ORIENTALISME (bag.2)

 

Kaum Orientalis dan pengikut-pengikutnya memang berusaha menghimpun sifat-sifat positif dan negatif, tapi dalam penghimpunan itu mereka tak akan lupa menyisipkan komentar-komentar yang menyesatkan. Maka dari itu sebaiknya kita memang harus membaca karangan-karangan Orientalis dengan hati-hati, kemudian segera mengkoreksinya bila menemukan provokasi atau propaganda menyesatkan, sebab mereka sulit untuk bisa bersih dari pengaruh sentimen nafsu pertentangan yang telah mereka warisi sejak zaman Perang Salib, dan tak mungkin lepas dari usaha keras mereka memerangi Islam, menggerogoti Da’wah kebenaran (membuktikan yang haq dan melenyapkan kebatilan). Islam selalu menghadapi musuh-musuh yang senantiasa menunggu kesempatan di segala bidang, kaum Muslimin selalu menghadapi musuh-musuhnya yaitu Orientalis, pewaris kaum salib yang memaksa ummat Islam untuk selalu sadar dan siaga. Para Da’i (juru Da’wah) wajib dilengkapi dengan segala perlengkapan ilmu yang luas, mendalami serta mengetahui apa yang ada pada musuh, supaya mereka dapat membela agama dari tipu daya musuh dan membatalkan maksud jahat musuhnya. Semoga Allah SWT senantiasa melindunginya.

 

 

Berikut ini dikemukakan pembahasan sekitar usaha dan cara kaum Orientalis dalam memerangi Islam dan memalingkan mereka dari agamanya. Antara lain :

 

 

1. Kristenisasi

Tak diragukan lagi oleh ummat Islam, misi Salibis belum berakhir, sejak Eropa keluar dari keterbelakangannya di zaman pertengahan, lantas mereka menuju ke timur dan menjadikannya sebagai daerah-daerah jajahan. Penjajah bermaksud menguasai negeri dan rakyatnya, kemudian menghancurkan Aqidah yang sudah bersemi di hati ummat Islam.

Melalui Orientalisme, penjajah menanamkan pikiran bahwa Islam berbahaya bagi programnya. Program yang digariskan dengan tujuan hendak mematikan nilai kemanusiaan di negeri jajahan, supaya lenyap perasaan kemanusiaan di sana, sehingga tidak akan timbul bibit-bibit perlawanan menghadapi penjajah yang sudah memonopoli negeri itu, dan program yang bertujuan mematahkan hal-hal yang peka pada jiwa ummat Islam yaitu faham Wahdaniyah yang tidak mau tunduk pada selain Allah. Justru karena itulah penjajah menebarkan hal-hal yang menyerang Islam secara rahasia melalui Orientalis, terbukti dengan mobilisasi tentara di bawah pimpinan Orientalis, men-drop para propagandis ke negeri-negeri Islam dan melindunginya dengan tentara-tentara penjajah, mengatur posisinya dan propagandanya di kota-kota dan kampung-kampung, membantu mereka dengan uang, atau mendirikan rumah sakit, rumah jompo dan sekolah-sekolah; sebagai alat jaringan penyesatan. Mereka bersembunyi di balik kedok demi melepaskan masyarakat dari kemiskinan dan kebodohan, dengan kedok yang bernama Al Masih.

 

Di samping itu, ada sasaran lain, yakni membasmi bahasa Arab dan mencabutnya dari ummat Islam, bahasa Al Qur’an, juga konstitusi Agama. Dalam mencapai tujuannya, penjajah membujuk orang-orang yang ahli bahasa Barat, lantas diberi jabatan dan posisi penting, untuk mendorong semangat ummat Islam berlomba-lomba mempelajari bahasa penjajah, sehingga banyak orang-orang yang sudah asyik dengan bahasa asing (penjajah) itu terlengah, atau menjadi segan mempelajari bahasa Arab, dengan alasan, bahwa mempelajari bahasa Barat (Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Rusia dan lain-lain) tidak akan mempengaruhi aqidah agamanya. Karena itulah hampir semua negeri-negeri Islam yang berbahasa Arab pun menggunakan bahasa asing, mereka hanya tahu bahasa Arab di waktu Shalat. Seperti umumnya di negeri-negeri Afrika Utara. Syukurlah sepeninggal penjajah, negeri-negeri ini bekerja keras mengembalikan bahasa Arab, meski sudah terpengaruh Westernisasi di sana. Para propagandis Kristen di negara-negara Islam terbilang sukses, apalagi setelah merosotnya bahasa Arab, yang sebelumnya merupakan bahasa yang menjadi pendorong keinginan-tahuan dalam beragama. Dan para pejabat Pemerintahnya pun terpengaruh, sehingga membantu menjauhkan ummat dari agama, adab dan akhlaq Islam. Namun para Orientalis dan penjajah lupa pada rahasia kegagalannya untuk membawa orang Islam melepaskan agamanya, yaitu bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan naluri dan fitrah manusia sendiri, betapapun besar biaya dan usaha mereka namun hal demikian tidaklah bisa menjadikan mereka berjaya karena Islam itu agama Fitrah yang sangat seuai dengan kejadian manusia. Dan karena ini pulalah rahasia mudahnya masuk agama Islam ke negara-negara lain, langsung bersemi di hati dan akal penduduknya. Islam tersebar tanpa penyerbuan tentara dan pengiriman propagandis-propagandis, tapi sebenarnya Islam tersebar di seluruh dunia hanya dengan inti ajarannya, umumnya dimulai dengan jalan perdagangan dan tujuan utamanya bukan berda’wah. Gerakan perdangan ini terus meluas dan menyeluruh. Penyiaran Islam di Asia, Afrika, Eropa dan Amerika dimasuki Islam tak pernah dilakukan dengan kekuatan senjata ataupun propaganda besar-besaran, tetapi hanya dengan hubungan dagang, yang kemudian dari jalinan itu mereka jadi mengenal Islam, membuka ruang kesadaran mereka yang menghayati fitrah manusia.

 

Para propagandis yang bertujuan menguasai negara Islam, setelah gagal mencapai maksudnya, maka mereka merubah taktiknya untuk menggerogoti da’wah dengan memasukkan unsur-unsur khurafat, bid’ah, tahayul, cerita-cerita dongeng Israiliyah/ Kebatilan ke dalam ajarran Islam khususnya, menebarkan faham atheisme di Eropa, Amerika. Dengan terbongkarnya rahasia Kristen bahwa agama itu tak dapat diterima akal dan tidak sesuai dengan logika, terutama ajaran Trinitasnya, maka Kristen khawatir kalau Islam terus menjalar ke Eropa dan Amerika, maka mereka melakukan offensive (penyerbuan), merongrong da’wah dan melemahkan kekuatan agama Islam, dan melemahkan semangat yang mendorong kaum Muslimin dalam menghadapi penjajah. Dan akhirnya terbukti peranan Orientalisme sebagai alat dari salibis dan penjajah. Tapi Allah selalu melindungi Agama-Nya.

 

 

2. Membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-atiran fikiran yang menyesatkan

Di antara cara menggerogoti da’wah Islam ialah membenamkan ummat Islam ke dalam aliran-aliran yang menyesatkan; terutama Generasi Mudanya dengan memalingkan mereka dari agama. Caranya antara lain :

 

 

a. Memasukkan Paham Materialisme

Zaman modern telah diracuni dengan meniupkan faham kebendaan ke dalam otak dan pribadi masyarakat, dengan faham yang mengingkari nilai kemanusiaan, rasa kasih sayang penyantun terhadap keluarga, kerabat dan masyarakat semuanya. Yang paling berbahaya di dalam aliran materialisme ialah besarnya nafsu manusia, nafsu masuk selalu di bagian-bagian yang lemah, sehingga manusia itu selalu cenderung pada hal-hal yang cepat untuk mendapatkan kesenangan dan kesuksesannya, seperti yg di jelaskan oleh Allah dalam surat al Qiyamah : 20-21 dan surat Al Insan : 27, yang artinya: ” Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan kamu tinggalkan akhirat.” (al Qiyamah : 20-21). “Sesungguhnya mereka (orang kafir) menyukai kehidupan dunia dan mereka tidak memperdulikan kesudahan mereka, pada hari yang berat (hari akhirat)..” (al Insan : 27). Kecenderungan nafsu ini dimanfaatkan oleh musuh Islam, untuk membujuk pemuda dan pemudi melakukan penggerogotan da’wah Islam. Para Orientalis berusaha merusak generasi muda Islam dengan faham materialis, agar mereka gamang, bingung dan ragu. Materialisme, mengingkari agama yang menyeru kepada iman, yakni iman pada yang metafisika (ghaib) yaitu iman pada Allah, malaikat, akhirat, hisab, surga, neraka. Semua yang dapat ditangkap indera dijadi pegangan logika bagi aliran kebendaan dalam meletakkan dasar hukum, untuk menerima atau menolak suatu ajaran. Karena itu para juru da’wah/ummat Islam harus menangkis propaganda yang menyesatkan ini dan menjelaskan kepada Angkatan Muda khususnya bahwa Islam bukan saja menyeru kepada kebahagiaan akhirat, dan tidak pernah mengharamkan segala yang baik waktu hidup di dunia, bahkan Islam menghendaki supaya mereka harus kuat dan sehat agar bisa beramal di semua lapangan kehidupan, dan memanfaatkan segala sesuatu yang baik dari hasil usaha mereka itu. (Lihat Al-Baqarah : 172, Al-Maidah : 87, Al-A’raf : 32, dan An-Nahl : 97).

Kesemuanya itu menegaskan, aagar orang-orang yang beriman menikmati yang halal dan yang baik, dan jangan mencoba-coba mengharamkan yang dihalalkan Allah, dan jangan melanggar batas ketentuan (Syari’at). Kesemuanya itu untuk menjamin keselamatan manusia sendiri serta untuk melindunginya dari bahaya kehancuran atau menurun ke derajat alam binatang (yaitu apabila ia sudah melanggar batas-batas tersebut). Kehancuran dan turun ke derajat hewan inilah yang diinginkan dan di tuju oleh aliran materialisme.

 

 

b. Wujudiyah = Existentialism

Yaitu aliran kebebasan yang melepaskan dirinya dari semua ikatan kemasyarakatan, hukum, peraturan serta adat-istiadat, mengakui semua agama tak punya tempat, tidak mempunyai isteri bahkan tanah air. Sebenarnya aliran ini adalah lanjutan dari fikiran yang ditimbulkan oleh materialisme modern, yaitu memisahkan manusia dari rohaninya dan menjadikannya menurun ke alam hewan semata, yang tak berperi kemanusiaan dan tidak berperasaan. PAUL SARTRE, tokoh aliran Wujudiyah (Existen tialism) ini menyatakan: “Yang pantas dilaksanakan dalam kehidupan kebebasan adalah menjadikan orang-orang pengecut menjadi berani, menerima ajakan kebinatangan, melakukan keinginan nafsu, membuang semua tradisi ajaran-ajaran kemasyarakatan dan menghancurkan segala ikatan yang dibuat oleh agama-agama.” (Dari buku kar ya William James yang diterjemahkan oleh Dr Mahmud Hasbullah dengan judul Iradah al I’tiqad halaman 21).

Aliran Wujudiyah merusak tabiat manusia, akal, hati dan jiwa serta menjerumuskan kepada binatangisme. Aliran ini sudah tersebar luas di berbagai tempat di Eropa dan Amerika sebagai akibat dari kemerosotan Kristen di negeri-negeri tersebut. Kemudian Yahudi menggunakan kesempatan ini untuk memperluas kegagalan dan kemerosotan masyarakat Eropa dan Amerika, yang kemudian diekspor (diluaskan) ke negeri -negeri Islam, melalui generasi muda Islam yg belajar di Barat. Faham ini tujuannya pendangkalan aqidah. Demikianlah peranan besar yg dilakukan oleh Orientalisme, untuk menyesatkan generasi muda Islam dengan semboyan “Gerakan pembebasan yaitu bebas dari Agama, akal & perikemanusiaan, tidak khawatir lagi pd bahaya-bahaya kolonialis, dan Orientalis untuk memerangi Islam & penggerogotan da’wahnya.”

 

 

c. Sekularisme

Faham memisahkan antara ilmu dengan agama (yang disebut Sekularisme), yaitu propaganda palsu dan sesat yang bertopengkan intelektualisme. Sebenarnya, Sekularisme adalah propaganda Orientalisme untuk merusak Da’wah Islam. Mereka membiayai dan melengkapi dengan segala fasilitas agar ilmu dapat terpisah dari agama. Gera kan ini mulai bangkit di Eropa setelah terjadinya persaingan antara Ilmuwan dengan pemuka-pemuka Gereja yang berkuasa di zaman Pertengahan dan menguasai otak orang-orang Eropa, yang tidak menerima fikiran atau pendapat di luar yang bersumber pada Gereja/Kristen. Di waktu itu kekuasaan Gereja mempunyai hak pengampunan terhadap orang-orang yang bersalah dan berdosa besar, begitu juga punya hak mengutuk dan mengusir sebagai hak untuk mewakili Tuhan, dll. Persengketaan ini berakhir dengan berpisahnya antara ilmu pengetahuan dengan Gereja dan masing-masing punya tokoh utama. Para ahli pengetahuan boleh berkata sesukanya tanpa protes da ri pihak Gereja dan sebaliknya pihak Gereja punya hak mengatakan apa yang mereka sukai dalam urusan agamanya. Ketika terjadi persaingan antara ilmu & agama Kris ten akibat dari perbuatan pihak Gereja yg menjalankan apa-apa yg diprotes aliran ilmu, maka Agama (Kristen) harus memisahkan diri dari urusan dunia, & urusannya diganti/diambil alih oleh aliran ilmu tanpa agama.

 

 

Berbeda dengan Islam, Islam selamanya tidak memisahkan & tdk mempertentangkan ilmu dengan agama, sebab ilmu adalah alat untuk memperkuat agama, dan agama itu sendiri adalah ilmu, dan ilmu adalah pembimbing kepada Agama. Di dalam Al-Qur’an , kata-kata “ilmu” dan yg berhubungan dengan ilmu punya hubungan/peranan penting sekali, yg lebih dari 820 kali disebutkan. Pengembangan ilmu adalah sebagian dari risalah Islam, dengan ilmu manusia bisa mengenal Tuhannya, mengamalkan Syari’at Islam. Islam mewajibkan menuntut ilmu, lihat surat Az-Zumar : 9, Al –Mujada lah : 11 & Thaha : 114.

(bersambung ke bag.3)

 

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: