Meluruskan Persepsi Tentang Wali

Masyarakat secara umum biasanya menggambarkan bahwa seorang yang dikatakan sebagai wali adalah mereka yang memiliki kesaktian, dan keajaiban yang tidak dipunyai oleh kebanyakan orang. Anggapan seperti itu terus melekat sehingga menjadikan seseorang yang dianggap ‘wali’ tadi sebagai barometer kebenaran. Apapun yang dikatakan mesti benar, segala tindakannya benar dan tak mungkin salah. Bahkan ketika sang ‘Wali’ melakukan tindakan yang haram pun, pengikutnya tetap menganggap halal dan tetap berkata sami’na wa ato’na (kami dengar dan kami taat). Ketika sang wali telah jelas-jelas salah, pengikutnya pun segera mentafsirkan tindakan wali tadi agar tampak selalu benar. Subhanallah.

Fenomena wali ini sebenarnya telah secara panjang lebar diungkapkan oleh para ulama. Para ulama telah membedah dan membongkar siapa sebenarnya wali. Manakah yang wali beneran dan manakah yang wali gadungan. Karena memang wali itu ada dua kelompok, yaitu wali Allah dan wali syaitan. Yang perlu diketahui di sini siapakah sebenarnya wali Allah itu ? Dan siapa pula wali syaitan sehingga tak salah pasang, menempatkan wali syaitan bukan pada kedudukannya, atau sebaliknya.

Tentang wali Allah, Al Quran menegaskan :”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan selalu bertaqwa”. (QS Yunus : 62-63)

Ayat di atas mengandung pengertian , bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman, bertaqwa dan menjauhi maksiat. Ketakwaan seorang dengan sendirinya akan terlihat dari perilaku kesehariannya, yang selalu menjaga batas-batas yang Allah tentukan. Menjaga tangan dari menganiaya orang, menjaga mulut dari menfitnah, mencela, menuduh dan menjaga seluruh anggota tubuh yang lain dari kemaksiatan. Wali Allah tak mau menghalalkan yang diharamkan oleh Allah, dan tidak mau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Ia adalah seorang yang bertauhid bersih yang tidak mau berdoa dan beribadah kepada selain Allah.

Kewalian itu memang benar adanya, namun tidak terjadi kecuali pada hamba Allah yang taat, taqwa. Wali tak bisa diraih oleh mereka yang selalu berbuat maksiat, apalagi mensekutukan Allah. Ia tak bisa diraih dengan warisan (turun temurun), namun ia diperoleh dengan prestasi dalam hal iman dan amal shalih. Persepsi sebagian manusia Wali adalah orang yang mengetahui hal-hal yang ghaib. Padahal ilmu ghaib adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh Allah semata, dan kadang Dia tampakkan sebagiannya kepada para rasul-Nya, bukan kepada yang lain. “Dia yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang Dia kehendaki ” (QS Al Jin : 26-27)

Orang yang tak beriman, atau fasik , tidak bertaqwa mereka bukanlah wali Allah, bahkan itulah wali syaitan. Apakah kita selama ini telah salah menilai ….?

http://al-madina.s5.com/Serbaserbi/Meluruskan_Persepsi_Tentang_Wali.htm

Abangan :
Kebanyakan orang Jawa sekarang beragama Islam dan minoritas beragama lain. Walau pun ma yoritas orang beragama Islam, agama Islam yang dilakukan di Jawa punya perbedaan dari agama Islam yang dilakukan di Timur Tengah. Agama Islam di Jawa di campurkan dengan kepercayaan lain yang asli Jawa, yaitu kepercayaan animisme dan kepercayaan dari kerajaan Hindu-Budha. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Cliford Geertz, masyarakat Islam Jawa bisa dipisahkan ke dalam tiga kelompok, yaitu Santri, Priyayi dan Abangan. Orang San tri digambarkan sebagai orang yg melakukan agama Islam secara ortodoks dan adalah orang rajin dengan ritual-ritual agamanya. Orang Priyayi digambarkan sebagai orang yang masih punya kepercayaan dari kerajaan Hindu-Budha dan kepercayaan ini dicampurkan sama agama Islam. Orang Abangan digambarkan sebagai orang yang masih beragama Islam, namun agamanya dicampurkan sama kepercayaan animisme. Sejak Clifford Geertz menerbitkan buku ‘The Religion of Java’ dia menerima banyak kecaman dari ahli anthropologi yang lain, kalau teori Geertz benar atau tidak bahwa dari pengalaman saya kebanyakan orang di Jawa kalau beragama baik Islam, Kristen atau yang lain, mereka masih punya kepercayaan asli Jawa. Istilahnya ‘kejawen’. Adapun kebanyakan kepercayaan masyarakat Jawa terhadap gunung asli dari kepercayaan animisme dan agama Hindu-Budha.

[Oleh : Dylan Walsh, peneliti berbagai aliran kepercayaan di Jawa]

http://www.acicis.murdoch.edu.au/hi/field_topics/dylan.html
note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

Iklan

One Response to Meluruskan Persepsi Tentang Wali

  1. anti bioenergi berkata:

    anda ingin tahu penipuan bioenergi center, kunjungi http://bioenergicenter.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: