ORIENTALISME (bag.1)

 

Pengantar Redaksi (Swaramuslim.net) :

Upaya melawan dan membendung penyakit pluralisme, liberalisme, sekulerisme, inklusifisme dan sebagainya, yang kini marak, sebenarnya sudah dilakukan antara lain oleh Muhammadiyah melalui buku berjudul ORIENTALISME ini. Setelah hampir tiga puluh tahun, ternyata serangan itu semakin gencar, bahkan kini Muhammadiyah sendiri terjangkiti penyakit pluralisme, liberalisme, sekularisme, inklusifisme dan sebagainya itu, tidak saja melalui komunitas mudanya yang bernaung di bawah bendera JIMM, juga melalui tampilan beberapa tokoh tuanya Muhammadiyah. Redaksi Swaramuslim tertarik menerbitkan buku ini secara elektronik (e-books), setidaknya untuk mengingatkan kita bahwa upaya membendung dan melawan penyakit tersebut , karena yang pernah dilakukan senior-senior kita ternyata ternyata kalah pamor, juga kekurangan energi. Sehingga penyakit itu kini bersimaharajalela.

 

 

Pengantar Penulis :

Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, washshalaatu wassalaamu’ala Rasulillahi,

Muhammadin wa ala aalihi washabihi ajma’iin amma ba’du.

Sesungguhnya orang-orang mu’min terutama Ulama dan para pemuka masyarakat yang di dalamnya memimpin ummat, menegakkan aqidah, menuju kebahagiaan yang diridhai oleh Allah SWT sesuai dengan tujuan Agama Islam yang digariskan Allah dan dipimpinkan oleh Rasul sebagai mubassyir, naziir, dain ilallah biizinihi, wa sirajan muniiran -yang harus diwarisi oleh Ulama-ulama dan Zu’ama Islam.

Untuk itu amat perlu bagi seorang mukmin, terutama da’i untuk mengenal posisinya sendiri, juga strategi dan taktik orang-orang di luar Islam. Di samping ummat Islam melakukan da’wah, lebih dahulu ia juga harus tahu tentang “apa dan siapa yg ingin menghambat kemajuan Islam; krn yang menghambat itu berarti memusuhi Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 257: “Allah adalah Pelindung (Pemimpin) bagi orang-orang beriman; Dialah yang melepaskan mereka dari ZHULUMAAT (gelap gulita dalam segala hal), ke dalam AN NUUR. Adapun orang-orang kafir, pemimpin-pemimpin mereka adalah Thaghut (Syaithan). Syaithan itulah yang menggiring mereka dari annur ke dalam zhulumaat; mereka itu adalah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah ayat 257). Orang-orang beriman dlm menegakkan aqidah & ajaran Ilahi menuju keridhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan kesulitan; baik yang nyata maupun tersem bunyi; yang halus maupun yang kasar; menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang pandai berbohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang menjadi lalai, lupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai ajaran Islam yang murni. Hal ini kalau dibiarkan begitu saja, akhirnya ummat Islam yang sudah terbius seperti itu akan jatuh ke tangan orang lain tanpa disadarinya; bahkan sebagian mereka sudah diperalat oleh orang luar Islam untuk mensirnakan agama Islam itu sendiri. Na’uzu billahi min zalik.

 

Untuk menghindarkan bahaya inilah kita ingin mengemukakan beberapa masalah yang ada hubungannya dengan persoalan tersebut di atas; yaitu “Bagaimana cara orang lain menghadapi Islam, melenyapkan Aqidah dan sekaligus menggerogoti ummatnya.” Bersama ini kami sajikan sebagian dari pendapat-pendapat dan fakta sejarah yang telah diteliti dari sumber AL ISTISYRAAQ (ORIENTALISME) oleh Doktor Abdul Mu’nim Moh Hasanain, yang menjelaskan sifat, sistim, cara dan strategi orang-orang yang tidak menyukai Islam (Orientalis). Semoga ummat Islam umumnya, Ulama, Zu’ama-zu’ ama dan cendekiawan serta sarjana Islam khususnya akan dapat mengetahui, menyadari dan berhati-hati, supaya kita semua selamat dari cengkeraman orang-orang yang tidak menyukai Islam dan memusuhinya. Wabillahit taufiq wal hidayah.

 

 

Jakarta, 2 Jumadilakhir 1396 (10 Mei 1978) – (penulis : Lembaga Penelitian dan Perkembangan Agama (LPPA) MUHAMMADIYAH)

 

 

MUQADDIMAH (dari penulis) :

Orientalisme adalah suatu gerakan yang timbul di zaman modern, pada bentuk lahirnya bersifat ilmiah, yakni mengadakan penelitian dan memperdalam masalah ketimuran. Tetapi di balik penelitian masalah ketimuran itu mereka berusaha memalingkan masyarakat Timur dari Kebudayaan Timurnya, berpindah mengikuti keinginan aliran Kebudayaan Barat yang sesat dan menyesatkan. Orientalis, adalah kumpulan Sarjana-sarjana Barat, Yahudi, Kristen, Atheis dan lain-lain, yang mendalami bahasa-bahasa Timur (bahasa Arab, Persi, Ibrani, Suryani dan lain-lain), terutama mempelajari bahasa Arab secara mendalam. Studi ini mereka gunakan untuk memasukkan ide-ide dan faham-faham yg bathil ke dalam ajaran Islam, agar aqidah, ajaran & da’wah Islam merosot, berkurang pengaruhnya terhadap masyarakat, tak berbekas dalam kehidupan, tidak mampu mengangkat derajat kemanusiaan, tidak berperan lagi untuk melepaskan manusia dari perhambaan pada makhluk, dan tujuan Islam tak kunjung tercapai dalam mengeluarkan manusia dari kegelapan-kegelapan (Zhulumaat: kufur, syirik, fasik, lemah, bodoh, tertindas, miskin, dijajah, dianiaya, dan dalam keadaan terbelakang dalam segala bidang) menuju An Nur (kebalikan dari Zhulumaat, yaitu bertauhid, iman, kuat, pintar, cerdas, adil, aman, makmur, maju dan lain sebagainya). Seperti kita ketahui, bahwa segala tipu daya dan kebatilan yang mereka resapkan sedikit demi sedikit telah masuk ke dalam kebudayaan Islam dan berakibat mengurangi peranan Islam dalam penyiaran ilmu pengetahuan yang telah membawa Eropa dari zaman pertengahan (masa kebodohan & kegelapan) ke masa kejayaan masa modern (yg sekarang telah menjadi kebanggaan para Sarjana Barat). Pihak Orientalisme berusaha keras menyerang Islam, dan menggerogoti da’wahnya, sebab mereka tidak mampu melepaskan diri dari pengaruh nafsu hendak memusuhi Islam yang mereka warisi. Usaha mereka itu tidak saja secara sembunyi-sembunyi dan menaburkan benih-benih keragu-raguan terhadap sumber Islam, memasukkan kebatilan-kebatilan ke dlm ajar an syari’at, menggiring ummat Islam ke dalam aliran fikiran yang sesat, dan menyerang bahasa Arab (bahasa al Qur’an), tapi juga terang-terangan membantu propaganda gerakan yang berselubung di bawah nama Islam yang menyesatkan. Juga para Orientalis memonopoli semua mass media, yang digunakan untuk membinasakan dan menjauhkan ummat Islam dari agamanya, bahkan merusakkan putra-putri Muslim yang belajar di sekolah-sekolah dan di negeri mereka.

 

 

Di bawah ini akan kita uraikan bahaya Orientalisme ini, tujuannya dalam memerangi Islam dan menggerogoti da’wah, alat yang dipergunakannya dalam usaha mereka baik yang nyata maupun yang tersembunyi, usaha dan langkah yang perlu kita laku kan untuk melepaskan bahaya, serta tangkisan kita terhadap tipu daya musuh-musuh Islam dan lain-lainnya.

 

 

1. Timbulnya Orientalisme.

Adalah salah orang yang berpendapat bahwa Orientalisme itu gerakan ‘ilmiah’ yang tujuannya hanya memperdalam masalah ketimuran saja (kepercayaan, adat dan peradabannya). Sebenamya Orientalisme hakekat dan kenyataannya adalah alat Penjajah; tujuan Orientalisme ini ialah: “memakai dan mempergunakan penelitian masalah ketimuran sebagai langkah untuk menyerang/memerangi Islam, menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap sumber-sumber Islam agar ummat Islam berpaling dari agamanya, agar ummat Islam jangan sampai pada kemuliaan dan kekuatannya, tetapi hanya selalu mengekor kepada Barat, dan selalu taqlid masa bodoh dan apatis, melihat segala macam jenis kejahatan dan kemerosotan di negeri mereka. Orientalisme ini hakekatnya adalah lanjutan dari perang Salib, melawan Islam, sebab sebenarnya perang Salib ini belum berhenti, tetapi hanya mengambil bentuk dan warna yang berbeda, di antaranya Orientalis. Orientalis muncul dengan kedok sebagai para ahli untuk mengadakan riset dan survey tentang sesuatu bidang ilmu pengetahuan dengan maksud tertentu untuk memasukkan berbagai macam fitnah, menebarkan isue-isue; melampiaskan segala isi hatinya dan kedengkiannya terhadap Islam, dan menulisi Islam dengan pena yang beracun.

Para Orientalis terang-terangan menolak sistim ilmu Islam yang asli. Ini berakibat menyimpangnya ummat dari hakekat kebenaran, dan meninggalkan hukum Islam. Orientalis tidak mungkin membiarkan Islam terlaksana di tengah-tengah masyarakat. Para Orientalis adalah antek-antek penjajah Barat terhadap Negeri-negeri Timur dan Negeri Islam, karena gerakan Orientalis ini adalah lanjutan dari Perang Salib dalam bentuk yang lain. Gerakan Orientalis berkembang pesat dan sudah sampai berlangsung selama dua abad, perubahan yang bergerak sebagai salah satu bentuk penjajahan.

Asal kata “Orientalisme” bahasa Arabnya al istisyraaq, mashdar fiil: Istasyraqa. Artinya, “mengarah ke Timur dan memakai pakaian masyarakatnya.” Para Orientalis (al Mustasyriqun) mendalami bahasa-bahasa Timur sebagai langkah untuk mengarah ke sana. Masing-masingnya mempelajari satu bahasa atau bermacam-macam bahasa Timur, seperti bahasa Arab, bahasa Parsi, bahasa Ibrani, bahasa Urdu, Suryani, Indonesia, Melayu, Cina dan lain-lain. Sesudah itu mereka mempelajari bermacam-macam ilmu pengetahuan, kesenian, adab/sastra, kepercayaan masyarakat yang mempunyai bahasa tersebut di atas dan lain-lainnya. Bahasa Arablah yang menjadi sasaran utama dari tujuan para Orientalis ini. Memang para Orientalis sudah banyak yg mempelajari bahasa Arab, dan menjadi spesialis dalam ilmu bahasa, seperti ahli Nahwu, ahli Shorof, ahli Sastra (Adab) dan ahli Balaghah. Kemudian mereka mulai menjurus pada ilmu-ilmu Islamiyah, seperti: Aqidah, Syari’ah dan lain-lain, dan seterusnya menambah Aqidah dan Syari’ah yang murni itu dengan kebatilan-kebatilan untuk mengaburkan hakekat Islam dan memalingkan ummat dari agamanya yang menunjukinya ke jalan kemajuan dan kemuliaan. Tujuan tersebut telah terlaksana dan mempengaruhi kebudayaan negeri-negeri Islam. Bukti yang paling jelas mengenai hubungan Orientalisme dengan penjajahan yaitu bahwa pasaran Orientalisme sangat pesat di Eropa, Amerika dan negara-negara yang ada kepentingannya dengan negara Timur umumnya dan negara-negara Islam pada khu susnya. Kesempatan yang lebih luas lagi bagi Orientalisme di negara-negara jajahan digunakan untuk mengendalikan peperangan di negara-negara Timur dalam segala bentuknya, yang dikenal di zaman modern, baik perang bersenjata (militer) maupun perang ekonomi, politik atau kebudayaan atau perang fikiran. Bahkan hampir tidak terdapat Kedutaan-kedutaan Negara-negara Penjajah di negeri-negeri Timur dan negara-negara Islam yang tidak ada di dalamnya. Orientalis yang menduduki posisi /jabatan-jabatan strategis pada kedutaan itu, baik diplomat atau pegawai biasa.

 

Sesungguhnya ikatan Orientalisme dengan penjajah dan antek-anteknya menjadikan Orientalisme selalu meningkatkan usahanya dalam menyesatkan Islam dan menggerogoti da’wah Islamiyah. Mereka menggunakan semua alat, dalam penyesatan tersebut, sebab agama yang maha suci inilah satu-satunya penghalang yg tangguh dalam menghadapi penjajahan dan perhambaan kepada selain Allah Para Orientalis mengetahui betul dalam penelitiannya terhadap Islam bahwa aqidah Islam menanamkan dasar-dasar yang kokoh sesuai dengan fitrah kemanusiaan, umum dan logis, sesuai dengan akal yang jernih, serta textnya (nash-nash) yang tegas, di mana tidak memungkinkan bagi akal (otak) para ahli fikir dan filosof untuk membatalkan pokok yang satu ini dari sumbernya, hal itu berlaku apabila ummatnya sudah terbiasa dengan manhaj ilmu yang benar. Justru karena itu sejak dahulu, sejak timbulnya Orientalisme selalu menanamkan bibit-bibit penyelewengan terhadap Da’wah Islam dengan memasukkan kebatilan-kebatilan, dengan kedok penelitian dan pembahasan ilmiah yang terselubung. Dengan demikian nyatalah bahwa Orientalisme merupakah pelindung musuh-musuh Islam, Penjajah, Atheis, Zionis dan lain-lain. Di balik nama Orientalisme ini bernaung apa yang dikatakan penganut faham Komunis yang berbahaya, merusak, dan para penyokong aliran-aliran atheisme di zaman modern. Mereka menghimpun segala kemarahan dan kebencian terhadap Islam; lantaran Islam itu berasaskan Tauhid dan merupakan Risalah Ilahiyah yang bertitik tolak dan memusatkan segala-galanya kepada Allah. Semua Rasul Allah selalu memulai da’wahnya terhadap kaum/ummatnya dengan perkataan :”Sembahlah olehmu Tuhan-mu; tak ada Tuhan selain Dia.” Agama adalah fitrah yang diberikan Allah kepada manusia, yang hakekat fitrah manusia pun sesuai dengan agama itu, dan Tauhid yang sangat sesuai dengan jiwa manusia; hanya Iblis dan Syaithanlah yang memalingkan dan mempengaruhi manusia kepada penyembahan thaghut, patung, batu, syaithan, api, manusia, dan lain-lain.

Aqidah Islam adalah aqidah yang jelas dan tegas, jauh dari keraguan dan sangkaan serta khayalan (imajinasi). Dengan aqidah yang betul, manusia mampu mengendalikan hawa nafsunya; dan aqidah inilah yang diperkokoh oleh akal supaya tetap baik dan sampai pada hakekat yang sebenarnya. Dengan begitu jelaslah bahwa Orientalisme adalah alat yang dipakai oleh musuh-musuh Islam yang ingin merusak dan menggerogoti da’wah & ajaran Islam yang sangat sesuai dengan fitrah manusia tersebut. Para Orientalis berusaha keras memerangi Islam dengan segala cara, gaya dan dayanya dan dengan berbagai bentuk; karena tujuan mereka terang-terangan anti dan ingin menghancurkan Islam. Syukur, Allah selalu melindungi ummat Islam dan menenangkan ummat Islam, betapapun benci dan lihainya orang kafir.

 

 

2. Usaha Orientalisme Dalam Memerangi Islam Dengan Bersenjatakan Ilmu.

Para Da’i dan Ummat Islam yang antusias terhadap Da’wah Islamiyah selayaknya mengetahui dan mendalami usaha-usaha yang dilakukan oleh para Orientalis dalam memerangi Islam sebab mereka itu hakekatnya adalah musuh Islam yang paling keras. Mereka (Orientalis) menjadikan ilmu sebagai alat untuk menggerogoti da’wah Islam dan bersembunyi di balik topeng-topeng pembahasan & penelitian ilmiyah. Sebenarnya mereka itu memasukkan bibit-bibit (benih-benih) kebatilan terutama sekali ke dalam Syari’ah Islamiyah, masalah-masalah Fiqih, muamallah dan lain-lain, dimana dengan sengaja mereka membikin hal-hal yang menyesatkan terhadap Angkatan Muda Islam, yang belajar kepada mereka, memantapkan serta memberikan hal-hal yang membuat orang bungkam dan merasa cukup terhadap fikiran-fikiran yg merusak dan berbahaya, dan menarik secara halus agar para mahasiswa yang belajar dengan Orientalis dan yg belajar di negara-negara tersebut (Barat), kemudian bergabung dengan mereka (Orientalis) dalam merusak dan mencari-cari kejelekan Islam, tanpa mereka sadari. Bahkan ada Universitas Orientalis yang mensyaratkan adanya kemampuan mahasiswanya untuk menjelaskan kejelekan Islam bila mereka hendak mendapat degree kesarjanaan (sertifikat/tanda kelulusan).

 

Adapun tulisan-tulisan para Orientalis yang berkenaan dengan Risalah Islamiyah, Rasul-rasul dan lain-lain, tegas-tegas membongkar rahasia kebenciannya yang terpendam terhadap Islam. Salah satu contoh dapat kita kemukakan di sini, yaitu sebagaimana yang ditulis oleh salah seorang Orientalis yang bernama Gold Tziher (Buku-buku karangan Gold Tziher ini di zaman Belanda dijadikan standard pengetahuan agama di Fakultas-fakultas Hukum). Untuk mengetahui maksud jahat mereka dan peranannya dalam menindas Islam dan menggerogoti da’wah Islamiyah dengan menggunakan ‘ILMU’ sebagai alat dalam mencapai tujuannya.

Orientalis tersebut mengatakan dalam buku yang dikarang oleh Gold Tziher, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Dr.M.Yusuf Musa dkk, berjudul AL AQIDAH WAS SYARI’AH FIL ISLAM, halaman 15, berbunyi :”… Maka pemberitaan-pemberitaan kegembiraan oleh Nabi Arab itu bukanlah suatu yang baru, melainkan hanya merupakan kutipan-kutipan yang diambilnya dari pengetahuan-pengetahuan dan pokok-pokok fikiran agama-agama yg diketahuinya atau diperolehnya akibat hubungannya dengan tokoh-tokoh Yahudi atau Kristen dan lain-lain. Hal itulah yang berbekas dan berpengaruh pada Muhammad secara mendalam, yang menurut dia (Muhammad) pantas sekali untuk membangunkan jiwa dan perasaan keagamaan yang sejati di kalangan anggota-anggota kaumnya.” Ini adalah perkataan yang berbisa, yang diulang-ulang oleh para Orientalis yang terang-terang benci/sentimen, seperti: da’wah yang pernah dilancarkan oleh kaum Musyrikin sejak 14 abad yang lalu, yang langsung dibalas oleh Allah SWT, sehingga Allah membongkar rahasia, akal dan perbuatan jahat mereka, dalam surat Al Furqan ayat 4-6 :”Orang-orang Kafir itu berkata, “Ini tidak lain dari kata-kata dongeng yang diadakan oleh Muhammad dan ditolong oleh kaum lain; dengan perkataannya itu mereka sudah mengerjakan keaniayaan dan dosa besar.” Orang Kafir itu berkata lagi, “Adalah dongeng orang-orang dahulu kala yang dikutipnya; dan itulah yang didiktekan kepadanya pagi dan sore (terus-menerus). Katakanlah (hai Muhammad), Ajaran ini diturunkan oleh Yang Maha Tahu rahasia langit dan bumi, dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (al Furqan 4-6). Kemudian Allah membantah dan mematahkan alasan-alasan kaum musyrik tersebut dengan firman–Nya :”Jika kamu ragu pada apa yang Kami turunkan pada hamba-Ku, maka datangkanlah satu surat yang serupa Qur’an itu, panggil saksi-saksimu yang selain Allah, jika kamu benar, andaikata kamu tidak sanggup membuatnya, dan pasti kamu tidak akan sanggup berbuat itu, maka takutlah kamu pada api neraka yang sebagai kayu bakarnya ialah manusia dan batu yang disediakan untuk orang-orang kafir.” (al Baqarah 23).

 

Gold Tziher dan konco-konconya di kalangan Orientalis adalah musuh Islam, melakukan pemurtadan seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Quraisy dahulu kala yang bersikap menentang dan angkuh. Sedangkan orang musryik Quraisy yg masih adil (sopan) dalam pembangkangannya, dan akhirnya mereka itu masuk ke dalam agama Islam dan ikut berjihad pada jalan Allah, dan bahkan menjadi pahlawan-pahlawan perang menghadapi musuh-musuh Islam. Adapun Orientalis selalu saja menyerang Islam, menggerogoti da’wah dengan membikin keragu-raguan di dalam pemahaman Al Qur’an. Menimbulkan waham (pendangkalan faham) dengan memutarbalikkan fakta, dengan membuat hadis-hadis palsu atau mengatakan bahwa Rasul sendiri (Muhammad) pernah melampaui ketentuan wahyu karena menasakhkan (membatalkan) wahyu yang pernah turun dengan perintah Allah. Begitulah dakwaan Orientalis tersebut, sebagaimana bisa dilihat pada buku berjudul Aqidah was Syari’ah fil Islam karangan Gold Thiher halaman 41.

 

Jelaslah kebencian Orientalis ini, bahkan kebencian itu sudah mempengaruhi otaknya, karena akalnya yang sehat sudah dipengaruhi oleh hatinya yang benci, dimana dia mengakui bahwa Muhammad itu Rasulullah, yang merubah Risalah Tuhan-nya atas perintah Tuhan karena situasi yang memaksa. Apakah ini masuk di akal ? Siapakah Rasul yang membawa Risalah yang berani mendustakan Allah, dan tetap sebagai Rasul ? Tidakkah perkataan Orientalis tersebut suatu kebencian yang merusak akalnya sendiri dan memutar-balikkan fakta ? Tidakkah pernah orang yang benci itu membaca ayat Allah yang menangkis tuduhan bohong orang musyrik, yang mengatakan bahwa Muhammad mengada-adakan kebohongan-kebohongan ?. Yaitu surat Al-Haqqah ayat 44-47 :”Kalau dia (Muhammad) berkata kepada Kami perkataan-perkataan yang lain, niscaya akan Kami tarik dia dengan kekuatan dan kemudian akan Kami putuskan hubungan yang kuat itu dengannya, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu menghalanginya (membelanya).”

Permusuhan Orientalis terhadap Islam sudah nyata sekali, baik melalui perkataan (lisan), tulisan-tulisan yang beracun, maupun yang tersembunyi di dalam hatinya. Ummat Islam harus bersikap hati-hati dan berusaha membongkar kepalsuan, tipudaya kaum Orientalis yang berselubung di balik semboyan “kebijaksanaan atau logika” dan ummat Islam wajib kerja keras melaksanakan Risalah Islamiyah sampai meresap ke dalam akal fikiran dan perasaan dan dapat diwujudkan dalam kenyataan hidup. Kita membaca tulisan-tulisan Orientalis mengenai Islam, memasukkan kata-kata tuduhan di sana-sini, maka berbuatlah karena dia ibarat pembunuh yang menyerang orang yang lengah. Betapa banyak para ilmuwan Islam yang tertipu oleh Orientalis ini, dan mentah-mentah mengambil keterangan, sebagai hukum positif tanpa kritik, bahkan ikut serta bergabung dengan Orientalis tersebut dalam memerangi Islam, penggerogotan Da’ wah, penyesatan, dan menganggap bahwa teori mereka adalah program yang terbaik. Na’uzubillah min zalik.

Para Orientalis pada umumnya mempelajari Islam, dengan niat untuk menghimpun tuduhan terhadap Islam dengan kedok, selubung ilmiah, penelitian dan survey tentang hakekat Islam, akan tetapi kefanatikannya mengalahkannya dari mengatakan kalimat haq. (bersambung ke bag.2)

 

 

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 024/th.02/Jumada Al Tsani-Rajab 1427H/2006M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: