Leiden, Pusat Kajian Para Orientalis

Meskipun kajian mengenai Islam dikatakan popular selepas peristiwa 11 September, namun hakikatnya, Islam telah menjadi satu bidang kajian lama sebelum itu. Kajian mengenai Islam mendapat perhatian sarjana-sarjana Barat terutamanya demi kepentingan dasar penjajahan Barat yang ingin diterapkan di negeri-negeri taklukan mereka sebelum Perang Dunia Kedua dulu. Di antara Pusat Kajian Islam di Barat yg fokus kepada bidang Islam ialah Universitas Leiden yang amat popular dikalangan cendekiawan Islam di daerah Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Mengapa ? .

Universitas Leiden sudah amat tua berada di Belanda, didirikan pada 1575 oleh Putra William dari Orange sebagai sebuah hadiah bagi warga Leiden, Belanda bagian utara, atas kegigihan mereka mempertahankan Leiden dari jajahan Spanyol. Pengarah Kajian Pusat Islam Universitas Leiden, Dr.Nico JG Kaptein, menjelaskan :”Tujuan kajian Islam adalah sebagai dasar penentuan strategi pemerintahan Belanda atas jajahannya di Hindia Timur, atau Indonesia sekarang ini. Pada pusat kajian itu sejak dulu kaum cendekiawan Belandanya sudah memberikan minat untuk mengkaji Islam dan Bahasa Arab. Alasannya, ketika Belanda menjajah Indonesia, mereka banyak berhadapan dengan unsur-unsur Islam dan berperang dengan pasukan kerajaan Islam di Indonesia. Keadaan inilah yang membuat Pusat Kajian Islam Leiden menja di pusat untuk melatih pegawai-pegawai pemerintah Belanda yang akan dikirim ke Indonesia. Mereka diberi pengetahuan mengenai Islam dan aspeknya termasuk hukum dan adat istiadatnya.

Dengan bekal pengetahuan mengenai Islam dan adat istiadat pribumi di Indonesia itu, para pegawai dari Belanda akan lebih mudah melaksanakan tugas mereka. Mereka berusaha memahami Islam bukan sekadar mempelajari pengkajian dengan cara tertentu tetapi juga dengan cara menulis buku agama. Universitas Leiden terkenal dengan simpanan sastra-sastra lama mengenai Islam. Maka dari itu, pegawai pemerintah Belanda yang dikirim ke Indonesia di zaman penjajahan pandai menulis dan meneliti agama. Pelatihan cara menulis buku dan penelitian dilakukan ketika mereka bekerja di Indonesia atau Hindia Belanda sehingga banyak sekali buku-buku yg diterbitkan oleh Universitas Leiden mengenai Islam di Indonesia kala itu. Situasi ini semakin membuat Pusat Kajian Islam Universitas Leiden berkembang, karena minat intelektual Belanda mempelajari Islam yang tinggi. Dengan pengalaman bekerja dan terlibat bersama dalam urusan pemerintahan, para sarjana Belanda ini telah menghasilkan tulisan-tulisan mengenai Islam dan masyarakat Islam yang kemudiannya mempengaruhi persepsi masyarakat umum yang membaca dan meneliti pendapat-pendapat mereka.

Inilah antara lain sebab-sebab terdapatnya kelainan-kelainan tanggapan (perbedaan pendapat) terhadap Islam dan muslim. Dan di antara intelektual yang Belanda yang terkenal itu adalah Christian Snouck Hurgronje, ahli masyarakat Aceh waktu itu; dia adalah seorang professor dari Pusat Kajian Islam Universitas Leiden dan dia menjadi penasihat pemerintah jajahan Belanda di Indonesia. Dia banyak membuat penelitian mengenai Islam Indonesia sehingga Christian Snouck Hurgronje menjadi sumber utama pemerintah jajahan Belanda . Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis Islam yg sangat fasih berbahasa Arab. Dialah diantara orientalis pertama-tama yang memasuki Mekkah sekitar 1880 dg menyamarkan namanya menjadi Abdul Ghaffar. Disana dia mempelajari sikap, kelakuan dan tindakan kelompok masyarakat Islam Indonesia yang mengerjakan haji dan yang ada sebagiannya bermastautin di Mekkah. Begitu pulang, Snouck Hurgronje menulis beberapa saran bagaimana sebaiknya pemerintah Belanda menangani persoalan Islam dalam menghadapi rakyat setempat di Hindia Timur. Dia juga telah menerbitkan lebih dari 1.400 buku mengenai Aceh dan Islam di Indonesia waktu itu. Dan sekaligus menjadi penasihat untuk pemerintah Belanda dalam menakhlukan Aceh khussusnya, dan Indonesia pada umumnya.

Saat ini, Pusat Kajian Islam Universitas Leiden menjadi salah satu bagian dari kerjasama Indonesia-Belanda, dengan memunculkan jabatan keagamaan, khususnya agama Islam. Kerjasama ini sudah terjalin puluhan tahun yang lalu. Banyak mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Pusat Kajian tsb, baik tingkat sarjana, sarjana muda sampai doktor. Pusat Kajian Islam Universitas Leiden sejauh ini telah berhasil meluluskan lebih dari 75 mahasiswa Indonesia tingkat sarjana muda. Juga sedang membimbing beberapa pelajar Indonesia yang studi pada tingkat doktor. Pusat Kajian ini juga mempunyai beberapa professor yg mendalami soal “ekstrimis” dalam Islam, seperti gerakan Islam “radikal” di Mesir , ada beberapa professor yang mendalami ideologi Islam.

Jauh sebelum peristiwa 11 September, kajian mengenai ekstrimis Islam sudah ada di Leiden. Pusat Kajian ini mendalami Islam dalam perspektif akademik. Jika pemerintah ingin mempergunakan kajian ini, maka hasil kajiannya akan mendekati “kebenaran” (versi orientalis), beberapa lembaga di bawah naungan kementerian luar negeri Belanda sering mempergunakan bahan kajian dari Pusat Kajian Islam dari Universitas Leiden. Universitas Leiden merupakan salah satu diantara universitas-universitas yang amat popular di kalangan cendekiawan Islam kontemporer. Mungkin karena pendidikan yang ala Barat inilah yang menyebabkan timbulnya anggapan setengah pihak yang mengatakan para lulusan atau mahasiswa dari universitas tersebut lebih bersikap liberal dalam melihat Islam.

(sumber : Mariani Yahya, Radio Singapura Internasional)http://www.rsi.sg/malay/imej/view/20050602114951/1/.html

Racun Yang Ditebar Penjajah

Judul ini akan lebih mudah dimengerti bila ditinjau dari kaum muslimin yang berpaham kebangsaan dengan akar keagamaan yang lemah. Keadaan mereka jauh lebih parah dibanding kaum muslimin tradisional. Konsep nasionalisme membuat mereka dihantui oleh ‘split personality’, yakni pecah kepribadian dalam penghayatan sejarah. Pelajaran sejarah warisan penjajah memaksa mereka agar bangga dengan sejarah nenek moyangnya. Mereka diwajibkan menanggung beban masa lalu bangsanya sendiri. Sedang kebanggaan historisnya itu seringkali tidak lebih dari sebuah masa lampau yang kelam, sejarah jahiliyah yang sebenarnya tidak patut dibanggakan (malah diagung-agungkan). Sementara itu di lain sisi, sebagai ummat Islam, keagungan sejarahnya jelas tidak dapat diingkari.Misalnya, beban historis orang Mesir harus memikul kebanggaan sebagai bangsa keturunan Fir’aun. Orang-orang Iraq dengan Nebukad Nezar ataau Hamurabbi yang dibangun dengan darah, keringat dan tulang belulang rakyatnya. Padahal negeri-negeri itu jelas diselamatkan, dibangkitkan dan diperjuangkan oleh Islam dan kaum muslimin. Sayangnya, peranan Islam mereka kesampingkan, sementara generasi mudanya terus dicekoki dengan sejarah tirani yang telah tumbang itu. Sebagian orang Arab Nasionalis bahkan mengklaim bahwa sejarah Islam merupakan sejarah mereka namun dengan melucuti unsur-unsur Islam dari dalamnya. Lihatlah misalnya, bagaimana pengarang-pengarang seperti, Munjid, Abu Louis, dll, mereka memasukkan fenomena wahyu sebagai fenomena sastra, bukan fenomena keagamaan. Mereka menganggap Al Qur’an dan hadits sebagai puncak kematangan dan kedewasaan bahasa Arab, ini sama dengan menafikkan bahwa kedua pusaka itu sumbernya adalah wahyu. Jelas, dengan kalimat itu mereka hanya mengganggap bahwa kedua pusama ummat Islam hanya sekedar karya sastra sebagaimana bikinan manusia, meski mereka memberi nilai sebagai ‘puncak kematangan’ . Ini jelas merupakan upaya penghilangan peran Islam dari panggung sejarah. Maka menyadari bahwa junjungan dan sebagai panutan kita adalah rasulullah SAW dan para sahabatnya merupakan ummat yang mulia adalah kekayaan kita sebagai umat Islam. Mengkaji dan menghayati setiap langkah gerakan generasi sahabat merupakan aset kebangkitan ummat Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran dakwah dan jihad dalam perjuangan mereka membangun Islam merupakan modal perjuangan ummat yang tidak ternilai harganya.

(sumber : Manhaj Haraki Dalam Sirah Nabi SAW, jilid I, Syaikh Munir Al-Ghadban, Robbani Press, cet.pertama 1412 H / 1992 M)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: