Keorganisasian dan Sarana Dakwah Walisongo

 

Kalau berita tentang walisongo dikumpulkan dan dipelajari, misalnya yang terda pat dalam “Walisana” dan dari primbon milik Bp.KHR.Moh.Adnan, maka didapat suatu kesimpulan, bahwa semua wali (kecuali Siti Jenar) merupakan organisasi, mirip sebuah kabinet dengan tugas khusus mengislamkan masyarakat Jawa. Karena setiap wali ternyata telah diberi tugas sendiri-sendiri. Sunan Ampel misalnya, bertugas menyusun aturan-aturan syariat Islam. Sunan Gresik mengubah pola dan motif batik, lurik dan perlengkapan kuda. Sunan Maja Agung menyempurnakan masakan, makanan, usaha dan peralatan pertanian serta barang pecah belah. Sunan Gunung Jati memperbaiki doa mantra (pengobatan batin), firasat, jampi-jampi (pengobatan lahir) dan hal-hal yang berkenaan dengan urusan pembukaan hutan, transmigrasi atau pun pembangunan desa baru. Sunan Giri menyusun peraturaan-peraturan tata kerajaan, tata istana, aturan protokoler kerajaan Jawa, mengubah perhitungan bulan, tahun, windu, masa dan memulai pembuatan kertas. Sunan Bonang menciptakan serba-serbi gamelan, lagu dan nyanyian. Sunan Drajat mengubah bentuk rumah, alat angkut (tandu, joli, dll). Sunan Kalijaga berkreasi pada lagu, langgam, nyanyian, serta gending sebagaimana Sunan Bonang. Sunan Kudus mengubah bentuk persenjataan, peralatan pertukangan besi dan emas, serta menciptakan pedoman pengadilan dan perundang-undangan yang berlaku bagi orang Jawa.

Para wali ini merupakan satu kesatuan, terbukti kesembilan wali itu sering berjumpa dan mengadakan rapat merundingkan berbagai hal sehubungan dengan tugas dan perjuangannya. Lebih jelas lagi, dalam kitab “Walisana” diberitakan tentang maksud berkumpulnya para wali itu antara lain merundingkan soal-soal agama, dan Sunan Giri sebagai ketuanya. Di samping itu, diselenggrakan pula forum berkumpul untuk membahas masalah politik. Para wali ini memiliki sifat yang teratur, tertentu dan kontinyu. Dari “Walisana” dapat dikumpulkan adanya fungsi masing-masing wali, yaitu Sunan Ampel sebagai guru ketua, Sunan Giri sebagai jaksa kepala, Sunan Ngudung dan Sunan Kudus sebagai panglima, Sunan Bonang untuk urusan keagamaan, Sunan Kalijaga sebagai diplomat. Relevan dengan kondisi ini, ternyata walisongo berada dalam suatu pimpinan dan susunan kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa peristiwa, bahwa ketika Sunan Ampel masih hidup, beliaulah yang dituakan oleh para wali dan diakui pula bahwa beliau berfungsi sebagai pimpinan atas seluruh masyarakat Islam (di Jawa) ketika itu. Setelah Sunan Ampel wafat, kepemimpinan atas walisongo dan masyarakat Islam itu ganti dipegang oleh Sunan Giri dan Sunan Bonang dengan pembagian kekuasaan yang terperinci.

Walisongo telah bekerja keras, teratur dan tanpa pamrih. Sebagaimana pernah di ucapkan oleh Sunan Kalijaga di hadapan Adipati Pandanarang. Dalam ucapan tersebut terasa sekali sikap dan perasaan ikhlas, tidak mengharap imbalan apa pun, sepenuhnya lillahi ta’ala dalam perjuangan menegakkan agama Islam. Hal ini selaras dengan ketulusan nabi Nuh as. sebagaimana disebut dalam (QS. Hud (11) : 29., yang artinya ,” Dan (dia berkata) :”Wahai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku, upahku hanyalah dari Allah..”.

Melihat nama-nama walisongo tetap tersimpan di hati dan terus dikenang, meski telah lama hilang dari pandangan mata, tidak mustahil kalau wali-wali itu memang ulama dan mukhlis sebagaimana penyifatan yang diberikan oleh Ali ra. tentang ulama yang lestari di hati ummat :”Para ulama adalah permata, tak berlalu waktu tanpa kemilaunya yang abadi, jejaknya selalu membekas di hati”. Ulama yang dikehendaki beliau adalah para juru dakwah sekaligus ulama ‘amilin, sebab memang hanya da’i yang sepi dari pamrih duniawi yang meresap merasuk nasehat dan bekas-bekasnya di hati ummat. Hanya hati yang dapat bertemu dengan hati.

Di samping forum walisongo secara efektif sebagai suatu organisasi dan sarana dakwah, para wali menggunakan alat (baik yang bersifat psikologis maupun material). Dalam dakwahnya, terbukti bahwa mereka tidak melupakan faktor dan gejala-gejala psikologis. Segi psikologis ini mereka perhatian dan mereka manfaatkan guna menyiasati masyarakat yang mejadi sasaran dakwah. Patut dicatat, Syaikh Ali Mahfudz dalam bab Ushulud Dakwah menyatakan, bahwa menurut tuntunan rasul, dakwah harus dibina di atas empat dasar pokok , yakni :

Al Huluj Balaghah (alasan yang tepat), Al Asalibul Hakimah (susunan kata yang bijak dan penuh hikmah), Al Adabus Samiyah (sopan santun yang mulia), dan As Siyasatul Hakimah (siasat yang bijak). Terbukti dakwah yang disampaikan walisongo juga dibina menurut tuntunan rasul. Bahwa di samping mendasarkan argumen secara rasional, mudah diterima akal dan juga dengan prinsip emosional bersesuaian dengan cita-cita manusia, yakni mengetuk hati. Maka tidak jarang pula para wali itu mendasarkan pelakanaan dakwahnya dengan unik, yaitu dengan dalil argumentasi aksiomatik yang secara otomatis sangat jitu. Misalnya para wali melakukan kisas atas Syiakh Siti Jenar yang sangat bid’ah, musyrik, ibahiyah, absurd, dan sangat berbahaya bagi usaha pengislaman rakyat yang masih sangat muallaf ) baru saja menerima islam) dan mudah diselewengkan itu, para wali mengubur jenazah Siti Jenar begitu rahasia, sampai-sampai Sultan Demak sendiri tidak tahu hal ihwal yang sebenarnya. Jenazah itu kemudian diganti dengan bangkai anjig yang kurus, merah, kudisan dan menjijikan, bangkai tersebut diletakkan dalam keranda. Hal ini berguna sebagai tamsil, peringatan atas diri sultan dan juga bagi masyarakat awam yg sangat menaruh perhatian dan tertarik kepada ajaran Siti Jenar. Maksud dari penggantian bangkai anjing itu, agar masyarakat menyimpul sendiri, hingga membenarkan ajaran walisongo, dan membenci ajaran Siti Jenar, itulah akibatya bila mengikuti ajaran Siti Jenar. Itulah laknat yg akan terjadi bila mengikuti kesesatan.

Demikianlah para wali itu berhasil menarik publik ke arah pemahaman sunni,dan menjauhkn ajaran bid’iy dan sesat. Sukses ini terjadi secara merata di dalam wilayah daerah kerajaan Demak. Bahkan para wali telah berhasil mempengaruhi Sultan Demak, sehingga menggantungkan “jenazah Siti Jenar” itu di perempataan jalan yang ramai. Maklumat ini disertaai ancaman lengkap ibarat nasib malang yang akan menimpa dan menjadi bagian bagi setiap orang yang berani menghina agama dan berlaku bid’ah seperti Siti Jenar. Nasib yang malang dan hina itu adalah di dunia akan dipidana oleh raja dengan hukum kisas dan di akherat kelak akan mendapat kehinaan dari Allah SWT dijadikan anjing kurus kudisan, dan bukan manusia lagi, karena berani-beraninya menyekutukan Tuhan. Inilah suatu dosa syirik yang tak terampunkan dan tak tertobatkan.

Sebagai bukti-bukti uslub yang bijaksana terlihat dalam pelaksanaan dakwahnya, walisongo menciptakan lambang-lambang, simbol, rumus, dan semboyan yang dapat menarik orang ke dalam Islam. Mereka ciptakan kidung-kidung sebagai nyanyian agama, mereka ubah mantra-mantra dan do’a sesuai agama Islam, yang mana harus di awali dengan basmallah dan diakhiri dengan illa’. Para wali itu juga memasyara katkan ungkapan interjeksi untuk peristiwa penting, mendadak atau mengharukan, misalnya lafadz “La ilaha illallah” dibaca senantiasa supaya hidup bahagia dunia akherat. Atau “Inna lillaahi wa inna ilaihi roji’un” sebagai bacaan saat-saat kecewa, kehilangan, kesusahan, dan kematian. “La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyil ‘adizm “ bila ada tindak laku yang tidak baik. Sesuai dengan tuntunan bagi seorang juru dakwah, para wali memiliki adab sopan santun yang tinggi. Adab santun dan prestise diri tampaknya memang sangat dijaga para wali. Karena memperhatikan prestise diri inilah rupanya, maka mereka berhasil menjadi sangat bergengsi, sehingga tercipta husnudzon (kesan yang baik) dari masyarakat. Masyarakat tidak mempersoalkan panjang lebar lagi dakwah mereka, tetapi selalu membuka jiwanya untuk menerima dengan baik semua ucapan dan dakwah para wali, karena mereka percaya kepada apa yang dibawa para wali. Gengsi/prestise mereka peroleh dengan jalan-jalan mulia. Terhadap khawas (khusus spt raja, adipati, dsb) mereka pakaikan adab sopan santun yg berpatutan bagi orang-orang terhormat), ditetapkan demikian, mengingat riwayat misalnya Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan kawan-kawan menghadap Adipati Arya Damar di Palembang, dan ketika mereka menghadap Prabu Brawijaya di Majapahit. Dalam peristiwa tersebut beliau berperilaku sangat sopan, halus tutur kata, manis budi dan tetap tawadu’.

Wallahu ‘alam.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, pen.Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: