Zakat al-Fithr

Definisi : Zakat al-Fithr disebut juga sebagai Shadaqah al-Fithr. Kata al-Fithr sama halnya dengan Ifthaar yang berarti berbuka puasa dan kata itu datang dari akar kata yg sama yaitu Futhuur, yang berarti sarapan pagi. Disebut demikian karena orang yg berbuka adalah orang yang makan sejak pagi. Secara Istilah Zakat al-Fithr berarti zakat yg dikeluarkan pada hari ketika kembali berbuka (akhir puasa Ramadhan).

“Sungguh telah beruntung orang-orang yang mensucikan dirinya dan orang-orang yg menyebut nama Tuhannya kemudian ia mengerjakan shalat”. (QS. al-A’laa: 14). Ayat ini menyatakan bahwa beruntunglah bagi siapa saja yg membersihkan dirinya dengan mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya, baik dengan zakat maupun amal soleh. Kemudian mengagungkan nama Tuhannya (berdzikir) dan mengerjakan shalat lima waktu. Menurut riwayat Ibnu ‘Umar, Abu Sa’id al-Khudriy, Abu ‘Aliyah dan Ibnu Khuzaimah ayat di atas diturunkan berkenaan dengan zakat fithri, takbir hari raya puasa dan shalat ‘Iedul-Fithri.

Yang Wajib Mengeluarkan Zakat al-Fithr
Zakat al-Fithr adalah suatu kewajiban bagi setiap Muslim, baik Laki-laki ataupun Perempuan, anak kecil atau orang dewasa sepanjang dia mempunyai harta untuk melakukannya. Dalil yang menyebutkan bahwa Zakat al-Fithr adalah pemberian yang wajib terdapat didalam Sunnah melalui riwayat Ibn `Umar ; Dari Ibnu ‘Umar ra berkata; “Rasulullah SAW mewajibkan Zakat al-Fitr kepada setiap budak, orang merdeka, Laki-laki, wanita, dan setiap Muslim yang tua dan muda sebanyak satu Sha` biji korma kering atau satu Sha` gandum. Beliau menyuruh kami untuk melaksanakannya sebelum shalat ‘Ied. [HR. Bukhare, Arabic/English, Jil.2, p. 339, no. 579]

Kepala rumah tangga boleh membayar jumlah yang diperlukan sebagai zakat untuk anggota keluarganya. Abu Sa’id al-Khudriy berkata, Ketika Rasulullah Saw masih berada di tengah kami, kami mengeluarkan zakat fithrah itu untuk setiap anak kecil, orang dewasa, merdeka ataupun budak dengan satu sha’ makanan, satu sha’ keju, satu sha’ gandum, satu sha’ kurma atau satu sha’ anggur. [ HR. Muslim -Transl. jilid 2, p. 469, no. 2155]

Setiap muslim baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, budak ataupun orang merdeka wajib mengeluarkan zakat bila ia mempunyai kelebihan makanan atau uang (harta) lebih dari keperluannya selama sehari semalam. Sehingga yang dikenai taklif (perintah mengeluarkan zakat) adalah orang yang mempunyai persediaan makanan atau uang yang lebih dari keperluannya pada hari itu. Termasuk di dalamnya orang miskin yang mempunyai makanan untuk dua hari atau yang mempunyai uang lebih dari belanja atas keperluan pokoknya selama sehari. Demikianlah ijtihad para Imam Mujtahidin, yaitu Malik, asy-Syafi’ie, Ahmad dan Ishaq.

Pentingnya Zakat al-Fithr :
Peran penting yang dimainkan oleh Zakat Mal dalam peredaran kekayaan bagi Masyarakat Islam adalah juga dimainkan oleh Zakat al-Fitr. Bagaimanapun, di (dalam) kasus Shadaqah al-Fitr (Zakat al-Fitr), masing-masing individu diminta untuk mengkalkulasi berapa banyak derma yang harus ia bayarkan untuk dirinya dan tanggungannya dan secara langsung mencari masyarakat yang berhak menerima zakat tersebut. Shadaqah al-Fitr memainkan suatu peran sangat penting dalam membangun solidaritas sosial. Yang kaya berhubungan langsung dengan yang miskin untuk membantunya. Sedangkan yang miskin membantu yang lebih miskin lagi darinya. Kontak yg terjadi antar berbagai tingkatan masyarakat ini membantu membangun ikatan persaudaraan yang riil dan cinta dalam Masyarakat Islam. Mereka yang berpunya menjadi dermawan bagi mereka yang tidak punya. Sehingga kesenjangan sosial dapat dihindari sedini mungkin.

Tujuan Zakat al-Fithr :
Tujuan utama Zakat al-Fithr adalah sebagai tebusan bagi mereka yang berpuasa untuk mensucikan kesalahan-kesalahannya selama menjalankan ibadah puasa. Zakat al-Fithr juga diperuntukkan kepada mereka kaum fakir-miskin agar mereka dapat merayakan ‘Iedul-Fithri bersama dengan kaum Muslimin yang lain.
Ibn ‘Abbas meriwayatkan, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat al-Fitr untuk membersihkan mereka yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia dan pembicaraan kotor (yang dilakukan selama Ramadan) dan untuk memberi makan fakir miskin. Siapapun yang memberinya sebelum shalat ‘ied akan diterima sebagai Zakat , sedangkan yang memberinya setelah selesai shalat ‘Ied maka ia diterima sebagai Shadaqah. [HR.Abu Dawood- Eng.transl. jilid 2, p. 421, no. 1605- dinilai Shahih oleh Shaikh Naser Al-Albanee]

Tujuan Shadaqah al-Fitr adalah pengembangan rohani bagi orang-orang beriman. Dengan menyerahkan sebagian dari kekayaan mereka, Kaum Mu`min diajarkan berkarakter atau berakhlak tinggi, yaitu kedermawanan, rasa kasihan (simpatik), dan rasa syukur kepada Allah. Islam juga tidak melalaikan keadilan bagi kebutuhan material bagi manusia, sehingga tujuan kedua dari Zakat al-Fitr adalah terciptanya kesejahteraan ekonomi bagi anggota masyarakat yang lebih miskin.

Waktu Pelaksanaan Zakat al-Fithri :
Zakat al-Fithr hanya Wajib untuk periode waktu tertentu. Jika orang luput/kehilangan waktu tanpa suatu alasan yang jelas, ia telah berdosa dan tidak bisa diganti. Bentuk derma ini menjadi wajib semenjak matahari terbenam pada hari yang terakhir dari puasa sampai permulaan shalat ‘Ied (yaitu tidak lama sesudah mata hari terbit pada hari berikutnya). Bagaimanapun, zakat dapat dibayar sebelum periode yang tersebut di atas agar tidak terjadi keterlambatan pelaksanaannya, sebagaimana banyak dari Sahabat Rasulullah Sallallaahu ‘alaihi wa sallam yang membayar Sadaqah al-Fitr beberapa hari sebelum shalat ‘Ied.

Naafi’ melaporkan bahwa salah seorang sahabat Nabi yaitu Ibn `Umar pernah memberikan zakat bagi mereka yang akan menerimanya [beberapa hari sebelum ‘Ied] dan orang-orang (pada waktu itu) memberikan zakat satu atau dua hari sebelum `Ied. [HR. al-Bukhaaree- Arabic/English, Vol. 2, p.339, no. 579]

Ibn `Umar ra melaporkan bahwa Nabi Sallallaahu ‘ alaihi wa sallam berpesan bahwa Zakat al-Fitr itu diberikan sebelum orang-orang pergi melaksanakan shalat ‘Ied.
Ibn `Abbas ra meriwayatkan bahwa Nabi sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapapun yang memberi zakat fithri sebelum shalat ‘Ied maka itu diterima sebagai zakat, sedangkan siapa saja yang memberikannya setelah shalat maka itu diterima sebagai derma biasa (sedekah)”. Oleh karena itu, bagi orang yang lupa bayar Zakat al-Fithr tepat pada waktunya perlu melakukannya secepat mungkin walaupun tidak terhitung sebagai Zakat al-Fitr.

Kepada Siapa Zakat Fithri dibagikan ?
Yang berhak menerima zakat fithrah itu, sama halnya dengan yang berhak menerima zakat. Zakat Fithrah hendaklah dibagikan kepada delapan golongan sebagaimana yg tercantum dalam surat at-Taubah ayat 60. Ash-Shan’aniy berkata :”Zakat Fithri diberikan kepada mereka yang diberikan kepadanya zakat maal (zakat harta). Sabda Nabi :”Zakat Fithri itu makanan bagi orang-orang miskin”, dlm hadits Ibnu Abbas tidak berarti zakat fithri itu tidak boleh dibagi kepada delapan golongan.

Macam Zakat dan Kadarnya
Jumlah Zakat yang harus dibayarkan sama untuk setiap orang dengan mengabaikan pendapatan yang berbeda. Antara orang yang gajinya 100.000 per-bulan dengan yang gajinya 1.000.000 per-bulan tidak berbeda dalam jumlah zakat yang harus dikeluarkannya, yaitu satu Sha` (3 1/2 liter) makanan, padi/beras atau buah-buahan yang kering untuk setiap anggota keluarga. Perhitungan ini didasarkan pd riwayat Ibn Umar ra bahwa Nabi Sallallaahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan Zakat Fithrah dengan 1 sha` kurma kering atau 1 sha` gandum. Sahabat Abu Sa’ied al-Khudree berkata, “Pada zaman Nabi, kita dulu memberi Zakat al-Fitr dengan satu sha` makanan pokok, kurma kering, jewawut (gandum), kismis atau keju kering. [HR. al-Bukhari- Arabic/English vol. 2, p. 340, no. 582].

Dari hadits-hadits yang telah disebutkan, nyatalah bahwa yang dikeluarkan untuk zakat fithri adalah makanan yang mengenyangkan atau makanan pokok. Tidak dibolehkan selain dari makanan pokok. Hal ini karena objek tujuan zakat fithri adalah orang yg paling miskin (faqir), yang tidak mempunyai persediaan makanan untuk hari itu. Inilah ijtihad Imam Ahmad, Syafi’iy dan Imam Malik. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan makanan pokok itu diganti dengan uang atau benda bermanfaat lainnya bila tidak ada orang faqir di wilayah kita. Hal ini berdasarkan Atsar Sahabat ‘Umar bin Abdul Aziz yang mengganti gandum dengan kain-kain atau baju. Kata beliau “Berikanlah kepadaku Khamies dan Labiis (dua macam pakaian) untuk pengganti gandum dan jagung. Khamis dan Labiis lebih mudah bagimu dan lebih bermanfa’at bagi Muhajirien dan Anshar di Madinah”. (HR. Bukhari) – (Oleh : Dr. Abu Ameenah Bilal Philips)

http://www.perpustakaan-islam.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=111

Zakat Fitrah

“Dari Ibnu Umar, ia berkata : Rasulullah SAW telah mewajibkan zakat fitrah pada bulan ramadhan berupa satu sha’1] kurma atau satu sha’ gandum, kepada seluruh umat islam, baik budak atau orang yang merdeka, laki-laki, perempuan, besar atau kecil”. (HR.Jama’ah)

“Dari Abu Sa’id, ia berkata : Kami telah mengeluarkan zakat fitrah berupa satu sha’ gandum atau satu sha’ kurma atau satu sha’ keju atau satu sha’ anggur kering”. (HR.Bukhari-Muslim)

“Kami mengeluarkan zakat fitrah ketika rasulullah SAW masih hidup di tengah kami berupa satu sha’ makanan atau satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum atau satu sha’ anggur kering atau satu sha keju. Hal itu tetap kami di Madinah. Dia berkata, “Sesungguhnya saya lihat dua mud 2] gandum Syam itu sepadan dengan satu sha’ kurma”. Orang pun kemudian memakai kata-kata dia. Tapi kata Abu Sa’id (perawi berita ini) :”Saya sendiri mengeluarkan satu sha’ sebagaimana biasa”. (HR.Jama’ah)

Jadi yang penting zakat fitrah itu wajib atas setiap orang islam, dengan ukuran satu sha’ gandum atau jelai atau kurma, sebagaimana kita lihat dalam hadits di atas. Dan menurut sebagian ulama boleh dikeluarkan dalam bentuk uang yang seharga dengan itu. Dan pendapat ini yang benar, karena keadaan memang telah berubah , orang kadang-kadang tidak memiliki (persediaan) gandum atau benda lainnya. Sedang tujuan zakat fitrah adalah demi terpeliharanya kesejahteraan orang fakir dan untuk memenuhi kebutuhannya. Padahal kesejahteraan orang fakir dewasa ini terletak pada uang, karena demikianlah keadaannya sekarang.

Dan yang patut dipertanyakan ialah, kalau ada seorang istri cukup kaya, atau dia sudah tidak bersuami lagi karena diceraikan atau suami telah wafat. Apakah dia juga berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah ?. Menurut Asy-Syaukani, berdasar kata-kata “lelaki dan wanita” sebagaimana tercantum dalam hadits, maka tampaknya zakat fitrah itupun wajib atas wanita tadi, baik ia bersuami atau tidak. Demikian menurut pendapat Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan Ibnu Al-Mundzir. Hanya menurut Malik, Asy-Syafi’i, Al-Laits, Ahmad dan Ishak yang berkewajiban mengeluarkan zakat fitrah itu suami, sebagaimana nafkah.3

Catatan :
1] 1 sha = 2,75
2] 1 mud = 0,6875 liter
3] Lihat : Nail Al-Authar j.5 h.238

(sumber : Fiqih Wanita, Ibrahim Muhammad Al-Jamal, Alih bahasa : Anshori Umar, penerbit CV.Asy Syifa’ , Semarang.)

(note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 026/th.03/Ramadhan-Syawal 1427H/2006M)

Iklan

2 Responses to Zakat al-Fithr

  1. Suryanto langgai berkata:

    Mohon penjelasan dari 8 golongan penerima zakat fitra serta tata cara perhitungannya/pembagiannya \,karena ditempat saya ada kejanggalan tentang pembagianbya. seblmnya trims.

  2. labbaik berkata:

    Masharif zakat atau obyek penyaluran zakat telah ditentukan oleh Asy Syaari’ yaitu Allah SWT. Penerima zakat ini terdiri dari 8 golongan (ashnaf) yang tertera dalam Surat At Taubah ayat 60 :”sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin 1], pengurus-pengurus zakat 2], para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang 3], untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Kedelapan golongan tersebut adalah: faqir, miskin, amilin, muallaf, gharim (orang yang berhutang), riqab (budak), fi sabilillah (pejuang di jalan Allah) dan ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan).

    Sebagian besar ulama, termasuk imam madzhab yang empat (hanafi, maliki, syafi’i dan hambali) menyatakan bahwa fi sabilillah hanya bisa ditafsirkan sebagai mereka yang berperang dan berjuang di jalan Allah SWT. Namun ada sebagian para ahli fikih yang menyatakan bahwa fi sabilillah dapat diterjemahkan lebih luas lagi dan tidak terbatas hanya pada para pejuang yang berperang demi menegakkan agama Allah saja. Termasuk salah satunya adalah membuat rumah-rumah ibadah dan pendidikan. Akan tetapi pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang pertama. Maka, dianjurkan kepada Anda untuk menyalurkan zakat kepada mereka yang sesuai dengan kedelapan golongan tadi. Adapun, jika zakat disalurkan kepada saudara kita kaum muslimin korban kerusuhan atau peperangan seperti di Ambon, maka zakatnya amat dianjurkan. Sebab, mereka amat berhak dan membutuhkan bantuan kita. Mereka diperbolehkan menerima harta zakat sebab mereka dapat dikategorikan faqir, miskin dan fi sabilillah.

    1] “Artinya : Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling kepada manusia dan bisa
    disuruh pulang oleh sesuap makanan, atau dua suap makanan, atau satu kurma,
    atau dua kurma. Namun orang miskin ialah orang yang tidak mempunyai kekayaan
    yang membuatnya kaya, tidak diketahui kemudian perlu diberi sedekah, dan tidak
    meminta-minta manusia” [Diriwayatkan Bukhari]

    2] Yaitu pemungut zakat, atau orang-orang yang mengumpulkannya, atau orang yang
    menakarnya, atau penulisnya di dokumen. Petugas Zakat diberi upah dari zakat
    kendati orang kaya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Sedekah (zakat) tidak halal bagi orang kaya kecuali bagi lima orang
    petugasnya, orang yang membeli zakat dengan hartanya, orang yang berhutang,
    pejuang di jalan Allah atau orang miskin yang bersedekah dengannya kemudian
    menghadiahkannya kepada orang kaya” [Diriwayatkan Ahmad]

    3] Yaitu orang-orang yang berhutang tidak di jalan kemaksiatan kepada Allah,
    Rasul-Nya, dan mendapatkan kesulitan untuk membayarnya. Ia diberi zakat untuk
    melunasi hutangnya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Meminta-minta tidak diperbolehkan kecuali bagi tiga orang : Orang
    yang sangat Miskin, atau orang yang berhutang banyak, atau orang yang
    menanggung diyat (ganti rugi karena luka, atau pembunuhan)” [Diriwayatkan
    At-Timridzi dan ia meng-hasan-kannya]

    Tambahan :
    Saya ringkaskan Catatan tambahan dari Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, sbb :

    [a]. Jika seorang muslim menyerahkan zakat hartanya kepada kelompok manapun di
    antara kedelapan kelompok di atas, maka sah. Hanya saja, ia harus memberikannya
    kepada pihak yang paling membutuhkan dan paling besar kebutuhannya. Jika
    zakatnya berupa uang yang banyak, kemudian ia membagi-bagikannya kepada
    masing-masing kedelapan kelompok tersebut, maka itu baik sekali.

    [b]. Orang muslim tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang yang wajib ia
    nafkahi, misalnya kedua orang tuanya, atau anak-anaknya, dan seterusnya, serta
    isteri-isterinya, karena ia berkewajiban menafkahi mereka.

    [c]. Zakat tidak boleh diberikan kepada orang kafir, atau orang fasik seperti
    orang yang meninggalkan shalat, orang yang melecehkan syariat Islam, dan lain
    sebagainya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya
    : Zakat diambil dari orang-orang kaya mereka, dan dikembalikan kepada
    orang-orang fakir mereka”.
    Maksudnya ialah zakat diambil dari orang-orang kaya kaum Muslimin dan
    dikembalikan kepada orang-orang fakir kaum Muslimin. Zakat juga tidak boleh
    diberikan kepada orang kaya dan orang kuat yang bisa kerja, karena Rasulullah
    Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Orang kaya tidak mempunyai bagian terhadap zakat dan juga orang tua yang bisa kerja” [Diriwayatkan Ahmad]
    Maksudnya orang yang bisa kerja sesuai dengan kadar kecukupannya.

    [d]. Zakat tidak boleh dipindahkan dari satu negeri ke negeri lain yang jauhnya
    sejauh perjalanan yang dibenarkan melakukan shalat qashar, atau lebih, karena
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
    “Artinya : Zakat itu dikembalikan kepada orang-orang fakir mereka” Para ulama
    mengecualikan jika disuatu negeri tidak ada orang-orang fakir atau suatu negeri
    mempunyai kebutuhan yang sangat besar, maka zakat boleh di pindah ke negeri
    yang di dalamnya terdapat orang-orang fakir. Tugas ini dilaksanakan imam
    (pemimpin) atau wakilnya.

    [e] Zakat tidak sah kecuali dengan meniatkannya. Jika seseorang membayar zakat
    tanpa meniatkannya, maka tidak sah, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
    sallam bersabda.”Artinya : Sesungguhnya semua amal perbuatan itu harus dengan niat, dan setiap orang itu sesuai dengan niatnya”.
    Jadi orang yang membayar zakat harus meniatkan zakat sebagai kewajiban dari
    hartanya dan memaksudkannya kepada keridhaan Allah, sebab ikhlas adalah syarat
    diterimanya semua ibadah, dan karena Allah Ta’ala berfirman.
    “Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
    memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus”
    [Al-Bayyinah : 5]

    {Untuk lengkapnya silahkan membuka kitab Minhajul Muslim, hal 406-410, Darul Falah}

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: