TINGKAT KEIMANAN KEPADA QADHA’ DAN QADAR

Pertanyaan :
“Apa itu Iman kepada Qadha’ dan Qadar ?”

Jawaban :
Iman kepada Qadar adalah salah satu dari enam rukun iman yang telah dijelaskan Rasulullah SAW kepada malaikat Jibril ketika bertanya tentang iman. Iman kepada Qadar adalah masalah yang sangat penting. Banyak orang yang telah memperdebatkan tentang Qadar sejak zaman dahulu, sampai hari inipun mereka masih memperdebatkan. Akan tetapi kebenaran masalah tersebut, walillah al-Ham, sangat jelas dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Kemudian yang dimaksud dengan iman kepada Qadar adalah kita mempercayai (sepenuhnya) bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, sebagaimana firman-Nya. “Artinya : Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sunggung telah menetapkannya” [Al-Furqaan : 2]
Kemudian ketetapan yang telah ditetapkan Allah selalu sesuai dengan kebijakan-Nya dan tujuan mulia yang mengikutinya serta berbagai akibat yang bermanfaat bagi hamba-Nya, baik untuk kehidupan (dunia) maupun akhiratnya.

Iman kepada Qadar berkisar empat tingkat keimanan :

[1]. Ilmu (Allah), yakni mempercayai dengan sepenuhnya bahwa ilmu Allah SWT meliputi segala sesuatu, baik di masa lalu, sekarang maupun yang akan datang, baik yang berhubungan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan hamba-Nya. Dia (Allah) meliputi semuanya, baik secara global maupun rinci dengan ilmu-Nya yang menjadi salah satu sifat-Nya sejak azali dan selamanya (tak ada akhirnya). Dalil-dalil tentang tingkatan ini banyak sekali. Allah telah berfirman :”Artinya : Sesungguhnya Allah tidak ada rahasia lagi bagi-Nya segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit” [Ali-Imran : 5]. Dia juga berfirman, “Artinya : Bagi-Nya kunci-kunci segala sesuatu yang gaib yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia. Dia mengetahui apa yang di darat dan di laut dan tidak ada sehelai daunpun yang gugur kecuali Dia mengetahui-Nya dan tidak ada satu benihpun di kegelapan bumi dan tak ada sesuatupun yang kering dan basah kecuali ada di dalam kitab yang jelas” [Al-An’am : 59].
Dia juga berfirman, “Artinya : Sesungguhnya Aku telah menciptakan manusia dan Aku mengetahui apa yang dibbisikkan hatinya” [Qaf : 16]. Dia juga berfirman, ”Artinya : Allah mengetahui segala sesuatu” [Al-Baqarah : 283]
Dan masih banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan pengetahuan Allah pada segala sesuatu, baik secara global maupun rinci. Dalam tingkatan ini barangsiapa yang mengingkari Qadar maka dia kafir, karena dia mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta ijma’ kaum muslimin dan meremehkan kesempurnaan Allah. Karena kebalikan ilmu adalah mungkin bodoh atau alpa dan keduanya berupa aib (cacat). Allah terlah berfirman tentang Nabi Musa ketika dia ditanya oleh Fir’aun. “Artinya : Maka apa saja yang telah terjadi di abad-abad terdahulu, dia (Musa) menjawab : Pengetahuan tentang itu di sisi Rabb-ku di dalam kitab yang Rabb-ku tidak akan salah dan alpa ( di dalamnya)” [Thaha : 51-51]
Maka Allah tidak akan bodoh terhadap sesuatu yang akan datang dan tidak akan melupakan sesuatu yang telah lewat.

[2]. Beriman kepada Allah telah menulis ketetapan segala sesuatu sampai terjadi hari Qiyamat, karena ketika Dia menciptakan Qalam, Dia berfirman kepadanya : “Tulislah”, kemudian dia (Qalam) berkata : “Hai Tuhanku, apa yang aku tulis ?”
Dia berfirman : “Tulislah (dalam hadits yang lain. “Tulislah taqdir segala sesuatu hingga hari kiamat”) semuanya yang terjadi”, kemduian dia (Qalam) seketika berjalan menulis segala sesuatu yang terjadi sampai hari Qiyamat. Maka Allah telah menulis di Lauh Mahfudz ketetapan segala sesuatu. Tingkatan ini telah di tunjukkan oleh firman Allah. “Artinya : Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesung guhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah” [Al-Hajj : 70].
Allah juga berfirman. “Sesungguhnya itu semua berada dalam kitab”, artinya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz). (Sesungguhnya semua itu sangat mudah bagi Allah). Kemudian penulisan tersebut terkadang bersifat rinci. Maka janin yang ada di perut ibunya bila melewati umur empat bulan, maka Allah mengutus malaikat kepadanya dan mengutusnya membawa empat kalimat, yaitu menulis rizki, ajal, perbuatan, celaka atau bahagia, sebagaimana tertuang dalam hadits shahih Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di tulis juga di dalam Qadar apa saja yang terjadi dalam tahun itu. Sebagaimana Allah berfirman, “Artinya : Sesungguhnya Aku telah menurunkan pada malam yang berkah, sesungguhnya Aku memberi peringatan di dalamnya tentang perbedaan sesuatu yang mengandung hikmah, sebagai perintah dari-Ku, sesungguhnya Aku Rabb Yang Mengutus” [Ad-Dukhan : 3-5].

[3]. Beriman bahwa segala sesuatu yg ada di alam ini disebabkan kehendak Allah. Segala sesuatu yang ada di alam ini terjadi karena kehendak Allah, baik yang dilakukan oleh-Nya maupun oleh mahkhluk. Allah telah berfirman, “Artinya : Dia (Allah) melakukan apa yang Dia kehendaki” [Ibrahim : 7]. Allah juga berfirman, Artinya : Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya” [Al-An’am : 149]. Dia juga berfirman, “Artinya : Kalau Rabb-mu menghendaki maka Dia menjadikan umat manusia menjadi umat yang satu” [Hud : 118]. Dia juga berfirman, “Artinya : Bila Dia (Allah) menghendaki maka Dia memusnahkanmu dan mengadakan penciptaan yang baru” [Fathir : 16].
Dan masih banyak lagi ayat yang menunjukkan bahwa perbuatan-Nya terjadi karena kehendak-Nya. Begitu juga segala perbuatan makhluk terjadi dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman Allah, “Artinya : Kalau Allah menghendaki, maka tidak terjadi saling bunuh di antara orang-orang setelah mereka datang penjelasan kepada mereka, akan tetapi mereka berselisih ; sebagian mereka beriman dan sebagian kafir. Dan apabila Allah menghendaki maka mereka tidak saling membunuh, akan tetapi Allah melakukan apa saja yang Dia kehendaki” [Al-Baqarah : 53]. Ini adalah nash (teks Al-Qur’an) yang sangat jelas bahwa semua perbuatan hamba telah dikehendaki Allah dan apabila Allah tidak menghendaki mereka untuk melakukannya maka mereka tidak akan melakukan.

[4]. Beriman bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, Maka Allah adalah Maha Pencipta dan selain-Nya Dia adalah makhluk. Segala sesuatu, Allah-lah penciptanya dan semua makhluk adalah ciptaan-Nya. Jika segala perbuatan manusia dan ucapannya termasuk sifatnya, sedangkan manusia itu makhluk, maka sifat-sifatnya juga makhluk Allah. Hal itu ditunjukkan oleh firman Allah, “Artinya : Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat” [As-Safat : 96]. Dengan demikian, Allah telah menetapkan penciptaan manusia dan perbuatannya. Allah juga berfirman : “Wa ma ta’malun” (dan apa saja yg kamu perbuat). Para ulama berselisih pendapat tentang kata “ma” (apa saja), apakah dia berupa “ma masdhariyah” (sehingga tidak bermakna) atau “ma maushulah” (sehingga bermakna apa saja).

Berdasarkan dua perkiraan di atas (ma mashdariyah atau ma maushulah), maka ayat tersebut tetap menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah. inilah keempat tingkatan keimanan kepada Qadar yang harus diimani, tidak sempurna keimanan seseorang terhadap Qadar kecuali dengan mengimani keempat-empatnya.

Kemudian ketahuilah bahwa iman kpd Qadar tidak berarti menghilangkan pelaksanaan sebab, bahkan melaksanakan berbagai sebab merupakan perintah Syari’ah. Hal itu dpt tercapai karena Qadar, krn bebagai sebab akan melahirkan musabab (akibat). Oleh karena itu, Amirul Mu’minin, Umar bin Khaththab, ketika pergi menuju Syam, di tengah perjalan dia mengetahui bahwa telah menyebar wabah penyakit disana. Kemudian para sahabat bermusyawarah ; apakah perjalanan ini diteruskan atau kembali pulang ke Madinah ? Maka terjadilah perselisihan pendapat di antara mereka ; kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke Madinah. Ketika beliau (Umar) sudah mantap pd pendapat tsb, maka datanglah Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarah sembari berkata : Hai Amirul Mu’ minin, mengapa anda kembali ke Madinah ; lari dari Qadar Allah ?” Umar menjawab : ” Kami lari dari Qadar Allah menuju Qadar Allah”.

Kemudian setelah itu datang Abdurrahman bin Auf (dia sebelumnya tidak ada di situ untuk memenui kebutuhannya), kemudian dia menceritakan bahwa Nabi pernah bersabda tentang wabah penyakit, “Artinya : Bila kamu sekalian mendengar terjadinya wabah penyakit di bumi tertentu, maka janganlah kamu mendatanginya”. Kesimpulan perkataan Umar “lari dari Qadar Allah menuju Qadar Allah” itu merupakan dalil bahwa melaksanakan sebab juga termasuk Qadar Allah. Kita tahu bahwa apabila seseorang mengatakan ” saya beriman kepada Qadar Allah dan Allah akan memberiku seorang anak dengan tanpa istri”, maka orang tersebut dapat dikatakan gila. Begitu juga bila dia mengatakan “saya beriman kepada Qadar Allah dan saya tidak akan berupaya mencari rizki dan tidak melaksanakan sebab-sebab mendapatkan rizki”, maka dia adalah dungu. Maka iman kepada Qadar tidak berarti menghilangkan sebab-sebab syar’iyah atau ikhtiar yang benar. Adapun sebab-sebab yang berupa prasangka yang dianggap palakunya sebagai sebab padahal bukan, maka hal itu di luar perhitungan dan tidak perlu diperhatikan.

Kemudian ketahuilah bahwa adanya kesulitan dalam mengimani Qadar (padahal sebenarnya tidak sulit), yaitu pertanyaan seseorang : “Apabila perbuatanku dari Qadar Allah, maka bagaimana saya harus menanggung akibatnya sementara semua itu dari Qadar Allah ?”. Jawabannya : Hendaknya dikatakan kepadanya kamu tidak bisa beralasan malakukan ma’siyat dengan Qadar Allah, Karena Allah tidak memaksamu untuk melakukannya dan ketika kamu dihadapkan kepadanya (ma’siyah) kamu tidak tahu bahwa hal itu ditakdirkan untukmu. Karena manusia tidak mengetahui apa yang ditakdirkan kepadanya kecuali setelah terjadi. Karena itu, kenapa kamu tidak memperkirakan sebelum berbuat bahwa Allah telah mentakdirkan ketaatan kepadamu, sehingga kamu melaksanakannya ? Begitu juga dalam hal duniawi, kamu melakukan sesuatu yang kamu anggap ada kebaikannya dan menghindari yang kamu anggap berbahaya. Maka mengapa kamu tidak bersikap demikian dalam urusan akhirat ? Saya tidak yakin jika ada seseorang yang sengaja menempuh jalan yang sulit lalu dia berkata : “Ini telah ditakdirkan untukku, bahkan tentunya dia akan menempuh jalan yang paling aman dan mudah. Tidak ada perbedaan antara hal ini dengan perkataan yang diarahkan kepadamu bahwa Jannah mempunyai jalan dan Neraka juga mempunyai jalan. Maka bila kamu menempuh jalan menuju Neraka, maka kamu bagaikan orang yg menempuh jalan yang mengkhawatirkan dan mengerikan. Maka mengapa kamu merelakan dirimu menempuh jalan menuju Neraka Jahim ; meninggalkan jalan menuju Jannah Na’im ? Kalau saja manusia boleh beralasan dengan Qadar tatkala melakukan ma’siyat, maka tentunya tidak ada gunanya diutusnya para rasul.

Allah telah berfirman, “Artinya : Aku telah mengutus para rasul yang memberi berita gembira dan memberi peringatan agar manusia tidak mempunyai alasan kepada Allah setelah para rasul” [An-Nisa’ : 165]. Ketahuilah bahwa iman kepada Qadar memiliki buah yang agung bagi perjalanan manusia dan hatinya, karena apabila kamu beriman bahwa segala sesuatu terjadi karena Qadha’ dan Qadar Allah, maka ketika dalam kelapangan kamu akan bersyukur kepada Allah dan tidak membanggakan diri dan tidak melihat bahwa semua itu hasil kemampuan dan keutamaan, akan tetapi sebaliknya kamu meyakini bahwa ini hanya sebab dan bila kamu telah berhasil melak sanakan sebab yang menjadikan kamu mendapatkan kelapangan dan meyakini bahwa karunia tetap di tangan Allah, maka kamu akan bertambah syukur dan hal ini akan mendorong kamu untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah sesuai dengan perintah-Nya, dan kamu tidak akan melihat kelebihan pada dirimu di atas Rabb-mu bahkan sebaliknya kamu melihat anugrah Allah kepadamu. Allah berfirman. “Artinya : Mereka memberi anugrah keadamu dengan masuk Islam mereka, katakanlah : kamu tidak memberi anugerah kepadaku dengan masuk Islammu akan tetapi Allah-lah yang telah memberi anugrah kepadamu untuk menunjukkan kepadamu pada iman, bila kamu benar” [ Al-Hujurat : 17].

Begitu pula manakala kamu tertimpa kesusahan (musibah), maka kamu tetap percaya kepada Allah, menerima dan tidak terlalu menyesal karenanya bahkan tidak diliputi kegundahan (yg berat). Bukankah anda tahu bahwa Nabi SAW bersabda, “Artinya : Seorang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada seorang mu’min yang lemah, dalam segala kebaikan bersemangatlah (untuk mencapai) apa yg bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, jangan merasa lemah, apa bila kamu tertimpa suatu (musibah) maka janganlah berkata ; Kalau saja aku melakukan begini maka hasilnya pasti begini, karena kata “kalau” akan membukakan perbuatan syetan”.
Maka dengan demikian beriman kepada Qadar mengandung kedamaian jiwa dan hati dan hilangnya kegundahan karena kegagalan, serta hilangnya kekhawatiran untuk menghadapi masa depan. Allah berfirman, “Artinya : Tidak ada musibah yang menimpa di bumi dan di dalam dirimu sendiri kecuali telah ada dalam kitab sebelum Aku membebaskannya, sesungguhnya semua itu sangat mudah bagi Allah, agar supaya kamu tidak bersedih atas kegagalanmu dan tidak terlalu bergembira atas apa (nikmat) yg diberikan kepadamu” [Al-Hadid : 22-23]

Orang yang tidak percaya kepada Qadar sudah pasti mengamali kegoncangan ketika tertimpa musibah dan akan bersedih dan syetanpun kana membuka pintu untuknya dan dia akan merasa terlalu bersuka ria dan terlena ketika mendapat kegembiraan. Akan tetapi iman kepada Qadar akan mampu mencegah itu semua.

[Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan]

pesan : seluruh artikel dan tulisan di situs almanhaj.or.id dapat disebarluaskan, dengan mencantumkan sumbernya dan tetap menjaga keilmiahan.

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more;article_id=205;bagian=0

HADITS TENTANG ORANG YANG TIDAK RELA DENGAN QADHA ALLAH

Pembahasan hadits no.505 :
“Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi: ‘Barangsiapa tidak rela dengan qadha (ketetapan)-Ku, dan tidak pula bersabar terhadap cobaan-Ku, maka hendaklah ia mencari tuhan selain Aku.'”

Hadits ini sangat dha’if. Telah diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (I/324), diriwayatkan pula oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, juga oleh Ibnu Asakir (I/115), dan lainnya, dengan sanad dan’ Said bin Ziad sama seperti sanad di atas (hadits no. 504; Penj.).
Al-Haitsami dalam al-Majma’ az-Zawa’id (VII/207) menyatakan: “Dalam sanadnya terdapat Said bin Ziad bin Hind, sedangkan ia ditolak riwayatnya oleh jumhur muhadditsin.”
Sementara itu, al-Manawi mengutip pendapat al-Hafizh al-Iraqi dengan menyatakan: “Riwayat ini sangat dha’if.” Barangkali pernyataan al-Manawi ini lebih mendekati kebenaran.
Wallahu a’lam.

Pembahasan hadits no. 506 :
“Barangsiapa tidak rela dengan qadha Allah, dan tidak mengimani (sepenuhnya) takdir Allah, maka hendaknya ia mencari tuhan selain Allah.”

Hadits ini sangat dha’if. Telah dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam ash-Shaghir (hlm. 187). Kemudian dari sanadnya juga diriwayatkan oleh Abu Naim dalam kitab Akhbar al-Ashbahan (II/ 228), juga al-Khathib dlm Tarikh Baghdad (II/227), dengan sanad dari Suhail bin Abdullah, dari Khalid al-Khidza, dari Abu Qilabah, dari Anas bin Malik r.a.
Ath-Thabrani mengatakan, “Tidak ada yang meriwayatkan dari Khalid al-Khidza kecuali hanya Suhail.”
Menurut saya (Muhammad Nashruddin al-Albani), nama lengkap Suhail adalah bin Abi Hazm. Dan dia dinyatakan dha’if oleh jumhur ahli hadits. Wallahu a’lam.

(Pembahasan hadits no.505 dan 506, Silsilah Hadits Dha’if dan Maudhu’, Muhammad Nashruddin al-Albani, Cetakan 1, Jakarta, Gema Insani Press, 1994)

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 025/th.03/Sya’ban-Ramadhan 1427H/2006M

2 Balasan ke TINGKAT KEIMANAN KEPADA QADHA’ DAN QADAR

  1. uzanks mengatakan:

    thanks atas artikelnya karena artikelnya bermanfaat sbg rujukan dlm tugas sekolah terima kasih banyak

  2. labbaik mengatakan:

    Alhamdulillah, semoga dapat meraih prestasi baik di sekolah. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: