hadirnya syariat baru berarti menghapus syariat lama. Menjelaskan kepada umat Nasrani dengan cara begini tidak bertentangan dengan kondisi Al-Quran yang berlaku sebagai penasakh kitab-kitab suci yang sebelumnya. Dalam kitab Injil tersebut ada bukti-bukti yang menjelaskan, bahwa masa berlakunya terbatas sampai datangnya nabi Muhammad saw.*)

*) Menurut penulis, ulama-ulama Islam telah melakukan hal yang sama. Mereka menjawab umat Nasrani dengan memberikan penjelasan kebenaran ajaran Islam dalam ke-Esaan Allah dan status manusia yang disandang Isa as., serta membuktikan risalah Muhammad saw. Ulama-ulama yang menempuh jalan seperti itu antara lain, Ibnu Hazm , Ibnu al-Qayyim, Rahmatullah bin Khalil al-Hindi, serta ulama di abad modern seperti Syaikh Ahmed Deedat, dan lain-lain.

(sumber : Sosok Isa Dalam Sorotan Ulama, Abdullah Bin Abdurrahman Al Jibrin)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 027/th.03/DzulQoidah – DzulHijjah 1427H/2006M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: