Suka Mengeluh dan Kikir

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Bila ditimpa kesusahan berkeluh kesah, dan bila mendapat kebaikan amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya; dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak punya apa-apa (namun tidak mau memintanya), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka …..”. (Q.S. Al-Ma’arij, 19 -30) Salah satu sifat manusia yang tidak baik adalah suka mengeluh atau berkeluh ke sah. Begitu rupa keluhannya, sehingga tidak ada cerita yang menyenangkan selain keluhan. Tidak punya uang, mengeluh. Sakit sedikit, mengeluh. Masakan tak enak, mengeluh. Tidak bisa tidur, mengeluh. Anak menangis, mengeluh. Layanan istri ti dak memuaskan, mengeluh. Kehujanan, mengeluh. Kepanasan, mengeluh. Untung sedikit, mengeluh. Begitu seterusnya. Suka mengeluh itu merupakan sifat yang tercela. Mengapa ? Karena menunjukkan ia tidak mau menerima ketetapan dari Allah. Tidak mau mensyukuri karunia Allah. Padahal apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi para hamba-Nya, merupakan sesuatu yang terbaik bagi yang bersangkutan, betapa pun sangat pahit dirasakan. Ketetapan yang sangat pahit dirasakan itu bisa berupa kesulitan hidup, kemiskinan, penyakit, dan lain lain yang sejenis. Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :”Tiadalah musibah yang menimpa orang beriman, baik berupa sakit, sedih, susah, maupun terkena duri di kakinya, kecuali Allah akan menjadikannya sebagai tebusan (kafarat) atas perbuatan dosa yang telah dilakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).Pada riwayat lain disebutkan, bahwa Rasulullah bersabda :”Tiada seorang muslim yang terkena duri atau musibah yang lebih ringan dari itu, kecuali Allah mencatatnya sebagai suatu derajat yang tinggi di sisi-Nya, serta memberikan ampunan atas kesalahan yang telah diperbuatnya”. (H.R. Muslim)Ketetapan yang sangat pahit dirasakan itu, pada hakekatnya merupakan salah satu wujud kasih sayang Allah kepada yang bersangkutan. Karena dengan cara seperti itu, Allah akan memberikan derajat yang tinggi dan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukannya selama ini. Sehingga ketika menghadap ke hadirat-Nya nanti di Yaumil Hisab, atau Hari Perhitungan, akan menjadi ringan tidak dibebani oleh dosa-dosa yang dilakukan semasa di dunia. Oleh karena itu, sepatutnya manusia mau menerima semua itu dengan (1) lapang dada, seraya (2) introspeksi ke dalam dirinya , (3) bertaubat, dan (4) menyusun langkah-langkah ke depan dengan sebaik-baiknya agar tidak mengulang kembali kesalahan yang telah diperbuat sebelumnya. Suka mengeluh juga memperlihatkan sikap yang tidak optimis dalam menghadapi suatu kenyataan yang ada di depannya. Jika sikap ini dibiarkan terus akan membahayakan bagi yang bersangkutan. Dia menjadi skeptis, peragu dan pesimis, serta sulit untuk maju, karena sebelum melangkah yang tergambar dalam fikirannya adalah kesulitan demi kesulitan, bahkan kegagalan demi kegagalan. Oleh karena itu jauhilah sikap suka mengeluh dan berkeluh kesah.

Selain suka mengeluh, manusia juga kikir, pelit atau bakhil. Tidak mau menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Bila datang ajakan untuk bershodaqoh tidak mau menanggapi. Bila ada tromol di masjid atau majelis taklim tidak mau mengisi. Berbagai alasan dikemukakan untuk menghindarinya. Dia tidak sadar, bahwa semua harta benda yang ada pada dirinya, dan semua kenikmatan dunia yang direguknya, mengandung dua sisi yang saling berhadapan. Yaitu, benar-benar akan menjadi kebahagiaan bila dipergunakan dengan baik dan benar sesuai tuntunan Allah yang memberikan rezeki kepadanya.

Atau sebaliknya, berubah menjadi bencana karena digunakan tidak secara proporsional dan sembrono, seperti boros, royal, dan atau kikir alias pelit. Tidak mempedulikan kebutuhan atau kepentingan orang lain. Padahal di dalam hartanya itu terdapat bagian orang lain baik diminta atau tidak diminta. Mereka adalah orang-orang fakir miskin, orang-orang yang sedang dililit hutang (ghorimin), dan orang -orang yang berada di jalan Allah (fi sabilillah), dan lain lain. Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa harta yang ada pada dirinya itu adalah milik Allah. Dia hanya sekedar mendapat titipan, amanah untuk menjaganya dengan sebaik-baiknya. Dan kelak, Allah selaku Pemberi amanah, akan mengambilnya kembali dan meminta pertanggung-jawabannya. Kalau dia bisa mempergunakan amanah itu dengan baik dan benar, Allah tentu akan senang dan memberikan hadiah kepadanya, berupa keridhoan dan surga. Tapi sebaliknya, bila dia tidak bisa melaksanakan amanah itu dengan baik dan benar, tentulah Allah akan murka dan memberikan balasan yang setimpal atas kelakuan dia yang tidak amanah itu. Allah telah memberi-tahukan dalam Qur’an surat Asy-Syura 27 dan Al-Alaq 6-7, tentang sikap sebagian orang yang suka melampaui batas bila mendapatkan rezeki. Tidak mau mengeluarkan zakat, infaq atau shodaqoh, seperti Qorun yang berakhir dengan kehancuran pada dirinya dan seluruh harta bendanya. Lalu Tsa’labah yang di tolak zakatnya oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddieq dan Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu anhum, sampai akhirnya Tsa’labah sendiri meninggal dalam keadaan tertolak zakatnya. Padahal zakat adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim yang telah memenuhi ketentuan berzakat. Penolakan Rasulullah, disusul penolakan serupa dari Khulafaur-Rasyidin itu meru pakan isyarat, betapa beratnya hukuman yang bakal diterima Tsa’labah di akhirat, na’udzubillahi mindzalik. Apalagi dia sudah berjanji pada Nabi, kalau kaya akan berzakat. Dia juga telah berulangkali mendesak kepada Nabi agar didoakan menja di kaya. Allah Subhanahu wa-ta’ala berfirman :”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksaan yang pedih, pada hari dipanaskannya emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar bersama dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka :’Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan.” (QS. At-Taubah 34-35).

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda :”Barang siapa yang dianugerahi harta benda oleh Allah, lalu tidak mau berzakat, maka kelak di hari kiamat, harta itu akan menjadi ular jantan yang botak dan mempunyai dua taring. Ular tadi akan membelitnya lalu mematuknya sambil berkata :’Inilah aku hartamu, dan inilah aku harta simpananmu” (HR. Bukhari).

Sifat keluh kesah dan kikir merupakan sifat yang sangat tercela, karena itu haruslah kita buang sejauh-jauhnya.

Bagaimana caranya ? Allah selaku pencipta alam semesta memberikan jalan keluarnya, melalui firman-Nya sebagaimana dikutipkan pada permulaan tulisan ini, yaitu dengan cara :(1) Melaksanakan shalat secara tertib dan teratur, jangan sampai ada yang tertinggal, karena shalat itu merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan. Kemudian, lakukan shalat itu tepat pada waktunya, jangan ditunda-tunda karena besar sekali resikonya. Lalu dalam melaksanakan shalat, lakukan dengan khusyu’ dan tuma’ninah, sambil meresapi gerakan dan bacaannya ke dalam hati, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh berbagai bujuk rayu syaitan.(2) Menginfakkan sebagian dari hartanya untuk membantu fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan baik mereka itu meminta langsung maupun tidak meminta karena berbagai alasan. (3) Mempercayai dengan sepenuh hati terhadap adanya hari pembalasan yang datangnya merupakan suatu keniscayaan untuk mengadili dan membalas semua perilaku manusia hingga yang sekecil-kecilnya. Balasan yang diberikan Allah itu bersifat total dan mutlak. Bila mendapat balasan baik, maka surga yang tak terbayangkan nikmatnya oleh indra duniawi akan segera ditempati. Sebaliknya bila balasannya berupa keburukan, maka siksaan yang amat pedih melebihi pedihnya siksaan dunia, juga akan segera ditempati.(4) Menjaga pandangan mata sekaligus kehormatan dirinya agar tidak jatuh ke lembah kehancuran.(5) Menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, baik amanah yang diberikan Allah maupun amanah yang diberikan oleh sesama manusia.(6) Seiring dengan itu bersungguh-sungguh untuk memenuhi janji-janjinya, baik janji kepada Allah maupun janji kepada sesama manusia. (7) Jangan berlebihan dalam melakukan suatu perbuatan. Sedikit tapi berkesinambungan itu lebih baik katimbang berlebihan tapi cuma sekali saja.

Itulah solusi yang diberikan Penciptanya, Allah Rabbul Izati, untuk menghindari sifat-sifat buruk yang ada pada diri kita, berupa suka mengeluh dan kikir. Allahu a’lam bish-showab.

(oleh : H.Badruzzaman Busyairi)

http://www.muhajirien.or.id/mukaddimah/buletin/mi_edisi_99.htm

note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.

Permohonan Si Miskin dan Si Kaya

Nabi Musa AS memiliki ummat yang jumlahnya sangat banyak dan umur mereka panjang panjang. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Suatu hari ada seorang yang miskin datang menghadap Nabi Musa AS. Ia begitu miskinnya pakaiannya compang-camping, lusuh dan berdebu. Si miskin itu kemudian berkata kepada Nabi Musa AS, “Ya Nabi Allah, Kalamullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar Allah SWT menjadikan aku orang yang kaya. Nabi Musa AS tersenyum dan berkata kepada orang itu, “Saudaraku, banyak-banyaklah kamu bersyukur kepada Allah SWT”. Si miskin itu agak terkejut dan kesal, lalu ia berkata, “Bagaimana aku harus banyak bersyukur, aku makan pun jarang, dan pakaian yang aku gunakan hanya satu lembar ini !”. Maka si miskin pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya. Beberapa waktu kemudian seorang kaya datang menghadap Nabi Musa AS. Orang tersebut bersih badannya dan rapi pakaiannya. Ia berkata kepada Nabi Musa AS, “Wahai Nabiullah, tolong sampaikan kepada Allah SWT permohonanku ini agar dijadikannya aku ini seorang yang miskin, terkadang aku merasa terganggu dengan hartaku itu”. Nabi Musa AS pun tersenyum, lalu ia berkata, “Wahai saudaraku, tidakkah kamu bersyukur kepada Allah SWT.”“Ya Nabiullah, bagaimana aku tidak bersyukur kepada Alah SWT ?. Allah SWT telah memberiku mata yang dengannya aku melihat. Telinga yang dengannya aku mendengar. Allah SWT telah memberiku tangan yang dengannya aku dapat bekerja dan telah memberiku kaki yang dengannya aku dapat berjalan, bagaimana mungkin aku tidak mensyukurinya”, jawab si kaya itu. Maka si kaya itu pun pulang ke rumahnya. Yang terjadi kemudian adalah si kaya itu semakin Allah SWT tambah kekayaannya karena ia selalu bersyukur. Dan si miskin menjadi bertambah miskin. Allah SWT meng ambil semua kenikmatan-Nya sehingga si miskin itu tidak memiliki selembar pakaianpun yang melekat di tubuhnya. Ini semua karena ia tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. – (sumber : kisah teladan)

http://meorjay2.tripod.com/kisahteladan2.html#atas

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik edisi no.11/th.2/2005

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: