Karya Dakwah Walisongo

Ada beberapa aspek khusus yang penting untuk ditinjau ulang agar hikmah kehadiran walisongo dapat lebih dimengerti dalam konteks lebih luas. Aspek tersebut antara lain adalah masalah keimanan, takwa, akhlaq dan amalan, penilaian sunnah dan bid’ah, ajaran dan sumber dakwahnya, serta sukses dan ekses keberadaannya.

Dengan tinjauan itu, kita dihadapkan pada rangkaian pertanyaan tentang ‘apakah iman dan takwa ini terdapat teguh di hati sanubari mereka untuk dapat dijadikan alasan bahwa walisongo memang memenuhi syarat Al Qur’an dan hadits yang diperlukaan bagi seorang wali ?’. ‘Adakah keimanan dan takwa ini menghiasi diri pribadi mereka, sehingga cukup alasan bahwa kegigihan dakwah mereka itu betul-betul merupakan hidayah, karomah atau malah istidraj ?’. ‘adakah ajaran-ajaran, madrasah, madzab, aliran pikiran mereka termasuk sunni atau malah bid’ah ?’. ‘Sesuai dgn tuntunan kitabullah & sunnah rasul, serta teladan salafush sholeh dan ijma’ mereka ?’. ‘Apakah kehadiran mereka termasuk sukses atau malah menimbulkan ekses ?.

Al Qur’an surat Yunus (110) ; 62-63 memberi ta’rif atau definisi dan syarat-syarat wali-wali Allah, adalah orang-orang yang tidak takut, dan tidak berduka cita, yaitu orang-orang beriman dan bertakwa kepada Allah. Kriteria yang dijabarkan pada ayat ini agaknya telah terpenuhi. Berita dan bukti sebagai saksi sejarah telah terpenuhinya syarat itu diantaranya adalah Masjid Agung Demak, dengan masjid itu membuktikan bahwa mereka ittiba’ (mengikuti) sunnah rasulullah sebagaimana dalam pendirian masjid Quba sebagai langkah pertama sebelum langkah berikutnya dilaksanakan. Ditinjau dari kitabullah, masjid tersebut tidak lain adalah lambang bakti dan takwa kepada Allah SWT. Dalam surat At Taubah (9) : 18 dinyatakan, bahwa hanya orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian sajalah yang memakmurkan masjid Allah, serta tetap mendirikan sholat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Dan dalam ayat 108 surat yang sama dinyatakan, bahwa masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama adalah lebih patut bagi kita untuk sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyertai orang-orang yang bersih. Dalam kebisuannya, masjid Demak warisan mereka menjadi saksi atas ketak waan walisongo. Di samping itu, ucapan Sunan Kalijaga kepada Adipati Pandanarang ketika ia memohon berguru ilmu agama mengisyaratkan pula pancaran takwa dan bakti wali ini kepada Ilahi. Sunan Kalijaga berkata lembut,”Saya minta empat tanda bukti bahwa tuan betul-betul berniat berguru kepadaku, yakni : ibadahlah selama hidupmu, tegakkan iman, Islamkan (dakwahkan) penduduk Semarang, dirikan Jama’ah Islamiyah, ajak umat mendirikan sholat dengan bedug dan langgar (surau). Adapun syarat ke empat, zakatlah tuan dengan ikhlas. Itulah kewajiban bagi si kaya..”.

Adapun berkenaan dengan ‘pradondi ing kiblat’ (perbedaan pendapat antar para wali tentang arah kiblat) saat mendirikan masjid Demak, dapat dijelaskan sebagaimana keterangan yang diberikan oleh Prof.Tahir Abdul Mu’in (penulis ‘Ikhtisar Tau hid’), “Masalah pradondi itu jangan ditakwilkan secara jauh dulu selama masih ada tafsir yang lebih mendekati. Kita menafsirkan, bahwa pradondi kiblat yang dimaksud memang benar kiblat arah sholat. Perbedaan pendapat mengenai arah kiblat itu mengisyaratkan ketelitian para wali berpegang pada ketentuan syari’ah. Tentu walisongo, terutama Sunan Giri yang masyhur dan terbukti sebagai ahli ilmu falak itu hendak memberi teladan mutasyaddid (serius) dalam perkara syariat. Sebab jika tidak begitu, tentu dengan ilmu yang dimiliki mudah saja menetapkan arah kiblat. Mereka berdebat masalah arah kiblat adalah contoh ketelitian dan sikap hati-hati. Prof.Mu’in berpendapat, masjid dan kiblat terdapat qarinah (bahan perenungan) yang lebih dekat untuk ditafsirkan daripada ditakwilkan, bahwa yang diperdebatkan oleh para wali itu adalah ‘kiblat majazi’ (Negara Islam). Kalau pun hendak ditakwilkan, kata Prof.Mu’in, bukan pada soal kiblatnya, tetapi cerita ‘ana kang ngoyog mangetan, sawiji datan rembag, masjid ingoyoq mangidul, daredah rembaging wuntat’. Ada yg menggeser masjid itu ke arah timur, yg satu tiada sepakat, lalu menggeser ke arah selatan, demikian seterusnya). Cukup itu saja yg harus ditakwilkan. Yakni, bahwa masjid disitu bukan berarti masjid hakiki, melain kan masjid yang belum jadi, masjid fidz dzinni (abstraksi) di saat masih dalam ide (gagasan) atau masih berupa maket.

Dengan takwil ini maka masuk akal bahwa masjid yang masih berupa maket itu menjadi bahan geser-geseran para wali untuk menghadapkan masjid ke arah kilbat. Lagi pula dengan takwil seperti ini tidak perlu diributkan lagi masalah perbedaan waktu yang disebutkan dalam ‘Babad Demak’ yang menyatakan bahwa masjid itu selesai dibangun pada tahun ‘lawang trus gunaning janma’ (1399 th.saka), sedang dalam piagam masjid itu sendiri dinyatakan berdiri pada 1428 th.saka. Dengan takwil gaya Prof.Mu’in, itu bukan suatu yang aneh atau mustahil, karena maksudnya adalah pada 1399 th.saka yg jadi baru maketnya, sedang pada 1428 th.saka (29 tahun kemudian) adalah masjid yang sebenarnya sudah berdiri.

Dalam ‘Walisana’ (IV : 5-7) disebutkan, bahwa ada tiga orang calon walisongo, yaitu : Raden Rahmat, Raden Santri Ali, dan Raden Alim Abu Hurairah. Ketiganya ini saat melihat tarian Bedaya Serimpi yang dimainkan seorang wanita cantik saja sudah ber-ta’awudz (berlindung kepada Allah dari segala godaan Syetan), dan mesti dijauhi. Inilah gambaran akhlaq yang tercermin, padahal mereka baru tercatat sebagai calon walisongo. Maka bisa dibayangkan bagaimana akhalaq para wali itu.

Sunan Giri adalah wali raja yang kaya raya, namun dalam tindakan kesehariannya terlihat sekali kalau beliau amat tawakal, sabar, wara’, pemurah, ramah, dan masih banyak lagi akhlaqnya yang mulia. Sunan Kalijaga, lantaran suka mendalang wayang dan topeng (meskipun untuk tujuan dakwah), oleh para wali yang lain dinyatakan ‘ngetokaken’ (memamerkan) maksiat. Hal ini menunjukkan betapa telitinya para wali itu dalam menjaga akhlaq mulia.

Dalam hal ini, bila digunakan ukuran takwa sebagaimana disebut oleh Ibnu Taimiyah *), (sang pelopor kebangkitan pemikiran Kaum Muslim pada umumnya, dan kaum sufi pada khususnya ke pangkalan tauhid), maka kita menyaksikan bagaima gigih dan lurusnya Sunan Bonang dalam memberantas bid’ah. Hal itu terlihat dari sikap para wali ketika menghadapi penyelewengan Siti Jenaar yang zindiq dan syirik, karena ibahiyah, mulhid dan panteismenya itu.

Sedangkan tindakan amar ma’ruf nahi munkar dapat dinilai dari kesabaran, ketabahan serta ketelitian mereka dlm berjuang hendak menegakkan Negara Islam di Demak. Sikap ini juga terlihat pada peristiwa futuhat (ekspansi) penyebaran Islam ke daerah Jawa Timur. Dengan sangat terpaksa mereka menggunakan senjata melawan Sapit Urang Ranggaprana dan Raden Brawijaya VII. Peraang itu dipimpin langsung oleh Sunan Ngudung dan Sunan Kudus. Demikian pula ketika Sunan Gunung Jati dalam dakwahnya terpaksa berjihad melawan kerajaan hindu Pajajaran. Dalam semua perang ini tidak lain yang dapat dinyatakan terhadap mereka kecuali, bahwa walisongo benar-benar diilhami ruh Islam sepanjang ukuran pembaharu revolusioner Ibnu Taimiyah.

Sunan Bonang cukup mewakili sebagai gambaran apa saja yang diajarkan oleh walisongo, maka dengan membaca tulisan-tulisan beliau dalam Primbon I dan II, dapat ditetapkan bahwa walisongo termasuk ahlus sunnah yang dengan tegas dan konsekuen menentang bid’ah (culas, mengada-ada, tak sesuai sumber Islam). Mereka bergerak dalam barisan mujahid di bawah panji Al Ghazali dan Abu Syalimi demi tegaknya tasawuf sunni dan terhapusnya tasawuf bid’ah. Dengan berpedoman “Ihya Ulumuddin” karya Imam Ghazali, walisongo itu bermaksud menghidupkaan kembali agama Islam yg hampir mati di Nusantara ini. Mereka ikut memadukan tasawuf mistik dengan fiqih syara’ dalam suatu perpaduan yang selaras. Alasannya, kalau langsung masuk pelajaran tasawuf, bukan dimulai dari belajar fiqih, besar kemungkinan umat akan menjadi zindiq, karena mendekati Allah dengan meninggalkan fiqqih atau syariat dengan tidak memperhatikan tasawuf, hanya otak yang dipenuhi oleh kajian perkara halal-haram, sedang jiwa tetap kosong dan kasar. Perbuatan yang makruh dikerjakan karena hanya dinilai makruf hukumnya, sedang yang sunnah disia-siakan hanya karena dinilai sunnah hukumnya.

*) Ibnu Taimiyah antara lain berpendapat, bahwa seorang sufi adalah orang yg sangat giat menegakkan kebenaran. Tengah malam sholat tahajjud, siang hari mencari nafkah. Bila negara dalam keadaan bahaya oleh serangan musuh, ia bersedia masuk dalam barisan tentara, menempati posisi sesuai ketentuan komando. (Hamka “Mengembalikan Tasawuf ke Pangkalannya”)

Walisongo dalam perjuangannya berhasrat mengakhiri perselisihan hebat antara ulama fiqih dengan ulama sufi. Hal ini tercermin dari kitab Primbon I dan II yang ternyata sarat muatan fiqihnya. Dalam kitab tersebut dibahas antara lain tentang thaharah (bersuci), niyyat (niat), syahadat (persaksian), sholat, zakat, bahkan dalam bab haji dapat ditelusuri bahwa Sunan Kudus adalah amirul hajj. Dijelaskan pula mengenai masalah munakahat (pernikahan), beserta lembaga-lembaga sosialnya, penyusunan aturan perdata/adat-istiadat dalam keluarga dan sebagainya yang meliputi soal dan pasal-pasal tentang khitbah (peminangan); nikah-talak-rujuk; pembentukan usrah (unit keluarga) dan adapt-istiadat termasuk hadhanah (pengasuhan), perwalian, pengawasan serta fara’idh (hukum waris).

Kedua primbon tersebut memuat pula bab mu’amalah, antara lain mencakup jual-beli, perdagangan, perserikatan. Juga ada tentang tholabul ilmi (menuntut ilmu), jinayat dan siyasah (kriminal dan politik). Tak lupa pula tentang haid, qishas (kisas), ta’dzir termasuk perkara zina dan aniaya, ‘aqdiyah (hukum kontrak sosial) dan imamah (kepemimpinan), khilafah (sistim penyelenggaraan pemerintahan), jihad (perang keagamaan), kompetisi dan panahan, janji dan nadzar, perbudakan, perburuhan, penyembelihan, aqiqah, makan-makanan, masalah bid’ah, dll.

Tasawuf dibahas dengan perincian tentang ilmu jiwa seperti konsep tentang kebahagiaan, akhlaq. Dibahas pula mengenai nasalah tentang, estetika (keindahan), metafisika dan hubungan Tuhan dengan manusia. Ilmu kalam dibahas pula, baik secara umum maupun khusus. Tentang Allah disertai rangkaian pembahasan terhadap Al Qur’an, Rasul, Hari Akhir, Qadha’ dan Qadar.

Adapun sehubungan dengan tasawuf, pembahasannya meliputi ilmu jiwa dan konsep tentang kebahagiaan, akhlaq. Termasuk pula masalah estetika, metafisika dan hubungan Tuhan dengan manusia, dunia yang fana, ittihad, ittishal serta kasysyaf. Dilengkapi juga dengan pembahasan mengenai hulul dan wihdatul wujud. Soal tarekat, suluk, maqamat mencakup tema-tema mujahadah (berjuang sungguh-sungguh meniti jalan mendekat kepada Allah SWT), muhasabah (mawas diri),muraqabah (pendekatan diri), musyahadah (persaksian), syariat, hakikat, zuhud dan makrifat. Juga tentang tawakal, wara’ serta karomah.

Islamisasi masyarakat Jawa khususnya dan Indonesia bagian timur pada umumnya dapat dikatakan sebagian besar karena hasil dakwah dan perjuangan walisongo. Mustahil kiranya walisongo itu akan sukses dalam dakwah kalau sekiranya mereka tidak berbudi luhur, halus, lemah lembut & berhati ramah serta penyayang ummatnya sebagaimana dituntunkan Allah melalui rasul-Nya (kepada segenap kaum muslim) dalam QS. 3 : 159, yang artinya ,”Karena rahmat Allah jua engkau bersikap lemah lembut terhadap mereka, sekiranya engkau berlaku keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri darimu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam suatu urusan. Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakal kepada-Nya”.

Dalam Primbon Sunan Bonang yang cukup lengkap, telah mencakup pula masalah fiqih , tauhid dan tasawuf. Secara ringkas dapat dipahami, bahwa primbon itu telah di awali dengan basmalah, diikuti hamdallah, kemudian sholawat, maka penulis menerangkan maksud ditulisnya primbon, yakni menjelaskan masalah Ushul Suluk (meliputi ushuluddin, tauhid, tarekat, dan tasawuf), menurut ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab sunni Ihya’ dan Tamhid. Primbon itu mengajak sidang pembacanya kepada tauhid, sembari mencegah dari perbuatan syirik.

Dengan berpangkal pada dua kalimat syahadat, Sunan Bonang menguraikan ajaran-ajarannya, dengan menitik beratkan masalah ushul suluk menurut pemikiran Al Ghazali dan Abu Syakur As-Salimi. Jadi ushul suluk merupakan suatu gabungan uraian ushuluddin dan tasawuf atau tauhid ‘mistik’ yg masih dalam batasan ahlus sunnah wal jama’ah. Materi pembahasannya dengan kajian tentang Allah (Dzat, sifat dan Af’al-Nya), tentang hubungan manusia dan Allah. Tentang ru’yat Allah ditambah tanbih. Tanbih ini maksudnya sebagai peringatan agar senantiasa berbuat amal sholeh, dan berpegang teguh kepada syariat Allah.

Berikut ini sedikit kutipan primbon karya Sunan Bonang tersebut :

pa“Bismillaahir rahmaanir rahim. Wabihi nasta’inu, Al hamdu lillaahi robbil ‘alamiin. Washsholatu ‘ala rasulihi Muhammadin wa ashhabihi ajma’in … Nyan punika caritane Seh Al-Bari; tatkalanira apitutur dateng mitranira kabeh, kang pinitutu raken wirasaning ushul suluk, wedaling carita saking kitab Ihya’ ‘Ulumuddin (Al Ghazali) lan saking Tamhid antukira Seh Al-Bari (Syeikh Al Barri). Amemet ing tingkahing sisimpenaning Nabi Wali Mu’min kabeh. Mangka akecap Seh Al Bari, kang sinalametaken dening Pangerane, mitraningsun ! Sira kabeh den sami angimanaken wirasaning ashul suluk ing kawruhuna yen sira Pangeran asipat saja Sukma Maha Suci tunggalira tan ana padanira, kang Maha Luhur, mitraningsun !. Den sami amiarsaha, sampun sira sak malih, den sami aneguhaken, sampun sira gingsir idepira. Iki silapale tingkahing anakeni ing Pangeran. Asyhadu anla ilaha illallah wahdahu la syarikalahu, wa asyhadu anna muhammadan rasulullah …”

Pembahasan Sunan Bonang tentang Allah meliputi pendirian mengenai ajaran tauhid dan Ketuhanan yang benar, sesungguhnya sekedar merupakan terjemahan bebas kitab Ihya’ ‘Ulumuddin dan Tamhid ke dalam bahasa Jawa Tengahan. Dikemukakan pula bagaimana ajaran yang sesat tentang tauhid dan Ketuhanan. Ajaran sesat itu menurut Sunan Bonang akan mengakibatkan orang yang menganutnya menjadi kafir. Pembahasan terhadap kedua tema ini diutarakan dengan meliputi persoalan ma’rifat Dzat Allah , sifat Allah dan Af’al Allah. Menurut beliau, ajaran tauhid dan Ketuhanan yang salah dan mendapat julukan wong sasar (sesat), kafir, kufur, kufur ing patang madzab (kufur menurut empat madzab), dll. Disebutkan ada dua belas macam, yang termasuk sesat, data tersebut diambil Sunan Bonang dari Abdul Wahid Ibn Makiyyah.

Di dalam primbon itu pula terbukti, bahwa walisongo memasukkan ajaran-ajaran “manunggaling kawula-Gusti (bersatunya antara manusia dgn Tuhan), bathiniyah, karomaniyah, mutangi’ah (mu’tazilah), ‘Arabiyah (bersumber dari Ibnu Arabi penulis Futuhat Al Makiyyah dicurigai sebagai penyebar ajaran panteisme/wihdatul wujud) dll, sebagai ajaran sesat dan bertentangan dengan ushul suluk (tasawuf). “Iku Kupur ! (itu kufur !)”, kata Sunan Bonang.

Dari kitab tersebut terbukti Sunan Bonang telah bersungguh-sungguh untuk memelihara dua pilar utama dalam aqidah, yakni Pertama : Pengakuan akan Allah sebagai Khaliq Maha Esa dan Maha Mandiri sebagai dzat yang penuh kebebasan dan kekuasaan (asa tauhid). Kedua : pengakuan tentang adanya hak kemerdekaan bagi manusia sebagai pribadi yang utuh (hurriyah al syakhshiyyah al insaniyah). Dengan tegas Sunan Bonang menyatakan, bahwa Allah dan manusia sebagai dua kenyataan atau wujud yang masing-masing berdiri sendiri sebagai pribadi, tak mungkin lebur jadi satu.

Setelah uraian aqidah itu selesai, Sunan Bonang menutup primbonnya dengan satu tanbih agar sesama muslim saling bantu-membantu dalam suasana cita kasih, dan selalu menjauhkan diri dari kesesatan bid’ah. Hal itu terbukti dalam satu satu kalimatnya “ E,mitraingsun ! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam, lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah”.

Lalu beliau menyinggung pula masalah ru’yat Allah (melihat Tuhan), hal ini terlihat dari pernyataan “E, rijal ! tegesing ru’yat iku : Aningali ing Pangeran ing akherat lan mata kapala ing dunya lan mata ati”. (Wahai Ummat, arti ru’yat itu : melihat Allah di akherat dengan mata kepala, adapun di dunia melihatnya dengan hati”). Allah itu baru bisa dilihat saat di akherat, karena di akheratlah dica painya kesempurnaan penglihatan).

Tanbih dalam primbon tersebut mengisyaratkan , bahwa Sunan Bonang benar-benar menggolongkan dirinya dalam barisan ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu di samping mengutamakan soal-soal batin, seperti tasawuf, mistik dan akhlaq, beliau juga tidak melalaikan soal-soal lahiriah seperti syariat.

Primbon itu ditutup dengan kalimat “tammat carita cinitra kang pekerti pangera ning Sunan Bonang”, yang artinya “tamat sudah cerita buah karya Sunan Bonang”.

(sumber : Mengislamkan Tanah Jawa – Telaah Atas Metode Dakwah Walisongo, Widji Saksono, cet.III, sya’ban 1416H/1996M, penerbit Mizan)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 023/th.02/Jumada Al Awwal-Jumada Al Tsani 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: