Rahmat Dalam Takdir Allah

(Oleh: KHM. Zen Syukri)

 

 

DALAM kehidupan sehari-hari, Allah datangkan kepada seorang hamba itu kesenangan, kebahagiaan, di samping balak dan bencana yang datang silih berganti. Hingga di satu sisi ada yang sedang menikmati berbagai kesenangan dari Allah SWT. Sementara di sisi lain pada saat yang sama ada yang sedang mendapatkan cobaan berupa musibah atau balak. Namun, pada prinsipnya, nikmat dan balak itu merupakan ujian dari Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang berbunyi “Watikal ayyam nuda wiluha bainannas (Demikian waktu itu kami gilirkan kepada manusia)”. Waktu yang digilirkan oleh Allah itu adalah waktu ibadah, waktu nikmat, waktu maksiat, dan waktu balak.

Jika seorang hamba sedang diuji dengan kesenangan, misalnya didatangkan harta yg melimpah, dihadirkan anak-anak sebagai penerus keturunan, dimudahkan segala urusan, dan dianugerahi kesehatan, maka seharusnya ia merasa beruntung dan bersyukur kepada Allah. Namun, tidak jarang orang yang menerima berbagai nikmat itu menjadi lupa diri, lupa tentang siapa sebenarnya yang telah mengaruniakan rahmat itu. Orang yang lupa akan rahmat Allah itu disebut orang yang kufur nikmat. Sebaliknya, banyak manusia yang sedang didatangkan kesulitan, kesusahan bahkan musibah cenderung berprasangka buruk kepada Allah. Orang tersebut merasa dirinya kurang beruntung, selalu sial, bahkan menyalahkan nasib yang sedang tidak berpihak kepadanya. Sebenarnya, secara tersurat Rasulullah SAW telah mengatakan, “Wahai umatku, jangan berprasangka buruk terhadap segala sesuatu yang ditakdirkan Allah untukmu.”

Qodo dan qadar Allah itu senantiasa mengandung rahmat. Ketentuan Allah berupa kesenangan dan terkadang berupa kesusahan itu sesungguhnya mengandung hikmah yang terkadang tidak tertangkap oleh kacamata biasa. Padahal, jika kita sadari, semua peristiwa yang didatangkan Allah itu mengandung iktibar atau ibarat yang perlu kita renungkan sedalam-dalamnya sehingga kita sampai pada kesimpulan bahwa semua peristiwa itu ada hikmahnya. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, “Wahai umatku, jika Allah kasih kepada seorang hamba, maka diuji-Nya hamba-Nya itu dengan balak. Jika orang itu memilih sabar dan rela, maka orang itu akan diistimewakan-Nya.” Sesungguhnya, orang yang sedang tertimpa balak dan sedang didatangkan Allah kesedihan dan kepedihan itu, ibarat seorang anak kecil yang sedang didatangkan ketakutan. Seorang anak, misalnya, sedang bermain di luar rumah yang seharian tak kunjung pulang, tiba-tiba didatangkan Allah anjing galak yang terus-menerus menggonggongnya. maka sang anak yang sedang ketakutan itu akan pulang dan mencari perlindungan. Pelukan dan dekapan ibu adalah perlindungan yang paling aman. Dalam hal ini, sekali-sekali seorang anak didatangkan rasa takut supaya ingat “pulang”. Hal seperti itu, sering pula diuji-cobakan oleh Allah kepada setiap manusia yang tujuannya supaya hamba tersebut “ingat pulang”, ingat kembali kepada Allah. Abu Hurairoh berkata, bersabda Rasulullah SAW, “Siapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka diuji-Nya dengan musibah atau balak.” Selain itu, musibah atau balak tersebut kadang-kadang menjadi penebus dosa. Misalnya, ada seorang yang didatangkan Allah sakit yang cukup lama. Jika si hamba sabar akan sakit yang dideritanya dan menggantungkan semuanya itu sebagai qodo dan qadar Allah, insya Allah dosanya yang terdahulu akan diampuni Allah. Yang demikian ini, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW, yang artinya, “Wahai umatku, tiada sesuatu yang menimpa orang mukmin yang berupa penderitaan, seperti risau hati dan pikiran, melainkan semuanya itu menjadi penebus dosanya” (HR.Bukhori-Muslim).

 

Dalam suatu riwayat, dikemukakan bahwa Imran bin Husain RA menderita penyakit buang air. Selama tiga puluh tahun, ia tidak dapat bergerak dari tempat tidurnya sehingga dibuatkan lubang di bawah tempat tidurnya itu untuk memudahkan ia membuang hajat. Suatu hari, datanglah saudaranya, Al-Alla’ atau Mutharrif bin Asy-syikhkhir sambil menangis melihat penderitaannya itu. Imran pun bertanya, “Mengapa engkau menangis ?”. Jawabnya, “Karena aku melihat keadaanmu”. Lalu Imran berkata, “Jangan menangis karena aku suka terhadap apa yang disukai Allah untukku”.

Kemudian, Imran melanjutkan, “Aku akan berkata kepadamu semoga bermanfaat bagimu tetapi jangan engkau buka rahasia ini kepada orang lain sampai aku mati. Sesungguhnya para malaikat berziarah kepadaku dan memberi salam kepadaku sehingga aku merasa senang dengan adanya ketentuan Allah ini.” Berkaitan dengan itu, Ibnu Mas’ud RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Wahai umatku, tiada seorang muslim yang terkena musibah atau balak, gangguan atau penyakit dan yang lebih ringan dari itu, melainkan Allah menggugurkan dosanya bagaikan gugurnya daun dari pohonnya.”

Kokohnya iman seorang hamba akan membuat ia bersabar dan bersyukur ketika Allah datangkan balak atau musibah karena yang didatangkan Allah tersebut merupakan rahmat dan karunia-Nya. Boleh jadi, selama ini seorang hamba sering lalai dan lupa terhadap Sang Pencipta. Balak yang didatangkan-Nya tersebut akan mengembalikan ingatannya. Mungkin pula orang tersebut merupakan insan pilihan yang senantiasa diuji dengan balak oleh Allah sehingga balak yang didatangkan Allah itu menambah kemesraan hubungannya dengan Sang Pencipta. Para Nabi dan Rasul senantiasa diuji dengan balak oleh Allah karena ujian itu akan menambah intimnya hubungan vertikal mereka kepada Allah.

 

Demikianlah tingkatan ujian Allah itu berbeda-beda sesuai dengan derajat seseorang di hadapan Allah. Makin tinggi derajat seseorang di hadapan Allah, makin tinggi dan berat pula ujian yang dikaruniakan Allah kepadanya. Dengan demikian, semakin berat ujian yang dikaruniakan Allah kepada kita, seyogianya semakin banyak kita bersyukur kepada-Nya. Karena, ujian yang berat itu akan meningkatkan derajat kita di hadapan Allah bila kita terima dengan syukur, sabar, dan ikhlas.

 

(dari : Sriwijaya Post, Kamis, 14 November 2002)

http://www.indomedia.com/sripo/2002/11/14/1411ram2.htm

 

Apakah Do’a Bisa Merubah Ketentuan

 

Pertanyaan :”Apakah do’a berpengaruh merubah apa yang telah tertulis untuk manusia sebelum kejadian ?”

 

Jawaban :”Tidak diragukan lagi bahwa do’a berpengaruh dalam merubah apa yang telah tertulis. Akan tetapi perubahan itupun sudah digariskan melalui do’a. Janganlah anda menyangka bila anda berdo’a, berarti meminta sesuatu yang belum tertulis, bahkan do’a anda telah tertulis dan apa yang terjadi karenanya juga tertulis. Oleh karena itu, kita menemukan seseorang yang mendo’akan orang sakit, kemudian sembuh, juga kisah kelompok sahabat yang diutus nabi singgah bertamu kepada suatu kaum. Akan tetapi kaum tersebut tidak mau menjamu mereka. Kemudian Allah mentakdirkan seekor ular menggigit tuan mereka. Lalu mereka mencari orang yang bisa membaca do’a kepadanya (supaya sembuh). Kemudian para sahabat mengajukan persyaratan upah tertentu untuk hal tersebut. Kemudian mereka (kaum) memberikan sepotong kambing. Maka berangkatlah seorang dari sahabat untuk membacakan Al-Fatihah untuknya. Maka hilanglah racun tersebut seperti onta terlepas dari teralinya. Maka bacaan do’a tersebut berpengaruh menyembuhkan orang yang sakit.

Dengan demikian, do’a mempunyai pengaruh, namun tidak merubah Qadar. Akan tetapi kesembuhan tersebut telah tertulis dengan lantaran do’a yang juga telah tertulis. Segala sesuatu terjadi karena Qadar Allah, begitu juga segala sebab mempunyai pengaruh terhadap musabab-nya dengan izin Allah. Maka semua sebab telah tertulis dan semua musabab juga telah tertulis.

 

[Disalin kitab Al-Qadha’ wal Qadar edisi Indonesia Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Penulis Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin’, terbitan Pustaka At-Tibyan)

 

http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=298&bagian=0

 

catatan : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 025/th.03/Sya’ban-Ramadhan 1427H/2006M

Satu Balasan ke Rahmat Dalam Takdir Allah

  1. ipam mengatakan:

    Inti dalam menjalankan hidup ini adalah Beriman dan Bertaqwa kepada Allah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: