Ukhuwah Menambah Banyak Saudara

 

Nama saya ketika lahir adalah Bobby Alandi. Ketika menjadi seorang Muslim, nama depan saya ditambah dengan Muhammad, karena kecintaan pada figur Rasulullah saw. Saya asli kelahiran Bandung, 13 Mei-1966 dari sebuah keluarga Katholik. Keluarga saya begitu rajin ke gereja dan orang tua merupakan aktifisnya yang patuh. Dalam kehidupan, saya tidak pernah mengerti tentang rahasia Allah SWT. Selain lingkungan keluarga yang begitu kental kehidupan beragamanya, di sekolah pun suasananya tidak begitu jauh dengan di rumah. Sejak SD, SMP sampai SMA kehidupan Katholik begitu kental dengan diri saya. Alhamdulillah, di usia yang ke-30 (1996) Allah SWT. membimbing saya kepada cahaya-Nya.

 

Mengenal dan Masuk Islam

Sebelum masuk Islam, saya dan teman-teman seagama sering merasa tersinggung dan sakit hati oleh sebagian oknum umat Islam yang menyebut kami kafir. Padahal saya yakin, ajaran Islam tidak membenarkan umatnya menghujat dan menghina ajaran agama lain tanpa hak. Saya sempat berpikir, haruskah dengan landasan agama kita merendahkan orang lain? Padahal saya anggap kedudukan kami dan mereka sama yaitu sebagai manusia. Banyak di antara non muslim yang patuh menjalankan ajaran agamanya. Sayangnya mereka tidak beritikad Laa ilaha illallah. Hanya itu saja. Pada hal dalam hal ta’awun dan toleransinya mereka sangat besar. Juga dalam hal menepati janji, rasanya “sudah Islami”.

 

Saat itu, persepsi saya tentang Islam dan umatnya agak miring. Namun setelah saya pelajari lebih mendalam, ajaran Islam yang benar ternyata sangat banyak. Puncak dari semua itu adalah ketika Allah membimbing saya untuk lebih mngenal Islam lebih dekat. Semuanya bermula dari kesenangan saya membaca buku. Di sebuah toko buku, saya membaca buku-buku kecil tentang Islam, tetapi tidak sampai membelinya. Waktu itu, buku-buku yang saya baca berkaitan dengan akhlaq yang isinya tidak terlalu mendalam. Padahal ketika itu saya beranggapan bahwa buku-buku itu sama sekali tidaklah bermanfaat bagi saya. Ajaran Islam yang saya baca dalam buku tersebut ternyata jauh berbeda dengan kenyataan keseharian umat Islam yang saya lihat saat itu. Tapi setelah semakin sering membaca buku-buku lainnya, saya berkesimpulan bahwa itu hanyalah segelintir umat Islam yang mengimplementasikan ajaran Islam secara dangkal. Padahal ajaran Islam itu sendiri tidaklah mengajarkan demikian. Dari banyaknya membaca buku-buku Islam, saya berkesimpulan bahwa sebenarnya Islam itu adalah rahmatan lil ‘alamin. Saya mulai tertarik pada Islam. Dan, antara sadar dan tidak, saya ingin menjadi seorang muslim.

 

Dukungan Keluarga

Ada hal-hal yang tidak pernah saya rencanakan dan angankan dalam hidup ini. Tetapi, atas kehendak Allah SWT. hal itu ternyata terjadi. Hal ini semakin menambah keyakinan saya, bahwa Allah SWT. itu memang ada. Dia mengatur segala aktifitas yang saya lakukan. Dalam keluarga saya ditumbuh-kembangkan iklim kebebasan memilih. Semua anggota keluarga bebas memilih dan mengerjakan apapun selama tidak melanggar norma-norma. Demikian pula halnya saat saya mengutarakan niat untuk menjadi seorang muslim, subhanallah, secara tidak terduga ternyata keluarga malah memberikan dukungan yang positif.

Ketika saya mengucapakan dua kalimah syahadat di Masjid Lautse Bandung dengan bimbingan Ustadz H.Sholihin Ong, seluruh keluarga saya datang untuk menyaksikan ke-Islam-an saya, termasuk nenek saya yang sudah lanjut usia dan hampir tidak dapat berjalan. Saya sangat bersyukur terhadap hal tersebut, meski sampai saat ini baru saya sendiri yang masuk Islam.

 

Setelah saya ber-Islam, ternyata saya temukan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan etnis. Betul sekali firman Allah yang berbunyi inna akramakum indallahi atqokum. Bahwasanya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling taqwa. Saya rasakan persaudaraan kian erat, tidak ada sekat dan betapa indahnya hidup ini. Selain seringnya membaca buku-buku Islam, satu hal yang tidak terlupakan adalah dukungan sang isteri, yang sejak semula adalah seorang muslimah. Selain dukungan keluarga dan isteri, kalangan terdekat pun seperti teman-teman dan relasi bisnis juga memahami dan mendukung keputusan saya. Mereka tidak berubah jadi membenci saya. Akhirnya, setelah menjadi Muslim saya tunjukkan kepada mereka tentang ajaran Islam yang benar. Saya selalu berusaha untuk menjadi contoh bagi mereka. Sejak ber-Islam, saya bertekad ingin menghapus image negatif tentang Islam dan kaum Muslimin. Alhamdulillah, mereka sangat menghargai ke-Islam-an saya. Bahkan di antara teman bisnis saya yang non muslim dan penjual jam, menghadiahi saya sebuah jam dinding, yang apabila waktu shalat tiba jam tersebut mengumandangkan suara adzan.

 

Ada satu hal yang membuat saya sangat terkesan selama saya ber-Islam, yaitu ketika pertamakali menunaikan shalat Jum’at. Itu adalah pengalaman ibadah saya perta makali. Saat itu saya rasakan bahwa saudara saya kian bertambah banyak. Dari sana, terkadang saya berfikir mengapa tidak menjadi da’i profesional saja. Tapi kemudian saya berfikir, sudahkah saya memperbaiki diri saya sendiri? Apakah saya mampu berbuat demikan? Apakah yang saya sampaikan telah sesuai dengan perilaku saya? Karena saya sendiri suka melihat ada oknum Ustadz atau Muballigh yang menyampaikan taushiyah, tetapi perilakunya tidak sesuai dengan apa yang dia katakan. Saya sangat takut dengan ancaman Allah bahwasanya Dia akan murka dengan orang mengucapkan sesuatu tetapi tidak sesuai dengan perbuatannya. Akhirnya, semua itu hanya sebatas angan saja.

Meski demikian, dakwah informal sering saya lakukan. Mulai dari lembaga yang saya pimpin, sampai ketika saya berbicara dengan non muslim. Seringkali secara tidak sadar dalam pembicaraan tersebut saya sisipkan ajaran Islam. Tapi tentu saja saya sesuaikan dengan orang yang saya ajak bicara. Atau saya tunjukkan akhlaq Islami ketika berada di antara non muslim, misalnya dengan menepati janji atau segera minta maaf bila bersalah. (sumber : MQMedia.com)

 

http://www.kotasantri.com/modules.php?name=Beranda&file=detail&sid=132

 

Hati-hati Terhadap Pernyatan Yang Dapat Berakibat Terpecah-belahnya Ummat

 

Dr. Yusuf al-Qardhawi di harian al-Wafd Mesir edisi Kamis (27/07) menegaskan bahwa perlawanan Hizbullah di Libanon adalah jihad syar’i, sama kedudukannya dengan jihad di Palestina. Oleh karena itu, wajib bagi setiap muslim untuk membantu perlawanan ini, melawan penjajah Zionis Israel. Dalam pernyataan yang dikeluarkan Kamis (27/07), Persatuan Ulama Dunia menyebut perlawanan di Palestina dan Libanon sebagai pertempuran kepahlawanan melawan penjajah Israel. “Propaganda-propaganda memecah belah telah muncul sejak timbulnya perlawanan Islam di Libanon, propaganda itu berasal dari orang-orang yang menginginkan perpecahan antara sunnah dan syi’ah,” tegas pernyataan tersebut.

 

Persatuan Ulama Dunia menegaskan bahwa kalimat tauhid “Laa Ilaaha IllaLlah” adalah kata peneguh yang diteguhkan Allah swt buat orang-orang beriman. Kalimat itulah yang menjadikan pengucapnya memiliki sifat Islam. Rasulullah saw bersabda di dalam hadits muttafaqun ‘alaih yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Barangsiapa mengucapkan “Laa Ilaaha IllaLlah” maka telah terpelihara dariku harta dan jiwanya, dan masalah hisabnya ada pada Allah ta’ala.” Rasulullah saw juga besabda, “Cukuplah seseorang dianggap jahat apabila melecehkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darah, harta dan kehormatannya.” Persatuan Ulama Dunia mengingatkan pula larangan Allah swt untuk saling berbantahan yg berakibat pada kekalahan. “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.”

 

Fatwa Dr.Yusuf Al-Qardhawi dan Persatuan Ulama Dunia ini muncul karena ternyata masih ada sebagian ulama yang menilai, bahwa mendukung Hizbullah dan Ikhwanul Muslimin adalah haram hukumnya. Wakil Mursyid Ikhwan Syaikh Muhammad Habib mengatakan, “Saat ini bukan waktunya mengeluarkan pernyataan yang seperti itu. Mengatakan haram semacam itu, untuk saat ini, justru menciptakan perpecahan di dunia Arab dan Islam. –

 

http://www.eramuslim.com/news/int/44ca1f82.htm

note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 028/th.03/DzulHijjah-Muharram 1428H/2007M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: