Dalil-dalil Tata Cara Perhitungan Zakat

Tanya :

Assalaamu’alaikum wr wb Saya ingin menanyakan bagaimana tata cara perhitungan zakat ditetapkan pertama kali ? Tata cara perhitungan zakat di sini adalah seperti nisab suatu harta, haulnya (mis. satu tahun), jumlah yang dizakatkan (mis. 2.5%), dll. Kewajiban mengeluarkan zakat tercantum di dalam Al Quran. Apakah tata cara mengeluarkan zakat juga terdapat di Al Quran, Hadist, atau Fatwa ulama ? Mohon penjelasannya. Jazakumullaahu khairan kastiiran. Wassalaamu’alaikum wr wb – (Nur Ain – Bekasi)

Jawaban:

Assalamu `alaikum Wr. Wb. Al-Hamdulillahi Rabbil `Alamin, Washshalatu Wassalamu `Alaa Sayyidil Mursalin, Wa `Alaa `Aalihi Waashabihi Ajma`in, Wa Ba`d .Al-Quran Al-Karim adalah kitabullah yang memuat semua topik besar dalam kehidu pan manusia sehari-hari. Adakalanya Al-Quran Al-Karim berbicara masalah hukum hingga detail sekali, namun tidak jarang dia hanya membahas secara umum saja. Misalnya dalam masalah harta yang wajib dizakati, Al-Quran Al-Karim hanya mengatakan pokok-pokoknya saja. “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu….” (QS. Al-Baqarah : 267). Sedangkan detail dari aturan zakat itu dijelaskan dalam hadits-hadits nabawi. Ada sekian banyak hadits dari Rasulullah SAW yang menjelaskan bagaimana seharusnya kita menghitung harta yang wajib dizakati dan jenis harta yang seperti apa yang wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

Dalam masalah zakat harta, uang atau emas dan perak, ketentuannya adalah 2,5 % dan dikeluarkan setelah adanya masa kepemilikkan selama satu tahun (haul). Ketentuan seperti itu jelas-jelas terdapat dalam hadits Rasulullah SAW. Misalnya hadits berikut ini :”Dari Ali ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Bila kamu memiliki 200 dirham, dan telah lewat masa satu haul, maka zakatnya adalah 5 dirham. Dan kamu tidak wajib zakat sebelum jumlahnya mencapai 20 dinar dan telah berlalu masa haulnya, maka zakatnya adalah 1/2 dinar. Dan apa-apa yang lebih, maka zakatnya sesuai dengan kelebihannya. Tidak ada kewajiban zakat atas suatu harta kecuali bila telah lewat satu haul. (HR.Abu Daud & beliau menghasankannya).

Angka 2,5 % kita dapat dari pengertian bahwa tiap 200 dirham zakatnya adalah 5 dirham, begitu juga dari 20 dinar zakatnya adalah 1/2 dinar. Maka berarti 1/40 dari total harta atau 2,5 %. Dari Ibnu Umar ,”Siapa yang memiliki harta, tidak ada kewajiban untuk membayar zakatnya hingga telah berlalu masa satu haul (HR. At-Timizy). Begitu juga dengan ketentuan zakat ternak dan zakat pertanian, ada ketentuan nisab dan haulnya. Dari Jabir dari Rasulullah SAW berkata,”Tidak ada kewajiban untuk membayar zakat atas perak yang jumlahnya kurang dari 5 uqiyah (40 dirham). Tidak ada kewajiban membayar zakat unta yang jumlahnya kurang dari lima ekor. Tidak ada kewajiban membayar zakat atas biji-biji tumbuhan yang kurang dari 5 wasaq (HR. Muslim).

(Keterangan : 1 wasaq sama dengan 60 sha’. Dan 1 sha’ sama dengan 40 mud. Dan 1 mud itu sama dengan sejumlah makanan yang bisa tertampung pada dua tapak tangan yang disatukan. Para ulama menakar 5 wasaq itu jumlahnya adalah kira-kira 520 g beras).

Dari Salim bin Abdillah dari ayahnya dari Rasulullah SAW berkata, “Kewajiban zakat atas tanaman yang disirami oleh langit, mata air atau atsari adalah sepersepuluh (10 %). Dan kewajiban zakat atas tanaman yang diairi dengan tenaga manusia, zakatnya adalah setengah dari sepersepuluh (5 %). (HR. Bukhari ).

(Keterangan : yang dimaksud dengan atsari adalah pohon yang mengambil air dengan akarnya lantaran dekat dengan perjalanan air).

Termasuk juga harta temuan dari peninggalan masa lalu dari orang terdahulu, ada ketentuan besar zakatnya dalam hadits nabawi. Dari Abi Hurairah ra, bahwa Rasul Allah SAW bersabda,”Kewajiban zakat atas harta rikaz (harta simpanan orang zaman dahulu yang tertanam dalam bumi) adalah seperlima (20 %). Sedangkan untuk lebih detailnya lagi, para ulama melakukan kajian yang mendalam atas semua nash Al-Qur’an Al-Karim maupun hadits serta sumber-sumber syariat Islam lainnya. Dengan itu lalu mereka melakukan penyusunan hukum-hukum zakat secara terinci dan sistematis.

Bahkan dimasa kini, dengan segala perubahan zaman dan realitas sosial, para ulama kontemporer pun tidak berhenti dari melakukan sekian banyak kajian dan ijtihad atas nash-nash dari Al-Quran Al-Karim dan sunnah, agar syariat zakat itu tetap sesuai dengan kondisi di masa kini. Salah satunya adalah apa yang telah dila hirkan oleh Dr.Yusuf Al-Qaradawi dalam kitab beliau yg fenomenal : Fiqhuz Zakat. Bahwa tidak semua ulama itu sama jalan berpikirnya, tentu saja sudah kita pahami. Karena perbedaan pandangan di antara mereka itulah yang membuat syariat Islam ini menjadi sedemikian kaya dan sarat dengan detail-detail yang menarik. Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab, Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

(dari : JIMS, Jakarta International Muslim Society) http://www.jimsfoundation.com/link_konsultasi.php?id=106_0_7_0_C

Dari Hakim Ibnu Hazm Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi SAW Sallam bersabda: “Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orang-orang yang banyak tanggungannya; dan sebaik-baik sedekah adalah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya.” (HR.Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari).

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya: Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, sedekah apakah yang paling mulia ? Beliau menjawab: “Sedekah orang yang tak punya, dan mulailah (memberi sedekah) atas orang yang banyak tanggungannya. (Dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud. Hadits shahih menurut Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Hakim).

Dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bersedekahlah.” Lalu seorang laki-laki berkata: Wahai Rasulullah, aku mempunyai satu dinar ?. Beliau bersabda: “Bersedekahlah pada dirimu sendiri.” Orang itu berkata: Aku mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk anakmu.” Orang itu berkata: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk istrimu.” Orang itu berkata: Aku masih punya yang lain. Beliau bersabda: “Sedekahkan untuk pem bantumu.” Orang itu berkata lagi: Aku masih mempunyai yang lain. Beliau bersabda: “Kamu lebih mengetahui penggunaannya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan Hakim).

Dari ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila perempuan menafkahkan sebagian makanan di rumahnya tanpa merusak (anggaran harian) maka baginya pahala atas apa yang ia nafkahkan, bagi suaminya juga pahala karena ia yang bekerja, dan begitu pula bagi yang menyimpannya. Sebagian dari mereka tidak mengurangi sedikit pun pahala atas sebagian lainnya.” (HR.Muttafaq Alaihi).

Dari Ubaidillah Ibnu Adiy Ibnu al-Khiyar Ra, bahwa dua orang menceritakan kepadanya bahwa mereka telah menghadap Rasulullah SAW untuk meminta zakat pada beliau. Lalu beliau memandangi mereka, maka beliau mengerti bahwa mereka masih kuat. Lalu beliau bersabda: “Jika kalian mau, aku beri kalian zakat, namun tidak ada bagian zakat bagi orang kaya dan kuat bekerja.” (HR. Ahmad dan dikuatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i).

(note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 026/th.03/Ramadhan-Syawal 1427H/2006M )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: