Selalu Haus Akan Ilmu

Menuntut ilmu merupakan sebuah ibadat kepada Allah. Namun jika ilmu yang kita tuntut dan pelajari selalu berusaha merujuk kepada kalamullah yaitu Al-Qur’an dan Sunnah rasulullah, juga atsar para sahabat, maka pasti banyak sekali halang an dan rintangannya. Halangan itu datang dari jin yang asli atau pun jin dari kalangan manusia. Terkadang juga halangan itu datang dari kejelekan-kejelekan jiwa kita sendiri, karena jiwa lebih cenderung untuk melakukan kejelekan daripada melakukan kebaikan, dan itu harus dilawan, apapun bentuk halangannya agar tak sampai menghalangi kita dalam beribadah kepada Allah SWT. Ilmu yang kita tuntut merupakan sarana menuju jalan keselamatan, jalan yg pasti akan dijamin oleh Allah untuk kita, agar selamat di dunia dan akhirat. Apapun halangan dan siapapun yang menghalangi dalam menuntut ilmu, tetaplah istiqomah, karena hal ini merupakan salah satu wujud ketaatan dalam ibadah, dan wajib untuk kita taati.

Sangat wajar dan pasti jika seorang penuntut ilmu tersebut akan dihalangi dengan berbagai macam bentuk rintangan, baik dari pihak keluarganya, atau dia dihalangi oleh masyarakat atau kaum muslimin atau dari orang-orang yang selalu menginginkan kehidupan dunia, yang padahal dia tidak mendapatkan suatu apapun (sedikitpun tidak mendapatkan rasa kelezatan dunia tsb, karena itu semua hanyalah semu). Atau ditakut-takuti dengan kata-kata, ‘:Jika kita belajar ilmu, lantas apa yang kita makan nanti?”. Pemikiran-pemikiran seperti ini sudah merata di kalangan masyarakat, mulai dari kalangan bawah sampai dengan kalangan atas. Apalagi orang-orang kapitalis atau orang-orang materialistis (yang dalam otaknya hanya bertujuan mendapatkan materi/duniawi), yang mana untuk melihat sesuatu itu mereka batasi hanya terhadap hal-hal yg wujud, harus nampak oleh pandangan matanya, baru dia akan yakin. Tetapi kalau hal tersebut tidak nampak olehnya maka dia tidak akan menjadi yakin. Tetapi ilmu bukanlah begitu, ilmu itu merupakan cahaya dari Allah yang dihidayahkan dan dimasukkan ke dalam hati manusia.

Berkumpul dengan orang-orang yang bodoh dan selalu melalaikan untuk menuntut ilmu, akan menumpulkan akal pikiran untuk terus menimba ilmu. Namun bila kita berkumpul dengan orang yang lebih ‘alim maka insya’ Allah ilmu kita akan terus bertambah. Ilmu itu bukan seperti makanan untuk jasad, tetapi merupakan makanan untuk rohani, yang tidak pernah mengenyangkan orang, ‘ulama saja tidak pernah merasa kenyang akan ilmu. Kalau ada yg mengatakan ‘sudah kenyang’ terhadap ilmu, maka itu adalah iblis.

 

(Ta’lim tentang adab-adab di dalam menuntut ilmu oleh al Ustadz Dzul Akmal Lc, Pekanbaru , dari kitab : ” Annubzu fi Adabil Tholabil Ilmi ” karya Syaikh Hamad bin Ibrahim al-Uts man, cetakan IV / th 1425H/ 2004M, di terbitkan oleh Daar Ibn Hazm).

 

 

Lembut Dalam Menyampaikan Ilmu

Para penuntut ilmu agar menjauhi segala perangai yang tidak Islami, seperti perasaan terperdaya oleh apa yang telah diberikan kepada mereka berupa ilmu, dan janganlah terkalahkan oleh perasaan ujub terhadap diri sendiri. Hendaklah mereka menasehati manusia dengan cara yang terbaik, menghindar dari penggunaan cara-ca ra kaku dan keras di dalam berdakwah, karena Allah Jalla Jalaluhu berfirman.

“Artinya : Serulah manusia kejalan Rabbmu dengan hikmah dan peringatan yang baik , dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik …” [An-Nahl : 125]

Bahwa sesungguhnya Allah SWT tidaklah mengatakannya kecuali dengan kebenaran (al -haq) itu, terasa berat oleh jiwa manusia, oleh sebab itu ia cenderung menyombongkan diri untuk menerimannya, kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Maka dari itu, jika dipadukan antara beratnya kebenaran pada jiwa manusia plus cara dakwah yang keras lagi kaku, ini berarti menjadikan manusia semakin jauh dari panggilan dakwah, sedangkan kalian telah mengetahui sabda Nabi SAW telah bersabda. “Artinya : Bahwasanya di antara kalian ada orang-orang yang menjauhkan (manusia dari agama) ; beliau mengucapkan tiga kali”.

 

[dari : As-Salafiyah, edisi ke 5/Th 1420-1421. hal 41-48, judul asli “Hukmu Fiqhil Waqi’ wa Ahammiyyatuhu”. diterjemahkan oleh Mubarak BM Bamuallim LC dalam Buku “Biografi Syaikh Al-Albani Mujaddid dan Ahli Hadits Abad ini” hal. 127-150, Pustaka Imam Asy-Syafi’i.]

note : artikel di atas telah dimuat dalamm Labbaik, edisi : 029/th.03/Safar-Rabi’ul Awal 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: