MENGINGAT JASA WALISONGO

 

Selama ini sejarah walisongo hampir lenyap di balik selubung legenda dan dongeng yang beraneka warna, sementara fakta-fakta sejarah yang sesungguhnya tentang diri tokoh walisongo -khususnya tentang walisongo sebagai gerakan dakwah- jarang diulas. Padahal, banyak pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari kiprah dakwah mereka : bagaimana sekelompok kecil mubaligh dapat mengislamkan masyarakat Jawa yang sebelumnya memeluk agama Hindu, Budha, dan animisme ?. Walisongo pada dasarnya merupakan kepala kelompok dari sejumlah besar mubaligh islam yang mengadakan dakwah di daerah-daerah yang belum memeluk agama Islam pada abad kelima belas, pada masa Kesultanan Demak. Memang walisongo-lah rupanya perintis dakwah islam di Indonesia. Merekalah yang telah berjasa sebagai pelopor penyiaran agama yang giat di Nusantara. Drs.R.Soekomo, dosen ahli purbakala dan sejarah kebudayaan UGM mengakui hal ini. Dalam bukunya “Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia (jilid III hal 47-48) beliau menulis :”Walisongo atau sembilan orang waliyullah, diberi julukan demikian karena mereka dianggap sebagai ‘penyiar-penyiar terpenting’ dari agama Islam, mereka yang sengaja dengan giat sekali menyebarkan dan mengajarkan pokok-pokok agama Islam”. Jadi para wali itulah yang untuk pertama kali, dengan niat Bismillah’, sengaja dan berbahagia mewakili umat Indonesia melaksanakan fardlu kifayah, sebagaimana perintah Allah dalam Al Qur’an :”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (jaman jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk (QS.3 : 103).

Begitu pula Walisongo, rupanya mereka mampu mentaati perintah Allah yang berat, berpegang teguh pada kitab Allah, dan tidak berpecah-belah, bahkan bersatu-padu membentuk ‘songo-songo ning atunggal’ (sembilan menjadi satu), yang layak mendapat pujian karena mengindahkan firman Allah, dan berhak pula menerima sebutan ‘awliya’ waratsatul anbiya’. Di samping itu, mereka pulalah kiranya yang dapat dimasukkan ke dalam umat dengan sifat-sifat mulia sebagaimana disebut dalam Al Qur’an :”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS.3 : 110). Karena walisogo-lah, yang tidak sangsi lagi, telah berhasil mengajak umat Indone ia ke jalan Allah dengan cara-cara hikmah, bijaksana dan peringatan yang ramah, serta tukar pikiran dengan cara yang sebaik-baiknya sebagaimana yang dituntunkan Allah, dan dicontohkan oleh rasul-Nya Muhammad SAW, sehingga keluarlah sebagian besar umat Indonesia, berkat kegiatan dan usaha yang di-‘hidayat-taufiki’ oleh Allah itu, dari kegelapan musryik dan kafir menuju nur tauhid dan iman Islam.

Memang harus diakui, sebagai suatu cara dakwah yang tak luput dari pengaruh dan ditentukan oleh suasana dan bi’ah zamannya, praktik dan metode mereka mungkin sudah banyak yang tidak sesuai lagi di zaman sekarang. Tetapi sebagai fakta sejarah, maka bagi kita sekarang, terutama ahli-ahli dakwahnya, kiranya masih tetap ada harganya. Lebih-lebih untuk mengetahui pertumbuhan rohani rakyat kita. Kepribadian dan mentalitas keagamaan bangsa kita. Karya dan ajaran walisongo yang lebih banyak mementingkan tasawuf, tarekat dan kebatinan/mistik daripada fiqih dan kalam itu, ada juga pentingnya untuk dipikirkan sebagai ‘perbendaharaan rohani Islam di Indonesia’. Yang mana selama ini lebih banyak diketahui oleh orang non muslim, bukan pula orang Indonesia, misalnya : Nicholson, Louis Masignon, MacHorton,Asim Palacius, Von Kreamer, Dr.Rinke Schrieke, Zoetmul der S.J. , Dr.A.Johns, dll. Tak terhitung banyaknya 1]. Padahal studi tetang walisongo, menurut Dr.A.Johns adalah bagian dari studi tentang sejarah islam Indonesia yang benar-benar didokumentasikan olah catatan-catatan, yang harus hati-hati dihubung -hubungkan dengan latar belakang sosial ekonomi, merupakan suatu lapangan riset yg dpt menyinari alam pemikiran & peri kehidupan bangsa Indonesia sendiri 2].

Catatan kaki :

1] Dr.HAMKA, Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalannya, hal.1.

2] Dr.A.Johns, Mistik Islam dan Penulisan Sejarah di Indonesia, hal.5.

 

(Diketik ulang dari buku “Mengislamkan Tanah Jawa”, Widji Saksono, penerbit MIZAN, cetakan III, sya’ban 1416H / Januari 1996).

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: