Pendidikan Para Wali

Penting menelusuri pendidikan para wali ini, pemahaman terhadap siapa guru-guru mereka, dimana mereka belajar & apa maudlu’ (spesialisasi) masing-masing wali akan sangat membantu untuk memahami mereka. Bagaimana pun walisongo memiliki andil besar dalam menanam bibit keislaman di Nusantara, yang kemudian berkembang menjadi Islam seperti sekarang ini. Melihat nama-nama mereka yang berbau arab, dapat dibayangkan bahwa para wali itu memiliki keahlian secara holistik terutama keislaman, keahlian yang mereka capai tentu bukan sembarangan, tetapi secara te kun dan mendalam belajar dari guru kenamaan dan memiliki ilmu yang luas.

Sunan Ampel, Sunan Gresik dan Sunan Maja Agung adalah 3 serangkai yang diasuh dalam satu almamater yang sama. Ketiganya memperoleh pendidikan dari Syaikh Mawlana Ibrahim Asmarakandi, ayah dan paman mereka. Nama ‘asmarakandi’ itu asal katanya dari Samarkand yang merupakan daerah asal perawi hadits kenamaan, Imam Bukhari dan Imam Abu Dawud, maka dapat ditetapkan bahwa ketiga wali tersebut penganut paham Sunni, baik dalam syariat maupun tasawufnya. Karena di Samarkand pernah berganti-ganti menjadi wilayah di bawah komando daulah sunniyin semenjak masa ‘Abbasiyah, Seljuq, Sassan dan Gaznawiyah. Berkuasanya daulah-daulah sunni ini semakin memperkokoh paham sunni, dan Imam Bukhari dan Abu Dawud punya pengaruh besar di daerah tersebut. Bukti suburnya pengaruh paham sunni di Indonesia hingga saat ini sangat memperkuat kesimpulan tersebut. Walisongo itulah para penanam bibit paham sunni di Indonesia ini. Dan tentu tidak dapat mengabaikan besarnya pengaruh tasawuf yg masuk Indonesia, karena memang pd saat itu tasawuf sedang tumbuh subur.

Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat dan Sunan Ngudung adalah 4 serangkai yang mula-mula mendapat pendidikan dari Sunan Ampel. Dari Sunan Ampel inilah mereka mendapat pelajaran tentang tauhid, tasawuf dan seluk beluk tentang Tuhan. Sunan Ngudung sebelumnya telah memperoleh pendidikan dasar dari Mawlana Ishaq. Sedang Sunan Giri dan Sunan Bonang, setelah belajar dari Sunan Ampel, mereka berdua melanjutkan pendidikan ke Malaka dan Pasai, berguru kepada Mawlana Ishaq. Agaknya mereka juga mempelajari fiqih, terutama soal Al Ahkam Al Shulthaniyah, dan tauhid, terutama tentang hakekat Tuhan, hakekat Muhammad juga Nukad Ghaib yang di sandarkan pada kitab Jawhar Mu’min. Setelah tamat belajar di Pasai, keduanya bermaksud melanjutkan perjalanan dan menuntut ilmu di Makkah. Namun mereka dicecah oleh Mawlana Ishaq, menurut Mawlana Ishaq, lebih baik keduanya pulang ke Jawa, karena masyarakat disana telah menanti darma bakti mereka. Lagi pula ilmu yang akan diperoleh di Makkah akan sama juga dengan yang sudah didapat di Pasai. Kedua murid (Sunan Giri dan Sunan Bonang) setuju, dan pulang kembali ke Jawa.

Sunan Gunung Jati mula-mula berguru pada Mawlana Ishaq di Pasai dan pernah belajar bermukim di Makkah sekitar 2-3 tahun (1521-1523/4M). Menurut para wali lainnya, Sunan Gunung Jati ini memiliki ilmu yg berasal dari kitab-kitab Syaikh Ibrahim Arki, Syaikh Sabti, Syaikh Muhyidin Ibnu Arabi, Syaikh Abu Yajid Al Bistami, Syaikh Al Rudaji, dan dari keenam kitab tersebut, beliau juga mendalami tentang ilmu akhlaq.

Sunan Kalijaga mula-mula berguru pada Sunan Bonang, setelah itu berguru pada Sunan Gunung Jati, kemudian belajar dari para wali lainnya, sehingga meski beliau dikenal paling muda, namun memiliki ilmu paling tinggi. Beliau berguru juga pada Dara Petak di Palembang, dilanjutkan berguru secara tidak langsung (berguru lewat seorang mu’alim di Malaka) kepada Syaikh Syamsudin Ath-Thabrizi yang bermu kim di Persia, syaikh ini adalah penulis Diwan-i Syams-i Tabriz.

Pada umumnya para wali itu adalah keturunan para bangsawan, dari golongan kaum terpandang, di samping itu mereka juga memiliki peluang ekonomi yang baik. Mereka merupakaan orang-orang yang tulus dan telah berjasa banyak, baik secara moral maupun material kepada masyarakat. Sunan kalijogo misalnya, telah berjasa menciptakan dan menyempurnakan berbagai alat pertanian dan kemakmuran. Sehari-hari para wali itu dikenal sebagai ahli tarekat, dan merupakan cikal bakal pembukaan suatu desa dan perintis pembagunan suatu wilayah dan masyarakatnya.

[sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit.Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: