Bukan Salah Walisongo …

Banyak kekhawatiran para ulama dalam mendakwahkan kisah-kisah walisongo, karena memang sumber-sumber yang autentik sangat sulit ditemukan. Sebaliknya yg bertebaran adalah kisah-kisah walisongo yg berbau mistik, khurofat, bid’ah, dll. Dan semua kisah itu biasanya bersumber dari kitab ‘Babad Demak” dan “Babad Tanah Jawa” karangan Sultan Agung. Menurut Sumanto Al Qurtubi, sejarawan dan penulis dari Semarang, Sultan Agung sengaja menyisipkan kisah-kisah semacam itu, “Melihat Islam Jawa yang lebih banyak kleniknya merupakan strategi dakwah rezim Mataram dalam menyebarkan Islam. Mereka membuat babad atau cerita sejarah bercampur legenda dengan nuansa keIslaman. Sultan Agung mengetahui bahwa jika ajaran Islam yang rasionalistis disebarkan di tanah Jawa, ajaran itu “tidak laku” dan orang Jawa akan lari ke Hindu, ke Budha atau kembali ke agama nenek moyang mereka. Maka rezim mataram meramu sedemikian rupa yang mengadopsi unsur sinkretisme dan mistisisme agar orang jawa merasa “enjoy” memeluk Islam.”
(Radio Singapore International – http://www.rsi.sg/indonesian/imaji/view/20050825213500/1/.html.

Maka tak heran bila yang sering ditemui adalah kisah-kisah walisongo versi Jawa yang berbau Kejawen, Abangan, kebathinan, dll. Padahal itu semua bukan ajaran walisongo. Bukan salah walisongo. Ditambah lagi ulah para ‘tukang silat’, tukang bikin film (komik), ulah orang-orang yang (ghuluw) terlalu mengagung-agungkan para wali tersebut. Sehingga yang muncul adalah cerita para wali yang sakti mandraguna, sangat digdaya, bahkan jago-jago sihir. Sudah begitu, masih dilengkapi oleh orang-orang yang hobby ngalap berkah saat ziarah ke makam para wali tersebut, bahkan memuja-mujanya, memohon petunjuk arwah para wali. Padahal itu semua tentu bukan ajaran para wali yang mulia itu. Sekali lagi, itu semua hanya karena ulah para ahli syirik, bid’ah, khurofat, tukang ramal, dll. Jadi bukan salah para wali. Nyata sekali, bahwa ziarah itu diperbolehkan dalam Islam, hanya untuk tujuan mengingat mati.
Atas dasar keprihatinan yang amat dalam, karena hampir tenggelam dan dilupakan jasa yang amat besar dan mulia para wali tersebut. Labbaik berusaha menyajikan berbagai hal tentang walisongo. Data diambil dari sumber-sumber yang sangat ilmiah, insya Allah sudah bersih dari unsur-unsur khurofat, mistik, bid’ah, dll.

Mempelajari sejarah walisongo harusnya dari sumber-sumber yang orisinil dan terpercaya, mengingat kisah walisongo bukan sekedar cerita atau dongeng, melainkan sangat erat hubungannya dengan syi’ar atau dakwah Islam. Data asli tentang latar belakang bagaimana para wali itu hingga bisa sampai datang ke Nusantara saat ini tersimpan di Turki, yakni peninggalan Sultan Muhammad I, dinasti Ustmaniyah. Beliau inilah yang memerintahkan untuk mengirim sembilan ulama dari berbagai negara (salah seorang diantaranya berasal dari Samarkand) di bawah kekuasaannya untuk berangkat ke Nusantara. Adapun untuk mempelajari kiprah sembilan ulama tersebut, sepanjang perjalanannya di bumi Nusantara ini, maka semua datanya bisa diambil dari Primbon I dan II, karya Sunan Bonang. Oleh para ahli, kedua primbon ini sudah dinilai bersih dari berbagai hal yang berbau khurofat, syirik, bid’ah dan sejenisnya. Kedua karya Sunan Bonang itu hingga saat ini tersimpan di perpustakaan Leiden, Belanda.

Syukur alhamdulillah, Allah SWT telah men-takdir-kan para wali itu hadir lebih awal di bumi Nusantara ini. Apa jadinya suasana keagamaan bangsa Indonesia ini seandainya kedatangan para wali itu dimundurkan waktunya ?. Ingatlah, begitu para wali itu wafat, tidak lama kemudian berdatangan para penjajah, missionaris, dari Portugis, Belanda, dan beberapa negara Eropa. Mereka masuk dan menyemaikan ajaran trinitasnya. Disinilah sangat kelihatan besarnya jasa para wali itu. Sebagian besar aqidah umat Islam di Nusantara ini terselamatkan, karena sudah lebih dulu disadarkan oleh para wali yang mulia itu. Alhasil , tidak mudah bagi para missionaris dalam menyebarkan benih-benih ajarannya. Kalau saat ini kita menjadi muslim, kalau Indonesia bisa menjadi negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, apa benar bisa dilepaskan begitu saja dari jejak dan sepak terjang para wali yang mulia itu ?.

(dari : Mukaddimah Labbaik edisi no.23 Jumada Al Tsani 1427H / Juli 2006)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: