Mushibah Aceh: “Miniatur Kiamat”

Pada hari ahad, 14 Dzulqo’idah 1425 H atau bertepatan dng tanggal 26-12-2004 M, penghuni planet bumi dikejutkan oleh bencana yang tidak diperkiraan oleh para pakar sebelumnya. Gelombang air pasang tsunami yang muncul setelah gempa dahsyat berkekuatan 8,5 – 8,9 pada skala Richter menerjang beberapa negara. Ribuan orang meninggal dunia dan sejuta lebih menderita luka-luka, demikian data yang ditulis oleh sebuah harian ibu kota. Saat musibah terjadi, masing-masing sibuk menyela matkan diri. Harta dan kekayaan yang selama ini dikejar-kejar tanpa kenal waktu dan aturan ditinggal begitu saja. Mobil yang mahal lagi mewah, rumah yang bagus laksana istana, ternak yang banyak dan sawah-ladang yang luas seakan tak berarti sama sekali. Semua tidak dihiraukan lagi, yang penting bagaimana agar dirinya selamat dari bencana. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman -dalam menggambarkan kejadian hari kiamat :
“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berantakan, dan apa bila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al-Infithaar ayat 1-9)

Bagi seorang mukmin, kejadian-kejadian itu telah mengantarkan dirinya kepada kesadaran bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan sebaik-baik perencana. Seorang mukmin tetap harus berprasangka baik kepada setiap rencana-Nya. Ia harus tetap berusaha maksimal menta’ati segala perintah serta menjauhi segala larangan-Nya, kemudian ia memperbaiki akhlak dan memperbagusnya. Allah SWT berfirman :”Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk ayat 1-2) . Seorang mukmin harus memahami bahwa suatu bencana memiliki beberapa maksud, bisa sebagai ujian dan peringatan bagi dirinya atau hukuman bagi orang-orang kafir. Bencana berarti ujian bagi hamba-hamba yang ta’at untuk kenaikan tingkat dan kedudukan di sisi Allah SWT. Dari setiap bencana seorang mu’min akan senantiasa mengambil hikmah dan kebaikan. Ia akan sabar melaluinya dan berusaha menolong untuk meringankan beban saudaranya yang tertimpa musibah. Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu meriwayatkan : “Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa.” (HR. Ahmad dalam Musnad II/287, at-Tirmidzi dalam az-Zuhd VII/80. Ia berkomentar, hasan shahih).
Juga riwayat al-Hakim dalam ar-Raqaiq IV/214 dan dinyatakan sebagai hadits shahih sesuai dengan syarat Muslim. Disepakati oleh adz-Dzahabi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Syakir dalam Musnad no.7846.

Bencana berarti peringatan bagi manusia yang banyak melakukan kedurhakaan dan kema’siatan. Peringatan diturunkan agar mereka ingat dan bertaubat kepada Allah SWT, serta memperbaiki dirinya dengan ibadah yang benar dan ta’at yang ikhlas kepada-Nya. Bencana bisa juga merupakan hukuman, sebagaimana banjir besar yang menerjang manusia-manusia durhaka lagi kafir pada zaman Nabi Nuh alaihis salam. Allah SWT menggambarkan peristiwa di harikiamat sbb :”Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan), dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. At-Takwir ayat 1-6).

Bandingkan gambaran kiamat dengan peristiwa gelombang tsunami yang baru saja terjadi, di mana baru sebagian lautan diluapkan, ribuan orang tewas dan tidak berdaya bahkan sejuta lainnya hidup terkatung-katung. Bisakah dibayangkan jika seluruh lautan diluapkan?! Tidak ada lagi tempat berlari dan berlindung pada saat itu kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Gagah Perkasa, Maha Agung, Maha Rahman dan Maha Pengampun.
Di ayat lain Allah SWT berfirman :”Apabila terjadi kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya dan gunung-gunung dihancur-luluhkan sehancur-hancurnya, maka jadilah dia debu yang berterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan.” (QS. Al-Waqi’ah ayat 1-7). Bayangkanlah bagaimana pula jika bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya ? baru gempa dengan kekuatan 6.3 skala Richter Desember 2003 lalu di Iran 30.000 orang tewas seketika, Demikian pula ketika terjadi gempa di India (Januari 2001) berke kuatan 7,9 skala Richter 24.000 orangpun tewas. Bagi Allah mudah jika hendak mematikan seluruh manusia.

Musibah demi musibah Allah timpakan silih berganti namun manusia durhaka tetap saja tak mau sadar. Bahkan dengan kepongahannya, mereka mengemas setiap kemaksiyatan sedemikian rapi, sehingga tidak terasa lagi kalau perbuatan tersebut adalah mendurhakai Allah SWT. Marilah kita renungkan bersama firman Allah SWT :”Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid ayat 16)

Saudaraku, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa dan mendorong jiwa untuk ta’at dan khusyu’ kepada Allah Yang Maha Ghafur. Wa Allahu A’lam bish-shawwab. (**dari khilafah.or.id)

http://blog.efx2.com/user/aceh/Refleksi%20sahabat/
note : “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu terdekat”. (QS.Asy Syu’araa : 214). Semoga bermanfaat.

“Tidak ada paksaan dalam beragama, sesungguhnya sudah nyata petunjuk pada kesesatan. Barang siapa yang tak percaya kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada tali yang teguh yang tidak akan putus. Allah Maha Mengetahui.” (QS.Al Baqarah : 256)
Keterangan :
Dalam ayat ini terang benar, bahwa dalam agama Islam tidak boleh memaksa seseorang agar memeluk agama Islam. Melainkan seseorang itu diberi kemerdekaan memilih agama apa yang akan dianutnya, karena sudah jelas mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah, yaitu jika kita mau memikirkannya dengan pikiran yang jernih. Kewajiban kita ummat Islam hanyalah memberi keterangan yang cukup kepada umum atas kebenaran Islam. Kemudian itu mereka diberi kesempatan untuk memikirkannya, karena agama itu adalah keyakinan hati, sedang keyakinan itu tidak bisa dimasukkan ke dalam hati seseorang dengan jalan paksa. (Tafsir Qur’an Karim, Prof.Dr.HM.Mahmud Yunus)

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan padamu pengetahuan untuk membedakan antara yang haq dengan yang bathil dan menghapuskan segala kesalahanmu dan mengampuni dosa-dosamu dan Allah maha besar karuniaNya.” (QS.Al-Anfaal 29)

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.009/th.02/2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: